FEMME 2018: Bukan Sekadar Opening Ceremony

Merasa beruntung menjadi salah seseorang yang mendapatkan undangan pembukaan Femme 2018 di pagi hari, saya berusaha datang tepat waktu. Sebelum pukul 10 saya sudah di Hotel Four Points by Sheraton pada tanggal 11 April. Di sana bertemu dulu di titik kumpul yang disepakati dengan teman-teman blogger. Cukup lama juga menunggu sampai akhirnya kami ngumpul hampir semuanya dan masuk ke dalam ball room. Untung juga acaranya mundur dari waktu yang ditetapkan jadi masih ada toleransilah buat yang telat.


Akhirnya MC kondang – Ira Duati membuka kata di atas panggung. Satu per satu hiburan tradisional membawakan penampilan terbaiknya: tunrung Pakanjara dan tari Paddupa. Saya yang sangat menyukai tetabuhan gendang tradisional Makassar ini amat menikmati atraksi yang dibawakan para pemain gendang yang kesemuanya lelaki. Bukan hanya menabuh gendang, mereka juga melakukan atraksi teatrikal untuk menghibur penonton.

Tunrung Pakanjara

Seremoni wajib dalam acara seperti ini – lagu Indonesia Raya dikumandangkan usai hiburan ala tradisional. Dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan oleh Icha A. Z. Lili selaku chairwoman Femme & CBFW 2018. Ucapan terima kasih disampaikannya kepada para pendukung acara dan sponsor. Juga menyampaikan mengenai kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan diikuti oleh 350 brand, 100 model lokal dan nasional, 50 desainer ternama tanah air, 25 brand artis, 50 fashion show, 30 booth kuliner. Detailnya sudah pernah saya tulis di dua tulisan sebelumnya, bisa baca di tulisan berjudul Menuju Perhelatan FEMME & CBFW 2018 dan Menuju Femme & CBFW 2018.

Icha A. Z. Lili
Kata sambutan berikutnya disampaikan oleh Adnan Purichta Ihsan selaku Bupati Gowa. Tahun ini Femme menggandeng Kabupaten Gowa – khususnya Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kabupaten Gowa untuk menjadi host. Melalui Femme, Adnan berharap pariwisata di Gowa bisa turut dipublikasikan.

Penyampaian kata sambutan terakhir diberikan oleh I Gusti Ayu Bintang Puspayoga – istri Menteri KUKM (Koperasi dan Usaha Kecil Menengah) yang sekaligus menjadi Ketua Manajemen Usaha Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional).


Adnan Purichta Ihsan

“Berharap Femme bisa menjadi wahana pendorong bagi para UKM untuk mempromosikan produknya dan mendorong UKM untuk lebih mengeksplorasi potensi sumber daya lokal yang ada sehingga nantinya bisa meningkatkan hasil-hasil produksi yang berkualitas dan bernilai jual yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan perekonomian nasional,” ungkap Bintang Puspayoga.



Kami harapkan gelaran Femme tidak hanya menjadi media untuk memasarkan produk saja akan tetapi juga harapan kami sebagai media inspiratif, edukasi, pengembangan wawasan, demikian juga jejaring sesama. Sehingga gelaran pameran ini bisa memberikan nilai yang lebih besar lagi bagi pengembangan kinerja usahanya,” tambahnya lagi.

Bintang Prayoga menginformasikan pula kepada hadirin bahwa pada tanggal 31 Maret telah diselenggarakan launching produk unggulan di Smesco (Small and Medium Enterprises and Cooperatives) di Jakarta. Bintang berharap para pelaku usaha di Sulawesi Selatan bisa bergabung dengan Smesco untuk mempromosikan produk-produk unggulannya.

“Kami di Smesco, di lantai 1 dan 2 itu semua produk unggulan dari seluruh Indonesia, kita berikan tempat untuk memajang dan transaksi jual-beli di sana. Di Smesco juga ada yang namanya ‘Rumah Desain’ yang menampung karya-karya desainer muda yang ada di seluruh Indonesia. Tidak berpanjang kata. Mudah-mudahan gelaran Femme ini membawa manfaat kepada kita semua. Khususnya bagi kemajuan para perajin dan UKM di seluruh Indonesia. Mari kita berjuang bersama-sama. Mari kita bergandeng tangan. Melalui gelaran Femme ini ke depannya kita bisa mewujudkan Indonesia menjadi pusat mode dunia,” Bintang Prayoga menutup kata sambutannya sebelum membuka acara secara resmi.

Penyerahan kenang-kenangan.
Peragaan kreasi baju bodo karya desainer APPMI Sulawesi Selatan
Bloggers, foto dari Eryvia (www.emaronie.com)
Bukan sekadar opening ceremony, selain kata sambutan dari ketiganya, kami menyaksikan kecanggihan teknologi dari layar yang menjadi dinding panggung membuka lalu menutup. Dinding panggung itu bukan hanya menjadi layar besar yang menunjukkan ilustrasi dari apa yang sedang belangsung di atas panggung. Aksen bunga menjadi tema dari gambaran layar selain 2 model yang menjadi ikon Femme 2018. Ketika seseorang berbicara, layar menuliskan siapa nama lengkapnya.

Dan ketika peragaan busana berlangsung, layar menampilkan nama perancang busananya dan latar ilustrasi dari konsep yang sedang ditampilkan di atas panggung. Seperti saat peragaan busana karya desainer Didi Budiarjo bekerja sama dengan Rinaldy Yunardy dan LT Pro, layar secara berganti-ganti menampilkan audio-visual yang terkonsep, seperti “kisah” kota pelabuhan Makassar (Port Cities) – lengkap dengan potret hitam-putih dan beberapa kota pelabuhan negara lainnya (seperti di Perancis). Kesemuanya dengan latar musik yang mendukung. Wow, 3Pro pasti bekerja keras untuk menampilkan pertunjukan yang menawan ini!


Cuplikan peragaan busana pada pembukaan Femme 2018

Sebelumnya, ketika karya baju bodo modern kreasi para perancang APPMI Sulawesi Selatan, layar menampilkan nama-nama para desainernya, yaitu: Sita Darwis, Harisma Dewi, Nining by Haruka, Hilda Aligenda, Vonny Imelda, The Alee’s, Mimi Nasution, Daniel’s Gallery by Chaya, Gabriel Soegiyono, Couture, Ela Amalia, Itja Ahmad, Richard Tene, dan Ida Noer Haris.

Tampil juga beberapa ibu dari Sulawesi Selatan yang berasal dari latar belakang profesi yang berbeda-beda membawakan busana karya Gee’s Batik. Ibu-ibu ini sehari-harinya bukanlah model dan mereka tampak percaya diri menjalankan “tugasnya” sebagai peraga busana. Dua di antaranya adalah Rusmayani Majid (Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar) dan Priska Paramita (Ketua Dekranasda Gowa, istri Bupati Gowa).

Asesoris







Saya menikmati pembukaan Femme kali ini sebagai seorang penikmat kreativitas. Saya memang menyukai event yang mengusung kreativitas, apapun bidangnya, mulai dari yang tradisional sampai modern. Mulai dari yang manual hingga produk teknologi. Saya akui, Femme merupakan tempat yang asyik untuk meresapi karya kreatif berbagai orang. Berjalan pulang keluar dari ball room, ada aneka booth busana, tas, dan asesoris yang saya lewati. Tak henti mata saya berkeliaran memindai aneka barang yang catchy nan berkualitas. Apik. Femme 2018 di pagi hari pertama memang bukan sekadar opening ceremony.

Makassar, 12 April 2018

Susunan jadwal mulai hari ini sampai Ahad


Baca juga tulisan saya yang sebelumnya tentang Femme 2018, ya:



Share :

8 Komentar di "FEMME 2018: Bukan Sekadar Opening Ceremony"

  1. sendalnya lucu-lucu banget, bun. jadi pengin punya :3

    ReplyDelete
  2. Aku suka sama aksesoris-aksesorisnya mbak.

    ReplyDelete
  3. Acaranya seru mbak, ada atraksi teatrikalnya juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya. Atraksi gendangnya pakai aksi teatrikal juga

      Delete
  4. UKM naik kelas, acaranya secanggih itu. Semoga memberi dampak kepada UKM Indonesia.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^