Gas dan BBM di Makassar Tersedia, Harga di Pasar Tradisional Naik

Gas dan BBM di Makassar Tersedia, Harga di Pasar Tradisional Naik – Tiga pekan lalu saya bertanya-tanya: BBM Langka? Siapa yang Panic Buying? Begitu pun beberapa orang, saya dengar-dengar punya pertanyaan yang sama dengan saya. Alhamdulillah, sekitar 3 pekan lalu, keadaan di Makassar sudah membaik: gas sudah tersedia kembali dan untuk isi bensin tak perlu berdasarkan plat nomor ganjil-genap, juga tak perlu lagi antre sampai berjam-jam.

Harga Pasar Tradisional Naik

Kupikir listrik sudah normal, sudah setiap hari menyala normal tetapi ternyata hingga saat ini masih ada giliran mati lampu yang kejadiannya random. Random-nya itu walaupun ada jadwal tetapi suka-suka PLN menjalankan jadwalnya.

Ketika kita waspada nih, misalnya lihat di bagian komunitas PLN area kita di aplikasi WhatsApp, jadwalnya tanggal 3 jam 1 siang, belum tentu jam segitu mati lampu. Bisa jadi 5 jam kemudian baru mati lampu. Atau kita sudah waspada nih bakal mati lampu hari ini, eh ternyata tidak mati lampu seharian itu. Atau kita sudah senang saja tak ada jadwal mati lampu di hari itu, ternyata tahu-tahu mati lampu saja tanpa pemberitahuan. Menggemaskan, bukan? 😩

Listrik Masih Tidak Terduga

Betapa nano-nanonya hidup dalam ketidakpastian haha. Begitulah, hari-hari yang harus dijalani di Makassar saat ini. Beruntunglah jika dalam sepekan sama sekali tidak mati lampu, rasanya MERDEKA! Sekarang mencoba menikmati saja hidup tanpa kepastian dari PLN ini. 😀

Jadinya saya ragu-ragu mengambil kursus online karena khawatirnya saat sedang belajar tiba-tiba mati lampu. Syukurnya, ketika ikut kelas menulis skenario yang dibimbing oleh Ichwan Persada, listrik di rumah menyala terus, sejak awal sampai kelas selesai. Thank you, PLN. 😊

Harga Jeruk Nipis

Gas … Oh Gas

Setidaknya, untuk saat ini sudah lebih legalah dalam hal ketersediaan gas dan bensin. Untuk gas ini maksudku tabung gas melon ya. Ada beberapa kritik dan saran kepada saya yang sayangnya tidak bisa saya penuhi. Katanya gas melon itu ada peruntukannya, yaitu untuk “masyarakat miskin”.

Saya sih tidak berkeberatan tergolong miskin sebab keberadaan tabung gas kecil ini memudahkanku. Saya tinggalnya di dalam gang. Warung sebelah, yang jaraknya hanya dipisahkan oleh gang kecil, menjual tabung gas melon. Sementara untuk gas yang ukurannya lebih besar sangat merepotkan untuk memperolehnya. Kendaraan di rumah hanya sepeda motor. Buat yang bermobil mungkin jauh lebih mudah ya tetapi tidak denganku.

Lebih dari 20 tahun yang lalu kami menggunakan tabung gas yang besar itu, yang berwarna biru. Kira-kira sampai sekitar 16 tahun lalu. Awalnya sih masih mudah mendapatkannya karena membelinya bisa di dekat rumah. Lalu warung dan pangkalan yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah itu tidak lagi menyediakan tabung biru besar, jadi kami harus ke pangkalan yang letaknya sekitar 100 meter dari rumah untuk membeli gas. Saat itu, makin lama makin ribet berurusan dengan tukang bentor untuk urusan mengantar/jemput tabung dan untuk mengangkatkan tabung besar itu.

Waktu itu belum ada tabung pink, umumnya orang menggunakan tabung biru. Lalu datanglah tabung hijau alias tabung melon. Kami pun mengganti tabung biru dengan tabung hijau karena lebih mudah diperoleh, tinggal beli di tetangga yang punya pangkalan tabung gas depan rumah. Barangnya lebih mudah diangkat dan harganya murah karena subsidi.

Sementara itu, gas tabung biru itu harganya semakin lama semakin melambung tinggi, sulit diperoleh karena harus mencari bentor yang tidak jual mahal sekaligus badannya sehat sehingga mau membantu mengangkat tabung.

Kebayang kan, bagaimana saya, ibu rumah tangga yang tinggal di dalam gang harus berjibaku dengan tabung gas di antara rutinitas sehari-hari yang lumayan menguras energi? Dengan menggunakan tabung melon, saya merasa sangat dimudahkan. Selain harganya yang sangat bersahabat, kalau misal tidak ada yang bisa dimintai tolong untuk membelikannya di warung sebelah, saya masih bisa kok pergi membelinya sendiri.  

Maka mau dikritik bagaimana pun, mohon maaf – saya belum bisa menggantinya ke tabung yang lebih besar karena saya memang termasuk golongan yang layak menggunakan gas tabung hijau. Alasannya sudah berkali-kali kusebutkan dalam tulisan ini: yaitu harganya yang sangat bersahabat dan sangat mudah mendapatkannya, cukup ke warung sebelah.

Panjang urusannya jika harus pergi membeli tabung gas yang berukuran besar karena saya harus menggunakan kendaraan umum seperti ojol, bentor, atau bajaj. Mengapa? Sebab saya tidak bisa mengendarai sepeda motor. Namun demikian, saya masih cari cara untuk berganti haluan ke tabung pink atau menggunakannya sebagai persediaan. 😇

Harga Jeruk Nipis di Pasar Melonjak
Okeh, begitulah cerita tentang tabung gas. Semoga aman-aman saja situasi. Namun demikian, masalah baru muncul: harga bahan-bahan makanan di pasar melonjak. Saya terkejut ketika pekan lalu berbelanja ke Pasar Terong. Masa harga jeruk nipis 1 kg Rp24.000 padahal dua bulan lalu hanya Rp6.000. Sebulan lalu harganya Rp12.000. Biasanya jeruk nipis murah, setahuku sudah bertahun-tahun harganya sekitar lima sampai enam ribu rupiah.

Harga sereh di Pasar Terong juga melonjak dua kali lipat. Biasanya saya sudah dapat banyak dengan membayar Rp5.000 saja, sekarang untuk ukuran yang sama, saya harus membayar Rp10.000. Kol juga naik, harga sekilonya sudah di atas Rp10.000. Harga cabe rawit antara Rp70.000-Rp90.000. Pada naik deh harga bahan-bahan di pasar. Mungkin karena kemarau panjang, mengingat sampai hari ini belum turun hujan di Makassar. Cuaca panas sekali. Mungkin juga karena alasan lain. Entahlah. Kalau ada yang tahu, boleh berkomentar di kotak komentar di bawah ini ya.

Makassar, 8 Oktober 2026



Share :

0 Response to "Gas dan BBM di Makassar Tersedia, Harga di Pasar Tradisional Naik"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^