Si Paling Hebat dan Roller Coaster-ku - “Tinggal di mana ki’?” tanya seorang ibu. Kami mengobrol beberapa jenak di pagi buta itu. Saat itu kami sedang berada di sebuah tempat untuk keperluan yang sama.
“Di jalan Rappocini Raya, Bu,” jawab saya. “Lebih jauh saya … saya di
Maccini,” jawab ibu itu. Sepersekian detik saya bingung, ngapain dia seakan
“merasa lebih” daripada saya hanya dari soal jarak? Lagi pula kata siapa
jarak dari Maccini Raya ke tempat itu lebih jauh dibanding jarak dari Rappocini
Raya ke situ? Aneh!
Sudah sangat lama saya tidak bertemu dengan orang yang merasa lebih menderita itu membuatnya merasa lebih hebat dari orang lain yang kurang menderita. Sekitar 15 tahun lalu, saya bertemu dengan orang seperti itu: seorang ibu merasa lebih “hebat” karena dia tidurnya jauh lebih malam daripada saya. 😅
Dia tidak bilang merasa hebat sih. Kenapa saya bilang merasa
hebat? Karena tertangkap dari nada suaranya. Kita pasti tahu ketika berbincang
dengan seseorang, tanpa orang itu mengatakan dirinya hebat, merasa hebat itu
terdengar dari nada bicaranya.
Ada yang tahu kenapa ada orang seperti itu? Sampai sekarang saya tidak habis pikir. 😁
Pembicaraan sepekan lalu itu masih terngiang-ngiang dan menarik memori
dari topik yang sama hingga saya tulis hari
ini. Cocok nih jadi bahan tulisan hehe.
***
Akhir-akhir ini saya jarang menulis karena dunia nyata menyita begitu banyak
perhatian. Takdir membawaku pada roller coaster kehidupan yang rasanya
sungguh nano-nano dengan campuran rasa
pahit. Pahit, asam, asin – yang masya Allah-nya – ada manis-manisnya.
Allah memang Maha Baik, Maha Luar Biasa.
Kali ini saya tidak akan menceritakan tentang roller coaster kehidupan yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir ini. Kalau ada kesempatan untuk menulisnya, mungkin bisa jadi 2 novel. Sayangnya, saya tidak mau membuka semuanya. Cukup jadi bahan pembelajaran sendiri saja. Mungkin ada yang bisa saya buka tapi belum sekarang.😁
Kerinduan menulis sangat besar, bahan menulis sebenarnya sudah sangat
banyak. Sayangnya saya benar-benar tidak bisa memaksa diri untuk menulis dan
memenuhi target pribadi. Di samping itu, saya mengikuti training-training daring
dan ada kesempatan untuk membawakan materi literasi digital di hadapan ibu-ibu
PKK Kota Makassar.
Saat ini saya sedang mengikuti training lain lagi. Training-nya
makan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan semua tahapannya. Akan ada seleksi
dari 2000-an pendaftar untuk menyaring 200 besar, lalu seleksi lagi menjadi 20
besar. Doakan saya ya agar bisa lolos, konon kabarnya 20 besar akan diundang ke Jakarta.
Doakan juga, semoga seleksinya tidak lihat umur. Di persyaratannya tidak ada sih tapi pemenggalan karena alasan umur bisa saja muncul tiba-tiba. 😅
Sudah ah, segini dulu curhat kali ini. Terima kasih sudah membaca
sampai selesai. 😊
Makassar, 16 Juni 2026
Share :

0 Response to "Si Paling Hebat dan Roller Coaster-ku"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^