Inspirasi Guru SMK Berbagi Kebaikan Melalui YouTube

Inspirasi Guru SMK Berbagi Kebaikan Melalui YouTubeDalam rangka Hari Kartini, ketika saya diminta Ibu Maurensyahguru SMK Darussalam untuk terlibat dalam acara talkshow di channel YouTube Permata Hati miliknya (26 April lalu). Kami membincangkan sosok Kartini dan puisi-puisinya selama kurang lebih 30 menit.

“Kalau Kak Niar lewat blog, mungkin saya lebih banyak
ke model seperti ini sekarang, Kak. Bosan juga anak-anak
kalau direcoki dengan tugas. Psikologinya juga perlu
diperhatikan. Mereka dalam fase ini saya yakin
tidak nyaman tinggal dan terkurung di rumah,”
ucap guru sejarah yang lebih banyak membawa dirinya
dengan nama PERMATA HATI ini.

Saat membaca pesan usai bincang-bicang kami sore itu, saya merasa terkesan. Tak banyak guru yang mau bersusah-payah menggunakan metode berbeda dalam menjalankan tugasnya di masa pandemi ini. Banyak masalah dalam dunia pendidikan sebab keadaan ini mengejutkan semua pihak. Tak banyak yang dengan cepat berpikir kreatif dan inovatif seperti Permata Hati.

Menggunakan YouTube bisa sekaligus merupakan kebaikan berbagi – melalui video kepada orang lain.


Ketika sudah tayang di channel-nya, siapapun bisa mengaksesnya. Beberapa tema sudah diselenggarakan, seperti Belajar Bahagia di Tengah Pandemi Covid-19, Bimbingan Konseling Masa Pandemi Covid-19, Kartini Masa Kini, Kreativitas Remaja Milenial, dan Nulis Puisi, Siapa Bilang Sulit?

Para siswa diminta hadir saat streaming berlangsung dan berinteraksi dengan nara sumber dengan memberikan pertanyaan atau tanggapan. Kalaupun tak bisa menyimak langsung, siswa bisa menyimaknya ketika dia sempat.

Mengapa Memilih YouTube Sebagai Media Belajar Siswa SMK?


Ketika pertanyaan mengapa memilih youtube sebagai media belajar ini saya ajukan via Whatsapp, Permata Hati memberikan penjelasan sebagai berikut:

1. Sebagai alternatif/variasi  model belajar pembelajaran jarak jauh.


Harapannya adalah agar anak-anak tidak jenuh dengan cara belajar yang sama. Mengingat kondisi belajar saat ini yang berubah drastis, di mana siswa terkurung di rumah dan tidak bisa ke mana-mana.

“Pasti bukanlah hal yang mudah bagi anak-anak maka saya tidak ingin menambah beban,” ucap Permata Hati melalui pesan suara.

Anak-anak membutuhkan variasi cara belajar mengingat keadaan mereka yang juga dalam tekanan terkurung di rumah, tidak bisa ke mana-mana. Ditambah beban ekonomi keluarga  dengan kondisi pekerjaan otang tua yang berubah drastis, hal ini juga sebagai usaha Permata Hati untuk mengurangi beban siswa.


2. Menanggapi  curhat dari beberapa siswa mengenai tekanan keluhan.


Sejumlah siswa mengeluhkan adanya guru-guru yang mengajar hanya sekedar memindahkan tempat mengajar dari sekolah ke rumah. Memberikan tugas begitu banyak tanpa melihat kondisi psikologis anak-anak.

Otomatis hal ini membuat beban belajar anak bertambah dari beban belajar sebelumnya, ditambah lagi cara guru yang kadang-kadang memberikan tugas  dengan menggunakan dead line padahal banyak tugas mata pelajaran lain yang harus diselesaikan oleh para siswa.

3. Penasaran memanfaatkan YouTube setelah belajar menjadi host, live bersama Nagita Slavina di channel YouTube Sekolahmu.


Ibu Mauren sosok guru pembelajar yang tak segan mempraktikkan hal yang baru dipelajarinya. Apalagi setelah itu pihak Kampus Guru Cikal dan tim Sekolahmu memberikan panduan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Yaitu bahwa dalam melaksanakan pembelajaran daring perlu melihat beberapa hal yang diistilahkan dengan PEMBELAJARAN 5 M, dengan melihat hal-hal berikut:
đź’šMemanusiakan hubungan.
đź’šMemahami konsep.
đź’šMembangun keberlanjutan.
đź’šMemilih tantangan.
đź’šMemberdayakan konteks.

4. YouTube bisa diakses siapapun.


YouTube bebas diakses dan ditonton oleh siapapun, sekalipun tak memiliki akun YouTube. Siapapun bisa juga belajar dari tayangan YouTube tanpa menyimak siaran langsung. Harapannya jika siswa tidak sempat pada saat tayangan langsung karena kendala teknis maka mereka bisa menontonnya pada waktu lain.

Episode ketika saya menjadi salah satu 
nara sumber tentang R. A. Kartini.

5. Guru harus kreatif agar siswa tidak bosan belajar.


Alasan lain dari Permata Hati, penggunaan YouTube merupakan bentuk kreativitasnya dalam menggunakan media belajar lain selain buku. Menurutnya materi yang diajarkan tidak hanya sekedar materi dari buku tapi bisa menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

6. Anak-anak sekarang akrab dengan YouTube.


Anak-anak jaman now sering mengakses YouTube. Hampir setiap hari mereka mengakses YouTube. “Daripada mereka melihat hal kurang bermanfaat di YouTube mending dimanfaatkan pada hal positif,” ujar perempuan berkacamata ini.

Selain itu, keistimewaan YouTube adalah adanya penawaran menarik dari para provider yang memberikan paket kuota gratis atau unlimited menggunakan YouTube. Jadi tak memberatkan siswa jika dia membeli paket gratis YouTube.

Saya setuju, dengan demikian anak-anak melihat contoh pemanfaatan YouTube untuk hal positif, bukan sekadar tayangan hiburan seperti prank yang dibalut dengan istilah social experiment.

Tanggal 16 Mei nanti, Permata Hati menjadi narsum di
channel Guru Belajar Majene.

Memaknai Peran Guru


Dalam percakapan panjang kami via Whatsapp, saya menangkap bagaimana Permata Hati memaknai peran guru yang begitu filosofis. Sekali lagi, tak banyak guru yang melakukan hal ini. Berikut saya resumekan bagaimana Permata Hati memaknai peran guru.


1. Memanusiakan hubungan.


“Memanusiakan hubungan”, salah satu point penting dalam sistem pembelajaran jarak jauh beberapa kali disinggung oleh Permata Hati dalam percakapan kami via Whatsapp. Baginya, hubungan antara guru dan murid bukan hanya sekadar hubungan kerja karena profesinya sebagai guru, melainkan lebih daripada itu.

“Ketika mengajar, kita perlu memahami kondisi psikologis anak, memahami kondisi orang tuanya, fasilitas yang digunakannya dalam pendidikan jarak jauh. Harus tahu kondisi setiap anak berbeda maka perlu membangun hubungan baik dengan kondisi orang tua,” ujar Bu Mauren.

Menurutnya, para siswa itu tak hanya mempelajari 1 mata pelajaran jadi perlu membina hubungan baik. Hal ini disebut dengan “memanusiakan hubungan”.
“Mereka berada pada fase kritis dan tekanan keadaan. Stres (karena) terkurung dalam rumah. Mereka membutuhkan variasi belajar tanpa harus dibebani tugas.”

Disebutkan oleh Bu Mauren bahwa berkomunikasi dengan orang tua secara intens perlu dilakukan, termasuk mencari tahu apakah HP yang dipergunakan milik orang tua atau milik anak sendiri. Kalau milik orang tua, kapan HP-nya bisa digunakan untuk kegiatan belajar.

Memahami kondisi psikologis siswa juga bisa sebagai pendengar curhat para siswa yang bahkan tak ada hubungannya dengan bahan pelajaran yang dia berikan. Jenis materi yang kekinian pun menjadi salah satu pertimbangan Bu Mauren.

hadits berbagi kebaikan
Hadits berbagi kebaikan. Sumber temanshalih.com.

2. Menggunakan metode/media yang bervariasi.


Menurut Bu Mauren, belajar dengan anak tidak harus dari sumber buku saja. Harus pula diperhatikan bahwa menggunakan metode atau model yang ingin diterapkan, perlu dipikirkan dulu sebelumnya apakah cocok buat siswa. Bisa saja satu model cocok untuk siswa tertentu tapi tidak cocok untuk anak lain.

Selain itu, jika satu metode atau media cocok pada satu kelas namun belum tentu cocok diterapkan di kelas lain.
“Pintar-pintarnya kita menyesuaikan. Kita harus pahami konsep yang digunakan, materi yang diajarkan. Harus pula dilihat kondisi psikologis, kondisi di rumah, dan kondisi orang tua,” kembali Permata Hati menekankan pentingnya memperhatikan kondisi psikologis anak.

“Tidak ada satu pun metode atau media belajar
yang paling cocok dan paling pas. Buat saya
semua media itu bisa digunakan yang penting
pintar-pintarnya kita menggunakan metode yang
disesuaikan dengan kondisi anak,” imbuh Bu Mauren.

Selain YouTube, digunaka juga platform lain yang bisa diakses gratis kuota oleh para siswa. Salah satu yang dipergunakan adalah Quipper School. Penggunaan YouTube awalnya hanya untuk upload video kegiatan sekolah.

Setelah belajar menjadi host live bersama Nagita Slavina di Kampus Guru Cikal pada channel Sekolahmu, dirinya melihat belajar via YouTube bisa menjadi alternatif menarik yang justru setiap harinya ide bermunculan untuk mengangkat tema kekinian yang sesuai konteks hari ini dan sesuai dengan masa pandemi Covid-19 ini.

3. Sepenuh hati menerapkan 5 M.


Bukan hanya satu kali mengucapkannya, 5 M dibahas lagi oleh Bu Mauren. Saya melihatnya sebagai penekanan yang tak boleh diabaikan dalam pembelajaran daring sehingga bisa menjadi solusi yang baik.

“Penting mengapa kita perlu menggunakan 5 M dalam pembelajaran jarak jauh, salah satunya memanusiakan hubungan, melihat kondisi psikologis, dan membangun komunikasi dengan orang tua. (Juga memperhatikan) apakah media yang kita gunakan cocok buat mereka,” ucap Bu Mauren lagi.


4. Refleksi dan evaluasi.


Menurut Bu Mauren, mengajar itu tidak selalu dengan memberikan materi melalui buku saja. Dirinya tidak ingin sekadar “memindahkan sekolah ke rumah”. Metode-metode lain bisa dipilih, seperti nonton baik streaming atau bukan, atau dengan mengirim link bentuk/model lainnya. Setelah itu akan terjadi umpan balik, apa yang para siswa pahami dan bagaimana menurut mereka.

Pada akhir pekan Bu Mauren melakukan evaluasi terkait media atau metode yang dia gunakan,  pun terkait materinya.  Dia mencari tahu apakah ada kendala, apakah cocok buat para siswa. Di samping itu, dirinya merefleksikan sendiri apa yang sudah dilakukan untuk perbaikan metode mengajar ke depannya.

 “Tiap kali  para siswa selesaikan pelajaran atau mengerjakan apa yang saya tugaskan, saya akan merefleksi kembali apa yang mereka rasakan dengan hal tersebut terkait pembelajaran dan apa kendalanya. Dari situ saya akan mengevaluasi cara mengajar saya ataupun metode yang saya gunakan,” ungkap Bu Mauren melalui pesan suara.

5. Bukan sekadar mengajarkan sejarah namun juga menanamkan karakter pada siswa.


“Mengajar sejarah bukan hal yang mudah Jangankan sejarah dunia, sejarah mereka sendiri mereka tidak tertarik jadi perlu cara atau metode agar anak tertarik belajar sejarah,” papar Bu Maurensyah.

Menurutnya perlu membuat siswa memahami
bahwa sejarah tidak hanya belajar tentang masa lalu
tapi juga belajar dari masa lalu, belajar masa kini,
dan belajar masa yang akan datang.

“Dengan belajar dari sejarah mereka akan menjadi lebih bijak dengan tidak mengulangi kesalahan masa lalu di masa yang akan datang. Selain itu belajar sejarah juga berarti menanamkan karakter pada diri mereka,” imbuh Bu Mauren.

Ketika menggunakan platform Quipper School, Bu Mauren tak sekadar gugurkan kewajiban mengajar. Baginya, proses belajar-mengajar juga bermakna membentuk karakter siswa. Tiga karakter yang bisa dibentuk dalam hal ini adalah tanggung jawab, disiplin, dan kejujuran.

Bimbingan dan Konseling di Masa Pandemi Covid-19,
salah satu tema kekinia di channel YouTube Permata Hati

Dalam evaluasi, bisa diketahui apakah para siswa sudah membaca materi secara tuntas atau belum, apakah sudah mengerjakan tugas dengan baik atau tidak. Dirinya mengamati dari ikhtisar platform, misalnya berapa jumlah soal yang dikerjakan oleh siswa, berapa soal yang benar, berapa lama siswa berada di dalam “ruang kelas”, dan siapa saja yang membaca materi dengan baik.

Jika ada yang tak memenuhi standard, misalnya tidak membaca materi dengan baik maka diupayakanlah interaksi langsung dengan siswa yang bersangkutan supaya membaca materinya dengan baik.

Pembelajaran Jarak Jauh Selama Ramadan


Pembelajaran sekarang ini menyesuaikan dengan kondisi para siswa saat Ramadan. Dibuat kesepakatan belajar di rumah, seperti jam berapa memulai karena bisa saja ada siswa yang terlambat bangun. Bisa saja pembelajaran yang tadinya berlangsung pagi atau siang dipindahkan ke sore hari, sembari ngabuburit.

Selain kesepakatan dengan siswa, hal ini juga dikomunikasikan dengan orang tua, dengan menyisipkan konten Ramadan bagi siswa seperti mengingatkan puasa, shalat, dan menjaga lisan. Jika ada yang tidak ikut pembelajaran, dicari tahu mengapa.

“Pembelajaran di masa pandemi ini
menyesuaikan dengan kondisi sekarang,
bukannya mengejar target menghabiskan materi,”
pungkas Permata Hati.

Bagi saya ini salah satu bentuk kebaikan berbagi di bulan Ramadhan. Hakikat berbagi itu kan bukan sekadar harta, iya toh? Bisa berupa tenaga, ide, informasi, atau senyum.

Topik Lorong Perpustakaan akan dibahas pada
20 Mei nanti.

Bagaimana Reaksi Para Siswa dengan Model Pembelajaran Jarak Jauh ala Permata Hati?


Saat saya menanyakan hal ini, Bu Mauren menjawab,
“Setiap anak reaksinya berbeda. Ada yang senang, ada yang kendalanya di kuota, telat bangun, dan fasilitas yang digunakan punya orang tua jadi HP menyesuaikan kapan mereka bisa. Misalnya saat gunakan media Quipper School tidak hanya di jam yang ditentukan, diberikan ruang, waktunya 1 minggu. Selama 1 minggu kalau ada kendala, mereka diminta sampaikan kendala lewat DM di aplikasi atau di WA.”

Menyimak penuturan Bu Mauren, saya teringat perkataan Pak Muhammad Irfan, S.Pd., M.Pd – Ketua Program Studi PGSD FIP UNM (Universitas Negeri Makassar) pada diskusi virtual bertajuk Pembelajaran Daring: Solusi Atau Masalah yang berlangsung pada tanggal 28 April lalu.

Menurutnya Pak Irfan, teknologi bukanlah segalanya dan guru tetap harus memberikan “sentuhan” selayaknya di dalam kelas. Usaha untuk berinteraksi dengan para siswa itulah, sampai rela dihubungi secara pribadi adalah “sentuhan” Bu Mauren kepada para siswanya.


***
“Pendidikan jarak jauh bukan melihat tren saja,
bukan pula melihat kecanggihan media, tapi
memperhatikan apakah yang diajarkan tersampaikan
kepada anak-anak dan mampu diserap dengan baik,”
pungkas Permata Hati.

Bu Maurensyah, alias Permata Hati menyatakan ke depannya akan tetap gunakan media YouTube sebagai salah satu cara untuk berbagi kebaikan dan inspirasi. Baarakallahu fiik.

Memang, sejatinya the new normal life saat pademi Covid-19 ini sejatinya siapapun, termasuk guru memperhatikan hal-hal yang berubah dan mencari solusi untuk menyesuai dengan perubahan, bukan sekadar “memindahkan” konsep tanpa melihat adanya perubahan, termasuk kondisi psikologis.

By the way, belajar dari rumah, menggunakan teknologi IT, dalam hal ini Instagram @ramadanvirfest juga dimungkinkan oleh Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan. Seperti Permata Hati, DD Sulsel punya banyak ide agar siapapun bisa belajar. Sebut saja kelas Appilajara, Humanitalk, Sedekah Dongeng, dan Ngabubookread. Semuanya menghadirkan nara sumber yang kompeten di bidangnya.

Program-program DD Sulsel.
Sumber akun IG @ramadanvirfest

Masya Allah, saya yakin, nama Bu Mauren akan kekal tersimpan di dalam hati anak-anak didiknya di SMK Darussalam bagaikan permata hati – seperti nick name-nya, sekekal kesan yang ditinggalkan oleh mereka yang menyimak kelas-kelas yang diselenggarakan oleh DD Sulsel karena telah membuka wawasan.

Makassar, 16 Mei 2020


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition “Ceritaku dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan.




Share :

84 Komentar di "Inspirasi Guru SMK Berbagi Kebaikan Melalui YouTube"

  1. Bener sih mbak, harus gurunya yg kreatif..
    Soalnya anakku ini SFH, kalo gurunya pas yg asik, mereka juga seneng, kalo pas gurunya yg boring ya mereka boring

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya ya benar itu. Kreativitas itu mutlak dimiliki sama guru jaman now.

      Delete
  2. adiku juga dalam kondisi pandemic seperti ini belajar jarak jauh melalui video call atau gurunya meng upload video di Youtube, berharap banget kondisi pandemic ini bisa segera berlalu

    ReplyDelete
  3. Masyaallah, senang dengarnya kalau ada guru yang kreatif dan melek teknologi gini. Berharap banget pengajar yang lain juga punya kreativitas kayak gini agar selama di rumah anak mau dan nggak bosan buat belajar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya Mbak Ratna, senang kita kalau ada berita seperti ini. Makanya saya pengen nulis hehe.

      Delete
  4. guru harus pintar2 kasih belajar online yang menarik ya agar anak2 tetap bertahan

    ReplyDelete
  5. Mantab sekali ini Guru SMK ini,menginspirasi dan paham banget akan kebutuhan anak2 milenial jaman now dengan metode pembelajarannya lewat yutub.

    Ini juga, ku udah sebulan apgred
    ikutan kelas digitall marketing, metodenya semua di yutub dan live dangdut sana. Seruu dan memang mudah dipahami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuhuu, asyiknya emak satu ini, masih senang apgred wawasan. Bagi ilmunya doong.

      Delete
  6. Suka tidak suka kita harus sudah mulai membiasakan diri dengan platform digital, termasuk untuk isu pendidikan

    ReplyDelete
  7. Masya Allah!
    Suka banget bagian ini:

    “... ketika mengajar, kita perlu memahami kondisi psikologis anak, memahami kondisi orang tuanya, fasilitas yang digunakannya dalam pendidikan jarak jauh. Harus tahu kondisi setiap anak berbeda maka perlu membangun hubungan baik dengan kondisi orang tua,”

    Semoga tenaga pengajar terinspirasi dengan inovasi ibu Maurensyah.

    Laaf banget sharing mba Niar ini, as always!


    ReplyDelete
    Replies
    1. Inspiratif ya, Mbak Anna .. saya juga terkesan ...
      Alhamdulillah bisa menuliskannya di sini.

      Delete
  8. Sebagai orang yang pernah bercita cita jadi guru aku angkat topi buat "terobosannya" guru ini. Teknologi memang nggak bisa dihadang yang ada kita harus menyesuaikan. Good job deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, saya salutnya karena tidak banyak guru yang mau bersusah-payah bikin pembelajaran model begini, apalagi guru mata pelajaran Sejarah.

      Delete
  9. Nah iya guru memang harus kreatif apalagi di masa pandemi kayak gini temanku ada kok yang akhirnya aktif di YouTube masalahnya nih buruan aku kadang itu ngebosenin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah keren, temannya Mbak Milda.
      Eh,maksudnya, Mbak Milda bosan?

      Delete
  10. Pada akhirnya mayoritas masyarakat harus beradaptasi dengan dunia digital, ya. Bahkan untuk yang gaptek sekalipun

    ReplyDelete
  11. Keren gurunya, mengikuti perekembangan jaman dengan melek teknologi. Guru jaya itu yg dibutuhkan sekarang, yg kreatif dan melek teknologi

    ReplyDelete
  12. memang saat ini guru pun harus melek teknologi juga dan ibu gurunya keren bangeeeet sihhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus melek ya supaya bisa mengimbangi siswanya.

      Delete
  13. Memang youtube sudah saatnya dilirik lembaga pendidikan, balita aja sudah gak bisa lepas dari youtube hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya benar ya ... balita saja sudah tahu YouTube hehe

      Delete
  14. Bener banget saat ini guru tuh jadi kreatif ya mbak dengan adanya seperti ini jadi bisa mengikuti perkembangan yang ada gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau guru kreatif, siswanya pun akan terpicu kreatif ya, Mbak.

      Delete
  15. bukan cuma buat siswa, tapi model pembelajaran dengan youtube juga disuka mahasiswa. mereka bisa menyimpan materi dan menontonnya kapan saja dibutuhkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau buat mahasiswa, pasti lebih disukai, Mbak.
      SAya buat tulisan ini karena saya salut dengan kerelaan Ibu Guru ini bersusah-payah bikin konten YouTube padahal dirinya bukan seorang content creator. Nah sekarang justru jadi content creator berkat pembelajaran jarak jauh.

      Delete
  16. Channel youtube memang membantu banget untuk pembelajaran daring. Bukan cuma untuk siswa tapi juga untuk mahasiswa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari TK .. anak-anak suka YouTube ya, Mbak .... jadi memang pas buat media belajar.

      Delete
  17. Zaman sekarang emang harus lekas beradaptasi & jago menggunakan teknologi ya mbaak. Kan happy kalo bisa berbagi kebaikan di rumah saja, bisa dilakukan dengan praktis pula. Keren nih guru SMKnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Intan. Bisa jadi sumber kebaikan yang bermanfaat bagi orang banyak yaa.

      Delete
  18. Keren ya, guru memang harus kreatif dalam mengadakan kegiatan belajar untuk siswanya. Supaya anak-anak gak stres dan bosan saat belajar di rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, salah satu point saya dalam tulisan ini adalah "kreativitas", Mbak, hehe.

      Delete
  19. Maasyaa Allaah Baaraakallahu fiikuum kak niar, sebuah tulisan yang menggugah kreativitas.

    Baru ka mau mencoba aktif lagi ngeblog, dan satu yang selalu menginspirasi adalah blog ta ^^ jazaakillahu khairan, dan ini adalah komen pertamaku lagi setelah sekian lama, haha. Mariki kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah Mayaaa ... ibu dosen, lama ta' ndak ketemu ya, baik di dunia maya apalagi di dunia nyata. Ayoo ngeblog, ibu dosen dan seorang ibu pula, pasti punya banyak bahan buat di-share hehe.

      Delete
  20. Bu Mauren kreatif banget ya, memahami generasi sekarang yang lebih gampang membuka YouTube dibanding belajar. Sampai bikin channel YouTube untuk berbagi dan menerima curhat siswa yang bermasalah di masa pandemmi dengan learn from home

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah ya, Mbak Wati, begitu pun pendapat saya.

      Delete
  21. Kemarin2 anakku yang kelas 6 dan 9 super riweuh dh urusan tugas2 online juga tes2 akhir semester via daring. Guru2 membagikan tugas via WAG, seru juga sih jadi anak2 bikin video, fotoin hasil karyanya dlll. Lama jadi terbiasa. Apalagi anakku paper presentation menggunakan zoom. Canggih teknologi zaman now ya yang penting orangtua support aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. In saya Allah akan bermanfaat banget buat hidup anak ya, Mbak, adanya guru yang care, orang tua yang support, juga perangkat yang memadai.

      Delete
  22. wah iya mba bener lho, guru-guru di era teknologi canggih ini harus kreatif dan inovatif dalam memberikan metode pembelajaran. Salah satunya dengan memanfaatkan platform media sosial

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang ini masanya bagi yang kreatif untuk mewarnai kehidupan, ya Mbak.

      Delete
  23. Sayangnya masih banyak guru yang gagap teknologi mbak, adikku anaknya selama pandemi malah dikirimin tugas sama guru 3kali doang karena gurunya nggak paham digital, mengumpulkan materi via WhatsApp saja sudah kewalahan.. kasian memang, disaat begini jadi penting banget guru-guru melek digital ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah itulah, Mbak. Masih banyak yang tidak soap, tahu2 saja sudah mutlak pakai teknologi. Mau belajar pun kudu dipakai si teknolohginya. Kalau ada yang bisa ngajarin bagus ya, lha kalau tidak, bagaimana bisa maju?

      Delete
  24. Masya Allah, sosok guru seperti Bu Mauren alias Permata Hati ini yang dibutuhkan murid. Ga cuma gugur kewajiban memberi tugas ini-itu tetapi melakukan evaluasi berkala. Anak-anak merasa didengar pendapatnya. TOP LAH!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah, keren ya, Mbak.
      Terima kasih sudah membaca dan menanggapi dengan sangat baik.

      Delete
  25. Kagum dengan prinsip yang diyakini oleh Bu Mauren ini dalam mendekati siswa ya. Jadi enggak sekadar memberikan tugas trus selesai, tapi lebih kepada tersampaikannya pesan dari sang guru kepada murid.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, benar, memperhatikan sisi si anak, tidak egois ya.

      Delete
  26. Keren banget idenya Bu Mauren, selalu kagum dengan para pendidik yang berdedikasi seperti beliau, semoga sehat selalu ya Bu aamiin

    ReplyDelete
  27. Aku punya kenalan guru SMK yg memang rajin bgt share turorial2 selama masa lfh ini, salah satunya gimana supaya klo bikin soal di gdocs ga dicurangi, dan semua diposting di youtube juga

    ReplyDelete
  28. Anak-anak juga belajar dengan menonton video yang dikirimkan oleh Ibu Guru. Di sana, guru menjelaskan selayaknya di kelas, mengucapkan salam, menanyakan kabar anak-anak, jadi berasa sedang berada di dalam kelas. Untuk bungsu, karena masih kelas 2 SD, matematika pun diajarkan dalam bentuk lagu yang dinyanyikan sendiri oleh gurunya.

    Bungsu jadi lebih mudah mengikutinya. Sayangnya, memang belum banyak guru yang melek teknologi, seperti Ibu Maureen ini, ya.

    Semoga upaya yang dilakukan oleh Ibu beliau memberikan manfaat yang luar biasa bagi para penerima ilmunya. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah keren guru anaknya, Mbak Mel.

      Aamiin, semoga berberkah.

      Delete
  29. Aku merasa sekarang memang guru semakin kreatif untuk bisa menularkan semangat melalui berbagai channel agar banyak ilmu yang diperoleh. Keren ini mba semangatnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuntutan zaman ya, Mbak harus demikian ya.

      Delete
  30. Subhanallah, Bu Mauren sangat inspiratif, Mbak Niar. Menurut pengalaman saya mengajar yg cuma sedikit, memang betul bahwa tantangan guru adalah mengembangkan metode yang sesuai siswa agar mereka ga bosan alih-alih baca buku terus. Apalagi bisa memanfaatkan teknologi seperti ini, pas dengan generasi Z yang memang digital native. Semoga sehat selalu dan bisa berkiprah terus untuk pendidikan. Salut juga buat Dompet Dhuafa Sulsel, acaranya kreatif banget dan beragam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya Rabb.

      Jika guru mampu berkreasi dengan metode dan inovatif maka dia akan jadi guru idaman yang bisa membuat siswanya belajar dalam makna yang sebenar-benarnya ya Mas Rudi. In syaa Allah akan menjadi ladang amal jariyah guru demikian.

      Delete
  31. Anakku yang masih tk aja suka bosan dengan metode belajar selama 2 bulan ini, makanya aku harus kreatif gimana dia bisa happy belajar. Nah ini kebayang sih kalau anak-anak SMK pasti sama juga dan memberikan metode belajar yang beda bisa jadi semangat untuk mereka. Kan anak sekarang mah gak jauh-jauh sama gadgetnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya kan ya, pembelajaran jarak jauh mau tak mau harus kreatif gurunya supaya tujuan Pendidikan tercapai.

      Delete
  32. MasyaAlloh keren angkat topi nih mba Niar buat Bu Mauren beliau inspiratif banget..setuju loh bukan cuman habisin materinya saja akan tetapi mencapai pada level pemahaman anak..btw anakku ga ada tuh pembelajarabn digital ehehhe bener2 emaknya yang kudu tereak di rumah ngajarin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Esensi belajar terpenuhi jadinya ya, Mbak. Anak akan ermotivasi belajar.

      Delete
  33. zaman sekarang guru dituntut untuk paham teknologi juga ya mbak.
    belajar via yutub ini enak sih, apalagi misalnya live. jadi anak2 bisa ada sesi tanya jawab juga.
    tapi memang butuh kuota yang kenceng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, mau tak mau perangkat harus memadai ya Mbak.

      Alhamdulillah hal tersebut juga dipikirkan Bu Mauren.

      Delete
  34. Jadi guru ini susah susah gampang ya mbk. Harus kreatif dan inovatif. Saat seperti ini pastinya semua guru terkendala banyak hal, tapi salut sama guru yang tetap berkreasi. Salah satunya dengan memanfaatkan YouTube

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi guru di masa pandemi tidak gampang memang ya, Mbak.

      Delete
  35. Masya Allah Keren ya anak-anak sekarang memang lebih mudah belajar dengan YouTube dengan gerakan dan nyanyian itu bikin mudah menyerap informasi. Salut ada gerakan guru begini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kalau anak TK sih ya, pasti senang dengan gerakan dan nyanyian.

      Delete
  36. Guru di sekolah anak saya juga mengajar via youtube dan anak-anak suka. Para orang tua juga senang karena mudah diakses dan dapat diulang-ulang jika tidak faham.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah jadi mentuntungkan dan bermanfaat bagi semuanya ya, Mbak.

      Delete
  37. Saya rasa emang YT itu salah satu media pembelajaran yang bagus, apalagi kalau yang bikin konten pinter mengemas materi2 yang ingin disampaikan ya mbak. Keren sekali kalau para guru mulai pakai media ini juga buat sharing materi pembelajaran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah kalau kreatif, bisa jadi media yang powerful ya YouTube ini.

      Delete
  38. gutlak mak
    sekarang kalau dipikir-pikir susah kalau tanpa kuota karena memang dibuthkan yang cepat buat akses segala hal, tentunya dengan kebaikan ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, pada akhirnya memang butuh kuota.

      Delete
  39. Sebetulnya, aku memikirkan orang yang tidak memiliki fasilitas untuk mengakses pelajaran-pelajaran tersebut secara online, kak Niar.
    Adakah jalan keluarnya?

    Tapi aku salut banget sama perjuangan guru pada zaman sekarang. Tantangan dan perjuangannya sungguh besar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hal itu masih jadi tanda tanya besar, Mbak Len.

      Tapi setidaknya guru yang kreatif dan inovatif sudah mencoba menciptakan solusi.

      Delete
    2. Iya, kak Niar.
      Kemarin ada sebuah pesantren yang sampai meminta sumbangan gadget untuk siswa di Kabupaten Bandung, untuk pembelajaran SFH ini.

      Salut sama upaya guru sebagai pendidik yang memberikan ilmu serta arahan untuk siswanya kala pandemi.

      Delete
  40. Inovatif sekali. Enggak banyak lho, guru-guru yang mau bersusah payah kayak gini. Guru anakku termasuk yang mohon maaf memindahkan sekolah ke rumah. Jadi aku merasa wajar kalau Si Najwa ini kurang bersemangat saat mengerjakan tugas-tugasnya yang monoton dan banyak. Salut!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Mbak Damar. Itu salah satu poin saya. Tak banyak guru yang mau repot seperti ibu yang saya ceritakan di sini.

      Delete
  41. Guru zaman ssekarang mau gak mau memang harus melek banget internet dan teknologi ya biar bisa keren kayak gini nih, sharing kebaikan melalui yutub,

    ReplyDelete
  42. Bisa dibayangkan ya! Peran guru kepada siswanya saat pandemi ini sungguh besar. Bagaimana kerjasama antara irg tua dan sekolah harus sinergi ya. Supaya anak2 tetap nyaman belajar dan tdk ketinggalan pelajaran.

    ReplyDelete
  43. Lebih kreatif dunia pendidikan ditampilkan di youtube. Karena anak-anak jaman sekarang demen lihat gambar.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^