Fadly Padi, Daeng Rani, dan Hari Terakhir TSN 2 IKA Smada Makassar – Sosok penyanyi terkenal itu berjalan ke arah sisi timur chapel di Fort Rotterdam, di bagian teman-teman seangkatan saya sedang foto-foto. Kebetulan itu langsung dimanfaatkan oleh Sebagian teman. Siapapun yang berada di sekitar Fadly Padi sepanjang acara Tudang Sipulung Nasional (TSN) 2 ini pasti mengupayakan berfoto bersama atau sekadar selfie dengan sang bintang. Begitu pun dengan mamak-mamak alumni SMAN 2 Makassar angkatan 92. Saya – seperti biasa, bukan orang yang aktif mengajak pesohor berfoto tetapi tetap ikut dalam foto bersama.
Fadly Padi: The Most Wanted Man di TSN 2
Mamak-mamak itu berfoto bersama dalam berbagai formasi.
Bertiga, berempat, berlima, berenam, berdua, juga “berbanyak”. Saya hanya ikut
dalam formasi “berbanyak”. Kasihan juga melihat keringat sudah berlomba menetes
di wajah Fadly. Salut, wajahnya masih terlihat semringah dengan senyum
kecilnya. Saat posisi saya sedang cukup dekat dengan sang bintang, saya
memberanikan diri menegurnya dengan menanyakan istrinya, “Mana Deasy?”
Fadly mengangkat wajahnya dan menengok ke arahku. “Ada
di sana,” seraya tersenyum telunjuknya mengarah ke sisi selatan benteng. “Mirna
datang?” tanyanya. “Tidak, di Sorowako ki,” jawabku sembari tersenyum.
“Salam sama Deasy,” ucapku lagi. Sang bintang tersenyum.
Siapa yang tak kenal Fadly di acara yang menghadirkan
seluruh angkatan alumni Smada ini. Fadly merupakan selebritas besar asal kota
ini yang juga lulusan Smada angkatan 93, seangkatan dengan adikku Mirna. Deasy,
istri Fadly sekelas dengan Mirna. Semasa SMA dulu, beberapa kali Mirna dan
Deasy bepergian bersama. Sesekali Mirna yang ke rumah Deasy, di waktu lain
Deasy yang ke rumah orang tua kami. Fadly dan Deasy berbeda kelas tetapi saya
dan adikku mengenal Fadly sejak SMA.
Senangnya, Fadly masih mengenaliku. Pertemuan
terakhir, saat saya dan suami sempat berbincang dengannya pada tahun 2015. Saat
itu Fadly menjadi narasumber pada Pre Event MIWF. Saya mengabadikannya ke dalam
tulisan bertajuk Pre
Event MIWF 2015: Berakuaponik Bersama Fadly PADI di blog ini.
Fadly menjadi bintang pada TSN 2 juga karena acara
puncak TSN 2 IKA Smada Makassar pada malam kedua menghadirkan konser Padi
Reborn (baca di: TSN
2: Dilema Reuni Hingga Sepatu Tenteng Konser Padi Reborn).
Pawai dengan Daeng Rani
Saat mamak-mamak seangkatan saya mengajak Fadly
berfoto, kami sudah melalui separuh acara di hari terakhir TSN 2 ini. Kami
sudah berpawai sejauh kurang lebih 2 kilometer, start dari dekat rumah
jabatan wali kota Makassar. Finish-nya di Fort Rotterdam.
Tanggal 24 Mei pagi itu, semua angkatan – peserta
jalan santai berkumpul di sekitar rumah jabatan Wali Kota Makassar. Mengapa di
sana? Jawabannya adalah karena Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin merupakan
lulusan Smada Makassar Angkatan 93 yang sangat mendukung terlaksananya TSN.
Kami berbaris sesuai urutan angkatan. Lalu satu per
satu berjalan menuju rumah jabatan, ke jalan Penghibur. Berhenti sejenak di
depan panggung kecil yang terletak persis di depan rumah jabatan. Satu per satu
angkatan diperkenalkan oleh MC dan melakukan atraksi di depan wali kota.
Angkatan 92 baru membuat yel-yel saat berada di
antrean angkatan yang menunggu giliran untuk tampil di depan panggung. Hendra
yang terbiasa dengan aktivitas outbound didaulat untuk mengarang yel-yel.
Kostum kami sederhana saja, baju kaos seragam berwarna
hijau pupus. Beberapa angkatan terlihat mengenakan baju seragam angkatan yang
terbuat dari kaos. Sebagian lainnya terlihat lebih serius, dengan atribut meriah
warna-warni. Bahkan ada yang mengenakan pakaian adat segala dengan koreografi
yang sudah dipersiapkan dengan matang.
Setahu saya, Edha dan Ime yang mengurus bagaimana penampilan angkatan kami di pawai TSN 2. Dibantu teman lain, sampai mendatangkan becak juga dipikirkan oleh mereka. Saat hari H, ada becak yang menjadi pelengkap penampilan kami, lengkap dengan “Daeng Rani” – tukang becak yang menjadi maskot kami. 😃
Saya lupa bagian ini, bagian di mana Daeng Rani menjadi tukang becak favorit anak Smada tahun 1990-an. Saat tulisan ini dibuat barulah ingatan saya muncul secara perlahan tentang Daeng Rani. Mungkin dulu saya tidak memilihnya ketika ingin naik becak karena merasa gimana gitu dengan penampilannya yang nyentrik dengan rambut panjangnya. Oleh karena itu saya tidak bisa langsung mengingat sosoknya saat karnaval. 😁
Becak berjalan perlahan dengan featuring Auskarni
sebagai Daeng Rani di depan barisan angkatan 92. Angkat jempol buat Auskarni yang
rela mengayuh becak dan mengenakan wig dan cincin-cincin bertatahkan batu
warna-warni di jemarinya agar mirip dengan Daeng Rani saat itu. Di dalam becak
ada bluetooth speaker yang melengkapi penampilannya.
Andai bunyi speaker itu menggelegar, mungkin
mamak-mamak dan bapak-bapak yang berjalan kaki di belakangnya ikut joget
sembari jalan – mengingat mereka masih pada berjiwa muda belia walau rambut
sudah beruban. Sayangnya, dari tempat saya di barisan tengah, bunyi speaker terdengar
lamat-lamat.
2 Kilometer Berjalan dan Puluhan Tahun Kenangan
Sekitar 2 kilometer jalan santai kami lalui dengan
obrolan random. Jarak segini cukuplah buat kami. Lumayan membakar
kalori dan cukup menyenangkan. Apalagi ketika mendekati benteng Rotterdam,
terlihat sejumlah peserta TSN 2 dengan baju angkatan dan atribut yang
memperlihatkan angkatan mereka. Ada angkatan tahun 1970-an dan 1960-an! Masya
Allah.
Masyarakat umum juga terlihat antusias melihat pawai angkatan alumni Smada. Salah seorang bapak nyeletuk dengan nada yang terdengar bersemangat ketika kami lewat di depannya: tahun sembilan dua saya baru masuk es de! Rasanya tua banget mendengarnya. 😐
Cuaca makin panas ketika kami tiba di Fort Rotterdam. Pawai angkatan berakhir di
depan panggung utama. Setiap angkatan yang tiba disambut oleh MC – di-mention
olehnya dan diajak ngobrol sebentar. Ketika angkatan kami tiba, bukannya langsung
menuju depan panggung, kami malah sibuk berfoto-foto di sisi timur bangunan chapel.
Mumpung formasi masih lengkap kan.
Saat tiba di
depan panggung, kami naik ke atas panggung – sebagaimana yang dilakukan
angkatan-angkatan lain. Berulang lagi acara foto-foto di depan backdrop sampai-sampai
MC meminta kami untuk turun panggung supaya angkatan-angkatan yang baru datang
dan numpuk di depan panggung bisa segera naik panggung dan acara penutupan
dilanjutkan.
Pagi itu, ada menu spesial sarapan di booth angkatan 92. Yerni yang biasanya buka booth di CFD Kampus Unhas, kali ini buka booth di TSN 2. Diana juga masih menata penganan khas buatannya di booth. Sebagian besar merchandise Smada yang dibuat khusus sudah terjual, beruntung ada Ika yang bisa dinobatkan sebagai mamak 92 dengan penjualan merchandise terbanyak dan cara menjual terunik sepanjang TSN 2. 😉
Saya dan sejumlah mamak 92 sedang mengangkat meja
tempat kami makan di depan booth ketika tak sengaja nyaris menyenggol
seorang bapak yang sedang berbelanja. Kami sedang menghindari paparan langsung
sinar matahari yang semakin menyengat saat itu, mencoba berlindung di balik
bayangan booth lain. Bapak itu jauh lebih senior dari kami usianya, terlihat dari raut
wajahnya.
Beliau menghindar seraya tersenyum ke arah kami. Kami
meminta maaf padanya. Salah seorang teman bertanya, “Bapak angkatan berapa?”
Bapak memperkenalkan dirinya akrab disapa Om Jack itu menjawab, “Angkatan tujuh
tiga.” Masih terlihat fit, posturnya seperti kebanyakan orang Indonesia
zaman dulu, mirip juga dengan postur almarhum ayahku.
Wow, masya Allah. Sebagian dari kami baru lahir ketika beliau
masuk SMA. Sebagian lagi baru lahir tahun 1974. Bapak itu mampir ke dekat meja,
lalu berbincang dengan kami. Saya bergeser ke kanan dan mempersilakan beliau
duduk di sebelah kiri saya.
Kami berbincang akrab. Pengalaman yang dibincangkan
bapak itu nyambung dengan teman-teman yang arsitek dan dosen. Beliau
menceritakan pengalamannya dalam mempelajari hal-hal baru sejak masa SMA dan
keinginan belajar yang kuat untuk mengasah otak dan mencoba menjalani hal-hal
baru.
Terus belajar, rajin membaca, dan berzikir – kurang lebih hal-hal tersebut dipesankan olehnya
ketika hendak beranjak sembari menepuk pundakku. Masya Allah, semoga
jika Allah menetapkan mencapai usia seperti Om Jack, kami bisa se-fit beliau
dengan pikiran yang masih jernih seperti beliau.
Acara penutupan diakhiri dengan sambutan-sambutan dan
pengumuman pemenang berbagai lomba. Pastinya ada sambutan dari Pak Munafri
selaku Wali Kota Makassar dan Kakak Uci Wawo selaku Ketua Panitia TSN 2.
Setelah beres-beres booth dan masing-masing kontributor booth mengambil
perlengkapannya, kami menuju sebuah restoran untuk makan siang bersama.
Tak ada kemenangan yang kami sabet dalam semua perlombaan.
Tak mengapa, kebersamaan selama TSN 2 sudah membuat kami bahagia karena bisa
terkoneksi kembali dan menjalin silaturahmi lagi. Senangnya lagi, bisa bertemu
kerabat dari berbagai angkatan di event besar ini. Semoga bisa
seseru ini TSN 3 nanti yang konon kabarnya akan berlangsung di Sinjai.
Makassar, 30 Juni
2026
Share :




0 Response to "Fadly Padi, Daeng Rani, dan Hari Terakhir TSN 2"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^