Perempuan yang kupanggil MAMA yang mengajarkanku makna Ikhlas itu terlah berpulang tanggal 22 Juli lalu. Kalau kalian melihat postingan-postinganku di media sosial sekitar tanggal 22 Juli, seperti itulah perasaanku. Beliau adalah ibu mertua “rasa ibu kandung” bagiku.
Masih ingin membersamainya tapi apa daya, Allah lebih
menyayanginya dan Maha Berkehendak memanggil ibu mertua kembali pada-Nya.
Penyakitnya juga sudah semakin berat. Akan sangat berat bagi fisiknya untuk
bertahan jika umurnya masih panjang. Inilah yang terbaik untuk Mama.
Cerita kehidupannya sudah banyak kudengar. Ada yang
beliau ceritakan langsung kepadaku. Ada yang diceritakan oleh suamiku dan
iparku, juga ada yang kusaksikan sendiri. Jika kutarik gambaran besar makna apa
yang paling besar bisa kuserap darinya, itulah yang kusebutkan tadi: IKHLAS.
Begitu banyak ujian yang dilaluinya. Berliku, tidak
mulus tetapi berhasil dilewatinya dengan baik. Tidak selalu lancar tetapi selalu
terlihat wajah teduh itu di ujungnya. Sering kudengar beliau memaknai “lillahi
ta’ala” ketika tengah menceritakan
bab-bab kecil dalam hidupnya. Alur kehidupannya banyak yang membuatku
tercengang dan berpikir – sepertinya kalau saya yang harus menjalani, saya
takkan setangguh beliau.
Sesungguhnya begitulah kehidupan ya, setiap orang
diberikan ujian sesuai dengan kadar kesanggupannya masing-masing. Jadi memang
tak boleh becermin pada alur kehidupan orang lain. Jika kita memiliki
kesusahan, orang lain pun demikian hanya kita saja yang tidak tahu. Begitu pun
jika orang lain mengalami kebahagiaan, maka kita harus jujur – pasti ada
bagian-bagian dalam kehidupan yang kita pun merasakan kebahagiaan itu. Jangan
sampai kufur nikmat.
Mama mertua sudah mulai pikun ketika tinggal
bersamaku. Pikun ringan menurutku. Beliau bisa menceritakanku kisah yang sama
berkali-kali. Tetap saja kudengarkan dan menanggapinya seolah baru
mendengarkannya bercerita.
Dalam kisah-kisah yang bisa saja diceritakan dengan
penuh amarah atau emosional, beliau selalu saja mampu menceritakannya dengan
tenang, dengan wajah teduhnya. Saya sudah pernah melihat dan mendengar
orang-orang yang berulang kali menangis atau marah atau merasa tersakiti ketika
menuturkan kisah lamanya namun tidak demikian dengan Mama. Beliau tidak pernah
menyimpan amarah, dendam, kesedihan, ataupun sakit hatinya pada kisah-kisah
lawas. Semuanya dikemasnya sebagai kenangan yang diceritakannya kepadaku dengan
tenang.
Dua tahun tinggal bersamaku, kukira sudah 3 tahun.
Berasa sudah 3 tahun saja dan inginnya lebih dari itu karena memang nyaman
bersamanya. Tak pernah sekali pun kritik keluar dari mulutnya untukku. Apapun
yang kulakukan, diterimanya sebagai kewajaran. Ya, tentunya kalian yang
mengenalku pun tahu ya, diriku bukan orang yang kurang ajar hehe.
Melihat banyaknya ketidakcocokan antara mertua-menantu
di sekeliling kita, berani kukatakan pada kalian kalau kami bisa cocok-cocok
saja selama ini. Apakah benar-benar
cocok, tanpa perbedaan sama sekali? Oh tentu tidak. Ada saja perbedaan tetapi
masih bisa ditolerir. Perbedaan hanya berupa urusan teknis, bukan hal prinsip.
Beliau menolerirku, sebagaimana diriku menolerirnya.
Pada dasarnya, beliau orang baik – masya Allah
– itulah yang membuatku berani memintanya tinggal bersama kami. Saya memang
memintanya khusus pada Desember 2023 ketika ada wacana cucu yang menemaninya hendak
ditarik kembali kepada orang tuanya di Papua Barat.
Beliau menggeleng pada awalanya, menolak diajak
tinggal bersama kami. Kukatakan padanya: “Ma, saya dan Kak Solihin berdosa
kalau membiarkan kita’ tinggal sendiri.”
Pada awalnya tidak mau, dibujuk berkali-kali lalu
akhirnya beliau luluh dan Ikhlas tinggal bersama kami. Kuperhatikan reaksinya
dari waktu ke waktu. Awalnya memang berat meninggalkan rumahnya di Kota
Parepare, bisa kulihat dari air mukanya
yang terlihat sedang banyak pikiran. Lalu kemudian perlahan-lahan wajahnya
meneduh rela. Hingga kepada keluarganya di kampung, beliau mengatakan mau
pindah ke Ujungpandang untuk tinggal bersama kami.
Beliau tak pernah mencampuri urusan dapur dan ruang
makan, menyerahkan sepenuhnya kepadaku. Tak pernah pula protes. Tetapi beliau
tak pernah mau dilarang untuk bergerak, untuk “bekerja”. Sekadar merapikan
tanaman atau sekadar membantu mengurus sampah. Sering kularang karena khawatir
beliau capek sebab penyakit jantungnya membutuhkan perhatian lebih tetapi tak
pernah diindahkannya laranganku.
Terkadang saya melongo, beliau bisa menebas pohon
pisang di depan rumah setelah terlebih dulu menebas bagian tandan pisang yang
terhubung dengan pohonnya lalu menurunkan pisang satu tandan. Lalu habis itu,
dipotong-potongnya pohon pisang menjadi ukuran lebih kecil dan diikat menjadi
satu agar mudah diambil oleh tukang sampah. Saya tahunya setelah semua yang
dilakukannya selesai. Pandai sekali
menyembunyikan dariku saat melakukan sesuatu yang butuh kekuatan fisik.
Ah, Mama … saya pasti merindukanmu. Merindukan ketika
dirimu mengecek satu per satu anggota rumah yang belum pulang. Lalu bolak-balik
menanyakan dan menunggu di teras, bahkan melongok dari luar pagar ke arah jalan
sampai orang yang ditunggu pulang. Biarpun sudah diberi tahu pulangnya jam
sekian, tetap saja dicarinya dan ditunggunya sampai benar-benar pulang.
Allah, saya bersaksi Mama orang baik. Mertua yang
baik, hamba-Mu yang baik. Ampuni segala khilafnya. Mudahkanlah jalannya
menuju-Mu ya Allah. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha.
Makassar, 28 Juli
2026
Share :


0 Response to "Perempuan yang Mengajarkanku Makna Ikhlas"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^