Komunikasi dan Edukasi Seksual untuk Anak di Era Digital (2)

Anda bisa membaca tulisan sebelumnya di sini dan di sini.

Yang cukup menggelikan, Tika menyentil kebiasaan orang tua yang membolehkan anak-anak mereka bermain dengan gadget mahal tetapi ketika anaknya menjatuhkan atau menumpahkan cairan kepada gadget tersebut, marah-marahlah orang tuanya, pakai teriak-teriak lagi.

“Orang tua begitu, nggak oke banget. Siapa suruh barang mahal dijadikan mainan. Buat anak itu hanya mainan. It’s just a toy! Kalau saya, mau saya tambah-tambahin begini: ‘Ayo, Nak, dijatuhin lagi, kalo perlu didudukin Ipad-nya!’ Biar saja orang tuanya gemas. Siapa suruh kasih anaknya main gadget,” kata Tika.

Sumber: blog Zilqiah: www.qiahladkya.com
Cara Tika ini unik, lugas dan tegas. Saya menangkap maksudnya adalah, agar gadget itu dipergunakan sesuai fungsinya. Kalau kita membolehkan anak-anak bermain dengan gadget mahal lalu gadget itu jatuh ya jangan marah, dong. Namanya anak-anak itu, kan ya begitu itu, lari-lari ke sana ke mari, sruduk sana sruduk sini. Barang mahal yang diperbolehkan baginya sebagai alat bermain akan diperlakukannya sebagai mainan yang bisa saja jatuh, bisa saja ketumpahan susu.

Penggunaan teknologi informasi pada gadget di tangan anak-anak kita, mendatangkan dampak pada perkembangan kognitif dan psikologisnya:

Dampak positifnya:
  • Menggali potensi motorik
  • Kebutuhan hiburan
  • Meningkatkan minat belajar melalui e-learning dengan tersedianya aplikasi atraktif dan interaktif yang menyenangkan
Dampak negatifnya:
  • Pondasi filter yang belum baik menyebabkan banyak info yang masuk kurang diolah sehingga menimbulkan pemahaman yang salah.
  • Paparan konten negatif dari website tertentu secara terus-menerus dapat menyebabkan perilaku negatif.
  • Menimbulkan impulsivitas untuk memiliki teknologi terbaru tanpa tahu tujuan, manfaat, bahkan lebih parah lagi tidak tahu cara pakai dan tidak mau belajar (prinsip “yang penting punya”).
  • Berpotensi menimbulkan adiksi/kecanduan apabila penggunaannya tidak diatur dengan cermat dan tanpa disiplin.
  • Terganggunya perkembangan psikososial.
Contoh bentuk kejahatan dengan pemanfaatan komputer/internet:
  • Konten negatif yang berbahaya misalnya yang mengandung pornografi, konten SARA, dan info menyesatkan.
  • Hati-hati dengan alamat kontak di internet, bisa saja jadi sasaran e-mail yang mengancam.
  • Waspadai chatting dengan orang asing.
  • Hati-hati dengan kemungkinan invasi data pribadi.
Hm, bagi yang bertanya-tanya mengenai pendidikan seksual itu seperti apa, psikolog kondang ini memaparkan bahwa diharapkan dengan pendidikan seksual, kita dapat memahami hal-hal antara lain:
  1. Perspektif seksual dari sudut pandang budaya, antropologi, dan sosiologi.
  2. Nama, anatomi, dan fungsi organ reproduksi.
  3. Perubahan biologis, emosi, psikologis, sosial, saat masuk usia puber.
  4. Masalah gender dan fungsi seksual.
  5. Masalah akil baligh (menstruasi dan mimpi basah).
  6. Masalah hubungan seksual dan kehamilan.
  7. Alat-alat kontrasepsi.
  8. Energi seksual (melalui masturbasi dan onani).
  9. PMS (penyakit menular seksual) yang ditularkan melalui hubungan seksual.
  10. Peran psikoseksual dan psikososial.
  11. Harapan dan nilai-nilai pribadi, orang tua, dan lingkungan (masyarakat dan agama).
  12. Masa depan adalah tanggung jawab pribadi.
  13. Penyimpangan perilaku seksual.
  14. Pekerja seks komersial.


Tika mengingatkan, bila gap antara orang tua dan anak terlalu besar maka internet akan berperan. Internet bisa menjawab tanya anak. Padahal pertanyaan seputar pendidikan seksual sebaiknya dijawab oleh orang tuanya sendiri.

Bagaimana sebaiknya orang tua bersikap?

Orang tua selayaknya menjadi teman diskusi anak, tidak menghakimi, dan membebaskan anak memiliki teman sebanyak-banyaknya. Terkait dengan gadget, Tika menilai tak bijak orang tua menjauhkan anak dari gadget karena memang sekarang sudah masanya. Seorang ibu yang sama sekali tak membolehkan anak-anaknya menyentuh gadget, dinasihatinya. Yang tepat adalah membatas waktu penggunaan gadget dan dampingi anak (jangan dibiarkan sendiri). Tak baik juga kan kalau anak-anak kita dicemooh sebayanya karena mereka kudet atau kuper sendiri?

Orang tua harus bisa membina komunikasi asertif dengan anak. Komunikasi non asertif tidak akan membantu. Komunikasi asertif itu adalah komunikasi yang jelas, langsung, dan tidak menyerang. Selain itu, orang tua juga harus menjadi pendengar yang baik, dengan menjalankan active listening.

Perkembangan teknologi informasi mengharuskan anak dan orang tua sama-sama cerdas. Caranya:
  • Letakkan perangkat online dan komputer di area publik di dalam rumah (jangan di dalam kamar).
  • Gunakan software pengontrol seperti Nanny Chip atau Parent’s Lock.
  • Orang tua tidak boleh gaptek!
Dalam menggunakan komputer/gadget/internet, individu harus matang secara emosional. Harus dewasa. Tapi ingat jangan juga terlena membiarkan anak dengan gadget-nya di dalam tempat tertutup. Ada penyakit yang bisa muncul ketika seseorang terlalu lama berada di dalam ruangan tertutup, namanya Sick Building Syndromme.

Terakhir, kesimpulan dari talkshow ini adalah:
  • Jangan harap media akan berubah, kitalah yang harus punya filter.
  • Orang tua, guru, dosen, harus melek teknologi.
  • Orientasi teknologi akan terus berkembang.

Acara ini sangat mengesankan. Saya beserta Aida dan Zilqiah berkesempatan bersalaman dan berfoto bersama Tika Bisono. Mbak Tika ini orangnya ramah sekali. Ketika saya meminta alamat e-mailnya karena tidak sempat mencatatnya, ia malah memberikan saya kartu namanya. Terima kasih ya, Mbak Tika, juga terima kasih buat Bank OCBC NISP dan Tabloid Mom & Kiddie.

Makassar, 29 Juni

Selesai



Share :

9 Komentar di "Komunikasi dan Edukasi Seksual untuk Anak di Era Digital (2)"

  1. Komplet banget infonya. saya juga termasuk emak-emak yang mem-protek anak-anak sama gadget. Takut mereka jadi anak yang gak bisa bersosialisasi dan mata cepet rusak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mak ya, anak2 memang seharusnya diproteksi untuk hal2 yang membahayakan

      Delete
  2. Ponakanku main hp kadang2, seneng mainan beneran dia. Ttg pelajaran seksual, kadang saya ingetin ttg bagian tubuh yg gak boleh dipegang org lain

    ReplyDelete
  3. pelajaran sex juga harus diberikan sejak kecil ke anak-anak sesuai umurnya ya mbak

    ReplyDelete
  4. Setuju mbak, orang tua harus paham internet agar bisa ngawasi kegiatan anak-anaknya, terutama ibu nih karena orang yang peling dekat dengan mereka.
    Makasih infonya, keren nih acaranya :D

    ReplyDelete
  5. Software pengontrol itu penting sekali ya, Mbak. Di samping komunikasi yang baik antara orangtua dan anak tentunya :)

    ReplyDelete
  6. Setuju sekali, lebih baik anak terbuka tentang segala pertanyaan seputar seksualitas kepada orang tuanya agar mereka mendapatkan jawaban yang tepat, dari pada harus browsing atau tanya pada teman-temannya yang jawabannya belum tentu benar.

    ReplyDelete
  7. Assalamualaikum mbak mugniar, saya suka sekali dengan isi artikel disini. Kadang sy memang berlebihan jika bertindak sebagai orangtua bagi adik2 saya. Tp sy akan jauh lebih khawatir jika sampai kecolongan dg perkembangan psikir atau motorik mereka. Terima kasih informasi nya, salam kenal dari Jawa Timur :)

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^