Komunikasi dan Edukasi Seksual untuk Anak di Era Digital (1)

Tulisan pendahulu dari tulisan ini bisa di baca di sini

Urusan buka rekening di bank OCBC NISP – penyelenggara talkshow Komunikasi dan Edukasi Seksual untuk Anak di Era Digital sudah beres. Saya sudah berhak masuk ke ruangan Sandeq di hotel bintang 5 yang terletak di Jalan A. P. Pettarani ini.

Ruangan Sandeq dipenuhi orang-orang berpakaian merah atau bernuansa merah. Red was the dress code of this event. Mereka duduk di meja-meja bundar yang tersebar di dalam ruangan itu. Hanya sedikit orang yang duduk di kursi-kursi tanpa meja yang ditata beberapa saf di bagian belakang.


Saya duduk di sebuah kursi kosong, setelah meminta izin kepada seorang perempuan yang duduk di sebelahnya. Di panggung, MC dan beberapa orang bank mengumumkan mengenai program-program promo berhadiah yang sedang diselenggarakan bank itu.

Saya mengedarkan pandangan. Tak ada orang yang saya kenal di ruangan ini. Zilqiah masih dalam perjalanan dari rumahnya di Sungguminasa. Ia harus mengurus bayinya – Dede Aco terlebih dulu. Dede Aco ini usianya baru kira-kira sebulanan.

Saya baru akan membalas SMS dari Aida ketika tiba-tiba Aida muncul di hadapan saya. Ternyata Aida duduk di kursi tanpa meja yang ditata beberapa saf di deretan belakang. Saya tak melihatnya tadi. Saya pun membereskan peralatan, berpindah tempat duduk di sisi Aida.

Akhirnya tiba juga acara yang ditunggu-tunggu. Sesaat setelah MC mempersilakan Tika Bisono, psikolog kondang itu segera menjadi pusat perhatian seluruh peserta talkshow. Sosok yang enerjik dan interaktif ini tak mau hanya berada di atas panggung. Ia turun ke area hadirin dan selama sesinya, ia aktif bergerak, melakukan kontak mata, dan berkomunikasi aktif dengan para peserta. Tak berlebihan kalau saya mengatakan sesi talkshow ini menjadi hidup dan tak membosankan padahal pesan yang disampaikannya sarat sekali.

“Ada print out untuk pesertanya?” tanya Tika pada panitia.
“Tidak ada,” yang ditanya segera menjawab.

Yaaaaa L

“Ah, pelit banget, sih. Mestinya ada buat peserta! Yang bawa flashdisk nanti bisa minta materi ini, ya,” begitulah Tika. Sepanjang sesinya, walaupun senang bercanda, ia juga berbicara dengan lugas. Saat memulai materinya pun ia mengingatkan para ibu yang sibuk bekerja di kantor, “Sibuk di kantor, harus sibuk juga sama anak. Siapa suruh punya anak!” Tika kemudian menekankan pentingnya membangun komunikasi asertif dengan anak.

Di abad 21 ini, persaingan global menuntut seseorang memiliki kompetensi dalam 12 bidang. Apakah anak-anak kita memiliki kompetensi dalam bidang-bidang tersebut? Ke-12 bidang itu adalah:
  1. Berpikir kritis
  2. Teknologi informasi
  3. Kolaborasi
  4. Inovasi
  5. Kesehatan
  6. Perekonomian pribadi
  7. Tanggung jawab
  8. Keanekaragaman
  9. Kewirausahaan
  10. Kemampuan
  11. Pengetahuan kebangsaan (termasuk juga kemakassaran dan keindonesiatimuran)
  12. Isu-isu ekonomi dalam perekonomian global
Nah, sebelum anak-anak menguasai ke-12 bidang ini, orang tua yang harus terlebih dulu menguasainya. Apakah kita sudah menguasainya? Kalau belum, jangan paksa anak menguasainya. Menurut Tika, “Orang tua yang memaksa anaknya menguasai sesuatu sementara dia sendiri tidak menguasainya itu nggak oke!” (Tika suka membahasakan sesuatu yang tidak/kurang bagus dengan istilah “nggak oke”). Jangan menuntut sekolah mengajarkan semuanya pada anak. Sekolah hanyalah tambahan (orang tualah yang utama).

Terkait perkembangan teknologi, teknologi yang secara fiosofis diciptakan untuk membantu kehidupan manusia dan pada hakikatnya bersifat netral, dalam situasi sekarang mengalami pergeseran makna. Pengaruh positif dan negatif yang timbul dari perkembangan teknologi tergantung dari kearifan individu dalam memanfaatkannya. Akan tetapi yang terjadi adalah teknologi disalahkan atas dampak-dampak negatif yang muncul kemudian, bukannya manusia yang menggunakannya.

Sebuah riset dari Dr. Hanz Zimmerl (terapis Australia) menunjukkan bahwa 40% dari 200 juta pengguna internet di dunia mengalami kecanduan internet. Sement ara itu, anak-anak kita semakin fasih teknologi. Ironisnya, banyak orang tua, guru, pembimbing yang gaptek (gagap teknologi), tidak peduli, dan memilih untuk tetap gaptek.

Tika menekankan bahwa gadget dan teknologi hanyalah sekadar alat bantu manusia, untuk mempermudah manusia. Bila pandai-pandai menyimak talkshow ini, peserta disentil dengan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang zaman ini, yang harus dikoreksi, seperti:
  • Gadget menjadi begitu istimewanya sampai dibawa tidur. Sebelum tidur dan bangun tidur, langsung melihat gadget.
  • Punya gadget yang berteknologi paling mutakhir tapi fitur yang dipergunakan minim, tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin (kenapa tidak pakai yang biasa-biasa saja?)


Makassar, 28 Juni 2015


Bersambung


Share :

6 Komentar di "Komunikasi dan Edukasi Seksual untuk Anak di Era Digital (1)"

  1. memang benar sekali bahwa gadget yang dimiliki lebih banyak digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan

    ReplyDelete
  2. Keren pengalamannya kak. Suka dengan kutipan ini “Sibuk di kantor, harus sibuk juga sama anak. Siapa suruh punya anak!”

    Semoga memotivasi orang tua untuk lebih semangat menjaga dan mendidik anak-anaknya di era yang semakin maju ini :)

    ReplyDelete
  3. Hmm menarik. 12 bidang kemampuan menjadi kompetensi Yg harus dibekalkan pada anak.kadang sebagai orangtuanya, kita sulit menanamkan hasil tsb secara bertahap
    Nice postess

    ReplyDelete
  4. sangat inspiratif. setidaknya memberi bekal buat saya yang belum punya anak untuk mempersiapkan diri menjadi ortu yang canggih *halah

    ReplyDelete
  5. Bener tuh gadget udah jadi barang yang sangat istimewa sebelum dan sesudah bangun tidur pasti jadi yang pertama dicari

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^