Belajar dari Seorang Penyair

Ada 2 tulisan (Ubud Writers & Readers Festival: Kesempatan Emas Memperkaya Wawasan Menulis dalam Ajang Internasional dan Belajar dari Novelis Asing) yang saya buat sebelum tulisan ini yang memaparkan tentang Satellite Program Ubud Writers & Readers Festival 2012 dan Pre Event Makassar International Writers Festival 2013 di Rumah Budaya Rumata’ - Makassar. Berikut ini lanjutannya ...

Setelah Ali Donnellan dan Colin Falconer bicara, giliran Muhary Wahyu Nurba – seorang penyair asal Makassar yang turut berpartisipasi dalam Ubud Writers & Readers Festival kemarin. Muhary merupakan salah satu penulis yang  mendapat kesempatan untuk menampilkan 3 buah puisinya di festival tersebut. Penyair ini sering saya baca namanya – di koran-koran yang terbit di Makassar.

Penyair yang menjadi salah satu dari 15 penulis muda yang lolos seleksi dan disponsori untuk menghadiri dan berbicara pada UWRF 2012 ini menceritakan pengalamannya mulai dari mendaftarkan diri hingga membawakan puisinya di ajang internasional itu.


Mengenai “penulis muda” ini baru saya ketahui setelah beberapa hari usai menghadiri acara Satellite Program ini. Saya browsing di internet dan mendapatkan mengenai ini dari situs resmi UWRF. Saya jadi penasaran dengan kriteria “muda”. Apakah sama dengan organisasi-organisasi pemuda yang memberi batas usia 40 tahun? Saya bertanya kepada pak Muhary di FB pada tulisan ini yang saya simpan di note FB dan menge-tag namanya, tetapi ia belum menjawabnya. Mungkin ia sedang sibuk.

Tiga buah puisinya yang dipilih oleh panitia untuk dibawakan harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tentu tak mudah menerjemahkan puisi ke bahasa lain. Karena meskipun semua kata telah pindah ke bahasa lain, belum tentu dengan “rasa”-nya.

Muhary menerjemahkannya dengan bantuan Google lalu meminta orang lain membacanya dan memberikan saran mengenai hasil terjemahan itu.

Di Ubud, ia diberikan jadwal panel dengan 2 penulis manca negara yang amat menyedot perhatian peserta. Oleh moderator yang berasal dari Singapura ia diberikan giliran terakhir dalam membacakan karya-karyanya. Entah kenapa moderator itu bahkan berpesan kepadanya supaya tak membawakan semua puisinya.

Tapi Muhary tak ambil pusing. Ia mengangguk di hadapan moderator tetapi saat tiba gilirannya, ia berhasil membawakan semua puisinya dan mendapatkan sambutan meriah dari hadirin.

Di sesi Tanya Jawab, Muhary menjawab pertanyaan mengenai bagaimana ia memilih diksi untuk puisi-puisinya.

Ia membiasakan diri mencari frase kata yang tak biasa. Contohnya saya lupa, tapi kurang lebih seperti: “Malam Ungu” atau “Rambut Gembil”. Pokoknya yang tal biasa (mudah-mudahan pak Muhary tak tertawa bila membaca contoh yang saya ambil ini J).

Meski cenderung lebih pendek dari jenis tulisan prosa, membuat puisi tak mudah. Belum tentu dalam waktu singkat kita bisa membuat sebuah puisi yang indah. Ada satu cara Muhary yang katanya tak boleh ditiru J.
Muhary Wahyu Nurba

Waktu ia masih lajang, ketika membuat puisi dan menemukan jalan buntu, maka ia memorak-porandakan kamarnya. Membolak-balik barang-barang. Lalu pergi, meninggalkan kamarnya yang kacau-balau. Pulang dari bepergian dan saat melihat kamarnya yang amburadul, ia mendapatkan semacam ilham.

Hm ... kalau boleh menyimpulkan, ini semacam “Eureka”-nya Archimedes. Pernah dengar kisah Archimedes dan kata “Eureka”?

Begini ceritanya ...

Eureka adalah kata seruan yang digunakan untuk melambangkan penemuan suatu hal. Kata ini berasal dari bahasa Yunani ‘Ερηκα/Ηρηκα - Heurēka/Hēurēka’ yang berarti "Aku telah menemukannya." Seruan ini terkenal karena digunakan oleh Archimedes (seorang matematikawan, astronom, filsuf, fisikawan, dan insinyur yang hidup pada tahun 287 SM – 212 SM). Ia mengucapkan kata "Eureka!" ketika ia masuk kedalam bak mandi dan menyadari bahwa permukaan air naik, sehingga ia menemukan bahwa berat (dalam Newton) air yang tumpah sama dengan gaya yang diterima tubuhnya. Ia dikatakan gencar untuk membagi penemuannya hingga ia berlari telanjang di kota Syracuse[i].

Ceritanya, pada suatu hari Archimedes dimintai Raja Hieron II untuk menyelidiki apakah mahkota emasnya dicampuri perak atau tidak. Archimedes memikirkan masalah ini dengan sungguh-sungguh hingga berhari-hari. Ia pun merasa sangat letih dan menceburkan dirinya dalam bak mandi umum penuh dengan air. Lalu, ia memperhatikan ada air yang tumpah ke lantai dan seketika itu pula ia menemukan jawabannya. Ia bangkit berdiri, dan berlari sepanjang jalan ke rumah dengan telanjang bulat. Setiba di rumah ia berteriak pada istrinya, "Eureka! Eureka!" Lalu ia membuat hukum Archimedes yang terkenal itu. Dengan itu ia membuktikan bahwa mahkota raja dicampuri dengan perak. Tukang yang membuatnya dihukum mati.[ii]

Archimedes, foto: wikipedia.org
Jadi, saat mengalami kebuntuan tinggalkanlah sejenak masalah itu. Istirahat atau tidur dan bermimpilah. Maka pikiran bawah sadar akan mengambil alih pencarian penyelesaian masalah tersebut. Hal ini pun dilakukan oleh para penulis.

Sungguh sharing yang keren. Bagaimana, adakah di antara Anda yang berminat berpartisipasi dalam ajang bergengsi ini nanti? Silakan simak terus web site http://www.ubudwritersfestival.com/ atau facebook http://www.facebook.com/ubudwritersfest atau twitterhttp://twitter.com/ubudwritersfest. Akan ada seleksi oleh Dewan Kurator UWRF untuk para penulis untuk event keren ini. Siapa tahu Anda penulis muda yang terpilih untuk tahun 2013 ^__^.

Makassar, 30 Oktober 2012

Silakan baca juga:




Share :

2 Komentar di "Belajar dari Seorang Penyair"

  1. Wa..sharing yang sangat bermanfaat sekali ..!!
    Makasih juga sudah berbagi cerita ..:D

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^