Catatan dari Ngobrol Publik Pendidikan Karakter Melalui Media Pembelajaran yang Kreatif dan Inovatif

Sering disangka guru atau dosen oleh orang-orang, padahal saya bukan keduanya. Pun bukan penggiat komunitas yang berkecimpung dengan dunia pendidikan tapi saya tertarik menghadiri NGOBROL PUBLIK PeKan (Pesta Pendidikan) Makassar yang diselenggarakan pada tanggal 16 Maret lalu di Rumata’ Artspace, jalan Bontonompo. Kebetulan pula situasi dan kondisi memungkinkan saya untuk hadir bersama pak suami.



Saya datang terlambat karena sebelumnya ribet dengan urusan di rumah dulu. Saat saya tiba, Luthfia Zein Pettarani sedang berbicara di hadapan para peserta. Luthfia dari komunitas #ObatManjur (orang hebat main jujur) yang tergabung dalam RELASI (Relawan Antikorupsi), menceritakan mengenai apa yang dilakukan komunitasnya.

Marketing designer yang juga IT & Business Consultant ini menceritakan mengenai board game yang menjadi permainan alternatif mulai anak sekolah dasar hingga mahasiswa untuk mengintegrasikan 9 nilai anti korupsi. Oya, 9 nilai anti korupsi itu adalah: jujur, mandiri, disiplin, peduli, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil.

Nara sumber berikutnya adalah Reni Susanti – Koordinator Peace Generation Chapter Makassar yang berbagi mengenai Peace Generation yang menambil peran mendidik melalui perdamaian dengan metode tersendiri.


Ada juga Sri Nurul Azizah Amir – Ketua Cabang SIGi (Sahabat Indonesia Berbagi) yang menceritakan mengenai kegiatan SIGi melalui kegiatan mengajar dan berbagi dengan anak-anak dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Salah satunya adalah SIGi Carakde. Carakde dalam bahasa Makassar adalah “Pintar”. Carakde merupakan kepanjangan dari Baca, Aritmatika, Dakwah, dan English.

Nara sumber lelaki satu-satunya: Darmawan Denassa menceritakan tentang inisiatifnya dalam mengembangkan Rumah Hijau Denassa (RHD) menjadi tempat belajar anak-anak. Siapa pun bisa datang belajar di sana, untuk mengenal lingkungan hidup dan kearifan lokal yang ada di dalamnya.

Najelaa Shihab, adalah orang yang paling bikin saya penasaran. Inisiator dari Kampus Guru Cikal dan Rumah Bermain Cikal ini memang bergerak dalam dunia pendidikan. Menggagas gerakan Pesta Pendidikan yang menghimpun para komunitas dan pemerhati pendidikan untuk bergerak bersama, gerakan ini berganti nama menjadi Semua Murid Semua Guru. Suka sama istilahnya dan sesuai dengan apa yang saya pahami. Dalam pemahaman saya, kita semua sebenarnya bisa belajar dari seorang anak kecil ataupun melalui orang gila sekali pun.


Pesta Pendidikan memulai aksinya di tahun 2016. Setelah dua tahun, ada yang berbeda. Kebanyakan organisasi ingin saling belajar satu sama lain. Oleh sebab itu, ada Ngobrol Publik yang dilaksanakan setiap bulan. Yang saya hadiri kali inilah contohnya, in syaa Allah alah dilaksanakan secara berkala, setiap bulan satu kali.

Selain Ngobrol Publik, Najelaa menjelaskan mengenai Janji Publik sebagai rangkaian PeKan. Janji Publik merupakan program inkubasi. Ada satu ide yang dieksekusi bersama-sama. Contohnya PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) yang sedang studi di luar negeri mengajak guru untuk belajar di luar negeri agar sepulangnya ke Indonesia bisa melakukan sesuatu yang lebih baik lagi.

Pada tahun 2017, peserta PeKan 250 komunitas dan organisasi, 5 kementerian dan lembaga, 31 media, dan puluhan ribu guru, orang tua, dan siswa. Menghimpun data mereka yang mau bergerak bersama-sama di 252 kabupaten/kota seindonesia, para anggota diharapkan bisa bergerak bersama. Jika sama-sama punya program untuk anak-anak di wilayah tertentu bisa saling berkolaborasi.

Najelaa Shihab

Dalam pikiran sederhana saya, misalnya board game Keranjang Bolong untuk anak-anak PAUD dan TK atau board game Terajana untuk usia SD, dan board game D’Hospital (yang berpesan bahwa korupsi bisa terjadi di mana-mana termasuk lewat fasilitas umum seperti rumah sakit, lewat game ini pemain belajar bagaimana cara menyiasatinya) dari #ObatManjur bisa digunakan untuk memfasilitasi organisasi atau komunitas atau sekolah lain di Makassar.

Cerita Denassa membuat saya sangat terpukau. Sudah pernah membaca kisahnya, juga menontonnya di televisi, tetap saja saya terpesona ketika kisah RHD kembali mengalir dari Denassa. Denassa mengumpulkan tanaman-tanaman endemik dan menemukan banyak cara mengajarkan banyak hal menarik kepada anak-anak. Tak jarang dirinya datang ke sekolah-sekolah dan mengajarkan anak-anak tentang alam. Bukan hanya jenis-jenis tanaman saja, melainkan juga soal sosiologi, ekonomi, dan kultural. Investasi yang diajarkannya pun bukan dengan mengejar saham atau bunga bank, melainkan menanam pohon mahoni dan jati.

“Di RHD anak-anak juga belajar jujur, antri. Kalau datang malam mereka memainkan permainan malam. Ada materi maskulinitas tanaman, feminitas tanaman, dan nama-nama kampung dari tanaman,” ujar Denassa.


Menurutnya, anak-anak seharusnya diajari dengan lingkungan yang dikenalnya. Anak-anak di Sulawesi Selatan jangan diajari tentang zebra tapi diajari banyak-banyak tentang seluk-beluk ayam dan sapi supaya kelak mereka bisa jadi pengusaha sapi atau ayam.

“Sekolah itu candu. Sekolah itu di waktu senggang, di waktu senang,” pungkas Denassa. Iya, kan. Seharusnya anak-anak kita belajar sembari bersenan-senang supaya apa yang dipelajarinya lebih mudah tertanam dalam dirinya.


Di Makassar kan sudah banyak yang peduli dengan pendidikan dan mereka bergerak dengan visi dan misinya masing-masing. Contohnya yang menjadi nara sumber dalam Ngobrol Publik ini. Masih banyak lagi yang lainnya, sih, seperti LeMINA (saya kebetulan duduk di dekat para relawan LeMINA di acara ini). Sebelum ngeh tentang Pesta Pendidikan atau Semua Murid Semua Guru ini, saya menyaksikan LeMINA sudah berkolaborasi dengan banyak komunitas, termasuk dengan IIDN Makassar yang saya gawangi. Menurut Luthfia, #ObatManjur juga sudah berkolaborasi dengan beberapa komunitas. Well, mudah-mudahan setelah ini kolaborasi di antara para pemerhati dunia anak semakin berdaya dan bermakna. Bersesuaian pula dengan apa yang dikatakan Najeela, “Capek kerja sendiri karena memikirkan sendiri.” Yes, kalau bisa barengan kenapa harus kerja sendiri?

Makassar, 23 Maret 2018



Share :

3 Komentar di "Catatan dari Ngobrol Publik Pendidikan Karakter Melalui Media Pembelajaran yang Kreatif dan Inovatif"

  1. Setuju, bersinergi lebih baik. Apalagi tujuannya sama. Sama-sama peduli dengan pendidikan Indonesia

    ReplyDelete
  2. Wah kok keren bgt ya, makassar punya banyak relawan yg peduli dg dunia pendidikan. Semoga di daerahku pun makin banyak relawan untuk mengedukasi ortu. Suka sedih kl ortunya sendiri nggak memberikan kehangatan di rumahnya..

    ReplyDelete
  3. Semoga event pesta pendidikan terus sukses bergerak mengedukasi anak2 indonesia menjadi generasi yang siap mental, cerdas, dan kreatif

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^