Filosofi Takut Dituduh Jorok

Filosofi Takut Dituduh Jorok - Mohon maaf sebelumnya kalau cerita kali ini rada-rada jorok karena berhubungan dengan toilet. Saya tertarik menuliskannya karena gemas dengan beberapa kejadian. Kejadiannya, ketika masuk toilet umum terus mendapati kondisinya yang minta ampun baunya menyengat hidung. 😷

Kalau kalian mendapatkan hal demikian, apa yang kalian lakukan? Kalau saya, jika air di toilet itu banyak maka saya akan menyiramkannya ke lantai dan ke tempat-tempat yang saya curigai menyimpan aroma tersebut.

Gambar oleh Mater Miliano dari Pixabay

Syukur-syukur kalau baunya berkurang bahkan hilang. Kalau tidak, saya menyerah. Tapi biasanya, saya keluar toilet dengan perasaan takut. TAKUT DITUDUH! Saya takut, orang berikutnya yang masuk setelah saya akan mengira saya penyebab bau tak enak itu dan mengingat wajah saya lalu memberi cap saya sebagai perempuan tak berguna. Duh aduh ... aduh.

Jangan sampai ada yang berpikir begini, “Cantik-cantik koq jorok!” Kan mendingan kalau dikatakan, “Cantik-cantik, pakai toiletnya bagus, tak meninggalkan bau.” Eh tapi tak ada yang begitu ya hahaha. Yang paling mungkin adalah tuduhan jorok itu karena kebusukan itu sangat berkesan, Kawan! 😁

Paling ndak enak mi kalau nemu kotoran “besar”. Ada yang habis BAB tapi meninggalkan kenang-kenangannya di dalam toilet. Dududu. Seperti waktu baru-baru ini di toilet umum Mal Nipah. Saya masuk setelah seorang ibu paruh baya. Baru masuk saja sudah ada bebauan yang bikin bergidik. Mau keluar, takutnya di toilet sebelah antre lagi.

Kalo keluar tanpa barang itu masuk, takutnya saya jadi tertuduh. Jadilah saya sibuk menekan tombol flush beberapa kali. Tampaknya pengguna toilet sebelum saya tak paham cara menggunakan tombol flush.

Sudah kebayang saja orang setelah saya akan mengingat saya sebagai orang yang tega meninggalkan masa lalu yang buruk di dalam toilet dan mewariskannya kepada pengguna toilet setelah saya. Untungnya tak perlu karena setelah menekan tombol flush beberapa kali, masa lalu si ibu tenggelam deh.

Saya tak pernah lupa ekpresi wajah orang yang memperbaiki toilet rumah kami ketika mendapati apa yang membuat saluran dari kloset ke septic tank tersumbat beberapa bulan lalu. Dia menatap saya sembari berkata, “Maaf ini, ya. Memang tidak boleh jorok. Di dalam ada pembalut.” Lalu dia menasihati saya tentang perilaku hidup sehat khusus sanitasi toilet.

Saya tertegun dalam bengong, “Adakah?”

“Iya. Ada!” tatapannya menghunjam ke dasar hati yang paling dalam. Kalau bisa kejadian, mungkin saat itu sudah tembus ke punggung saking malunya diri ini.

Di atas itu penggalan kecil percakapannya. Tapi dalam percakapan kami yang lebih panjang daripada itu, saya seperti dituduh telah membuang pembalut bekas ke dalam kloset!

Gambar oleh Michal Jarmoluk dari Pixabay
Bukan toilet kami. Gambar ambil di Pixabay. Cuma mau
bilang, toiletmu ranah pribadimu tapi bisa jadi pembica-
raan orang lain. Seperti kisahku ini.

Setengah mati saya berpikir. Memutar otak. Apakah saya pernah amnesia setelah membuang pembalut ke dalam kloset sampai-sampai tak mengingatnya? 😰

Saya pernah membuang sesuatu bertahun-tahun yang lalu. Tapi saya yakini hanya bagian dalam pembalut. Yang hancur karena telah berupa bubur kertas. Atau yang telah berupa gel! Bagian luarnya yang ada lapisan plastiknya saya ambil dan bersihkan, bungkus rapi, lalu buang di tempat sampah. 

Tapi saya tak pernah membuang bagian dari pembalut ke dalam kloset lagi. Saya tak mau melakukannya lagi sejak bertahun-tahun lalu.

“Kalau dia tahu yang menyumbat itu pembalut, berarti masih utuh bentuk pembalutnya,” kata adik saya ketika saya curhat soal pembicaraan dan tatapan menghunjam dari orang yang memperbaiki toilet kami. 🙈

“Nah itu mi. Saya pikir begitu. Kalau yang saya buang bertahun-tahun lalu itu jelas mi ndak bisa dikenali lagi bentuknya. Saya ndak akan berani mi buang satu pembalut utuh ke dalam sana. Kalau saya melakukannya kan seharusnya dari dulu mi mampet,” saya masih membela diri.

Saya juga tahu betapa berbahayanya membuang sampah pembalut di dalam lobang kloset karena akan susah dihancurkan oleh alam bagian yang ada bahan plastiknya. Saya berusaha berhati-hati dengan sampah pembalut selama ini.

Saya kemudian mengingat-ingat. Pernah ada tamu yang saya tahu sedang kedatangan tamu bulanan selama beberapa hari dan saya tak pernah mendapati sampah pembalutnya. Saya seharusnya melihat sampah pembalutnya karena setiap harinya saya yang mengurusi urusan domestik dan tahu keadaan tempat-tempat sampah kami di dalam rumah. 

Etapi belum tentu juga dia orangnya, bisa jadi tamu lain. Hm, jadi menuduh juga saya, yah. Habis bagaimana lagi, saya yakin bukan saya yang melakukannya dan saya perlu mencari penyebabnya. 😥

Saya masih yakin bukanlah saya penyebab toilet tersumbat. Tapi tatapan orang itu tak akan saya lupakan seumur hidup. Terlebih seorang yang lain membicarakannya dengan orang lain lagi dan rasanya sepeti menuduh saya melakukannya.

Mungkin perasaan saya saja tapi mereka tahu yang tinggal di rumah kami, ada 3 perempuan. Ibu saya, saya, dan anak perempuan saya. Nah, yang paling mungkin dituduh kan saya. Adik perempuan saya hanya datang sesekali. “Duh, bantu dulu pulihkan nama baikku 😖,” pinta saya kepada adik.

Maka ketika dia mendengarkan lagi masalah itu diungkit di depan orang lain oleh seseorang saat saya tak mendengarnya, adik saya langsung mengatakan, “Tamu itu yang buang sampah pembalutnya. Tidak mungkin mi kami yang lakukan!”

Gambar oleh Peter H dari Pixabay

Sampai di sini saya sudah puas, harga diri saya masih ada harapan terselamatkan. Memang ini hal sepele tapi memalukan. Takut dituduh jorok di toilet, sepele ya tapi coba bayangkan jika kalian dituduh jorok.

Lalu ada yang mengatakan, “Cantik-cantik/ganteng-ganteng/pintar-pintar koq serigala jorok!” Runtuh harga diri, kan? Berada di posisi ini, nanti kalau sampai di telinga calon besan kayak mana tanggapannya?

Ahaha berlebihannya Niar, deh. Tapi bisa saja nah. Karena kisah ini sudah diceritakan ke orang-orang yang mengenal saya. Bisa saja kelak sampai ke telinga calon besan (yang entah siapa) dan menilai saya sebagai orang jorok lalu menilai anak-anak saya jorok. Ulala, kutak rela, Saudara!

Ini baru urusan toilet, ya. Semoga tak ada yang lebih besar daripada ini. Dituduh melakukan sesuatu yang merugikan orang banyak tetapi saya tak melakukannya. Na’udzubillah. Semoga dosa saya tak bertambah lagi. Dosa sampai di usia 45 ini saja belum tentu sanggup saya bayar di neraka.

Ah ya, terima kasih buat kalian yang sudah membaca cerita receh hari ini sampai tuntas. Semoga tak ada yang menuduh kalian jorok. Mari kita renungkan sama-sama “filosofi” di balik kisah “takut dituduh jorok” ini.

Makassar, 3 Oktober 2019




Share :

11 Komentar di "Filosofi Takut Dituduh Jorok"

  1. Sebaiknya toilet umum pakai cara manual saja ya mak biar ga ada alasan gaptek enggak bisa nyentor segala macam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi yang manual pun ada saja yang malas menyiram kotorannya, Mak 😓

      Delete
  2. Apalagi jika di kamar kost atau kontrakan
    Wuih lebih serem lagi.
    Mungkin saat ingin membuat itu pembalut, tidak ada pembungkus nya/
    Dan mungkin malu, ya terpaksa deh dibuang di saluran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun. Padahal kan bisa dicuci bersih lalu bawa ke kamar. Kalo ada pembungkusnya baru dibuang ke tempat sampah. 😞

      Delete
  3. Wajar berarti ya klo istri gak pernah mau pake Wc umum, apalagi dikereta. Krena trauma liat barang mengambang nggk disiram

    ReplyDelete
  4. hahahaah betulan nah kak, saya juga sering sekali dapat kenang2an di toilet umum, mau nda mau ya saya yg bersihkan. lebih baik daripada jadi tertuduh huhuu

    ReplyDelete
  5. ngomong2 soal toilet, saya juga org yg paling sensitif, just wanna share, karena tiap hari di kantor, pastinya ada saat juga hrs bab di kantor, tp krn sensitifnya toiletnya sy kasi tissue dlu baru sy duduki atau pasang posisi kuda2 sj kl mau pipis biar hemat tissue. plus sy semprot parfum atau tuang sabun ke toiletnya kalo abs bab biar tak meninggalkan kesan buruk kl abs poop, bahkan segitu sensitifnya tiap kali abis pipis cipratan airnya yg di toilet pst sy lap sndiri mskipun ada OB. kebiasaan soalnya hehe

    ReplyDelete
  6. Saya malah tipe orang yang pemilih sekali soal toilet ini. Nggak suka masuk di toilet umum yang keliatannya jorok sekali, berasa lebih baik nahan deh daripada buang air di situ tapi kalau dalam sangat terpaksa jadi nggak ada pilihan lain.deh.

    ReplyDelete
  7. sikap menjaga kebersihan itu kalo dibiasakan pasti lama2 jadi parno sama hal2 yg bisa memicu kuman atau kotoran.. kayak saya kak kalo masuk WC yg laintainya basah harus cuci kaki.. kalo tidak cuci kaki berasa kotor kak..

    ReplyDelete
  8. hahahahaha, aku ngerti perasaanmu mba :D. akupun kalo abis dr toilet yaaa, aku pastiin bangetttt aku ga ninggalin noda, ato apapun yg jorok2. maluuu aklo sampe org berikutnya masuk dan mikir kalo aku jorok. tp kalo aku masuk ke toilet dan ternyata ada something di dalamnya, aku mah ga bakal jd pake. lgs kluar lg :p. mnding cari lain deh. akunya jg ga bakal kuat dan jijik banget ama begituan

    ReplyDelete
  9. orang ganteng juga ga jaminan.. dia juga sama jorok hehe..

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^