Sosialisasi Peduli Sahabat: Deteksi Orientasi Seksual yang Berbeda

Tulisan ini merupakan tulisan ketiga dari kegiatan Sosialisasi Peduli Sahabat di Makassar. Dua tulisan sebelumnya adalah: Sosialisasi Peduli Sahabat: Ujian Atas Kesungguhan dan Keyakinan dan Sosialisasi Peduli Sahabat: Atasi Kecanduan Pornografi dengan Menjadi Sahabat Anak.

Talkshow dalam rangka Sosialisasi Peduli Sahabat hari kedua (tanggal 1 Maret lalu) berlangsung di Auditorium Aksa Mahmud Universitas Bosowa (Unibos). Talkshow ini terselenggara berkat kerja sama panitia Sosialisasi Peduli Sahabat Makassar dengan Fakultas Psikologi Unibos. Tiga orang dari panitia: Bu Titin Florentina, Bu Niyar Radde, dan Bu Syawaliyah juga berprofesi sebagai tenaga pengajar di Fakultas Psikologi Unibos, itu makanya kami mendapatkan banyak kemudahan dalam terselenggaranya sosialisasi.


Pada talkshow bertema Deteksi Orientasi Seksual dan Hidup Tenang dengan Fitrah ini, Mas Sinyo Egie bukan pembicara tunggal. Ada psikolog Trisnawaty Azis yang panel dengannya. Bu Trisna telah menghadapai 16 orang/kasus hubungan khusus sesama jenis dalam 3 bulan terakhir. Kasus hubungan khusus sesama jenis ini makin berkembang di Makassar karena didukung oleh perkembangan komunitasnya. Yang mengejutkan, hal ini banyak terjadi di kalangan mahasiswa: 80% terjadi pada mahasiswa sementara 20%-nya di kalangan orang bekerja.

Bu Trisna memberikan dua contoh kasus yang pernah ditanganinya. Dua kasus lelaki dan perempuan penyuka sesama jenis. Benang merah dari kedua kasus ini adalah lemahnya peran orang tua pada masa kecil kedua subyek bersangkutan, khususnya dalam pengasuhan dan penanaman nilai-nilai agama. Saat assesment, terungkap ada yang memendam rasa bersalah dan ingin berubah. Sementara yang satunya sama sekali tak merasa apa yang dilakukannya salah dan tidak ingin berubah. Yang ditangani lebih lajut, tentu saja yang menyatakan ingin berubah.


Penyebab orang melakukan hubungan khusus sesama jenis ada beberapa. Ini yang dipaparkan Bu Trisna:
  • Lemahnya peran ayah dalam keluarga dan membuat peran ibu menjadi dominan.
  • Memiliki pengalaman positif dalam hubungan dengan sesama jenis, sehingga membuat perilaku ini diulang dan memperkuat perilaku homoseksualnya.
  • Trauma masa kecil, seperti: kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh ayah kepada ibu dan KDRT itu dilihat oleh anak, pelecehan seksual oleh orang terdekat di masa kecil, korban penculikan, dan sebagainya.
  • Ada kelainan hormonal dari kecil kemudian diperkuat oleh peran orang tua yang menghambat berkembangnya karakteristik gender dari anak.
  • Tidak mendapatkan pendidikan agama yang kuat sejak kecil atau sebaliknya pendidikan agama justru terlalu ekstrem diajarkan.
  • Gaya hidup hedonis yang kemudian menyebabkan individu larut ke dalam komunitas-komunitas homoseksual.
  • Unit rehabilitasi yang kurang sehingga jika individu membutuhkan bantuan tidak tertangani dan lebih nyaman dalam komunitasnya.


Langkah penanggulangan yang dipaparkan Bu Trisna, untuk mereka yang mau menjalani kehidupan secara hetero seksual adalah:
  • Memiliki visi misi pernikahan.
  • Menjadi orang tua sehat mental, berilmu dan mau terus belajar.
  • Memberikan pendidikan agama yang baik.
  • Mengkondisikan lingkungan pergaulan yang sehat (sistem interaksi antara lawan jenis maupun sesama jenis). Memahami konsep pergaulan dalam Islam (bagi yang muslim).

Sampai di sini, terlihat jelas betapa pentingnya peran orang tua dalam mengarahkan orientasi seksual anak. Ini sejalan dengan apa yang dipaparkan Mas Sinyo Egie pada malam sebelumnya di masjid Bani Haji Adam Taba’ (baca di tulisan berjudul: Sosialisasi Peduli Sahabat: Atasi Kecanduan Pornografi dengan Menjadi Sahabat Anak). Menurut Mas Sinyo:
Semua masalah awalnya dari keluarga (dari bapak-ibunya). Kalau bapak-ibunya tidak mau jadi sahabat anak maka anak akan mencari sahabat di luar.

Setuju?

Makassar, 13 Maret 2017


Catatan:
Masih ada kelanjutannya, yaah. Stay tune ...

Catatan:

Sinyo Egie adalah pendiri dan ketua Yayasan Peduli Sahabat yang bergerak pada edukasi dan pendampingan soal pergaulan bebas sesama jenis dan kecanduan game/gadget dan pornografi. Ia menulis beberapa buku, dua di antaranya: ANakku Bertanya Tentang LGBT dan LGBT: Lo Gue Butuh Tau. Kalau Anda search kata Sinyo Egie, Anda akan mendapatkan beberapa penjelasan tentangnya. Sinyo Egie sudah sering menjadi nara sumber talkshow dan seminar di seluruh Indonesia dan negara tetangga. Mohon do'anya bagi terbentuknya Peduli Sahabat cabang Makassar. 

Simak juga dua tulisan sebelumnya:

Jangan lupa simak tulisan-tulisan lainnya:

               




Share :

4 Komentar di "Sosialisasi Peduli Sahabat: Deteksi Orientasi Seksual yang Berbeda"

  1. Peran orangtua memang penting banget ya mba untuk mengawal pertumbuhan anak

    BalasHapus
  2. Dirimu selalu rajin datang ke acara seminar ya Niar? Tapi aku senang sih krn dirimu tidak lupa utk share.. Jadi meski gak ikut seminarnya tapi serasa datang baca tulisanmu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak selalu juga Mbak. Pas ada kesempatan. Kalau yang ini, malah saya panitianya. Sudah rencana bikin sama teman2 sejak akhir 2015 tapi baru kesampaian hehe.

      Hapus

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^