ChatGPT dan Gemini Bukan Pesaing, Mereka Berkolaborasi - "AI mana yang paling bagus?" – Kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya beberapa bulan lalu, mungkin saya akan ikut sibuk dengan membandingkan ChatGPT dengan Gemini lalu mencari referensi para pengguna fanatik keduanya. Mana yang lebih pintar? Mana yang lebih akurat? Mana yang lebih cepat? Mana yang lebih cocok untuk menulis? ChatGPT atau Gemini?
Saya
memperoleh insight baru setelah beberapa pekan mengikuti Top 200 Link
Women Intensive Bootcamp. Awal mula mengikuti program Top 200 ini, saya
mendaftar program Link Women berdasarkan informasi yang saya lihat di akun
BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Indonesia Timur).
Di akun
Instagram @infobakti, saya membaca informasi tentang Link Women. Di sebutkan di
sana bahwa:
Link Women adalah program peningkatan kapasitas perempuan yang berfokus pada keterampilan digital, kesiapan kerja, dan pemberdayaan perempuan untuk masuk dan berkembang di dunia kerja, terutama dalam sektor digital dan teknologi. Program ini merupakan inisiatif kolaboratif antara UN Women dan Markoding.
Wuih, tidak
kaleng-kaleng. Saya semakin tertarik membaca part ini pada bagian “persyaratan
pendaftaran”:
Memiliki minat dan semangat belajar yang tinggi terkait materi pelatihan kecerdasan buatan (AI) untuk produktivitas kerja, pemahaman dasar tentang kesetaraan gender dan bias gender di dunia kerja, serta pengembangan interpersonal dan kesiapan karier.
Waah, ada
AI! Bertepatan, saya lagi tertarik-tertariknya belajar AI. Sebelum
mengikuti program ini saya sudah memiliki 2 sertifikat Kursus AI. Mengikuti program
ini akan menambah portofolio saya!
Maka saya pun
melakukan registrasi melalui Skilvul sebagai LMS-nya. Saya familier dengan
Skilvul sebab sebelumnya sudah pernah ikut kursus Digital Marketing di
Skilvul. Saya kerjakan semua tahapannya, yaitu menyimak sejumlah materi dan
mengerjakan sejumlah tes. Alhamdulillah, dari 3000-an peserta yang
mengikuti program Link Women, saya lolos seleksi untuk mengikuti program Top 200.
Dalam program Top 200 ini, ada pula sejumlah materi dan tugas yang harus
dijalankan, plus sesi mentoring.
Kembali ke insight
baru yang saya maksud tadi. Setelah beberapa minggu mengikuti Link Women Bootcamp
Top 200 dan mengerjakan final project, cara pandang saya berubah. Saya justru
menemukan hal-hal yang menurut saya jauh lebih menarik terkait AI. Yaitu bahwa
AI, khususnya ChatGPT dan Gemini – secara sendiri-sendiri – ternyata tidak
hanya sebagai tempat bertanya, brainstorming, dan berdiskusi. Ternyata
ChatGPT dan Gemini tidak harus bersaing. Keduanya bisa saling melengkapi.
Kita
Terlalu Sering Bertanya, "Mana yang lebih hebat?"
Kalau membaca
diskusi di media sosial, kita mungkin menemukan perdebatan yang kurang lebih
seperti ini.
"Saya tim ChatGPT."
"Gemini lebih bagus."
"Claude lebih pintar."
"Copilot lebih akurat."
Seolah-olah
hanya boleh ada satu AI terbaik. Padahal, bukankah tidak mungkin kita tidak
bekerja seperti itu dalam kehidupan sehari-hari, bukan? Begitu pun seorang
penulis, biasanya perlu berdiskusi berkali-kali dengan editor naskahnya terlebih
dulu sebelum bukunya diterbitkan. Juga seorang arsitek, perlu bekerja bersama
insinyur sipil dalam membangun sebuah gedung. Atau seorang dokter, perlu berdiskusi
dengan dokter lain ketika menghadapi kasus tertentu. Tidaklah perlu merasa
harus mengerjakan semuanya sendirian!
Lalu mengapa
kita berharap satu AI mampu melakukan seluruh pekerjaan?
Mulai dari
Materi Hingga Final Project yang Mengubah Cara Pandang Saya
Menariknya, di
kelas-kelas AI dalam bootcamp, kami diajar automasi menggunakan AI.
Zapier yang paling sederhana yang versi free-nya bisa menghubungkan 2
aplikasi. Awalnya saya belajar membuat
automasi sederhana, seperti menghubungkan Google Sheets dengan Gmail atau
menghubungkan Google Sheets dengan Telegram tanpa coding.
Singkat
cerita, proses yang cukup panjang dalam pembelajaran, kulik sana kulik sini,
mengantarkan saya berdiskusi dengan dua AI yang berbeda. Awalnya dengan ChatGPT.
Lalu dengan Gemini. Sebelumnya, saya memang sudah biasa mengajak kedua mesin
cerdas ini untuk berdiskusi dan brainstorming berbagai hal, bukan sekadar
bertanya dan menerima mentah-mentah jawabannya. Kadang-kadang saya kritisi atau
saya koreksi.
Menariknya,
saya tidak lagi bertanya kepada keduanya dengan cara yang sama.
ChatGPT
Menjadi Partner Berdiskusi
Selama
mengerjakan project, saya lebih sering mengajak ChatGPT berdiskusi. Saya
bertanya mengapa sebuah workflow Zapier gagal. Saya juga meminta bantuan
ChatGPT untuk menyusun dokumentasi dari tangkapan layar sebuah workflow.
Saya juga berdiskusi
tentang alur automasi dan meminta masukan bagaimana membuat workflow
yang lebih sederhana. Terkadang saya meminta ChatGPT membantu saya
"berpikir keras" ketika menemui jalan buntu.
Bagi saya,
rasanya seperti sedang berdiskusi dengan teman yang sabar mendengarkan, lalu
membantu menyusun ide menjadi lebih rapi. Tapi bukan berarti semua jawabannya
selalu langsung benar ya. Lalu percakapan demi percakapan membantu saya
memahami apa yang sedang saya kerjakan. Memahami alur logika dan cara kerja
Zapier.
Gemini
Menjadi Bagian dari Workflow
Di sisi lain,
Gemini saya gunakan dengan cara yang berbeda. Pun bukan lagi sekadar tempat
bertanya. Saya memasukkannya langsung ke dalam scenario kedua yang saya
buat di Make.com. Karena suatu hal, ChatGPT gagal bekerja pada akun gratisan yang
saya miliki. Lalu Gemini menyarankan saya membuat System Instructions di
mana Gemini berperan sebagai editor konten.
Ujung dari project
yang saya buat adalah Gemini menentukan apakah suatu berita LAYAK
atau TIDAK LAYAK untuk dikembangkan menjadi artikel yang futuristik dan
bermanfaat dalam sistem pendidikan nasional. Gemini juga memberikan alasan
singkat atas keputusannya.
Rasanya excited
saat pertama kali melihat proses itu berjalan otomatis dengan Make.com. Sama
excited-nya ketika pertama kali berhasil menghubungkan 2 aplikasi dengan
menggunakan Zapier.
Dalam hal ini,
AI tidak hanya bisa membantu menulis. AI juga bisa membantu mengambil keputusan
awal. Ini bukan tentang siapa yang lebih pintar, tetapi siapa yang
lebih tepat. Pengalaman ini membuat saya menyadari satu hal. Yaitu bahwa selama
ini saya hampir terjebak memperbandingkan AI satu dengan yang lainnya: "AI
mana yang paling pintar?" Padahal pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"AI mana yang paling tepat untuk pekerjaan ini?"
Dalam project
yang saya kerjakan, ChatGPT dan Gemini sama-sama memiliki peran penting. ChatGPT
membantu saya memahami masalah, merancang alur kerja, menyusun dokumentasi,
hingga menjadi partner brainstorming. Gemini – selain menjadi teman
diskusi, juga bekerja sebagai bagian dari sistem automasi yang mengevaluasi
setiap artikel secara konsisten berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Tak
ada yang saling menggantikan. Justru keduanya saling melengkapi!
Saya
Belajar Membangun Tim, Bukan Memilih Pemenang
Kalau
dipikir-pikir, pengalaman ini mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada
sekadar menggunakan AI, yakni: saya belajar membangun "tim"!
Sebagaimana yang kita tahu, dalam suatu tim yang baik, setiap anggota memiliki
keahlian yang berbeda. Ada yang pandai menganalisis, ada yang teliti, ada yang
kreatif, dan ada yang cepat mengambil keputusan.
Nah, begitu
pula dengan AI. Alih-alih mencari satu AI yang mampu mengerjakan semuanya,
mungkin akan lebih efektif jika kita memahami kekuatan masing-masing, lalu
menyusunnya menjadi sebuah alur kerja.
Saya mulai
melihat AI bukan sebagai aplikasi yang berdiri sendiri. Melainkan sebagai
kumpulan "rekan kerja digital" yang masing-masing mempunyai tugas
tertentu. Bayangkan, saya bisa menggunakan Make.com bersama-sama dengan Zapier,
Gamma, ChatGPT, Gemini, dan Canva AI! Amazing ya?
Yang Tetap
Tidak Bisa Digantikan
Meskipun project
ini banyak dibantu oleh AI, ada satu hal yang justru semakin saya yakini.
aAI tidak menggantikan saya sebagai penulis.
aAI membantu saya menghemat waktu mencari referensi.
aAI membantu meringkas.
aAI membantu melakukan kurasi awal.
Namun
demikian, ketika tiba saatnya memilih sudut pandang, menyusun pengalaman
pribadi, atau menuliskan refleksi yang lahir dari perjalanan hidup, saya tetap
harus melakukannya sendiri. Teknologi memang bisa mempercepat pekerjaan tetapi tetap
manusia yang menentukan maknanya.
Barangkali,
Masa Depan AI Memang Bukan Tentang Persaingan
Semakin sering
saya menggunakan berbagai AI, semakin saya merasa bahwa masa depan mungkin
bukan tentang mencari siapa yang paling hebat. Melainkan tentang bagaimana
membuat berbagai AI bekerja bersama.
Hari ini saya
menggunakan ChatGPT untuk berdiskusi. Gemini untuk membantu proses kurasi. Besok
mungkin saya menggunakan NotebookLM untuk merangkum dokumen yang panjang. Lalu
di lain waktu, saya memanfaatkan AI lain untuk membuat ilustrasi atau
presentasi. Bahkan saya bisa membuat 2,3, atau bahkan 6 AI bekerja sama dalam 1
project kecil ala saya.
Bukan soal “tidak
setia pada satu AI”. Saya hanya sedang memilih alat yang paling sesuai untuk
pekerjaan yang sedang saya lakukan. Lagi pula tidak ada alasan yang membuat
saya merasa harus setia.
Saya pikir, itulah
pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari final project Bootcamp Top
200 Link Women. Saya tidak lagi melihat ChatGPT dan Gemini sebagai dua kubu
yang harus dipertandingkan, melainkan sebagai dua rekan kerja yang saling
melengkapi.
Dan pada
akhirnya, bukan AI yang menentukan kualitas sebuah karya. Melainkan manusia
yang tahu kapan harus bertanya, kepada siapa harus meminta bantuan, dan
bagaimana menyatukan semua jawaban itu menjadi sesuatu yang benar-benar
bermanfaat.
Makassar, 18 Juli 2026
Share :



0 Response to "ChatGPT dan Gemini Bukan Pesaing, Mereka Bisa Berkolaborasi"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^