8 Kualitas Mental yang Wajib Dimiliki Penulis Skenario Film – Menulis skenario film sering kali dibayangkan sebagai pekerjaan soliter yang romantis: duduk di depan laptop, menyeruput kopi, dan membiarkan imajinasi liar mengalir begitu saja. Namun bagi produser dan sutradara kawakan Ichwan Persada, realitas di industri perfilman sangatlah berbeda. Skenario adalah pondasi utama dari sebuah film; layaknya membangun rumah, jika pondasinya rapuh, maka seluruh bangunan di atasnya akan mudah rubuh.
Dalam
bincang-bincang hangat bersama komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) dalam sesi Writer’s
Talk, live di akun Instagram @ibuibudoyannulis tanggal 16 Agustus lalu, Kak Ichwan membagikan
rahasia dapur industri perfilman . Menjadi penulis skenario yang andal bukan
sekadar soal merangkai dialog puitis atau adegan dramatis, melainkan tentang
kualitas mental, disiplin, dan karakter yang ada di dalam diri sang penulis.
Berikut
adalah 8 kualitas esensial dan sikap mental yang wajib dimiliki seseorang
jika ingin serius terjun ke dunia penulisan skenario profesional:
1. Memiliki Niat Baik Sejak Awal (Intention)
Segala
sesuatu yang besar selalu dimulai dari hal yang paling mendasar: niat. Kak Ichwan
menceritakan pengalamannya saat pertama kali belajar menulis skenario secara
serius dari penulis kawakan Raya Makarim. Dari sana, ia menyadari bahwa langkah
pertama yang paling krusial adalah menetapkan niat baik untuk melahirkan karya
yang bagus dan jujur. Tanpa landasan niat yang kuat, proses penulisan yang
panjang dan melelahkan di tengah jalan sangat rentan buyar dan kehilangan arah.
2. Berkomitmen untuk Melakukan Riset yang Mendalam dan Jujur
"Menulislah
tentang apa yang kamu ketahui" adalah nasihat klasik yang sering kita
dengar. Namun demikian, industri film sering kali menuntut penulis untuk keluar
dari zona nyaman mereka. Di sinilah riset memegang peranan vital agar cerita
tidak terasa mengada-ada dan berada di semesta yang tepat.
Ketika
menulis skenario Solata film peraih Penghargaan Khusus Kebudayaan dan
Kemanusiaan di Golden FEMI Film Festival di Sofia, Bulgaria) baru-baru ini, Kak
Ichwan dan rekan penulis skenarionya – Aray Amelia, melakukan riset mendalam
sejak Desember 2022. Mereka rela menempuh perjalanan berat ke pedalaman Olon,
Toraja, menerobos jalanan rusak dengan motor demi memahami langsung manusia dan
dinamika sosial di sana. Riset yang serius adalah bentuk tanggung jawab
profesional penulis kepada penontonnya.
3. Jiwa Kolaboratif dan Siap Berkompromi
Berbeda
dengan novelis yang bisa bekerja secara soliter, penulis skenario adalah bagian
dari sebuah kerja kolektif. Di industri film, berlaku apa yang disebut Triangle
System—kolaborasi erat antara penulis skenario, sutradara, dan produser.
Tiga
kepala ini akan saling bertukar pikiran dan visi untuk melahirkan karya terbaik.
Penulis skenario harus mampu menekan egonya dan menyerap visi sutradara agar
bisa dituangkan ke dalam adegan, karakter, dan dialog. Kemampuan untuk
berkolaborasi, mendengarkan, dan mencari jalan tengah (kompromi) adalah kunci
agar proyek film berjalan harmonis.
4. Kelenturan Kreatif (Fleksibilitas) di Lapangan
Skenario
yang baik bukanlah dokumen kaku yang tidak boleh diubah. Proses kreatif di film
sangat dinamis, dan penulis harus memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan
naskah dengan realitas lapangan atau respon jujur dari para aktor.
Dalam
film Solata, Ichwan mencontohkan kelenturan ini saat proses casting
mendapatkan Amira, anak lokal yang mengenakan hijab untuk memerankan tokoh
Fatimah Habibi. Meskipun draf awal naskah tidak merancang karakter tersebut
berhijab, Ichwan memilih untuk mempertahankan hijab Amira dan mengadopsi
karakter aslinya. Hasilnya? Keputusan fleksibel ini justru menghadirkan
keajaiban sinema (magic of cinema) yang membuat cerita terasa sangat
riil, jujur, dan mencerminkan wajah asli Indonesia yang beragam.
5. Memiliki Rasa Empati yang Tinggi
Menulis
skenario adalah proses mendalam untuk menyelami jiwa manusia. Untuk bisa
menghidupkan karakter yang kompleks, seorang penulis skenario harus memiliki
kapasitas empati yang sangat tinggi. Penulis harus mampu menaruh dirinya di
posisi karakter-karakter yang dia ciptakan, merasakan kepedihan mereka, dan
memahami motivasi di balik tindakan mereka. Menariknya, Kak Ichwan merasa bahwa
proses berempati dengan karakter ini secara tidak langsung mendidik penulis
untuk menjadi pribadi yang lebih baik di kehidupan nyata.
6. Disiplin Menguasai Teori dan Struktur
Menjadi
kreatif bukan berarti menulis tanpa aturan. Film bekerja dengan struktur yang
ketat dan ajek yang telah teruji ratusan tahun di industri globa. Penulis
pemula sering kali menyepelekan teori karena dianggap membatasi kreativitas.
Padahal,
menguasai teori seperti Struktur Tiga Babak, 8 Sekuens, dan 15 Bits
adalah hal mutlak untuk menjaga ritme dan emosi penonton. Selain itu, penulis
harus disiplin melewati alur penulisan yang runtut: mulai dari merumuskan
judul, premis, sinopsis pendek, sinopsis panjang, step outline, storyline,
hingga akhirnya melahirkan skenario utuh ratusan halama. Menulis skenario itu
ibarat perpaduan seni dan presisi matematika!
7. Mentalitas Tangguh dan Menghargai Proses (Hukum 10.000 Jam)
Di
era serba instan ini, banyak orang berharap bisa langsung jago menulis naskah
dalam waktu singkat. Namun demikian, Kak Ichwan menekankan bahwa keahlian
menulis skenario membutuhkan waktu dan jam terbang. Ia sangat percaya pada Teori
10.000 Jam dari Malcolm Gladwell bahwa keahlian tingkat excellence
hanya bisa dicapai lewat dedikasi waktu yang panjang. Bagi pemula, setidaknya
butuh waktu 1 hingga 2 tahun konsisten belajar hanya untuk "bisa"
menulis naskah dengan benar (ini belum sampai tahap jagoan)
Selain
itu, seorangh penulis skenario harus memiliki mental baja dan mengesampingkan
perasaan sensitif (no hard feeling). Di industri profesional, sangat
biasa jika draf pertama (draft 1) penulis skenario dikritik
habis-habisan dan dibuang hingga 80% demi kebaikan hasil akhir film.
8. Kemauan Mendengar dan Toleransi Tinggi
Banyak
proyek film bioskop saat ini dikerjakan secara tim atau keroyokan, melibatkan 4
hingga 8 penulis sekaligus dalam satu naskah. Bekerja dalam tim dengan 8 kepala
berbeda tentu bukan perkara mudah. Penulis dituntut untuk memiliki toleransi
yang tinggi terhadap cara berpikir rekan kerja dan mau menjadi pendengar yang
baik. Keberhasilan naskah tim adalah tanggung jawab Bersama, jika ada satu
bagian saja yang buruk maka seluruh naskah akan terkena dampaknya.
Menulis Skenario Adalah Perjalanan Menempa Diri
Pada
akhirnya, perjalanan menulis skenario bukan sekadar melahirkan lembaran naskah
untuk diproduksi menjadi visual indah di layar lebar. Menulis skenario adalah proses menempa
diri.
Melalui riset, kolaborasi, empati, dan kritik yang membangun, seorang penulis
skenario tidak hanya belajar melahirkan cerita yang jujur bagi penontonnya,
tetapi juga belajar bertumbuh menjadi manusia yang lebih bijaksana, toleran,
dan memahami kompleksitas kehidupan.
Well,
siapkah
melangkah dan menginvestasikan waktu untuk menjadi bagian dari perjalanan
kreatif ini?
Makassar, 25 Agustus 2026
Baca juga:
Seni Menulis Skenario Film: Belajar dari Ichwan Persada
Share :


setuju banget dengan poin 'Jiwa Kolaboratif dan Siap Berkompromi' :D thankyou for sharing
ReplyDelete