Sst ... Ada Orang yang Capek Mengasuh Anaknya

        Sebenarnya saya tipe orang yang introvert. Namun keberadaan facebook membuat saya juga memiliki tipe extrovert di dunia maya. Saya mulai mengetikkan status yang mengungkapkan isi hati saya. Misalnya saja tentang:
Pernah ketemu ibu-ibu. Aanaknya baru satu, usia 7 bulanan. Kata ibu itu, "Capek ngasih makan anak."
Suami saya ketemu seorang ibu, anak pertamanya diasuh nenek si anak, anak kedua diasuh ipar si ibu, baru anak ketiga diasuh si ibu itu. Tapi ia mengeluh CAPEK.
?!?!?!?
Dikiranya diamanahi anak hanya haha hihi sepanjang hari dengan anaknya?

#Buat yang masih lajang: nikmati masa lajangmu sekarang, kalau belum siap menukar kenyamananmu dan egoismemu dengan mengasuh anak. Please pikir-pikir lagi deh keinginan menikah itu ... kasihan anak !#
      

   Maksud saya menuliskan ini di status, mudah-mudahan ini menjadi bahan pembelajaran buat karib dan kerabat yang masih lajang. Ada makna tersirat yang perlu dieksplorasi dari sini. Beberapa karib dan kerabat, ‘teman’ fesbuk memberikan komentar yang akhirnya mengeksplorasi status ini.


Seorang kawan yang belum dikaruniai keturunan hingga kini menuliskan:
Yang punya anak merasa capek ngurusin anaknya....buat saya aja...heheheh....
Inilah manusia yang tidak bersyukur. Ada orang yang menanti-nanti anak sekian lama belum diberikan oleh Yang Maha Kuasa, yang sudah diamanahi anak malah mengeluh. Capek memang nyata dalam hal mengasuh anak. Tapi tidak pantas dikeluhkan!
Seorang kawan berkomentar:
Sering saya lihat ibu muda yang punya anak, yang repot malah neneknya.. sangat miris melihatnya, sementara si anak sibuk dengan kegiatannya.. hmmm
           Ya, pemandangan seperti ini sudah jamak di Indonesia. Seorang ibu muda yang sibuk menyerahkan pengasuhan anaknya kepada ibunya.
            Seorang kawan lain berkomentar tentang kearifan lokal. Menarik. Mari disimak:
Ada pesan dalam lontarak Bugis bahwa seseorang jika mau menikah maka dia harus sanggup "mengelilingi dapur" sebanyak tujuh kali. Sebenarnya kata tersebut mengandung makna yang salah satunya adalah kesanggupan untuk mendidik anak sebagai amanah dari Allah. Sudah banyak kearifan lokal yang hilang karena ketidakpedulian generasi berikutnya atau kurangnya perhatian masyarakat dan hanya mengutamakan pada pendidikan yang berbasis legal formal (ijazah). Ini adalah gejala idiologi/ paham materialisme yang mendominasi alam sadar dan bawah sadar kita.
Hmm ... mungkin dalam bentuk lain karena orang-orang ini kalau mau dikelas-kelaskan, berada dalam strata sosial menengah ke bawah malah mereka adalah orang-orang yang tidak bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Saya pernah dengar di beberapa orang dalam 'strata' yang sama dengan orang-orang di atas, mereka (perempuan) lebih suka kalau bekerja meski jadi buruh, daripada mengurus anak saja, atau bekerja sambil mengurus anak. Dalihnya sih 'tuntutan ekonomi' tapi kalau diamati ada juga yang karena prestise (bukan murni tuntutan ekonomi). Karena sebenarnya hidupnya cukup-cukup saja. Malah ia mempersulitnya dengan meninggalkan anak-anaknya dan pergi bekerja pindah-pindah tempat untuk menjadi buruh. Beruntung, anak-anak yang ditelantarkannya itu diurus oleh neneknya. Lalu apa secara ekonomi kehidupannya menjadi lebih baik? Ternyata tidak. Jadi, bisa dibilang secara bawah sadar yg berkembang di masyarakat kita, perempuan bekerja itu lebih segala-galanya dibanding yang 'hanya' IRT (ibu rumah tangga). Boleh dibilang salah satu bentuk paham materialisme juga.
Wah, segala bentuk ‘aktualisasi diri’ atau ‘materialisme’ ini sebenarnya merusak lho ibu. Mari kita menjalankan hal-hal yang bermakna. Menjadi ibu yang bermakna bagi anak. Karena segala sesuatu yang maknawi itu lebih nyaman/menenangkan daripada yang duniawi/materialis, dan sudah pasti lebih kekal. Dampak positifnya sudah pasti ada, di dunia dan di akhirat.
Makassar, 7 Oktober 2011


Share :

2 Komentar di "Sst ... Ada Orang yang Capek Mengasuh Anaknya"

  1. lupa saya apa pernah ketemu emak2 yg bilang capek ngurusin anak
    tapi memang biasanya begitu mba
    yg udah punya malah pengen ga punya begitu sebaliknya :D

    saya mau anak, tapi 2 aja hehehe

    ReplyDelete
  2. Capek memang nyata mbak .. tapi orang2 yang saya sebut ini mengumbarnya dengan cara yang tidak pantas :)

    Makasih sudah berkunjung :)

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^