Pelajaran dari Grand Final Lomba Bercerita Tingkat SD/MI 2018

Menyelesaikan kerempongan pagi-pagi dulu, baru saya siap mengantarkan Athifah. Kami meluncur ke Hotel Asyra di jalan Maipa, guna menyimak pengumuman hasil Audisi Lomba Bercerita Tingkat SD/MI Kota Makassar yang dilaksanakan sehari sebelumnya, pada tanggal 17 April 2018. Kami tiba pas sesaat sebelum acara Grand Final Lomba Bercerita Tingkat SD/MI Kota Makassar dimulai. Deg-degan juga rasanya menanti pengumuman 10 peserta yang masuk grand final lomba ini. Oya, simak tulisan sebelumnya: 5 Hal Tentang Lomba Bercerita Tingkat SD/MI yang Perlu Anda Tahu dan Pelajaran dari Audisi Lomba Bercerita Tingkat SD/MI 2018.


Tidak menunggu lama lagi, satu per satu nama diambil bak menarik nama siapa yang naik sebagai penerima uang arisan. Pandai nian panitia memakai sistem ini, peserta yang disebutkan nomornya langsung membawakan ceritanya. Jadi, nomor-nomor peserta – kesepuluh grand finalist sebenarnya sudah ada di dalam 10 amplop tapi tidak langsung disebutkan di hadapan kami. Setiap nama diambil secara acak oleh para staf di lingkup Perpustakaan Kota Makassar. Usai giliran peserta pertama, baru nomor peserta lain lagi yang ditarik dan dilanjutkan dengan penampilan berceritanya. Begitu hingga 10 nomor yang masuk grand final disebut. Aslinya, kami dibuat dumba’-dumba’ (deg-degan, bahasa Makassar) berjamaah. Sungguh strategi yang tepat supaya yang tidak masuk grand final tidak cepat pulang.

Perasaan saya tidak yakin kalau Athifah akan lolos ke grand final tapi saya belum pesimis juga. “Siapa tahu saja dia lolos,” bisikan kecil itu selalu mencoba meyakinkan saya.

Saya bertahan di tempat duduk hingga peserta terakhir dipanggil. Pada giliran peserta terakhir, kurang lebih 50 persen kursi kosong. Entah pada ke mana. Saya sampai takut, jangan sampai peserta terakhir itu menjadi hilang fokus karena penontonnya hilang satu-satu. Jujur saja, kalau hal seperti itu terjadi kepada saya, saya akan grogi dan hilang konsentrasi. Tapi luar biasa peserta kesepuluh ini. Dia mampu bertahan hingga selesai bercerita, tetap dengan semangat yang sama seperti pertama kali memulai bercerita. Luar biasa. Dia memang pantas masuk ke babak grand final ini!

Para juri memberikan sambutannya

Saya menyimak banyak pembelajaran dari komentar dewan juri kepada kesepuluh peserta. Saya mencatat beberapa poin menarik, yaitu:
  1. Jika beradegan semacam monolog kreatif dengan beberapa tokoh layaknya aksi teatrikal, sebaiknya tidak lebih dari 30%.
  2. Pendamping harap merekonstruksi cerita dengan baik dan pantas untuk anak-anak. Unsur romantisme semisal “cita-cita” ingin menikahi seorang gadis karena kecantikannya supaya dikurangi.
  3. Masih untuk pendamping, konflik yang menimbulkan kekerasan supaya dikurangi. Jika ada adegan menggunakan pedang dan merobek-robek tubuh seseorang, sebaiknya jangan ditampilkan. Cukup gunakan kekuatan narasi.
  4. Jangan membuang properti terlebih jika itu berbentuk buku. Buku adalah benda yang seharusnya kita hargai.
  5. Properti harus dimainkan sendiri oleh anak sebagai pencerita. Sama sekali tidak boleh ada bantuan dari luar meski itu sekadar gendang yang dimainkan sesaat.
  6. Jika menyangkut sejarah, telusuri lagi kebenaran datanya. Termasuk kecocokan nama dengan daerah asalnya. Jangan sampai salah.
  7. Mainkan intonasi suara dalam bercerita.
  8. Perhatikan letak properti, jangan sampai kejauhan dan membuat repot anak dalam bercerita.
Mengenai properti, saya salut dengan Naila dari SDN Unggulan 1 Mongonsidi yang akhirnya memenangkan kompetisi ini. Dia menggunakan efek suara/musik dari file presentasi Power Point yang dihubungkan ke sebuah wireless speaker dan sebuah pointer. Pointer diselipkannya di pinggangnya dan dia mainkan ketika perlu mengeluarkan efek-efek suara tersebut. Naila berlatih berkali-kali hingga dia luwes menggunakan propertinya itu. Luar biasa pelatihnya. Selain itu, ada pula properti berupa foto Nene’ Mallomo yang menjadi topik ceritanya dan sebatang kayu. Aksi Naila memukau, tidak hanya dari caranya bercerita. Melainkan juga dari caranya menguasai panggung dan properti.

Ah, saya belum bercerita tentang Athifah, ya? Putri saya tidak lolos masuk dalam 10 besar peserta grand final (sekaligus pemenang lomba, pemenangnya ada 10 orang, dari 100-an peserta). Dia mengaku tak kecewa. Saya juga tidak. Sebab saya mengapresiasi proses. Kalah atau menang tak mengapa karena dalam sebuah proses pasti ada pelajaran yang bisa diambil.

Penarikan nomor peserta yang akan tampil
Sedih lihat kursi pada kosong saat peserta kesepuluh tampil. Yuk, hargai penampilan
anak-anak kita. Cuma sepuluh orang, koq, Bu, Pak. Hanya sebentar mereka
tampil.
Pulang ke rumah kami mengevaluasi apa saja kekurangannya. Saya bertanya kepadanya terlebih dulu, menurut dia apa kekurangannya. Gadis kecilku menjawab yang dia tahu, “Saya tidak berganti suara waktu berganti tokoh. Ekspresiku juga kurang.” Betul juga. Saya memberi tahu apa kekurangannya menurut saya. Mungkin saja tak semuanya bisa kami ungkap. Andai juri memberi penilaian, kami bisa tahu. Namun saya juga mengatakan kalau penampilannya tahun ini lebih baik daripada tahun lalu.

Saya memperlihatkan padanya postingan Instagram saya - repost dari akun @LPS_Idic tentang Susy Susanti – mantan pebulu tangkis yang kiprahnya meraih predikat internasional di jaman old luar biasa:
Peraih emas pertama bagi Indonesia di Olimpiade Barcelona tahun 1992 ini juga menjuarai All England sebanyak empat kali (1990, 1991, 1993, 1994), juara dunia tahun 1993, juara Indonesia Open sebanyak 6 kali, Malaysia Open 4 kali, merebut medali perunggu pada Olimpiade Atlanta tahun 1996, serta merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 bersama tim. Prestasi itu tidak datang seketika. Peraih penghargaan Hall of Fame Badminton World Federation ini harus berlatih enam hari dalam seminggu, dari pukul 07.00 hingga 11.00 dan 15.00 hingga 19.00. Kunci prestasinya adalah disiplin dan konsentrasi. Dua kata sederhana tapi tidak mudah dilakukan. Dibutuhkan tekad keras untuk menjalankannya.

Saya menekankan mengenai berapa lama Susy berlatih dalam sepekan, lalu dalam sehari. Saya tekankan padanya bahwa, jika mau menang, seharusnya dia berlatih berkali-kali dalam sehari. Waktu latihan kemarin, saya memintanya berlatih sebanyak 30 kali dalam sehari. Masing-masing 10 kali di waktu pagi, siang, dan malam hari. Saya tak tahu apakah benar dia berlatih sebanyak itu – menurut dia, sih iya. Yang jelas, saya yakin, dia dapat pelajaran berharga di Grand Final Lomba Bercerita kali ini. Iya, kan Athifah?

Makassar, 29 April 2018



Share :

6 Komentar di "Pelajaran dari Grand Final Lomba Bercerita Tingkat SD/MI 2018"

  1. Bentar lagi tempatku ada lomba bercerita juga, Mbak. Bisa jadi modal nih kalau nglatih muridku. Makasih, Mbak.

    ReplyDelete
  2. Keren ananda Athifah, sudah berani tampil. Sesungguhnya anakta itu sudah menjadi pemenang, bisa mengetahui kekurangannya sekaligus percaya diri adalah proses menuju kemenangan.

    Top de Athifah. Peluk sayang buat Athifah eh...buat ibunya juga, hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Benar Kak, kita bisa melihatnya dari sisi itu. Terima kasih. Peluk sayang jugaa :* :)

      Delete
  3. masih muda sudah mulai menunjukan bakat, semoga mereka di masa depan menjadi inspirator di kalangan mereke

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^