Pesan Ketupat dan Buras di Makassar

Pesan Ketupat dan Buras di Makassar - Taqabbalallahu minna  wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Seharusnya tulisan ini lebih dulu saya posting daripada review film Tunggu Aku Sukses Nanti ya haha. Tidak mengapa, kali ini saya cuma mau cerita ringan saja, seputar  lebaran. Hari raya saya serupa dengan tahun-tahun lalu. Tanpa asisten rumah tangga, jelang hari raya pekerjaan rumah banyak sekali. Sampai begadang saya.

Jual Ketupat di Makassar

Begadangnya bukan buat masak ketupat atau buras hehe. Untuk ketupat dan buras, untungnya saya punya langganan di Pasar Baru, suami istri – Pak Irfan dan Ibu Nuraeni Daeng Banna. Tak mungkinlah saya kerjakan semua-semuanya maka untuk makanan pokok yang dibungkus dedaunan itu, saya mengandalkan Daeng Banna.

Entah sudah berapa tahun kami langganan memesan buras dan ketupat dari pasangan suami istri ini. Seingat saya sekurangnya sudah 10 tahun. Ukuran burasnya relatif lebih besar daripada jualan di tempat  lain. Lebih-lebih lagi ukuran ketupatnya, besar sekali menurutku. Saya makan ketupat Daeng Banna bisa dua kali makan untuk satu bungkus.

Berapa harga ketupat matang di tempatmu? Di Daeng Banna harganya 7.000 rupiah. Pasar-pasar lain juga banyak yang jual ketupa matang, harganya bervariasi. Ada juga yang harganya di bawah 7.000 tetapi ukurannya lebih kecil.

Yang jual ketupat matang terdekat dari kediaman kami di antaranya di Pasar Maricaya, di jalan Gunung Nona, di  Pasar Pa’baeng-baeng, di Pasar Terong, di Pasar Toddopuli. Pasar Baru yang saya ceritakan di atas itu, letaknya lebih jauh lagi tetapi karena sudah langganan dan sudah nyaman dengan bikinan Daeng Banna maka saya masih memesan di situ.

Biasanya kami memesan sekurangnya sepekan sebelum lebaran. Daeng Banna akan mencatat nama saya di buku catatannya beserta jumlah DP yang sudah dibayar atau keterangan lunas. Nanti datang lagi mengambil pesanan pada sore hari sebelum hari raya Idulfitri. Kadang dikasih nota jika buku catatan tak ada namun yang terakhir ini tidak karena sudah tertera jelas di buku catatan.

Sore hari sebelum hari raya, saya ke los milik Pak Irfan dan Daeng Banna. Awal kenal mereka, hanya ada 1 kios yang ditempati menjual, isinya berupa sayuran. Jelang lebaran biasanya ada tambahan 1 deret meja di depan kios. Di atas meja ditata aneka bumbu jadi dan bahan-bahan lain yang biasa dibeli ibu-ibu jelang lebaran seperti bawang goreng. Sekarang, selain kios, Daeng Banna menempati 1 los yang ukurannya agak besar dekat dari kiosnya. Jualannya semakin banyak. Selain aneka bumbu, juga ada kentang goreng untuk bahan soto.

Begitu melihat saya, wajah Daeng Banna terlihat tegang. “Saya bilang telepon ki’ dulu kalau mau ke sini,” ujar Daeng Banna.

Kita’ bilangnya datang sore, kita’ ndak bilang telepon,” jawab saya. Saya ingat betul tak ada kalimat telepon terlebih dulu kalau mau datang ambil buras dan ketupat terlontar dari mulut Daeng Banna. “Saya bilang telepon ki’ dulu,” Daeng Banna berkeras. Sudahlah, saya tak mau berdebat. Saya diam saja sembari menyungging senyum di bibir.

Nuraeni Daeng Banna Jual Ketupat Makassar

“Belum pi masak ketupatku,” ujar Daeng Banna lagi. Rupanya ini alasan dia mengatakan hal tadi. “Mati ki satu komporku,” ucapnya. Saya tersenyum padanya seraya mengangguk kecil -menunjukkan pengertian, tidak mengatakan apa-apa.

Seorang ibu membantu Daeng Banna, dia membungkuskan buras pesanan saya. Saya juga membeli bumbu soto yang sudah jadi di situ beserta kentang goreng. Bumbu soto harganya Rp15.000 untuk 1 ons. Kentang gorengnya seharga Rp55.000.

Omzet Pak Irfan dan Daeng Banna tampaknya sudah lebih besar saat ini sampai-sampai butuh asisten untuk melayani pembeli. Ibu yang melayani saya itu cerita bahwa tadi banyak orang membeli ketupat. Ada yang belum memesan tetapi langsung datang membeli.

Tahun lalu saya membeli bumbu opor Daeng Banna. Saya suka rasanya, alami. Kalau bumbu instan dalam kemasan, jarang yang rasanya terasa alami. Kali ini saya ingin memasak kuah soto tanpa ayam karena anak-anak saya tidak pernah mau makan ayam yang ada di soto, sebagaimana mereka tidak mau makan ayam yang ada di masakan opor.

Aneh ya hehe … begitulah anak-anak saya. Menguntungkan saya sebenarnya karena saya tidak harus membeli ayam. Jadinya cocok dengan saya dan suami karena  kami juga lebih memilih makan makanan non ayam atau daging.

“Jangan ki’ lupa besok ambil ketupat ta’,” berkali-kali Daeng Banna mengingatkan. “Iya Bu,” ucap saya seraya berpamitan.

Makassar, 24 Maret 2026



Share :

0 Response to "Pesan Ketupat dan Buras di Makassar"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^