Bincang-bincang Pemilu dengan Komisioner KPU

Ada yang berbeda dengan salah satu acara rutin komunitas bloger Anging Mammiri pada hari Sabtu, 30 Maret lalu. Kali ini acara bertajuk Tudang Sipulung itu mengundang komisioner KPU (Komisi Pemilihan Umum) – Endang Sari, S.Ip, M. Si sebagai nara sumber.

Apalagi yang dibahas kalau bukan soal pemilihan umum yang tinggal menghitung hari pelaksanaannya. Pasti sudah pada tahu kan kalau nanti kita akan mencoblos 5 surat suara dengan 5 warna berbeda: hijau (DPRD kabupaten/kota), biru (DPRD provinsi), kuning (DPR RI), merah (DPD RI), dan abu-abu (presiden RI).

Bincang Pemilu

Tudang Sipulung kali ini agak sepi di saat saya malah membawa serta ketiga anak saya. Mana tahu nanti pada tertarik gabung komunitas, mereka sudah ikut kopdar (kopi darat) dengan mamaknya, tinggal daftar saja hehe.

Bukan itu saja, sih. Si anak bujang sudah mempunyai hak pilih tahun ini jadi perlu juga dia mengikuti acara dengan materi pemilu seperti ini. Walaupun tak ramai, diskusi yang berlangsung di Kedai Pojok Adhyaksa ini tetap berlangsung dengan dukungan antusiasme peserta yang hadir.

Bincang Pemilu

Sebelum memulai diskusi, dibagikan brosur berjudul AYO SUKSESKAN PEMILU SERENTAK 17 APRIL 2019. Ibu Endang memulai pemaparannya, berpedoman pada isi brosur yang berisi tentang hal-hal yang penting diketahui terkait pemilu tahun ini.

Pertama-tama, peserta diajak untuk memastikan diri terdaftar sebagai pemilih. Aplikasi Android KPU RI PEMILU 2019 boleh diunduh untuk memastikan nama kita terdaftar. Kita pun perlu tahu mengenai istilah DAFTAR PEMILIH. Selain Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang sudah terdaftar di TPS, ada 2 jenis daftar pemilih lagi.

Foto: AM - Yani

Dua jenis lainnya itu adalah Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), yaitu yang sudah terdaftar sebagai DPT di sebuah TPS tetapi pada hari H, sebuah keadaan memaksanya untuk memilih di TPS lain. Dan DPK (Daftar Pemilih Khusus) – yaitu yang sudah memiliki identitas kependudukan sebagai WNI tetapi belum terdaftar dalam DPT dan DPTb.

Masa pengumuman DPT adalah Agustus 2018 hingga 17 April 2019. Untuk DPTb, pelayanan pendaftaran pindah memilih sampai dengan H – 7. Sementara untuk DPK, pelayanannya hingga 17 April. Dalam pelaksanaan pemilu, Bu Endang berharap bloger bisa berperan dalam mengamati rekapitulasi suara dan independensi penyelenggaraan.

Pemaparan Bu Endang beralih kepada
bahasan mengenai fakta Angka Partisipasi Pemilih
pada pemilu serentak 2017 yang mengejutkan.
Untuk Sulawesi Selatan, ternyata rekor
angka partisipasi terendah dipegang oleh
Kota Makassar, yaitu sebanyak 58,9%.

Mengejutkannya, karena Makassar itu kota metropolitan, lho! Nah, kecamatan yang paling rendah Angka Partisipasi Pemilihnya adalah Kecamatan Tamalate, yaitu sebesar 47%. Untuk Kecamatan Tamalate, daerah Mannurukki yang paling rendah angkamya. Sebuah ironi karena di wilayah ini banyak rumah kos mahasiswa.



Kalau boleh memberi julukan, mahasiswa merupakan anggota masyarakat yang dinilai sebagai “kaum terpelajar”. Ironi lain disebutkan lagi oleh Bu Endang. Kelurahan Masale adalah yang angka partisipasinya terendah di Makassar, yaitu sebesar 37%.

Mengapa ironi? Karena di daerah inilah – di sekitar Panakukang Mas terdapat kawasan elite yang banyak orang percaya masyarakatnya adalah orang-orang berpendidikan. Pada kenyataannya justru tak banyak yang tergerak untuk menggunakan hak pilihnya.


Lalu berapakah Angka Partisipasi Pemilih yang dinilai tinggi? Kata Bu Endang, apabila berada di atas angka 60%. Di Sulawesi Selatan, daerah yang paling tinggi Angka Partisipasi Pemilihnya adalah di Kepulauan Sangkarrang, Kecamatan Ujung Tanah. Mencengangkannya, di sana angkanya mencapai 77,5%.

Faktanya, angka setinggi itu bukan karena kesadaran penduduknya untuk menyuarakan hak pilihnya tinggi atau karena mereka sangat berpendidikan. Bukan itu. Malah ditemukan di sana adanya mobilisasi dan money politic!

Bu Endang dan Evhy (Ketua Anging Mammiri),
foto: AM

Apa boleh buat, tingkat kesadaran politik masyarakat kita masih rendah. Hal ini semakin terungkap pada sesi tanya-jawab dan diskusi. Masyarakat masih banyak yang apatis dengan mekanisme politik di negara kita karena berpikir tidak akan ada dampaknya bagi mereka siapa pun yang menang pada kontestasi calon presiden dan calonn legislator (caleg) saat pemilu.

Money politic juga masih marak. Para caleg dan masyarakat masih banyak yang menganggap masa sebelum pemilu adalah ajang pasar dan untung-rugi. Uang berbicara untuk suara yang diberikan. Siapa yang bisa memberikan lebih besar atau banyak maka dialah yang dipilih.

Bukannya mendidik masyarakat, banyak caleg yang tak bersikap pantas, seperti yang saya ceritakan pada tulisan berjudul Memilih Caleg untuk Balas Budi? Bu Endang mengimbau untuk sama-sama mengedukasi masyarakat kita.

Foto: AM - Yani

Berikan pengertian kepada mereka kalau salah memilih wakil rakyat maka efeknya pada peraturan-peraturan yang tidak memihak rakyat kecil. Penggusuran bisa saja terjadi misalnya karena peraturan daerah terkait tata ruang tidak memperhatikan kepentingan masyarakat.

Wakil rakyat yang tak punya visi memperjuangkan kepentingan masyarakat juga akan menghasilkan produk-produk kebijakan yang tak adil. Mereka yang terlalu banyak menghabiskan uangnya saat kampanye akan berpikir bagaimana cara cepat mengembalikan bahkan melipatgandakan penghasilannya saat duduk menjadi anggota dewan.

Nah, bagaimana? Apakah kalian sudah mempunyai calon yang layak untuk dipilih pada 17 April nanti? Kalau belum, coba dululah telusuri nama-nama yang wajahnya terpampang di sekitar kediaman kita di internet dan media sosial. Mana tahu ada rekam jejak digitalnya yang berkesan.

Sayangnya, sebagian besar caleg tidak menuliskan visi-misinya pada  spanduk dan materi-materi promosi yang mereka sebar. Kebanyakan hanya memajang foto dengan senyum manis merekah.

Padahal banyak pemilih yang seperti saya ini
tak memerlukan senyuman (apalagi janji tiket umroh),
melainkan paparan visi, misi, dan rekam jejak positif
yang menunjukkan itikad baik mereka untuk masyarakat.

Makassar, 4 April 2019

Baca juga:


Share :

6 Komentar di "Bincang-bincang Pemilu dengan Komisioner KPU"

  1. Pemilu penting!
    Saya aja sampe bela belain pulang kampung demi biar bisa milih

    *sambil alesan supaya bisa pulang* hahahaha

    ReplyDelete

  2. Membaca tulisan kak Niar masalah KPU. Saya baru inget belum ngecek udah terdaftar apa belum di TPS.

    ReplyDelete
  3. Acaranya bagus dan menarik, semoga dengan semakin gencarnya sosialisasi, angka pemilih di pemilu nanti semakin tinggi

    ReplyDelete
  4. Acaranya menarik mbak, dan lebih oke kalau hal-hal semacam ini dilakukan sebagai edukasi ke warga jauh jauh jauh jauh hari sebelum rame2nya pemilu. Semacam penanaman konsep lah

    ReplyDelete
  5. Ayo, gunakan hak pilih sesuai dengan hati nurani. Karena pemilu 5 tahun sekali

    ReplyDelete
  6. Waduh, sampai di bawah separo gitu ya (dan mungkin banyak juga daerah lain yang punya cerita serupa). Semoga yang kali ini tingkat partisipasinya jauh lebih tinggi. :)

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^