Review Film Na Willa: Sebuah Koalisi Imaji

Review Film Na Willa: Sebuah Koalisi Imaji Kebayang ndak, nonton film yang ketika tokoh anak bernama Na Willa lagi cerita tentang kesukaannya makan ikan bandeng, terutama makan bagian matanya lantas muncul sejumlah ikan bandeng yang terlihat real berenang-renang di dekatnya dan pada tubuh setiap ikan terdapat banyak mata? Saya duga pasti belum kan? 😁

Poster Film Na Willa

Dialog tentang makanan kesukaan Willa ini relate dengan pengalaman saya ketika seusia dia. Willa bertanya kepada ibunya, apakah bisa dia dibelikan ikan bandeng yang banyak matanya 😆. Dulu saya gemar makan hati ayam goreng dan pernah meminta dimasakkan hati ayam banyak, jangan cuma satu. Kata ibu saya: setiap ayam cuma punya satu hati, begitu pun ibu Na Willa berkata: setiap ikan punya dua mata seperti kamu. 😀

Itulah bentuk salah satu animasi yang memukau saya dalam film Na Willa. Animasinya hidup, membuat imajinasi kita berkelana. Imajinasi berbeda ditampilkan setiap Ma menerima surat dari Pa yang sedang berada di kota lain, kita disajikan dengan scene yang seperti pementasan teater. Ada juga adegan Willa minum minuman Bernama Orange Cruz lengkap dengan animasi yang menggambarkan kenikmatan Willa. Mata rasanya kenyang deh menikmati animasi yang tersebar di dalam film. 😍

Na Willa digambarkan sebagai sosok anak perempuan berusia sekitar 5–6 tahun yang ceria, pemberani, dan memiliki rasa ingin tahu yang besar, dengan latar kehidupan di Surabaya pada era 1960-an. Ia menjadi tokoh utama dalam karya Reda Gaudiamo sekaligus film musikal live-action produksi Visinema yang dirilis pada Maret 2026. Melalui karakter ini, penonton diajak menyelami dunia dari perspektif imajinatif seorang anak.

Daya tarik kuat  film ini ada pada “kacamata” Na Willa dalam mengamati dan mengkritisi kehidupan. Na Willa diperankan oleh Luisa Adreena, gadis cilik kelahiran tahun 2019 dengan sangat baik. Kenapa Ma berbohong pada Dul padahal Ma mengajariku tidak boleh berbohong? ~ demikian protes keras Willa pada Ma (Ma adalah sebutan Willa untuk ibunya yang diperankan oleh Irma Novita Rihi).

Berbohong itu seperti kerikil masuk sepatu. Sering berbohong menyebabkan kerikil bertambah banyak, jalannya jadi susah. Kalau jujur, kerikil keluar dari sepatu sehingga bisa berjalan, bahkan menari ~ demikian nasihat Ma pada Willa sebelum adegan dia terpaksa berbohong pada Dul guna mencegah Willa ikut Dul pergi ke dekat kereta api.

Film karya kreator Jumbo ini bercerita tentang kehidupan sosial dari sudut pandang anak keturunan  campuran, Willa menyederhanakan apa  yang dianggap berat bagi orang dewasa. Juga tentang dinamika hubungan dengan Pa yang pelaut, Ma dengan aturan dan logika kritisnya dan Mbok, ART yang unik  dan perhatian. Bagaimana model parenting Pa dan Ma juga menarik untuk disimak, termasuk ketika Ma menghadapi rasa bersalahnya. 😘

Dalam ulasan ini, saya tertarik mengupas karakter Ma, Pa, Mbok, dan Willa. Keempat-empatnya menarik:

Ma

Digambarkan sebagai perempuan cantik berkulit sawo matang dengan rambut ikal yang diistilahkan Willa sebagai  “rambut belok-belok”. Keseharian Ma mengurusi Na Willa, termasuk mengajarinya membaca, menulis, meladeni semua pertanyaannya dengan jawaban yang dapat diterima akal sehat putrinya, serta memberi ruang atas semua reaksi, perilaku, dan perasaan Willa. Selain itu, Ma mengisi waktunya dengan menjahit.

Ibu seperti Ma saya yakin jarang sekali pada era 1960-an. Ibu-ibu zaman dulu kebanyakan hanya meniru bagaimana ibu mereka memperlakukan mereka, lalu berlaku serupa pada anaknya. Berbeda halnya sekarang, ibu dengan karakter seperti itu banyak karena orang tua zaman sekarang sudah lebih menyadari pentingnya belajar parenting dan menyadari sebab-akibat dari perlakuannya kepada buah hatinya. Nah, ibu Willa ini melek parenting banget. Dia selalu memikirkan tindakannya baik ataupun buruk akan berdampak bagaimana kepada Willa. Jika tersalah, dia menyesali dan memperbaikinya. 

Karakter Ma ini tergambar dengan jelas dari akting Irma, perlakuan Ma pada Willa, dan pada surat-surat yang dia tulis untuk Pa.

Poster Na Willa di dalam Bioskop


Pa

Sama seperti Ma, Pa yang diperankan oleh Junior Liem pun melek parenting banget. Lelaki yang digambarkan beretnis Tionghoa ini menyadari perannya sebagai ayah bagi Willa dan sebagai suami bagi Ma. Pa sangat mendukung Langkah-langkah yang diambil Ma dalam mendidik dan merawat Willa. Katanya, Ma yang paling tahu apa yang harus dilakukan pada Willa. Hal-hal tersebut tergambar dengan jelas dari akting Junior, perlakuan Pa pada Willa, dan pada surat-surat balasannya untuk Ma.

Marie, kamu yang paling tahu kapan pintunya dibuka untuk Willa tapi jangan biarkan pintunya tertutup terlalu lama ~ demikian nasihatnya untuk istrinya yang curhat mengenai keraguan hatinya membiarkan Willa ikut sekolah umum. 🚪

Mbok

Mbok ini menggambarkan kebanyakan ibu-ibu Indonesia dulu seperti apa. Misalnya dari celotehannya soal rambut Willa: anak perempuan itu ikut ayahnya, rambutmu akan ikut ayahmu – lurus dan kaku. Kalau anak laki-laki, baru ikut ibunya, rambutnya seperti ibunya ~ kurang lebih itu komentarnya saat Willa meminta pendapatnya soal keinginannya memiliki “rambut belok-belok” seperti Ma. Alhasil Willa menangis keras mendengar jawaban Mbok karena membuatnya tak bisa berharap mirip ibunya.😅 Ma yang mendengar tangis putrinya mendekat. Kamu apakan dia, Mbok? Tanya Ma pada Mbok. Mbok menjelaskan, Ma menggeleng-geleng kecil dan tersenyum lalu putrinya. Ma mengatakan bahwa Willa akan mirip seperti dirinya karena Willa anaknya.😍

Mbok merupakan ART yang telaten dan penuh perhatian. Ketika mendapati piring makannya ada di kandang ayam sebagai bentuk tanggung jawab Willa terhadap ayam peliharaannya, Mbok menyampaikan dengan hati-hati kepada Ma siapa pelakunya.

Na Willa

Willa adalah gadis kecil yang cerdas, kritis, dan kreatif. Walau masih kecil, ibunya memberikan penjelasan yang logis atas semua pertanyaannya. Ma rajin membacakan cerita padanya. Pa selalu membelikannya buku cerita setiap pergi melaut. Ma mengajarkan Willa membaca agar Willa bisa membaca lebih banyak buku sendiri.

Willa diajarkan untuk bertanggung jawab. Ketika Willa membongkar radio demi mencari di mana di dalam radio itu ada Lilis Suryani yang suaranya sering didengarnya, Ma menyuruhnya memasang kembali radionya 😁. Sewaktu Willa mengotorkan seprei putih yang sedang dijemur, Ma menyuruhnya membantu Mbok mencuci seprei sampai bersih. Saat diizinkan memelihara ayam pun, Willa harus rajin memberi makan ayamnya. Jika Willa melakukan kesalahan, ada sanksi yang dijatuhkan Ma untuknya. Ma menjelaskan apa dampak buruk dari perbuatan putrinya sehingga harus dihukum.

Saat sekolah ternyata tidak seperti dalam bayangan Ma dan Willa, Ma memahami kondisi putrinya lalu mengajak Willa untuk sama-sama mencari solusi agar Willa bisa bersekolah di tempat yang mendukung Willa untuk belajar.

Persahabatan

Persahabatan yang tulus antara Willa dan ketiga sahabatnya – Farida, Bud, dan Dul bisa kita rasakan. Anak-anak gang Krembangan Surabaya ini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda namun bisa harmoni dalam aktivitas keseharian mereka. Menarik menyimak bagaimana keluarga Na Willa yang tergolong minoritas bisa berbaur dengan warga setempat, memaknai toleransi, dan menyikapi besarnya keingintahuan putrinya. Misalnya saat Willa yang beragama Kristen meminta izin untuk ikut Farida belajar mengaji.

👧👧👧

@mugniar.mrs Sebagai ibu, saya angkat 4 jempol untuk film Na Willa. Berlatar tahun 60-an, sinematografi dan animasi karya kreator JUMBO ini sarat dengan pembelajaran dari angle anak Willa & ibunya. Daya tarik kuatnya ada pada “kacamata” Na Willa dalam mengamati & mengkritisi kehidupan. Willa menyederhanakan sudut pandang kehidupan sosial anak keturunan campuran. Kaya dinamika hubungan dengan Pa yang pelaut, Ma dengan aturan dan logika kritisnya, dan Mbok, ART yg unik & perhatian. Bagaimana model parenting Pa & Ma pun menarik disimak. Atmosfer film ini musikal dan puitis. Musiknya tak berisik tapi mampu membangun rasa hangat yang bikin rindu rumah. Saksikan Na Willa sekarang di bioskop kesayangan di kotamu. #NaWilla #FilmNaWilla ♬ original sound - Carajalani

Atmosfer film Na Willa musikal dan puitis. Musiknya tak berisik tapi mampu membangun rasa hangat yang bikin rindu rumah. Saya pernah nonton film musikal dan saya bosan dengan banyaknya lagu dalam film, soalnya saya bukan penikmat musik. Berbeda halnya dengan film ini, saya tak merasa bosan sama sekali. Saya menikmati setiap adegan secara visual dan secara audio. Bagi saya, film ini sangat memanjakan mata dan telinga.

Film ini merupakan koalisi imaji dari kreator Jumbo yang juga menjadi kreator film ini dan imaji khas anak-anak dalam perspektif Na Willa. Imajinya relate dengan masa kanak-kanak saya, orang-orang yang saya kenal, dan kisah-kisah nyata yang saya baca. Buat yang tertarik nonton, film ini masih diputar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Highly recommended!

Makassar, 26 Maret 2026



Share :

0 Response to "Review Film Na Willa: Sebuah Koalisi Imaji"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^