Anemia Karena Defisiensi Zat Besi: Tantangan Kesehatan Lintas Generasi

Anemia Karena Defisiensi Zat Besi: Tantangan Kesehatan Lintas Generasi - “Tadi di sekolah dikasih tablet tambah darah. Diminum kalau haid, Ma,” saya masih ingat putri saya menceritakan pembagian suplemen penambah darah di sekolahnya. Saat itu dia baru masuk kelas 7 (SMP) tahun 2019.

 

Pengalaman Anemia dan Penanggulangannya

 

Seperti yang kita ketahui, saat mengalami menstruasi, perempuan mungkin memerlukan suplemen penambah darah. Yaitu jika darah yang keluar cukup banyak dan terjadi dalam waktu yang lebih panjang dari normalnya. Dalam siklus menstruasi ini seseorang mengalami pengurangan cadangan zat besi dalam tubuhnya.

Anemia

Saya baru tahu melalui talkshow Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi yang saya tonton via YouTube bahwa anemia menjadi risiko kekurangan zat besi (defisiensi zat besi) yang dampaknya bukan hanya jangka pendek namun juga jangka panjang.

Dalam materinya, Dr. dr. Diana Sunardi, Mgizi, SpGK (dokter spesialis gizi klinik dari INA -Indonesian Nutrition Association) mengatakan bahwa masalah anemia di Indonesia merupakan masalah lintas generasi yang terjadi pada ibu hamil, ibu menyusui, bayi-balita, remaja, dan usia produktif.

Nah, pembagian tablet tambah darah di SMP putri saya berikut edukasi mengenai pentingnya tablet itu merupakan bentuk edukasi yang terkoordinasi dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan pihak sekolah bagi remaja putri.

Sayangnya, ada orang tua yang melarang anaknya mengonsumsi tablet penambah darah tersebut. Ada juga siswi yang menolak meminumnya dengan mengatakan “pahit” padahal kata putri saya, tidak ada rasa pahit-pahitnya. Malahan bulan berikutnya dia meminta saya membelikannya lagi tablet tambah darah di apotek.

Ketika putri saya kedatangan tamu bulanan, saya senantiasa mewanti-wantinya memakan makanan yang bergizi dan suplemen yang bisa mendukung pemenuhan zat gizinya. Sejak kecil, putri satu-satunya ini merupakan yang paling pemilih soal makanan dibandingkan dua saudara lelakinya. Saya sering kewalahan menghadapinya. Untungnya dia tak menolak diminta mengonsumsi suplemen berbahan herbal alami yang kami beli.

Dokter Diana mengemukakan hasil dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang menunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil 37,1%. Angka prevalensinya pada remaja adalah 15%.

Jika tak tertangani dengan baik, masalah ini akan mempengaruhi mal nutrisi kelak ketika si remaja menjadi ibu, hamil, dan melahirkan. Yaitu berpotensi menyebabkan stunting di mana angka stunting di Indonesia masih tinggi, yaitu 37%.

 

Hubungan Antara Anemia dengan Stunting

 

Apa hubungannya antara anemia dan stunting?

Hubungannya bisa diketahui dari penjelasan Dokter Diana berikut ini:

Siklus stunting berawal dari status gizi dari remaja putri yang kurang baik sehingga pada saat nanti mengalami kehamilan kurang baik, salah satu masalahnya adalah anemia (kurang zat besi). Nantinya berisiko melahirkan bayi-bayi kurang berat badan yang nantinya menjadi balita pendek (stunting). Pertumbuhan seorang anak dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari protein, karbohidrat, mineral, kalsium, zat besi. Zat besi ini tidak hanya untuk sel-sel darah merah, anemia, atau hemoglobin terhadap anak-anak balita, melainkan juga untuk pertumbuhannya.”

Dulu saya sempat khawatir putri saya berpotensi mengalami stunting karena tubuhnya yang relatif lebih pendek dibandingkan rata-rata kawan sekelasnya saat sekolah dasar, ditambah lagi dia sangat pemilih makanan. Alhamdulillah, sekarang saya tak khawatir lagi karena dia tumbuh dengan tinggi yang proporsional. Pada usia remajanya sekarang, dia sudah sama tinggi dengan saya.

 

Penanganan anemia
Upaya penanganan anemia lintas generasi.

Gejala dan Dampak Anemia

 

Bagaimana gejala anemia serta dampaknya untuk jangka pendek dan panjang, Dokter Diana menjelaskannya panjang lebar:

Gejala umum yang tampak adalah kelopak mata pucat, kulit pucat, sakit kepala/pening/pusing, tekanan darah rendah, hingga kelemahan otot – sering lemas/lelah. Kemudian anemia berat, nadi menjadi cepat sehingga napas menjadi cepat juga. Jika berat dan kronis maka dapat terjadi pembesaran limpa.

Pada ibu hamil, gejala yang mudah diperhatikan adalah wajah dan kelopak mata, terutama bibir tampak pucat, kurang nafsu makan, lesu dan lemah, cepat lelah, sering pusing. Dampak anemia pada kehamilan cukup serius sehingga perlu mendapat perhatian khusus. Yaitu meningkatkan risiko infeksi, gangguan pertumbuhan janin, prematur, pre eklampsia, perdarahan pasca melahirkan, dan gangguan fungsi jantung.

Bagaimana pada anak-anak? Mereka menjadi rewel, lemas, pusing, tidak nafsu makan, gangguan konsentrasi, gangguan pertumbuhan, cenderung mengantuk, tidak bergerak aktif. Dampak jangka panjang anemia pada anak-anak, juga orang dewasa adalah menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan infeksi, menurunkan kebugaran, prestasi, kinerja.

Saya pernah merasakan gejala anemia jangka pendek. Anemia akut ketika mengalami perdarahan pasca melahirkan si bungsu lebih 11 tahun yang lalu. Kejadian melahirkannya saya tuliskan di Melahirkan Normal dengan Varises Vagina: Operasi Tanpa Anastesi dan Melahirkan Normal dengan Varises Vagina: Sakit Tak Berdarah.

Pengaruh dari kejadian itu, selama sekira 10 hari saya mengalami kelelahan luar biasa. Kadar hemoglobin turun drastis di bawah angka normal. Untuk berjalan ke luar kamar menuju kamar mandi yang letaknya sekira 9 meter saja sampai hampir 5 menit karena saya harus beristirahat dulu untuk mengatur napas.

Sebelumnya tak pernah sesak napas, saat itu saya sempat merasakannya. Sungguh tidak enak. Duduk saja tak enak, terlebih berbaring. Si bungsu yang masih bayi merah rewel semalaman saat saya mengalami sesak napas. Bersyukur ada suami dan ibu mertua yang membantu mengatasi rasa sesak yang saya rasakan dan menenangkan si bayi.

Semoga saya tak mengalami lagi kejadian seperti itu. Terbayangkan kalau anemia menjadi penyakit kronis pada diri seseorang, terlebih jika dialami seorang perempuan sejak remaja hingga hamil dan melahirkan anak.


Dokter Diana
Dokter Diana dari INA.


Oleh sebab itu Indonesian Nutritionist Association (INA) dengan dukungan pemerintah telah mencanangkan upaya pemecahan masalah anemia ini dengan pendekatan kesehatan berkelanjutan lintas usia baik remaja, usia bekerja, hingga ibu hamil dan balita.

 

Masalah Gizi di Indonesia Terkait Anemia / Defisiensi Besi

 

Dokter Diana menjelaskan, berdasarkan Riskesdas konsumsi asupan pangan di Indonesia masih didominasi oleh nabati dan asupan energi yang rendah dengan protein yang rendah juga sehingga ditetapkan adanya defisit energi, defisit protein, juga kurang micronutrient. Dalam presentasinya, Dokter Diana memperlihatkan bahwa masalah anemia dan stunting merupakan masalah yang cukup besar pada lintas generasi.

 

Kekurangan Zat Besi

 

Kebutuhan zat besi pada remaja perempuan, juga saat kehamilan sebenarnya jumlahnya tidak terlalu besar tetapi harus tercukupi. Ternyata penyebab utama anemia kurang zat besi itu dari asupan makanan. Penyebab lainnya adalah akibat penyakit atau penyebab lain.

 

Faktor-Faktor Asupan pada Anemia Kurang Zat Besi

 

Dokter Diana menyampaikan telaah mengenai faktor-faktor asupan pada anemia kurang zat besi, yaitu:

  • Asupan zat besi rendah, terutama besi heme. Zat besi heme adalah zat besi yang berasal dari hemoglobin hewani sedangkan zat besi nonheme berasal dari nabati (tumbuhan).
  • Asupan vitamin C rendah.
  • Konsumsi sumber fitat yang berlebihan.
  • Konsumsi sumber tannin berlebihan (kopi, teh).
  • Menjalankan diet yang tidak seimbang.

Khusus penyebab anemia kurang zat besi pada anak masalahnya adalah: anak pemilih (picky eater) sehingga kurang asupan zat besi. Akibat makanannya tak bervariasi/tidak mengandung zat besi sehingga menyebabkan gangguan penyerapan. Ada juga kondisi tertentu yang menyebabkan asupan besi rendah pada anak (seperti alergi bahan makanan sumber besi heme).

 

Simak webinar Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi
selengkapnya di video ini.

Sumber Makanan Zat Besi

 

Zat besi heme terkandung pada sumber makanan hewani, untuk penyerapannya mudah jadi akan langsung diserap oleh tubuh tetapi zat besi nonheme harus diubah dulu untuk kemudian dapat diserap dengan baik oleh tubuh.

Zat besi nonheme yang berasal dari bahan makanan nabati itu bisa dihambat penyerapannya oleh fitat[1], polifenol[2], tannin[3], kalsium, dan zink.

Pengonsumsian zat besi nonheme harus bersama dengan makanan atau vitamin yang dapat meningkatkan penyerapan yaitu vitamin C. Bahan makanan yang mengandung vitamin C yang mudah diperoleh contohnya: jambu biji, mangga, tomat, jeruk, klengkeng, blewah, dan cabai. Di samping itu, perlu diperhatikan untuk menghindari zat yang menghambat penyerapannya.

A. Sumber Zat Besi Heme

Sumber zat besi hewani adalah dari daging ayam, daging sapi, daging domba, hati ayam, hati sapi, hati domba, dan ikan salmon.

B. Sumber Zat Besi Nonheme

Sumber zat besi nabati antara lain bayam, wortel, kangkung, tempe, tahu, brokoli, asparagus, jamur, daun singkong, kecipir, dan kacang buncis.

 

Bagaimana Peran Kita dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi

 

Bagaimana masyarakat mengambil peran dalam upaya menjawab tantangan kesehatan lintas generasi? Yang paling pertama harus disadari dulu bahwa upaya ini bukanlah mutlak urusan pemerintah atau INA saja karena juga menyangkut kesehatan masyarakat itu sendiri.

Kita perlu mengambil peran dalam hal ini karena sudah “cukup dimudahkan” dengan langkah yang diambil INA. Para ahli, juga pemerintah bahkan sudah bekerja sama dengan perusahaan terkait realisasi CSR-nya, utamanya yang bergerak dalam bidang food and beverages.

Nah, dalam talkshow yang dilaksanakan sehubungan dengan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada tanggal 25 Januari, Pak Arif Mujahidin (Corporate Communication Danone Indonesia) menguraikan peran Danone dalam mendukung program kesehatan lintas generasi. Apa yang dipaparkan oleh beliau merupakan bagian dari hal baik yang patut disebarkan.


Arif Mujahidin
Pak Arif Mujahidin.

Terlebih perusahaan yang memiliki visi one planet one health[4] ini ingin menjadi bagian yang positif dalam memerangi perubahan iklim sehingga terus berupaya menjadi perusahaan yang karbon netral pada tahun 2050. Tak bisa bisnis tanpa air sehingga mengadakan pemeliharaan dari hulu hingga ke hilir. Yakin setiap air yang dimanfaatkan digunakan sebesar-besarnya untuk kesehatan manusia dan tetap menjaga agar air tetap ada di bumi.

 

1. Menyebarluaskan Berita Baik

 

Melalui media sosial atau blog, berita baik terkait penanganan penyakit dan gizi perlu disebarluaskan agar semakin banyak yang sadar mengenai pentingnya mencegah dan mengatasi anemia lintas generasi, berikut memperhatikan asupan makanan yang mengandung zat besi.

INA dan Danone telah melakukan koordinasi dengan pemerintah, di antaranya Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan bersama-sama dengan persatuan orang tua murid di sejumlah sekolah, dan organisasi lain yang bergerak di dalam bidang pengentasan anemia.

Program yang dijalankan mulai untuk ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita, anak usia sekolah, remaja dan usia produktif, hingga lansia. Untuk remaja, seperti dalam contoh yang saya sebutkan di atas, adalah suplementasi Fe(zat besi).

Selain program pemerintah di atas, perusahaan yang salah satu produknya susu pertumbuhan ini juga menggagas program-program edukatif, berkolaborasi bersama mitra-mitranya, seperti pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Beberapa programnya sehubungan dengan edukasi gizi adalah:

A. Isi Piringku

ISI PIRINGKU mempromosikan gizi seimbang untuk anak 4 – 6 tahun melalui guru dan orang tua. Program ini melibatkan 4000 guru dan 40.000 siswa PAUD di 8 provinsi dan lebih dari 44.000 ibu.

B. Amir.

Gerakan Ayo Minum Air (AMIR) didorong oleh fakta dari survey yang memperlihatkan bahwa 1 dari 4 anak Indonesia kurang minum. Sementara kekurangan hidrasi 2% saja bisa mempengaruhi konsentrasi. Program ini untuk meningkatkan kebiasaan minum 7-8 gelas per hari bagi anak sekolah. Program ini diikuti oleh 745.764 siswa SD serta 1.225.000 siswa PAUD di 5 provinsi dan melibatkan 1.200.000 kader PKK.

C. Warung Anak Sehat (WAS)

Warung Anak Sehat bertujuan mengedukasi ibu-ibu pengelola kantin di sekolah mengingat anak Indonesia punya kebiasaan jajan sehingga ibu kantin bisa memilih makanan sehat yang dijajakan kepada anak-anak. Program ini melibatkan 234 agen WAS aktif, lebih dari 300 guru terlatih, lebih dari 6.000 ibu, dan lebih dari 27.000 anak.

D. Aksi Cegah Stunting

Aksi Cegah Stunting bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, FKUI, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sekretariat Negara, pemerintah daerah, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan lain-lain. Dalam pilot project ini berhasil diturunkan angka stunting sebesar 4,3% dalam 6 bulan. Program ini telah direplikasi di daerah lain. Bagaimana angka stunting bisa turun? Karena adanya pendekatan baru dalam monitoring, yaitu dengan memprioritaskan intervensi gizi khusus bagi mereka yang berisiko tinggi mengalami stunting.

E. GESID (Generasi Sehat Indonesia)

Gesid bertujuan membangun permahaman dan kesadaran remaja tentang kesehatan dan gizi remaja, pentingnya 1000 hari pertama kehidupan, dan pembentukan karakter. Program ini menjangkau 2000 siswa di 5 SMP dan 5 SMA. Para remaja sangat penting mulai disadarkan karena nantinya akan menjadi orang tua.

F. Taman Pintar

Di Yogyakarta ada 4 fasilitas edukasi dan entertainment bernama Taman Pintar. Diperuntukkan mulai usia 6 tahun. Sebelum pandemi Taman Pintar dikunjungi oleh lebih dari 1 juta pengunjung dalam setahun.

G. Duta 1000 Pelangi

Memberi bantuan kepada karyawan dan masyarakat sekitar tentang masalah gizi dan kesehatan dalam 1000 hari pertama kehidupan dengan menjadikan karyawan sebagai duta. Karyawan dilatih dan dibekali pengetahuan tentang gizi seimbang dan materi lain yang berkaitan dengan 1000 hari pertama kehidupan untuk kemudian menjadi agen yang mengedukasi masyarakat.

 

CSR Danone
Beberapa program terkait one planet one health.

2. Berperan Aktif dalam Kehidupan

 

Tentunya menjadi tantangan bagi diri sendiri untuk mewujudkan hal-hal yang telah diketahui sehubungan dengan anemia, zat besi, dan hal-hal lain sehubungan dengan pemenuhan gizi terkait pencegahan anemia. Dibutuhkan kesadaran dan tindakan nyata dalam urusan gizi keluarga.

Anemia memang harus dihadapi bersama karena ternyata akan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia lintas generasi. Terlebih kita akan menghadapi bonus demografi, di mana proporsi penduduk usia kerja di negara kita akan lebih besar daripada proporsi bukan usia kerja. Maka isu kesehatan, termasuk anemia menjadi isu penting untuk disadari dan ditindaklanjuti.

Makassar, 24 Februari 2021



[1] Asam fitat termasuk asam kuat, dan banyak terkandung dalam gandum, biji-bijian, kacang-kacangan, dan tanaman polong-polongan (https://foodtech.binus.ac.id/2014/11/03/waspadai-senyawa-pencuri-zat-gizi-dalam-menu-sehari-hari/).

 

[2] Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan. Memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai antioksidan dan dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dan kanker (Wikipedia).

 

[3] Tannin adalah adalah suatu senyawa polifenol yang berasal dari tumbuhan, berasa pahit dan kelat (Wikipedia).

[4] One planet one health berarti manusia dan planet saling berhubungan dan kami ingin memelihara dan melindungi keduanya. Tidak salah satu. Sebagai perusahaan makanan, perusahaan yang memulai debutnya di Indonesia sejak 1954 ini ingin menjadi yang terdepan dalam mempelopori makanan atau food revolution - yaitu sebuah gerakan yang mempelopori kebiasaan makan dan minum yang lebih sehat dan berkelanjutan. Danone mengajak seluruh masyarakat dunia dan Indonesia untuk berkolaborasi dan berpartisipasi dalam gerakan ini bersama-sama (Pak Arif Mujahidin).



Share :

49 Komentar di "Anemia Karena Defisiensi Zat Besi: Tantangan Kesehatan Lintas Generasi"

  1. kasus Anemia di Indonesia ternyat amasih banyak ya mbak, kalau gak ditangani bisa berkelanjutan dan bisa menyebabkan stunting

    ReplyDelete
  2. Anemia memang ga bisa dianggap remeh ya mba
    yuk lah, sama2 kita berupaya untuk mencegah dan menanggulangi anemia!

    ReplyDelete
  3. dari dulu aku tuh nggak begitu paham dengan Anemia, mbak. baru tahu penyebabnya, ngeri juga ya karena dampaknya nggak main2 :(

    ReplyDelete
  4. Aku pun mbak awalnya juga mikir takut anakku mengalami stunting karena tubuhnya yang relatif lebih pendek dibandingkan rata-rata kawan sekelasnya. Namun sekarang yang kecil udh lebih tinggi dari aku. Sempet konsul ke dokter juga, kata dokter bapak sama emaknya kan kecil, anaknya kecil wajar. Kalau tinggi banget, itu keturunan anak siapa? Ahahaha. Prof Agus dulu dokternya anak2 emang suka ngelawak. 😂

    ReplyDelete
  5. saya penderita anemia juga mbak, dulu pas gadis masih mendingan lah, eh pas hamil ya ampun berasa banget, sering pengen pingsan gara2 anemia :(

    ReplyDelete
  6. Terima kasih sudah sharing materi ini mba.. Penting sekali bagi kita utk tahu bahwa kekurangan zat besi (bahkan saat remaja) bisa berpengaruh terhadap status gizi anak kelak..

    ReplyDelete
  7. Ternyata anemia pada perempuan belum menikah bisa berdampak pada kehamilannya kelak ya mbak, Tulisannya sangat memberikan saya informasi yang lengkap sekali.

    ReplyDelete
  8. Saya juga penderita anemia mba. Apalagi waktu kuliah, capek banyak tugas, akhirnya sering lesu dan pusing.

    ReplyDelete
  9. Ternyata salah besar kalau menganggap enteng anemia. Terlihat sepele, tetapi bisa berdampak fatal. Info ini berguna bagi saya yang memiliki anak perempuan, meskipun sekarang masih kecil 🤭 jadi tahu harus lebih perhatian pada asupan gizinya saat dia haid nanti 🙂

    ReplyDelete
  10. Kekurangan zat besi ternyata bahaya juga ya, penyerapan jadi gak maksimal dan malah bisa kena anemia.. huhu..

    ReplyDelete
  11. Mempersiapkan anak ke gerbang dewasa ini, mashaAllah...
    Aku jadi belajar dari tulisan kak Niar bahwa anak saat mens perlu juga asupan multivitamin dari luar yaah..selain makan makanan yang bergizi.

    Karena kalau mens dapet pertama kali, bagi anak perempuan akan terasa "berbeda". Yang ada seringnya jadi malas makan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini juga yang aku keluhkan, kak Niar...mengenai tablet penambah darah.
      Pilnya gede gituu...hiks~
      Ada yang kecil, kerasa banget di pangkal lidah.

      Kudu banget dibiasakan demi kesehatan dan jauh dari anemia.

      Delete
  12. Waktu belum ikut nyimak acara webinar ini, saya pikir kekurangan zat besi dampaknya tidak separah kena penyakit menular. Ternyata salah. Kekurangan zat besi justru bisa fatal ya kalau dibiarkan

    ReplyDelete
  13. Sedih banget ya ternyata masih banyak balita anak-anak yang anemia semoga para orang tua bisa memberikan nutrisi dan kebutuhan gizi lengkap untuk anaknya agar terhindar dari anemia karena mengganggu tumbuh kembang si kecil juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya aku juga was was ini sama anakku soalnya picky eater jadinya aku harus benar benar yalin zat besi mencukupi

      Delete
  14. Risiko kekurangan zat besi itu sangat bahaya memicu anemia. Kadang kita suka lupa akan kondisi hal itu

    ReplyDelete
  15. Stunting itu ancaman nyata generasi kita. Indonesia itu tiga besar di dunia. Jadi, ini adalah kasus serius. Meski demikian, kita bisa mengantisipasi dini dengan memerhatikan kecukupan asupan zat besi dalam tubuh kita, dan anak-anak kita.

    ReplyDelete
  16. iya nih anemia tuh jadi isu yang penting banget untuk jadi perhatian bersama, ga cuma para dokter ajaa

    ReplyDelete
  17. Anakku kurus disangka Anemia padahal berat badan tidak jadi faktor utama penentu Anemia
    Heran sayaa sama argumen tanpa ilmu

    ReplyDelete
  18. Bener banget, mbak.
    Anemia itu musuh besar buat generasi Indonesia karena dampaknya sangat luas...
    Ayo kita perangi anemia!

    ReplyDelete
  19. awareness ttg anemia ini penting banget ya mbak. Karena kurangnya informasi, kadang masih banyak yg lalai soalnya. Salut sekali dgn upaya Danone terlibat aktif dlm hal2 positif semacam ini.

    ReplyDelete
  20. duh pantes jaman kecil diminta makan sayur bayam terus biar zat besi nya terpenuhi dengan baik ternyata. dan mengurangi dampak terkena anemia yaa

    ReplyDelete
  21. aku pernah mengalami anemia saat remaja dan rasanya sangat mengganggu dan tidak nyaman saat menjalani aktivitas harian. Bahkan sampai pingsan mba.

    ReplyDelete
  22. Jadi paham tentang Anemia, ternyata penyebabnya banyak dan banyak juga cara menanggulanginya. Terima kasih infonya

    ReplyDelete
  23. Anakku juga sempat kena anemia pas usia 7 bulan, lumayab melelahkan harus terapi zat besi selama beberapa bulan Alhamduliah skrg udah normal lagi

    ReplyDelete
  24. Banyak juga ya kasus anemia. Saat anemia memang gak nyaman banget. Saya juga pernah merasakan. Bawaannya lemes dan sakit kepala

    ReplyDelete
  25. Waktu hamil dulu saya sempat didiagnosa anemi, beruntung punya dokter spog langganan yang sigap melihat saya lemes2 capek gitu, diresepin obat penambah darah sebelum lahiran. Anemia gak boleh disepeleka ya kan mba

    ReplyDelete
  26. Penting sekali untuk memperhatikan asupan nutrisi untuk anak-anak, khususnya anak perempuan ya, Mbak.

    Aku punya anak perempuan, tapi kalau makan duh, kudu dirayu sedemikian rupa nih.

    Semoga kelak saat sudah masa pubertas, pola makan dan selera makannya meningkat, supaya asupan zat besi dan nutrisi lainnya lebih baik

    Dari sekarang sudah kulatih untuk menyenangi apapun, jangan pilah pilih makanan, apalagi sayuran yang banyak mengandung zat gizi

    ReplyDelete
  27. Bener Mba.. memulai suatu generasi terlahir sehat adalah dimulai remaja putri kita.
    Saya jadi teringat tentang vaksin yang penting seperti campak yang wajib diberi. Ternyata bukan hanya melindungi anak kita. Tapi nanti seandainya anak kita sudah dewasa dan hamil, kehamilannya terjaga dari sakit campak yang mengakibatkan janin cacat.
    Sama dengan pentingnya menjaga diri dari kekurangan anemia, agar nantinya pun calon ibu melahirkan anak yang sehat.

    ReplyDelete
  28. Ini sih urgent banget di Indonesia. Masalah stunting ternyata penyebab utamanya di anemia. Wow, teguran bagi saya pribadi. Harus kembali hidup sehat dan mencintai makan buah dan sayur.

    ReplyDelete
  29. Sama kayak aku, Mbak Mugniar. Dulu pas awal-awal menstruasi juga mengalami anemia. Tapi belakangan kemudian mengimbangi dengan asupan gizi dan nutrisi, juga suplemen. Sama banyak minum air mineral.

    ReplyDelete
  30. Gejala anemia memnag mesti diwaspadai ya, mengingat dampaknya luar biasa . Maka setuju jika anemia memang harus dihadapi bersama karena ternyata akan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia lintas generasi. Jadi pe er kita semua nih buat menanganinya

    ReplyDelete
  31. Penting banget asupan bergizi untuk ibu dan anak karena memang stunting itu sangat mudah menyerang jika nggak memperhatikan dengan betul-betul asupan gizi.

    ReplyDelete
  32. Isu stunting ini emang udah digaungkan sejak 2018 kemarin ya mba dan masih tetap menjadi prioritas kemenkes. Mudah2an angkanya semakin menurun. Aamiin

    ReplyDelete
  33. Baru tau anemia ternyata banyak menimpa remaja putri ya mbak ..selayaknya emang ibu memperhatikan asupan gizi buah hati supaya tidak mengalami anemia

    ReplyDelete
  34. baca ini jadi banyak ilmu dan pengetahuan soal anemia, jadi tahu ciri-cirinya sehingga bisa antisipasi jika memang kita mengalami hal ini ya

    ReplyDelete
  35. Jadi ingat waktu anak2ku pas umur 1 tahunan pasti diterapi zat besi ama dokter, karena terindikasi ADB. Soalnya emak yang anemia juga ngefek ke anak2nya, dan kebetulan aku memang sering banget HB nya drop. Jadi PR banget nih biar anak-anak ke depannya nggak ADB lagi.. kasian kalau tumbuh kembangnya jadi nggak optimal kan.

    ReplyDelete
  36. aku sempet anemia juga, kalo lagi datang bulan kudu banget konsumsi obat biar nggak kumat hihi, dulu nganggepnya anemia itu penyakit yang nggak begitu berbahaya, tapi namnaya juga penyakit tetep harus diobatin donk pastinya ya hihi

    ReplyDelete
  37. aku juga sempat ngalamin, mba, ikut berjuang karena anak keduaku anemia. nyesek banget deh soalnya susaah sembuhinnya.. lama juga

    ReplyDelete
  38. Indonesia harus bebas dari anemia nih kalo semua ibu dan masyarakat paham pentingnya kecukupan nutrisi yaaa mba

    ReplyDelete
  39. Berharap tak ada lagi peningkatan angka penderita ADB sehingga Indonesia bisa fokus ke masalah lain yang lebih urgent

    ReplyDelete
  40. Ulasan yang sangat bermanfat mbak. Saya juga suka anemia, kayak pusing dan kepala berat gitu, apalagi klo menjelang haid gitu hingga pas masa haid. rasanya kayak lemes banget.

    ReplyDelete
  41. Efeknya bisa ke stunting ya, pengetahuan baru untukku karena memang ya bener hubungannya sama gizi.

    Terutama untuk perempuan nih, saya juga sedang mengurangi kopi krn efeknya bisa ke kurang zat besi ini. Dan juga, memang darah rendah aja rasanya nggak enak, selalu ketolak kalau kena donor. Bener2 asupan dan pola hidup sehat harus dijaga ya

    ReplyDelete
  42. aku baru aware masalah anemia ini pas punya anak, ternyata penting banget buat tumbang anak ya. Apalagi angka kejadian anemia termasuk tinggi di Indonesia

    ReplyDelete
  43. Pentingnya mnjaga asupan nutrisi bagi tubuh qt. Saya salahsatu pengidap anemia, rasanya gak enak bgt klo dtg sakitnya

    ReplyDelete
  44. Ibu hamil rentan juga kena anemia dan teryata ada tanda tanda khusus anemia pada ibu hamil ya. Lengkap ulasannya, mba

    ReplyDelete
  45. baru tau banget ternyata anemia ada hubungannya ama stunting ya.. wah perempuan perempan harus ngejaga banget nihh

    ReplyDelete
  46. Baca artikel tentang anemia ternyata nggak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan dan anak-anak kudu menjaga bener asupan makanan. Rutin konsumsi vitamin dan banyak minum air putih

    ReplyDelete
  47. Aku suka sekali dengan tulisan ini mba mugniar.
    Benar sekali.
    Hal ini mengingatkan aku akan pengalaman saat aku hamil putra kedua dan aku kurang sekali mengkonsumsi suplemen besi.
    Pasca usia putraku 2 bulanan ia sakit dan ternyata salah satu penyebabnya adalah karena ia mengalami ADB

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^