Waspadai Kecepatan Jari – Sebagai blogger yang sudah ngeblog selama tahunan, rasanya bersalah karena akhir-akhir ini blog ini kurang banyak update-nya. Kesibukan di dunia nyata, update medsos, dan kondisi lainnya menyebabkan saya kesulitan mengembalikan fokus kepada blog ini padahal banyak hal yang ingin saya tuliskan sebenarnya.
Salah satu yang ingin ditulis adalah berita-berita
yang bikin shock padahal dialami oleh orang lain yang tidak ada
hubungannya dengan saya. Misalnya nih tentang seorang ibu muda yang
disapa dengan Tyas atau di media sosial X
ada yang menyebutnya Saset. Tyas itu lho,
sang penerima beasiswa LPDP yang bikin heboh akibat unggahannya di media
sosial terkait kebanggaannya jika anaknya menjadi warga negara Inggris itu.
Dampak Amplifikasi
Media Sosial
Lalu tentang Fara dan Reyhan di Riau yang kisahnya
berlatar belakang asmara yang sungguh sangat amat plot twist. Lagi-lagi
ada unsur “media sosial” dalam kisah mereka. Jika kasus Tyas secara tidak
langsung membongkar kegagalan sistem pengawasan penerima beasiswa LPDP maka
Reyhan membongkar latar belakang kejadian dirinya menebas Fara dengan kapak di
Tiktok sebelum melakukan kekerasan bersenjata terhadap Fara itu di kampusnya.
Tyas ini tergolong over sharing yang jika
seandainya diam-diam saja maka tidak akan terjadi apa-apa. Kini, suaminya yang
juga penerima beasiswa LPDP harus mengembalikan dana beasiswa yang sudah
diterima dan sejumlah orang yang kedapatan juga harus melakukan yang sama.
Besarnya miliaran rupiah.
Ada baiknya juga sih, mungkin sekarang memang
waktunya kebenaran terungkap melalui Tyas supaya pengelolaan beasiswa LPDP
benar-benar tepat sasaran, transparan, dan dipastikan auditable.
Kalau kasus Fara, Reyhan sepertinya sudah merencanakan
sebelumnya. Postingan-postingan-nya di media sosial memperlihatkan sudah
sedekat apa dirinya dengan Fara. Pada awalnya sebagian besar orang mengira
kasusnya merupakan kasus cinta bertepuk sebelah tangan dan menyalahkan Reyhan.
Kini banyak netizen memihak pada Reyhan. Reyhan menjadi orang khilaf
yang dikasihani dan disayangi.
Agak absurd sebenarnya karena Reyhan merupakan
pelaku kekerasan dan Fara korban namun apa yang juga terlihat di medsos justru
memperlihatkan bahwa Reyhan juga korban dari Fara makanya dia “tega” melakukan
kekerasan dengan kapak karena sesakit itu hatinya. Saya tidak akan merincinya
di sini ya. Bagi yang belum tahu kasus ini, silakan browsing saja.
Kegelisahan Orang Tua
Sebelum kasus Fara kuketahui, terjadi pembicaraan
tentang suatu topik dengan anak gadisku dan kusempat berpesan padanya begini: janganlah
terlalu menyamakan sikap kepada semua orang karena tak semua orang bisa
menerima dengan baik perlakuan kita sebagaimana yang kita kehendaki. Bisa saja
ada yang baper tidak pada tempatnya. Lah, tahu-tahu kasus ini
muncul, langsung kujadikan contoh.
Lalu setelah banyak membaca kasus Fara-Reyhan dan
Tyas, saya jadi ingin berpesan begini pada anak-anakku:
Waspadailah kecepatan jarimu, juga kecepatan jari orang lain di media sosial. Persoalan kecepatan jari yang mengalahkan kecepatan otak berpikir bisa banget menyebabkan kehidupanmu berubah drastis. Cukup belajar dari masalah-masalah yang kita lihat sekarang di media sosial atau berita online, jangan sampai mengulangi kekonyolan mereka. Tetap olah otak untuk senantiasa berpikir, menimbang mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah. Tetap pentingkan nilai yang ada dalam keluarga, utamanya dalam agama kita karena akan menjadi kompas terbaik bagi kehidupanmu.
Baru-baru ini ada lagi isu perselingkuhan yang melanda
mantan penyanyi cilik Maissy. Suami Maissy yang sedang menjalani PPDS
dikabarkan telah berselingkuh dengan seorang selebgram yang juga dokter koas.
Lagi-lagi isunya bertiup kencang di media sosial. Lagi-lagi kecepatan jari
orang lain mampu membongkar aib seseorang.
Ibu si selebgram sampai berkomentar membela putrinya di
salah satu media sosial yang kemudian komentarnya ramai dihujat netizen.
Sedih sih, bayangkan, bagaimana perasaan orang tua yang anaknya terlibat
kasus yang besar di media sosial seperti itu?
Perilaku satu orang saja bisa membuat keluarga,
utamanya orang tua merasa sedih dan malu. Perkara kecepatan jari saja,
kehidupan bisa berubah dengan cepat.
Duh, anak-anakku … jadilah orang bijak dalam bermedia sosial dan
berkehidupan, ya. Jadikan semua ini pelajaran penting. Jangan sampai mengulangi
kesalahan mereka.
Makassar, 13 Maret
2026
Share :

0 Response to "Waspadai Kecepatan Jari"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^