Pesta Budaya - Kemeriahan Cap Go Meh (2)


Berkumpulnya aneka budaya dalam sebuah karnaval adalah peristiwa yang amat jarang. Setidaknya setahun sekali bisa dilihat dalam kemeriahan cap go meh yang dilaksanakan tanggal 5 Februari kemarin.

Aneka ragam pakaian adat dikenakan muda-mudi terlihat di sini. Bukan hanya pakaian adat Sulawesi Selatan, tetapi juga pakaian adat dari daerah lain.

Tampil cantik dan ganteng
tapi rela berpanas-panas
demi kemeriahan karnaval
Karnaval budaya nusantara
Pakaian adat Sulawesi Selatan
Dari Sulawesi Selatan terlihat pula wakil  komunitas suku Kajang yang berasal dari daerah Bulukumba turut meramaikan karnaval. Meski tanpa alas kaki, tanpa mempedulikan sengatan sinar matahari mereka rela berpartisipasi.

Berikut ini cuplikan tentang sedikit hal mengenai suku Kajang (sumber artikel : Suku Kajang: Antara Keterasingan dan Kearifan Lokal http://www.psychologymania.co.cc/2011/06/suku-kajang-antara-keterasingan-dan.html?showComment=1309313254501#c8508849188125776868)
Peserta karnaval dari suku Kajang
Suku Kajang adalah salah satu suku yang tetap mempertahankan kearifan lokal sampai saat ini. Suku ini terletak di Sulawesi Selatan tepatnya sekitar 200 km arah timur Makassar. Suku ini mendiami sebuah kecamatan yaitu kecamatan Kajang, yang merupakan bagian dari kabupaten Bulukumba (Bulukumba merupakan daerah yang terkenal dengan pembuat perahu pinisi dengan pelaut-pelaut ulung). Di kecamatan Kajang sendiri dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kajang luar (Lembang) dan Wilayah Kajang adat (Kawasan adat Amma Toa / Kawasan ini di pimpin oleh kepala adat yang disebut Amma Toa). Daerah Lembang menyerap kebudayaan luar sama seperti daerah-daerah lain, tidak ada masalah dalam menerima hal-hal yang baru.


Berbeda halnya dengan daerah suku Adat Ammatoa, yang tetap berprinsip bahwa, daerah Kajang adalah daerah “tana kamase-masea” (daerah yang penuh keserhanaan). Bahkan, salah satu contoh program pemerintah adalah memberikan akses penerangan (listrik) di daerah ini, ditolak oleh komunitas adat, sehingga sampai saat ini, daerah adat Kajang Ammatoa masih menggunakan penerangan lampu tembok yang dulunya terbuat dari buah jarak, tetapi sekarang sudah memakai minyak tanah.

Jadi jangan mencari ada alat elektronik di daerah ini. Memasuki kawasan Adat, penduduk tidak boleh memakai alas kaki, termasuk tamu yang datang dari luar, karena itu merupakan suatu penghinaan. Atau jangan sekali-kali memakai pakaian warna merah. Pakaian orang-orang Kajang adalah pakaian serba hitam, yang ditenun sendiri, yang konon harganya sangat mahal, bahkan sampai jutaan rupiah.
Tingkat pendidikan masyarakat Kajang khususnya kawasan adat Ammatoa, jarang yang lulus SD, sehingga program melek huruf dari pemerintah mengalami kendala. Walau, didalam kawasan adat sendiri, sekarang sudah berdiri beberapa Sekolah Dasar dan ada sebuah Sekolah Menengah Pertama. Tetapi kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih sangat rendah, bahkan ada yang menganggap sekolah adalah hal yang negatif. Anak laki-laki mulai umur 6 tahun wajib membantu orang tuanya di ladang dengan mengembala sapi atau kerbau.
Sumber dari segala kegiatan atau pola hidup atau hukum adat bersumber dari pappasang (semacam undang-undang yang dihafalkan dengan lisan secara turun temurun). Agama mereka adalah Islam, dan akan marah jika dikatakan bukan orang Islam. Tapi jika dilihat lebih dalam, orang-orang Kajang masih menganut animisme, dinamisme ataupun totemisme. Sumbernya adalah “patuntung”, sehingga ada yang mengatakan bahwa agama orang Kajang adalah agama Patuntung. Agama patuntung adalah semacam upacara adat, dan sangat kelihatan pada acara-acara kematian.

Entah mengapa hampir semua foto yang dibidik suami saya kepada orang-orang suku Kajang ini kelihatan blur. Hanya satu yang jelas. Ada seseorang yang juga mengambil gambar mereka, merasa harus meminta izin kepada salah seorang dari mereka. Apa ini karena suami saya tidak meminta izin terlebih dahulu ya? Di blog ini ukurannya saya perkecil sehingga masih kelihatan jelas, tetapi jika dilihat dalam ukuran yang sebenarnya, tidaklah demikian.

Mereka menarik dalam kebersahajaan. Mereka memiliki aura mistis karena masih memegang kepercayaan yang dipegang oleh nenek moyang mereka. Saya memajang foto mereka di sini hanya untuk berbagi saja, mengabarkan kepada khalayak di dunia maya mengenai kekayaan budaya Sulawesi Selatan, mudah-mudahan mereka mengerti.

Aneka simbol mewarnai karnaval

Makassar, 25 Februari 2012

Ini tulisan saya yang lainnya, yuk dibaca J



Share :

2 Komentar di "Pesta Budaya - Kemeriahan Cap Go Meh (2)"

  1. eeehh itu ondel2 ala china ya umi??? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo tdk salah ... itu simbol dewa2 mereka lho. Bukan ondel2 ^__^

      Delete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^