Ironi di Perhelatan Akbar Wisuda Santri

Saya anggap nomor urut nyaris bontot: 1659 adalah sebuah keuntungan. Kami bisa duduk manis menanti nomor dipanggil pada perhelatan akbar wisuda santri semakassar ini, tidak perlu berdesak-desakan dengan seribuan orang yang ingin naik ke panggung. Total santri yang diwisuda pada tanggal 10 Mei ini adalah 1668 orang. Enak kan, menjelang nomor si putri mungil disebut, tempat ini pasti sudah lebih lengang. Toh, tidak lama lagi acara akan berakhir. Tidak perlu menunggu lama sampai nomor 1659 dipanggil.



Duduk sembari menanti seperti ini membuat saya sekaligus bisa mengamati aneka perilaku orang dewasa di sekitar saya. Salah satunya yang ada dalam foto sampah di bawah kursi itu. Saya yakin kita semua tahu kalau Islam tidak mengajarkan kita untuk buang sampah sembarangan. Indahnya tempat ini andai tiap orang membawa sampahnya masing-masing dan baru membuangnya ketika mendapatkan tempat sampah. Yang hadir di sini semuanya beragama Islam. Semuanya pasti tahu bahwa Islam mengajarkan “kebersihan itu sebagian daripada iman”. Dan tidak ada dalam ajaran Islam yang membolehkan kita mengotori lingkungan yang bukan tempat tinggal kita. Namun sayangnya, banyak yang melakukannya.



Panitia beberapa kali menegur keras orang tua yang menghalangi jalan para santri menuju panggung. Sampai mengatakan tidak bisa dibedakan mana anak-anak dan orang tua. Ya, para orang tua berjejal di tepi panggung, menghalangi para santri yang hendak naik ke atas panggung untuk menjalani seremoni wisuda.

Seorang ibu mendesak anaknya untuk memotong antrean. Alasannya, ada orang-orang yang naik sebelum nomornya dipanggil. Entahlah. Kalaupun itu benar, melakukannya berarti membuat kita mengambil hak orang lain.


Semacam ironi. Di tempat yang pemeran utamanya anak-anak seperti saat ini, sebenarnya kita – para orang tua dituntut memberi teladan, untuk hal kecil sekali pun. Anak-anak kita kelak akan mengingat apa yang terjadi di tempat ini. Terkadang saya bertanya-tanya, akan diingat sebagai orang tua macam mana oleh anak-anak yang mengenal saya.

Usai Athifah menjalani prosesi wisuda santri, kami membicarakan apa yang terjadi saat itu. “Lihat, banyaknya sampah,” kata saya. "Kalau semua orang bawa sampahnya, ndak kotor begini, di', Ma," ucap Athifah. Kami juga membicarakan beberapa hal lagi, seperti memotong antrean dan lain-lain.

Saat melihat studio-studio foto mini sudah ramai dengan para santri, saya bertanya apakah Athifah mau ikut berfoto. Awalnya nona mungil ini menggeleng namun kemudian dia berkata, “Kalau ndak mahal ji, saya mau.”


“Tunggu dulu, nah. Mama cek dulu uang yang Mama bawa baru kita tanya harganya,” saya ingat si sulung Affiq dulu berfoto khusus mengenakan toga dan pakaian wisuda enam tahun lalu. Saya tidak mau Athifah merasa dibedakan dengan kakaknya perihal foto itu meskipun sebenarnya saya tak menganggap simbol seperti seremoni dan juga foto sebagai sesuatu yang sangat penting. Toh kalau hanya berfoto, handphone bisa digunakan. Namun bisa saja berfoto ala studio foto "lain rasanya" bagi nona mungil ini. Dulu Affiq ikut wisuda yang dilaksanakan TPQ dekat rumah kami. Panjang ceritanya mengapa TPQ yang sama – yang ditempati Athifah belajar tidak menyelenggarakannya wisuda sendiri pada tahun ini. Saat Affiq wisuda itu, soal foto ukuran 10R diurus oleh pembina TPQ-nya, sudah sepaket pembayarannya dengan sewa toga dan baju.

“Cukup ji uangnya Mama,” saya memutuskan mengajak Athifah berfoto. Kami pun melenggang ke salah satu booth foto. “Mau foto sendiri atau sama Mama?” tanya saya. “Sama Mama,” ucap nona mungilku ceria.

Well, ajaran Islam bukan sekadar membaca al-Qur'an tapi juga mengaplikasikannya dalam hal yang paling kecil dalam hidup kita semacam menjaga lingkungan kita, kan ya? Semacam bagaimana menjadi orang dewasa yang seharusnya, kan ya? Ajaran Islam itu diterapkan dalam segala sendi kehidupan, menyangkut ideologi, pemikiran, hingga perbuatan kecil semisal buang air kecil di toilet atau buang sampah pada tempatnya dan sabar menunggu giliran saat mengantre.

Mungkin kita – para orang tua yang harus masuk TPQ dewasa dan belajar menjadi dewasa yang sesungguhnya. Mungkin.

Makassar, 12 Mei 2018

Selesai

Baca tulisan sebelumnya, ya: Mencari Hikmah di Perhelatan Akbar Wisuda Santri



Share :

2 Komentar di "Ironi di Perhelatan Akbar Wisuda Santri"

  1. betul sekali mbak islam mengajarkan hal yang paling kecil tp justru itu banyak diabaikan mis sola bunag sampah, aku pernah seangkot dg ibu yang bawa anak, saat mau makan camilan, ibunya mengajak anak tuk berdoa , eh tapi ibunya buang sampah keluar angkot. Miris ya di sisi satu dia mengajarkan tuk gak lupa berdoa tp di sisi lain dia mnegajarkan hal yang juga dibenci islam

    ReplyDelete
  2. Sepertinya perilaku nda mau mengantri itu ada di mana-mana. Baru-baru juga saya mengantar Kirana wisuda bersama RA se-kota Makassar. Begitu MC kasih tay kalau selanjutnya adalah acara salaman dan foto, langsung semua maju mengerumuni panggung, panitia sampai nda berhenti teriak-teriak minta orangtua untuk memberi ruang sedikit dan sabar antri. Saya kasihan sama anak-anaknya yang keliatan stres dan capek dikerubungi banyak orang begitu. Padahal kalau mau sabar, duduk manis menunggu nama RA nya dipanggil kan lebih enak.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^