Mengelola Usaha Percetakan: Pantau 5 Angka Krusial Ini Setiap Minggu - Menjalankan usaha percetakan skala UMKM memiliki dinamika yang cukup tinggi. Saban hari, pesanan datang dengan spesifikasi berbeda. Mulai dari cetak kartu nama, spanduk flexi, brosur promosi, hingga kemasan produk. Di tengah kesibukan melayani pelanggan dan mengejar deadline cetak, pemilik usaha kerap kali hanya fokus pada satu hal: omzet harian sampai-sampai perhatiannya teralihkan dari beberapa hal lainnya yang tak kalah pentingnya.
Bisa
jadi pelaku usaha yang seperti itu lupa bahwa memiliki omzet besar tidak selalu
berbanding lurus dengan keuntungan bersih yang masuk ke kantong apalagi jika
kemampuan manajerial belum mumpuni.
Ketika
masuk masa akhir bulan, pemilik percetakan kaget karena kas menipis padahal
mesin cetak terus beroperasi tanpa henti. Ketar-ketir bisa memicu serangan
jantung jika tak kuat mental. Begitu catatan pembukuan yang terserak dikumpulkan
dan diteliti. Barulah terkejut karena yang terjadi adalah “besar pasak daripada
tiang”. Kunci untuk menghindari jebakan ini terletak pada cara mencatat
keuangan usaha yang tertib dan konsisten.
Agar
bisnis percetakan Anda tetap sehat dan berkembang, tidak perlu menunggu laporan
keuangan akhir bulan untuk melakukan evaluasi. Ada beberapa indikator
operasional dan keuangan yang wajib Anda evaluasi setiap minggu.
1. Angka yang Layak Dipantau Setiap Minggu dalam Mengelola Usaha
Evaluasi
mingguan memungkinkan pelaku dan pengelola usaha mendeteksi masalah operasional
secara dini sebelum menjadi krisis keuangan di akhir bulan. Dalam bisnis
percetakan, berikut lima angka utama yang harus dicermati setiap minggunya:
1. Total Pendapatan Bersih (Net Revenue) Mingguan
Bukan sekadar akumulasi uang masuk di
kasir, melainkan total nilai pekerjaan yang telah diselesaikan dan dibayar
(atau jelas status piutangnya) dalam periode satu minggu.
2. Arus Kas Masuk dan Keluar (Cash Flow)
Memastikan jumlah uang tunai atau saldo
bank yang tersedia cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, seperti
pembelian bahan baku mendadak atau operasional mingguan.
3. Nilai Piutang Pelanggan yang Jatuh Tempo
Usaha percetakan sering kali berhadapan
dengan sistem pembayaran down payment (DP) di awal dan pelunasan saat
barang diambil. Memantau piutang secara mingguan mencegah terjadinya tunggakan
yang menumpuk dari pelanggan.
4. Tingkat Komplain atau Produk Gagal (Reject Rate)
Berapa meter kertas atau bahan banner
yang terbuang akibat salah cetak atau kerusakan mesin dalam seminggu? Angka ini
berdampak langsung pada marjin keuntungan percetakan.
5. Perputaran Stok Bahan Baku Utama
Catatan sisa stok kertas, tinta, dan
bahan laminasi yang terpakai dibandingkan dengan jumlah cetakan yang
dihasilkan.
2. Mengubah Catatan Penjualan Menjadi Dasar Keputusan Belanja Stok
Salah
satu kesalahan paling umum pada UMKM percetakan adalah belanja bahan baku
berdasarkan perkiraan atau feeling atau bahkan “tiba masa tiba akal membelinya”. Pemilik usaha secara
tak sadar bisa menumpuk stok kertas jenis tertentu karena harganya sedang
murah, padahal permintaan cetak untuk jenis kertas tersebut sedang menurun.
Sebaliknya, stok tinta warna primer atau bahan banner yang paling laris
justru habis di tengah minggu saat pesanan sedang membludak sementara pemesanan
baru dilakukan ketika tinta habis, akibatnya pelanggan tidak dilayani dengan
baik.
Di
sinilah pentingnya mengubah catatan penjualan mingguan menjadi acuan belanja
modal. Dengan menerapkan cara mencatat keuangan usaha yang terstruktur, setiap
lembar kertas dan mililiter tinta yang terpakai dapat dihubungkan langsung
dengan data transaksi penjualan.
Contoh
Penerapan pada Usaha Percetakan
Misalnya,
dari rekapitulasi penjualan mingguan, pelaku usaha melihat adanya lonjakan
permintaan cetak standing banner dan stiker label makanan sebesar 30%
menjelang akhir pekan. Data tersebut memberi sinyal bahwa untuk minggu depan,
alokasi dana belanja stok harus diprioritaskan pada pembelian bahan stiker
vinyil, flexi, dan pasokan tinta ekosolven, bukan menambah stok kertas
kalkir atau kover keras yang penjualannya sedang lambat.
- Mengambil keputusan belanja berdasarkan histori data penjualan memberikan tiga keuntungan utama:
- Mencegah Overstock: modal usaha tidak mengendap dalam bentuk bahan baku yang jarang dipakai.
- Menghindari Out of Stock: Anda tidak akan menolak pesanan atau menunda deadline pelanggan hanya karena kehabisan tinta atau kertas popular.
- Efisiensi Arus Kas: Pengeluaran kas bulanan menjadi lebih terukur dan efisien.
Mengapa Pencatatan Manual Tidak Lagi Cukup?
Pada
skala usaha kecil, mencatat transaksi secara manual di buku tulis atau spreadsheet
sederhana mungkin terasa mudah. Namun, seiring bertambahnya variasi produk dan
volume transaksi di usaha percetakan, cara manual rentan terhadap human
error, selisih perhitungan, hingga risiko data hilang.
Untuk
menyederhanakan proses ini, pelaku UMKM dapat memanfaatkan teknologi digital
seperti aplikasi pembukuan usaha seperti Labamu.
Dengan sistem kasir digital dan pembukuan terintegrasi, setiap transaksi yang
diinput oleh staf kasir akan otomatis memotong stok bahan baku yang terikat dan
merekap laporan penjualan serta laporan keuangan secara real-time.
Dengan
demikian, pemilik bisnis tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam di
akhir minggu hanya untuk merekap nota penjualan. Semua angka krusial, mulai
dari omzet harian, sisa stok tinta, hingga pergerakan kas dapat dipantau
langsung dari layar smartphone atau komputer.
💙💖💚
Pengelolaan
usaha percetakan yang sukses tidak hanya mengandalkan kualitas cetak dan
kecepatan layanan, tetapi juga ketajaman pemiliknya dalam membaca angka-angka
keuangan. Dengan rutin memantau lima indikator penting setiap minggu dan
memanfaatkan catatan penjualan sebagai acuan belanja stok, Anda dapat menjaga
arus kas tetap aman dan menghindarkan bisnis dari pemborosan modal.
Mulailah
merapikan sistem operasional Anda hari ini dengan mengimplementasikan pencatatan
keuangan usaha yang rapi dan terdigitalisasi agar bisnis percetakan Anda siap
tumbuh lebih besar secara berkelanjutan.
Share :


Ini menarik banget karena kadang sebagai pelaku usaha kita memang suka kejebak di angka omzet. Lihat pemasukan lumayan, hati sudah senang duluan, padahal setelah dihitung-hitung… kok uangnya menguap entah ke mana!
ReplyDeleteBagian tentang 5 angka yang perlu dipantau setiap minggu ini ngena banget, terutama cash flow, piutang, dan stok. Kelihatannya sederhana, tapi justru hal-hal begini yang sering luput ketika kita terlalu sibuk mengurus pesanan dan operasional harian.
Aku juga suka bagian “belanja berdasarkan data, bukan feeling”. Rasanya relate banget dengan usaha kecil yang kadang masih pakai jurus “kayaknya bakal laku nih” 😂 Padahal modal yang mengendap di stok itu diam-diam bisa bikin napas usaha jadi sesak... makasih yaaa relate banget sama aku dan "dunia jualanku
yang imut imut
Dulu sebelum Covid perusahaan percetakan laku keras mb, karena banyak penerbit Indie, termasuk aku dan suami buat penerbit indie. Kalau sekarang tetap bagus juga ya mb? Aku lama gak ngamatin dunia percetakan, tapi memang betul usaha itu harus bisa membaca angka-angka yang berputar dalam perusahaan agar termanage dengan baik
ReplyDeleteDi era digital seperti sekarang ternyata dunia percetakan masih bisa bertahan ya, mbak. Dan pastinya dalam menjalankan usaha percetakan ini juga diperlukan berbagai strategi termasuk pemilihan aplikasi pencatat transaksi atau kasir digital seperti Labamu agar perhitungan keuangan lebih mudah dilakukan
ReplyDeleteLabamu ini membantu banget untuk proses pencatatan, penghitungan dan penyediaan stok percetakan ya jadi ngga usah pusing mikir dan menghitung secara manual cukup pakai aplikasi Labamu beres semuanya
ReplyDelete