Hikmah, Bukan Stres di Antara Drama Pembelajaran Daring

Hikmah, Bukan Stres di AntaraDrama Pembelajaran Daring  - “Ma, katanya belajar daring bisa bikin anak stres?” tanya Athifah. “Tidak, kalau kamu menikmati. Tidak, kalau kamu suka. Bisa bikin stres kalau kamu percaya belajar daring itu bikin stres,” ujar saya sembari menatap wajah anak gadis kelas 8 ini.

Setahu saya, kami masih enjoy saja dengan pembelajaran daring bahkan si anak gadisnya barusan bilang begini sebelum bertanya, "Nanti, kita sudah terbiasa belajar daring disuruh kembali belajar online." Kalimatnya menggambarkan bahwa dirinya sudah terbiasa lalu kembali disuruh belajar luring, bagaimana dong.

Beberapa jam kemudian ....

“Baca di mana soal belajar daring bikin stres? Dari internet?” saya bertanya sekaligus mengeluarkan dugaan karena merasa pernah melihat tulisan terkait belajar online yang konon bikin tertekan siswa di ranah maya. Bisa jadi ada anak yang merasa tertekan tapi tak semua anak demikian, kan?

Meski tidak terlalu peduli dengan nilai rapor karena lebih peduli dengan proses atau usaha, saya lihat nilai putri saya meningkat di rapornya semester lalu. Dia terlihat bahagia ketika tahu nilainya dan salah seorang temannya menduduki peringkat teratas di kelas. Jadi saya tahu dia tidak merasa stres.

“Dari televisi,” jawab anak gadis yang sudah setinggi saya ini.

“Kamu stres?” saya menyelidiki, apakah saya salah mengira selama ini.

“Tidak!” ujarnya dengan nada mantap.

Alhamdulillah. Fabi ayyi 'alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan. Maka nikmat Allah yang mana yang kamu dustakan?


Pembelajaran daring

Syukur terucap. Kami bukannya dalam keadaan yang tidak terbatas atau serba ada. Kami banyak keterbatasannya. Misalnya saja handphone yang dipergunakan Athifah belajar jarak jauh adalah ponsel yang saya pergunakan sehari-hari. Yang saya pakai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lepas.

Misalnya lagi, saya bukanlah ibu peri yang senantiasa tersenyum lembut apapun yang terjadi. Saya sama seperti mamak-mamak yang lain. Yang bisa mengomel panjang-pendek jika menemukan hal-hal yang tidak disenangi. Namun saya membuat batasan sendiri, kapan harus berhenti mengomel dan tidak boleh mengulang-ulangi omelan tanpa batas. Kalau bisa hanya dua kali.

Wajah saya tak selalu ramah. Saya bisa cemberut dan sangar juga. Tanyakan pada anak-anak saya kalau tak percaya. 😆 Perlu gitu ya dicerita hahah.

Supaya tidak salah sangka. Ada orang-orang yang mengatakan saya tak mungkin bisa marah-marah padahal bisa saja. Mungkin karena wajah saya kesannya seperti pemeran-pemeran sinetron yang kalau main sinetron posisinya selalu sebagai orang yang tertindas, yang kayak ibu peri begitu. Padahal saya punya sisi lain yang menjadikan kepribadian saya utuh.

Bagaimana tidak terpancing mengomel kalau tugas yang seharusnya selesai pukul 12 bisa selesai pukul 4 sore. Soalnya anaknya sudah tahu kalau dari sisi guru, sampai malam pun para siswa mengerjakan tugas tak mengapa karena tak boleh memaksa siswa pada masa pandemi ini. Sekolah harus memberikan kemudahan buat siswa. Makanya kadang-kadang dia santuy macam lagi di pantay.

Atau, ketika tiba-tiba mendapati si anak gadis tidur pada jam-jam sekolah atau berselancar di Instagram sampai lupa balik ke buku tulisnya ... bagaimana ndak gemas Mamak? Alhasil deh cerdutim – ceramah 2 – 3 menit keluar dari mulut Mamak.

Itulah saya.


Drama pembelajaran daring

Tapi untuk urusan belajar online, saya realistis saja karena saya lebih suka anak-anak belajarnya di rumah saja selama keadaan belum membaik, selama zona covid-19 di kota kami belum lagi hijau. Malah saya berharap kalaupun sudah hijau, anak-anak tidak usah tiap hari ke sekolah, dalam sepekan 3 kali saja.

Konsekuensinya, saya harus banyak mengalah, banyak pekerjaan tertunda. Apalagi laptop yang biasa saya pakai dipergunakan si sulung Affiq ke kampusnya jadinya saya tak bisa mengerjakan banyak hal seperti dulu. Tak mengapa.

Syukurnya, putri saya belajarnya via grup Whatsapp dan aplikasi Google Classroom saja, bukan via Zoom Cloud Meeting jadi terasa lebih mudah. Dengan smartphone saja bisa belajar dan mengerjakan tugas.

Yes, tugas. Tugas Athifah selalu ada.

Ada guru-guru yang memberikan materi dulu sebelum memberikan tugas namun ada juga yang langsung memberikan tugas. Maka, selain buku paket, si anak gadis sudah tahu harus bertanya ke mana. Apa lagi kalau bukan pada Mbah Google dan Brainly. Mamaknya kebagian jatah kalau Google dan Brainly tidak memuaskan.

Ada kalanya Mamak mau menjelaskan dan memberikan arahan bagaimana menjawab tugasnya tapi anaknya maunya mengikuti kemauan Brainly. Ya sudahlah. Santai saja. Zamannya sekarang memang seperti ini. Sebagai orang tua, saya yang harus belajar dan beradaptasi dengan beberapa hikmah seperti:

  • Orang tua belajar memahami bagaimana caranya membantu anak semaksimal mungkin setelah drama 3 hari membuat video prakarya dari bahan alam lunak. Di sini anak sekaligus belajar pentingnya bekerja sama dan memiliki tim yang solid dalam mengerjakan “project”.
  • Proses pembelajaran jarak jauh bisa menjadi ajang mempererat bonding antara saya dan anak-anak sebagaimana yang saya sadari bahwa bonding atau ikatan batin tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan harus saya upayakan dengan baik. Belajar dari rumah membuat saya punya cara lain untuk meyakinkan anak-anak kalau mereka bisa mengandalkan ibunya ini.
  • Ada hikmah lain selain dua hal di atas. Di antaranya lebih irit dan lebih praktis.
  • Jangan menuntut pihak luar keluarga, seperti pihak sekolah ideal dalam keadaan seperti ini, lakukan saja yang terbaik toh buat kepentingan kami juga.
  • Keterbatasan bukan halangan untuk melakukan pembelajaran daring. Justru keterbatasan bisa mengasah kreativitas dan secara tidak langsung mengajarkan anak sedikit kemampuan bertahan hidup.

Eh itu sih saya. Setujukah?

Yuk ditambah kalau kalian punya pengalaman lain terkait hal positif yag diperoleh selama pembelajaran daring. 

Makassar, 8 Januari 2021



Share :

12 Komentar di "Hikmah, Bukan Stres di Antara Drama Pembelajaran Daring"

  1. Pada akhirnya, kesimpulan yang bisa Acha ambil adalah, tergantung bagaimana keadaan di rumah dan pembiasaan dari orangtua yang membuat anak strew saat belajar daring. Semoga kesimpulan Acha tepat ya Bund.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kurang lebih negitu, Cha. Ibu memang memegang peranan penting, tentunya tergantung sikon masing-masing. Anak juga punya sudut pandang sendiri,tergantung karakter dan bagaimana pengalamannya di sekolah 🤗

      Delete
  2. klo aku pas daring ini ngajarin manajemen waktu sama anak sih mak, klo dia males2an gitu aku sering bilang,"Kamu bersyukur belajar dirumah, coba disekolah pasti nggak bisa santuy2 begini kan" eeehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anakku tahu, justru santuy 🤭
      Tapi saya tidak mau terlalu membebani juga, memang membiarkan dia mengerjakan tugas dengan senang. Jadi meski dicereweti, tidak saya press juga. Soalnya sekolah masih lama prosesnya. Sekolah dari rumah, entah sampai kapan. Kalau santai pun harapannya bisa lebih masuk di benaknya. 😁

      Delete
  3. Kalau aku menerapkan waktu belajar sama dengan sebelum pandemi, biar anak juga bisa tetap disiplin. Beruntung banget sih, sekolahnya menerapkan pertemuan di Zoom setiap hari dilanjut VC sama gurunya, setelah itu mengerjakan tugas secara mandiri.

    ReplyDelete
  4. sejauh ini klo anak anakku suka dgn model pjj gini mbak
    yg bikin drama kadang malah gurunya yg suka salah jadwal online, hehe

    ReplyDelete
  5. Sebenarnya yang bikin stress adalah perubahan cara belajarnya dan waktu bermain anak jadi terbatas ruang lingkupnya. Nikmati aja

    ReplyDelete
  6. Skr pun aku udh terbiasa Ama pelajaran online ini mba. Mungkin msh menikmati karena pelajarannya masih untuk anak kls 2 dan TK :D. Kalo ntr udah utk SMP ke atas, aku ntr duluuu, Krn bbrpa pelajaran khususnya yg masuk kategori IPA, aku lemah. Kalo sampe hrs ngajarin si anak itu, mnding cari guru private yg aku dtangin ke rumahlah :D.

    Anakku juga hanya pake WA cara belajarnya. Jd si guru ksh tugas, trus dikumpul gitu aja. Jd mau ga mau ibu nya juga yg ngajarin. Untungnya aku udh resign. Jd bisalah sambil ngeliatin si Kaka sementara akunya jg kerja sambilan di rumah. Kalo adiknya aku minta bantuan babysitter yg ngajarin, secara msh tugas nyanyi dan yg gampang2 :D.

    Intinya sih, dari akunya yg hrs bisa handle emosi. Itu yg paling utama sih. Awalnya susah Krn aku ga sabaran orangnya. Jd mungkin di awal2pun anakku ga bisa menikmati pelajaran daring, dan LBH suka papinya yg ngajar :D. Tapi itu dulu. Skr kami berdua udh sama2 mulai terbiasa dan adaptasi, walo kdg sesekali aku msh emosi ngajarnya -_-

    ReplyDelete
  7. mba pembelajaran daring memang bikin mumet yaa kadang2 sudah begitu kadang bikin agak mumet emaknya juga wkwk cuma ada satu yang membuatku terus semngat, yakni anak keduaku jadi bisa ikutan sekolah wkwk jadi hemat deeeh

    ReplyDelete
  8. Lebih nyaman pakai aplikasi Google Classroom kah, kak Niar?
    Kami masih pakai zoom meeting. Mungkin karena anak-anak semakin familiar yaa...
    Untuk penugasan, tetap menggunakan file pdf yang harus disalin lagi di buku dan dikirimkan via WA.

    Alhamdulillah,
    Kami sekeluarga juga happy banget dirumah. Hehehe...enaknya, pas istirahat bisa ngemil sambil candain anak-anak.

    ReplyDelete
  9. ada banyak hikmah yang bisa diambil ya mbak. anakku masih kecil, belum mengalami kemumetan seperti ibu-ibu lain. sedikit banyak aku bisa lihat kalau PJJ ini gak cuma bikin stress namun ada hikmah juga dibaliknya

    ReplyDelete
  10. Ternyata pjj nggak selalu bikin anak stres ya, mbak. Malah ada yang menikmatinya. Bisa jadi karena kalau belajar di rumah lebih nyaman bagi si anak

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^