Gara-Gara Bang Salim

Sumber inspirasi Affiq
Sumber:
bsalimisqowi-indaddin.blogspot.com
Anak-anak memang peniru ulung. Beri mereka hal-hal yang menarik maka mereka akan menirunya!

Itulah yang dilakukan putra sulung saya Affiq tiga tahun yang lalu saat masih kelas 2 SD yang pada saat itu lagi senang-senangnya nonton si Entong - sebuah sinetron yang konon bergenre komedi.

Kala itu tiap hari si Entong diputar di TPI. Saya suka protes ketika anak-anak nonton. Malah TV dimatikan kalau mereka tak mau mendengarkan. Tetapi selalu saja mereka berhasil nonton serial yang sangat memukau mereka itu.

Jalan ceritanya tidak masuk akal. Membawa-bawa nama agama tetapi isinya isapan jempol. Belum lagi ada anak yang karakternya yang ‘terlalu malaikat’ tanpa kesan kenaifan khas anak-anak pada dirinya. Ya, itulah si Entong – ia terlalu sempurna. Sementara ada anak yang karakternya ‘terlalu setan’, tak ada baik-baiknya sebagai lawan si Entong. Kontennya hanya seputar menjahili Entong yang dilawan bocah malaikat itu dengan bertumpu pada kekuatan magic yang ‘dibumbui’ basmalah.

Di sinetron itu ada seorang tokoh bernama bang Salim. Bersama seorang tokoh lainnya – bang Samin, mereka kerjanya ke sana - ke mari tidak jelas, semacam punakawan (abdi pengiring). Pemeran bang Salim ini menjiwai perannya dengan mengedip-kedipkan sebelah matanya sepanjang sinetron.

Ini yang ditiru Affiq. Tahu-tahu saja matanya berkedip-kedip sebelah. Mirip kedipan bang Salim. Pada awalnya, kedipan itu hanya sesekali. Makin lama makin sering. Dalam semenit ia bisa berkali-kali berkedip-kedip!

Kalau kedua mata berkedip masih wajar
Sumber gambar:  http://martbees.com
Haduh, galaunya. Kenapa anak saya jadi begini?
Tentu saja saya dan suami menegurnya. Saya mengatakan kebiasaan itu tak baik. Ia harus bisa menghentikannya. Namun teguran saya bagai angin lalu. Ia tetap dengan kebiasaan itu.

Untungnya itu berlangsung tidak lama-lama amat. Setelah ‘diteror’ terus oleh kami, ia bisa menghentikannya.

Sialnya, sinetron itu masih tayang terus. Hanya hitungan hari, kebiasaan aneh itu muncul lagi. Levelnya langsung tinggi. Hiks. Kembali berbagai bujuk rayu hingga kemarahan saya lontarkan kepada Affiq namun ia keukeuh dengan kebiasaan anehnya itu. Ia berkedip-kedip di mana saja. Kapan saja.

Lha kalo begini??
Sumber :
http://webster-dictionary.org
Saya sampai menjerit pilu padanya, “Nak, kalau Kamu sedang berada di jalan dan berpapasan dengan orang yang lagi pacaran, bisa-bisa Kamu dipukul sama sang cowok. Karena ia mengira Kamu menggoda ceweknya!” Oh, saya sungguh frustrasi, aneka ragam kata-kata saya semburkan kepadanya, bahkan pengandaian yang aneh seperti itu!

Akhirnya setelah berlangsung selama berminggu-minggu, kebiasaan itu hilang.
Tapi ... kelegaan saya tak berlangsung lama. Beberapa minggu kemudian, karena sinetron itu masih tayang, kebiasaannya balik lagi. Ya Allah, rasanya saya kehabisan kata-kata. Entah harus bagaimana lagi.

Ingin rasanya merutuki bang Salim. Tapi saya sadar, itu hanya improvisasinya supaya bisa menjiwai tokoh yang diperankannya. Lagi pula percuma merutukinya. Kalau membawa perbaikan bolehlah saya cerca ia.
Arrrgghhhhhhh .....

Miris, pilu, sedih, malu.
Sampai-sampai ada kerabat yang berkata, “Kenapa itu anaknya Niar seperti itu?” Haduh ...... Saya sampai mengeluarkan kata-kata ini kepada Affiq, “Nak, kalau begini terus Mama bisa malu jalan dengan Affiq!”

Air mata saya seringkali terkuras. Usai shalat, pun di waktu shalat. Saya berdo’a terus kepada Allah, juga tilawah (mengaji) dengan mendo’akan Affiq sebelumnya, berharap apa yang saya baca itu berkah bagi kesembuhan Affiq. Dibalik kerisauan yang menjadi, saya masih meyakini bahwa do’a ibu pasti diijabah oleh Allah.

Si Entong - anak berjiwa malaikat.
Sumber gambar: http://negerimimpi.wordpress.com
Ia tak sanggup menghentikannya sendiri. Jika ia punya kesadaran, ia bisa berusaha menghentikannya sendiri. Tetapi ia tak punya kesadaran bahwa kebiasaan itu tak baik dan harus ia sendiri yang menghentikannya. Tak mungkin saya atau papanya yang melakukannya. Kami hanya bisa memotivasinya terus. Itu saja.

Ia tentu tersiksa juga. Kedipan sebelah mata yang berlangsung berkali-kali sepanjang hari selama berhari-hari tentu saja tak nyaman. Tetapi saya tahu pasti itu bisa dihentikan asal ada kemauan dari si ‘penderita’.

Sewaktu masih kelas 4 SD, saya pernah terkena ‘penyakit’ serupa itu. Gara-gara memperhatikan dengan seksama adik seorang teman yang kedua matanya berkedip dengan cepat – jauh di atas normal, tiba-tiba saja saya seolah ketularan. Kecepatan kedipan mata saya menyamai kecepatan kedipan mata anak itu.

Hal itu berlangsung berhari-hari. Saya masih ingat, betapa tersiksanya saya. Tetapi saya memiliki kesadaran untuk menghentikannya sendiri. Alhamdulillah, dengan susah-payah saya berhasil. Tetapi Affiq, ia tak punya motivasi dari dalam dirinya untuk menghentikan kebiasaan anehnya.

Membawanya ke dokter saraf adalah kemungkinan terburuk. Kedipan yang berulang-ulang dan berlangsung dalam waktu yang lama adalah salah satu indikasi adanya penyakit saraf. Tidaaaak, saya tak mau membawanya ke dokter saraf. Anak saya tak berpenyakit saraf. Itu hanya keisengan yang ia buat saja.

Kalut, cemas, stres.
Ibu mana yang tak stres menghadapi hal seperti ini?
Suatu malam, saya pandangi ia yang sedang pulas terlelap. Tangan saya memegang segelas air putih.
Saya usap kepalanya penuh kasih nan pilu.

Tujuh ayat pertama surah ke-36 (Yasin)
Saya kemudian berdo’a lalu membacakan al-Fatihah, juga surah Yasin. Lalu air itu saya tiup perlahan, ubun-ubunnya pun saya tiup dengan lembut, saya menangis dan memohon yang sangat kepada Allah, supaya Ia menyembuhkan kebiasaan aneh itu. Saya benar-benar berserah diri pada-Nya. Saya meresapi makna ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah’ – tiada daya dan upaya melainkan dari Allah semata. Juga menghayati makna Allaahushshamad – Allahlah tempat bergantung segala sesuatu sebisa saya. Lalu wajahnya saya basuh dengan air itu. Kemudian saya pun berangkat tidur.

Esoknya, kebiasaan berkedip-kedip itu berkurang. Hari-hari berikutnya, makin berkurang. Hingga akhirnya betul-betul berhenti! Ajaib, subhanallah. Ia merahmati kami! Terimakasih ya Allah. Engkau memang Maha Pengabul Do’a.

Setelah itu, kebiasaan itu pernah hampir muncul lagi namun cepat hilang. Mudah-mudahan tak muncul lagi. Alhamdulillah ya Allah. Tolong jaga Affiq dari kebiasaan aneh itu, jangan biarkan ia melakukannya kembali. Dan bang Salim serta aktor/aktris di seluruh dunia, please deh jangan menjiwai sebuah karakter sampai sebegitu ekstrimnya. Tahukah kalian, ada seorang ibu di tanah Celebes yang stres gara-gara penjiwaan secara berlebihan itu?  Tolong dong yang sewajarnya saja ya kalau berakting!

Makassar, 15 Maret 2012

Tulisan ini di-share dalam rangka mengikuti “GA GOLDEN MOMENT WITH YOUR CHILD” yang diadakan oleh penerbit byPASS 



Baca juga tulisan berikut ya ...



Share :

58 Komentar di "Gara-Gara Bang Salim"

  1. sinetron sekarang memang mengkhawatirkan mba. banyak yg nggak masuk logika sama ngasih tuntunan kebiasaan yang jelek.
    tapi subhanallah ya, Allah selalu ngasih solusinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, dan banyak sinetron buruk yang sasarannya anak2. Seperti si Entong itu. Di blog yang mengulasnya - tempat saya ambil gambar itu di : http://negerimimpi.wordpress.com, penulisnya membeberkan pengaruh buruk sinetron ini ...

      Delete
  2. begitulah kak pengaruh media sekarang ini, setipa tntonan anak harus kita seleksi..salut untuk kak niar dalam menegur affiq, sukses kontes nya kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Tia. Aduh, saya merasa belum pantas disaluti Tia, karena perjalanan masih jauuuuuuh ke depan. Affiq masih kelas 5 SD dan ia suka sekali memperhatikan kebiasaan2 aneh dan mempraktekkannya, atau ia sendiri yang menciptakannya.

      Menjadi ibu betul2 perjuangan. Dan perjuangan saya masih panjang sekali. Mudah2an saya bisa melaluinya.
      Terimakasih sudah membaca ya Tia :)

      Delete
  3. Terlalu banyak sinetron yang mempunyai karakter yang kurang mengena di masyarakat, terlalu dibuat-buat malah seperti ngaco.. Semoga kedepan akan lahir sinetron yang benar2 berkualitas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak sekali yang ngaco. Apalagi yang sekarang itu Fathiyah. Haduh, sudah pake nama islami, isinya ngaco. Mana ada orang dari hutan kulitnya mulus? Logikanya ngawur. Dari hal ini saja, sinetron ingin mengajarkan anak2 berlogika ngawur juga? Belum lagi isinya ge je begitu ....

      Delete
  4. mungkin lebih baik anak-anak di batasi jam nonton tivi nya mbak, sayang sekali kan kalo gara2 nonton tv anak2 kita malah jadi meniru hal2 yang tak baik untuk di lakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih mbak, bagusnya memang begitu.
      Hal yang ditiru Affiq itu bukan hal umum yang ditiru anak2. Kalo anak2 lain meniru ngeyelnya si siapa itu musuhnya Entong misalnya, atau saling ejeknya. Lha Affiq, niru kedip2 sebelah matanya. Ck ck ck ... ada2 saja anak2 ...

      Delete
  5. Subhanallah.... doa seorang ibu apalagi dengan ritual yang Semata-mata hanya memohon kepadaNYA ya mba.... begitu mujarab. Keajaiban yang memang benar-benar NYATA adanya. Subhanallah....

    Semoga kebiasaan aneh itu tidak kembali lagi ya mba... turut mengamini doamu...

    Memang anak adalah peniru ulung, dan sayangnya di sekeliling kita kini, banyak sekali hal tidak pantas ditiru yang sedang dipertontonkan... membuat tugas kita selaku orang tua semakin sulit dalam mengarahkan dan membimbing anak-anak kita. Lingkungan dan prilaku sekitar sangat mempengaruhi...

    sukses untuk kontesnya ya mba....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Alaika. Aamiin. Aamiin yaa Rabb.
      Anak saya ini punya kebiasaan unik, bukan sekali ini saja dia buat geger saya dan papanya. Tapi tidak selalu krn pengaruh TV juga. Benar2 anak yang unik :D

      Delete
  6. thankq sob kunjungannya...Artikel yg inspiratif.:)

    ReplyDelete
  7. aduh itu serial itu memang ada sisi positifnya dan kebalikannya gak kalah sama, saya juga kadang suka bingung,kenapa karakter baiknya terlalu di lebih lebihkan di sinetron itu >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, koq ada anak2 usia SD kalo baik kayak malaikat, kalo jahat saingan sama iblis ya ... >.<

      Delete
  8. emang aktor paling berpengaruh dalam perubahan dunia adalah media. . .. ntu contohnya. . . . hehehehhehee

    ReplyDelete
  9. deuuuhh affiq....
    udah kak langganan yestv aja biar ga dapet siaran MNC hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. TVku rusak sekarang, kadang2 mau on, lebih sering ngambek. Biar mi dulu begitu hehehe

      Delete
  10. Allhamdulillah kebiasaan itu bisa hilang ya mbak. anak-anak gak ada yg nonton sinetronmbak dirumah walaupun temanya anak-anak. agakprotektif dikit mudah2an gak salah aku ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah .... iya mbak sebaiknya memang protektif. Kalo saya, masih saya izinkan nonton sih, cuma diusahakan mereka yang disetir oleh kami .. :)

      Delete
  11. Eh ya Allah...
    Karena tivi bisa gitu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, begitulah Affiq .. Un. Anakku yang satu itu super unik. Apapun bisa jadi inspirasinya. Masa mata kedutan jadi inspirasi coba hehehe. Mudah2an tdk terulang lagi ...

      Delete
  12. Subhanallah, bunda...terharu...
    baca juga tulisan An yang pedagogik, yaa
    http://www.aniamaharani.blogspot.com/2012/02/seni-pendagogik.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, sudah mampir di lapaknya. Terimakasih ya sudah membaca tulisan saya :)

      Delete
  13. Kalo di rumah tidak ada TV, bisa ga yaaa??? semakin hari kayanya, acara yang berbobot pengajarannya semakin berkurang....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan kedua adik saya gak mau pasang TV Sam. Kelihatannya bisa tuh mereka ^__^
      Kalau kita tidak bisa, dibatasi atau didampingi saja anaknya ..

      Delete
  14. subhanallah.Allah Maha Kuasa. sekarang lg pusing ama kak Ola mbak Niar.dia lagi suka nonton Fathiya.sinetron di stasiun yg sama dengan ntong.dia jadi suka ngledek2.akhirnya tiap nonton aku dampingi dan ku bilang kalo yg jelek jgn dicontoh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, sinetron itu (Fathiyah) menyebalkan banget. Anak2 di sini juga suka. Sama mama Ola, saya juga langsung bilang 'jelek' kalau ada hal2 yang tidak bagus ditampilkan.

      Delete
  15. Walah kak affiq genit deh kedip2 mata terus, ntar tante pites lho dek.. *lho....

    Apa yang diliat anak bisa ditirukan yaa bunda niar :D Smuga kak affiq tak genit2 kedip2 lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang gak genit lagi koq tante. Itu kejadian 3 tahun yl :D

      Delete
  16. subhanallah.. akhirnya hilang ya mbak kebiasaan itu.. Tp anak2 sy juga gak sy biasain nonton sinetron.. Mrk nonton disney channel setiap hari.. Makanya cukup tersiksa ketika Keke hrs di rawat, yang seruangan dg anak sy nontonnya sinetron.. Huaaaaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bundanya Ke2Nai, alhamdulillah hilang, tak perlu ke dokter saraf. Mudah2an gak muncul lagi. Untungnya saya bukan enikmat sinetron. Saya penyebal sinetron (secara umum) - tapi sebenarnya ada juga sinetron yang bagus koq, jadi sebenarnya anak tidak terlalu 'berpihak' sma sinetron. Untungnya masih ada film2 animasi/kartun di TV2 nasional. Yang gak ada malah lagu anak2 ...

      Waktu dirawat itu Keke gak jadi ketagihan sinetron kan?

      Delete
    2. Alhamdulillah gak sp ketagihan.. Ya itu malah dia uring2an krn bukan tontonan dia.. Akhirnya dia milih utk tidur aja.. Kl ttg lagu anak emang udah langka bgt.. Untungnya ada youtube, setidaknya sy masih bisa kenalin lagu2 anak deh disana.. Atau ya di channel2 utk anak itu..

      Delete
    3. Syukurlah kalo begitu ... Mudah2an seterusnya seperti itu ya mbak :)

      Delete
  17. alur ceritanya penuh dgn makna kehidupan yg trjadi di masarakat..

    ReplyDelete
  18. film indonesia kebanyakan menjurus ke kekerasan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, begitulah kalo mutu dinomorsekiankan :)

      Delete
  19. Nice posting sob. Kunjung balik ya.

    ReplyDelete
  20. alhamdulillah akhirnya kedipan affiq berhenti...anak memang copy cat harus hati-hati ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Rina. Alhamdulillah ... terimakasih :)

      Delete
  21. Media sekarang ini memang sungguh keterlaluan bunda, tim kreatif mereka lupa akan siapa saja yg menonton dan mencerna tayangan mereka. Sesuatu berbalut islami tetapi dalam penyajiannya ada hal yang tak layak dan mengkhawatirkan. Harus berhati2 dalam melangkah & doa seorang bunda untuk anaknya pasti diijabahi oleh Allah. Amien. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul. Unsur pendidikan terkesampingkan. Terimakasih ya sudah membaca :)

      Delete
  22. eemmm, emang harus extra hati-hati nih...untungnya anak saya gak suka sinetron. salam kenal ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga mbak. Iya mbak Rosa. Syukurlah kalau anak2nya gak suka nonton sinetron. Oya, sya gak bisa ke blog pribadinya, nama mbak link ke Google Plus tapi gak ada nama blog pribadinya di situ, yang ada web online shop-nya, gak bisa meninggalkan komentar :D

      Delete
  23. Sistem filter utk tayangan siang/yg bisa dilihat anak-anak semakin komersil...unsur edukasi sudah menempati skala yang kesekian. Asal ratingnya bagus...soal muatan moral dan obyektifitas menjadi tidak penting lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, begitulah mbak. Sayang ya ... terimkasih mbak Ririe ^__^

      Delete
  24. sampe segitunya efek dr sinetron yg ga mendidik itu ya mba..duh jd ikut prihatin, biasanya anggap enteng aja, skrg lg musim nonton si madun nih anak2, dan yg kecil sukses membuat tendangan sesuai dg akting di tipi tp yg jd sasaran malah kk nya...huuufffft
    salut dg usahamu mba, jd inspirasi dan motivasi buat mimi agar jgn menyepelekan tontonan ga bermutu buat anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu sekarang yang lagi disukai anak2 mbak Mimi. Sama itu lho "Fathiyah" haduh ... ampun deh. Untung TV di rumah kadang mau on, kadang tidak jadi anak2 suka lupa ada sinetron itu. Mereka sekarang nonto film2 animasi di Global TV

      Delete
  25. wah ternyata,,, baru tahu bunda mugni..
    hemmm... parah yah?
    hihi

    smoga menang dan selalu happy blogging..

    senyuman di mendung siang hari.:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah begitulah hehehe.
      Aamiin. Terimakasih ya Annur.

      Happy blogging juga :)

      Delete
  26. klo ada kontes buah hati, bawaanny pegen ikut ajeh.

    sayang belum juga puya anak dan belum dapat jodoh dr Alloh hihi...

    seruu yah bunda kayaknya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru bangedz hehehe.
      Mudah2an bertemu jodoh yang baik ya ...

      Delete
  27. mesti selalu di dampingi dan di awasi ya bu.. :)
    untuk kasus affiq yg mash di awasi dan di dampingi sehari-hari aja masih bs gitu, gimana anak2 yg lain yg orang tuanya lebih banyak 'melepas' anaknya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anakku yang satu ini unik sekali miss 'U. Sy bersyukur sekali bisa mengawasinya penuh waktu. Itu pun sebenarnya sesekali kebablasan juga. Betul itu, bayangkan mereka yang lebih banyak 'melepas' anaknya ...

      Delete
  28. wah bagus juga nich artikelnya sob..

    ReplyDelete
  29. itu film yg sy suka nih?

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^