TSN 2: Dilema Reuni Hingga Sepatu Tenteng Konser Padi Reborn

TSN 2: Dilema Reuni Hingga Sepatu Tenteng Konser Padi Reborn - Saya sudah menyampaikan kepada Ridwan – ketua IKA Smada Makassar angkatan 92 bahwa saya absen pada pagi hari kedua Tudang Sipulung Nasional (TSN) 2 di Fort Rotterdam. Pagi hari tanggal 23 Mei itu ada pelantikan pengurus Angkatan sebagai rangkaian TSN. Sebagai salah satu pengurus alumni di angkatan kami, saya seharusnya hadir. Namun demikian saya juga harus menghadiri acara di BBPMP (Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan) Sulsel.

Padi Reborn di TSN 2

Pada hari yang sama, saya mendapat kepercayaan dari pengurus pusat Sidina Community untuk mewakili komunitas menghadiri acara Forum Komunikasi Publik ‘Kolaborasi Strategis dalam Meningkatkan Akses dan Kualitas Pendidikan Dasar dan Menengah’. Acara ini sangat penting bagi saya dan komunitas agar mendapat update mengenai sistem pendidikan nasional.

Yang Dilewatkan di TSN 2

Di sisi lain, saya melewatkan banyak hal menarik di Fort  Rotterdam sepanjang pagi hingga sore itu selain pelantikan pengurus IKA Angkatan, yaitu:

Sunatan massal, pembagian kacamata baca gratis, konsultasi kesehatan gratis bersama dokter ahli mata, dokter ahli jantung, penyakit dalam, urologi, dan THT. Ada penyerahan secara simbolis bantuan sembako kepada masyarakat, lomba & exhibition permainan tradisional, talkshow kesehatan dengan topik penyakit batu ginjal, jantung, dan stroke.

Gelang hijau tanda  keikutsertaan TSN 2 untuk teman-teman sekelas masih saya bawa di dalam tas. Gelangnya baru diambil kemarin karena memang baru dibagikan. Rencananya, saya yang membantu mendistribusikan ke teman-teman sekelas. Menjelang keberangkatan ke BBPMP hingga sepanjang acara di BBPMP, saya terus WA-an dengan teman-teman yang hendak hadir. Mereka tak bisa masuk ke dalam benteng tanpa gelang itu.

Pengurus IKA Smada Makassar Angkatan 92

Sesaat di Aroma Palopo, Setelah BBPMP

Bersamaan dengan itu, pemilik Aroma Palopo yang juga teman sekelas yang akrab saya sapa dengan “Bro Dok Cua” mengundang teman-teman seangkatan (Smada 92) makan siang di Aroma Palopo di Jalan Pengayoman. “Kabur saja,” goda beberapa teman via pesan WA. “Tidak bisa, nanti desersi,” ujar saya berkelakar. Namun demikian, geregetan juga rasanya, pengen kabur agar bisa ikut berkumpul dengan teman-teman.

Tak mungkinlah saya kabur, walau hati sangat menginginkannya. Lokasinya sih terbilang dekat dari Gedung BBPMP, tempat acara berlangsung tetapi hitung-hitungan waktu tetap tidak memungkinkan. Lagi pula, integritas saya dipertaruhkan jika saya terlambat muncul selepas jeda makan siang. Ditambah lagi, ada perasaan tidak enak jika harus meninggalkan dua teman lain yang sama-sama mewakili Sidina: Kak Ihwana dan Bu Yani. Kami hanya bertiga, masa iya saya tega meninggalkan mereka?

Syukurnya, acara di BBPMP itu ternyata hanya sampai jam 3 siang. “Baru selesai acaraku. Yerni ...di mana ki'?” pesan WA saya kirim di grup kelas. Yerni membalas melalui pesan pribadi, “Niar ke sini meq. Banyak yang baru datang. Hendra belum makan, baru pesan.”

“Tunggu ma’!” gembiranya saya, masih bisa menyusul ke Aroma Palopo. Bergegas saya menyelesaikan urusan presensi akhir. Saya tinggalkan Bu Yani yang masih foto-foto dengan narasumber dan menyusul Kak Ihwana yang lebih dulu meninggalkan aula.

Saya sampai rela berdesak-desakan antre padahal  biasanya saya menunggu antrean agak sepi supaya bisa sesegera mungkin “terbang” ke Jalan Pengayoman .😁Kak Ihwana menawarkan untuk mengantarkan saya ke Aroma Palopo. Alhamdulillah, pergerakan bisa lebih cepat.

Setibanya di Aroma Palopo, saya langsung naik ke lantai 2, di mana teman-teman SMA ngumpul. Berpapasan dengan sebagian besar teman yang hendak meninggalkan ruangan. Acara makan siang memang sudah sejak pukul 12 siang. Saya tiba sudah pukul 3  lewat.

Yerni berbaik hati memesankan saya kapurung ikan. Saya menemaninya makan. Masih ada teman-teman sekelas lain di lantai 2 itu. Selain Yerni, masih ada Bro Dok, Rina, Hendra, dan Kartika. Lambung saya ternyata tak sanggup menampung kapurung karena sudah makan siang tadi. Yerni juga tidak bisa menghabiskan makanannya, jadinya kami berdua minta bungkus. Masih sempat foto-foto sebelum kami berpisah. Teman-teman lanjut ke Fort Rotterdam, saya balik ke rumah dulu. Membereskan  beberapa hal, sebelum ke Fort Rotterdam pada sore harinya.

Konser Padi Reborn di Makassar


Konser Padi Reborn

Malam harinya, kembali lautan alumni SMAN 2 Makassar dari berbagai angkatan memenuhi Fort Rotterdam. Kali ini kami mengenakan dress code atasan putih dan bawahan biru. Kelihatannya, suasana lebih padat dari malam sebelumnya. Sekalinya sudah duduk di depan panggung, susah sekali untuk keluar dari lautan manusia. Malam itu, kami semua menunggu penampilan dari PADI Reborn. Vokalisnya, Fadly, merupakan lulusan Smada Makassar angkatan 93.

Malam  itu, mata saya masih mengamati layar handphone, mewaspadai kalau-kalau masih ada teman sekelas yang hendak menghadiri acara. Di grup kelas, saya minta teman-teman yang hendak ke Fort Rotterdam supaya menghubungi saya agar bisa keluar membawakan gelang karet berwarna hijau sebagai tanda masuk. Tanpa adanya gelang itu, tak diperbolehkan masuk.

Yamin merespons. Dia hendak datang bersama Murni, istrinya yang juga lulusan Smada angkatan 96. Saya tungguin sampai datang. Yamin mengabari lewat pesan WA bahwa dia dan istrinya sudah di depan benteng.

Saya yang sedari tadi duduk di antara teman-teman seangkatan di atas tikar plastik mengambil sepatu dan menentengnya. Di sekitar kami, hadirin yang lain juga duduk beralaskan tikar plastik. Sebagian orang duduk di atas rumput, berdiri, atau duduk di atas pagar batu pendek sepanjang jalan di sebelah lapangan rumput.

Saya menenteng sepatu dengan posisi tubuh tabe’-tabe’ (permisi-permisi), mencoba “membelah” lautan manusia. Saya mencari jalan di antara dua orang yang duduk berdampingan. Coba deh bayangkan, bagaimana mencari celah di antara dua orang yang duduk berdampingan 😅. Membingungkan sih, mencari celah yang bisa dilewati tapi seru dan mau tak mau memang harus dilakukan. Kalau tidak, bagaimana bisa keluar hehe.

Akhirnya bisa juga menemui Yamin dan istrinya. Kami masuk bersama-sama tetapi hanya saya yang kembali ke posisi semula, di depan panggung, Yamin dan istrinya memilih berhenti di tengah. Jarak tempat saya duduk dari panggung hanya sekitar 5 meter. Didorong dengan rasa penasaran – seperti apa sih penampilan Padi Reborn yang kondang itu dari dekat? – maka tak bergeser saya dari posisi duduk saya hingga konser Padi Reborn selesai walau tidak familier dengan semua lagunya.


Konser  Padi Reborn

Kesimpulannya? Setelah menyimak konser Padi Reborn …. kesimpulannya …. mereka  memang  pantas bertahan sampai sekarang. Saya awam untuk urusan musik tetapi bisa memahami dari  penampilan Padi Reborn malam itu, suara dan penampilan mereka stabil dan bagus hingga akhir. Lautan manusia di sekitar saya terlihat menikmati konser.

Begitulah, TSN hari ke-2 ditutup oleh konser  Padi Reborn. Acara malam itu tepat waktu sehingga kami semua bisa cukup beristirahat sebelum mengikuti jalan santai keesokan paginya.

Makassar, 19 Juni 2022



Share :

0 Response to "TSN 2: Dilema Reuni Hingga Sepatu Tenteng Konser Padi Reborn"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^