Suatu Siang Kelabu Basah

Kembang terkini di halaman

Ini kali pertama hujan deras di daerah Rappocini. Kemarin-kemarin memang hujan tapi belum deras begini. Hari ini pula kali pertama hujan dalam waktu yang lebih lama. Kemarin masih bisa menjemur pakaian di bawah terik matahari, hari ini tak bisa karena langit sudah muram sejak tadi pagi. Semakin siang semakin kelabu kemudian menurunkan tetes-tetes air dalam debet cukup besar.
Tiba tiba ibu muncul dari balik pintu dan menyapa saya yang sedang asyik di komputer, “Air sudah mulai naik!”

Sisa-sisa air di pintu depan
Saya bergegas ke ruang tengah, mengumpulkan mainan anak-anak yang bertebaran di atas tikar dan karpet. Tikar dan karpet di situ hendak digulung guna mengantisipasi ancaman banjir.
Lalu saya masuk ke kamar dan menaikkan kasur kecil dari karpet ke atas meja pendek. Affiq dan papanya belum pulang dari acara belajar bersama di rumah kawan Affiq (papa menjadi mentor Matematika mereka) sehingga saya harus melakukannya seorang diri. Ibu masuk kamar. Demi melihat debu yang menempel di karpet, seketika beliau melontar jengah, “Tak pernah Kau bersihkan ya? Koq bisa kotor begini? Ck ck ck ...
Keindahan titik air di atas daun
Yah, apa mau dikata. Saya tak bisa memperhatikan semuanya dengan detil apalagi karpet merah itu selama ini ketindihan kasur yang amat berat buat saya sehingga tak bisa sering-sering saya sapu di situ. Ini pun saya kewalahan mengangkatnya, untung ada ibu yang melihat saya dan menawarkan bantuan mengangkat kasur itu.
Langit kelabu tua memuntahkan air yang banyak. Hanya beberapa menit, air di teras mulai merayap mendekati pintu ruang tamu kami. Tak berapa lama, tanpa permisi air itu melongokkan wujudnya dari sela-sela tanggul yang baru saja dipasang ayah di kusen pintu. Tanggul buatan ayah dari kayu itu dipasang hanya saat hujan saja. Kalau tak hujan, ia disimpan kembali oleh ayah.
Pekarangan depan tergenang
Tanggul buatan ayah di pintu samping
Dari sela-sela tanggul di pintu samping dan pintu dapur, wajah-wajah air melongok. Di dapur, air naik dari sela-sela lantai di bawah wastafel tempat cuci piring. Sudah sekitar lima tahun terakhir memang seperti ini jadi kami tak heran lagi.
Dua jam kemudian hujan mereda, menyisakan tetes-tetes yang masih meminta tempat di permukaan bumi Rappocini. Sambil menggendong Afyad yang adem dengan suasana siang itu saya bertanya pada ayah yang baru masuk rumah, “Gorong-gorongnya bagaimana Pa, airnya mengalir ke sana?”
“Ada air dari got seberang yang menyeberang ke got sebelah sini. Katanya kanal sudah penuh,” kata ayah.
Ada keindahan titik air di halaman kami
Rumah kami yang termasuk yang paling rendah letaknya dari rumah-rumah sekitar terletak kira-kira tiga ratus meter dari kanal. Kanal itu dibangun pemerintah kota bertahun yang lalu sebagai bagian dari sistem drainase untuk memudahkan ‘lalu-lintas’ pengairan pembuangan air.
Tetes-tetes air itu indah juga
“Di jalan raya di depan katanya sudah naik air. Ada tetangga kita yang motornya mogok saat sedang menuju ke sini,” lanjut ayah.
Waduh ... padahal hujan hari ini belum seberapa. Belum berjam-jam lamanya dan belum berhari-hari. Kemarin-kemarin kan masih panas. Bagaimana kalau hujan deras yang hebat datang?” kata saya.
Artinya harus ekstra waspada lagi besok-besok. Di daerah ini pembangunan ruko sangat pesat. Semua ruko halamannya dibeton untuk area parkir. Sekarang tanah kosong semakin berkurang, yang di dalam lorong pun sudah pada dibangun empunya tanah. Daerah resapan air semakin berkurang. Apa boleh buat, siap-siap saja menyongsong hari-hari kelabu basah berikutnya ...
Makassar, 4 Desember 2011

Baca juga tulisan-tulisan saya yang lain yah:

Belajar dari Tamparan Seorang Kompasianer
Peran Orangtua Bagi Anak Penyandang Disabilitas dalam Menjawab Pandangan Masyarakat

Share :

4 Komentar di "Suatu Siang Kelabu Basah"

  1. saya juga ketar2 di sini mba, padahal tempat ini tinggi dan ada lotengnya. cuma ya gitu, banyak bocor dan kemarin ini air nyelonong dari saluran pembuangan air.
    dalam waktu dekat harus bikin tanggul seperti itu juga, agar air dari kamar mandi tidak langsung meluas ke dapur, setidaknya ada kesempatanlah buat naik2in barang hiks ...

    makin cemas saya menjelang 2012 karena pengalaman 2x itu kan banjir siklus 5tahunan yang sangat menyeramkan :(

    ReplyDelete
  2. Wah senasib yah ... air di kamar mandi kami juga cepat naik menggenang saat hujan deras, jadi di setiap pintu kamar mandi ada tanggulnya juga.

    Waktu hujan hari itu, ternyata ada perumahan yang pagar tinginya longsor di daerah yg tak jauh dari rumah saya sampai2 beritanya masuk TV. Sekurangnya ada 8 orang meninggal ... hiks

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^