Syarat dan Ketentuan Menulis di Rubrik Opini Harian Fajar

Sejak memutuskan aktif menulis, saya sudah mencoba banyak tantangan yang saya anggap menarik. Salah satunya adalah menulis di rubrik Opini di surat kabar. Hal ini sangatlah menantang karena sulit bagi seorang mamak biasa macam saya ini untuk menembus koran kalau tidak cermat memilih moment dan tidak menulis dengan baik. Salah satu yang saya coba adalah menembus rubrik Opini Harian Fajar.


Hanya dua kali tulisan resensi saya dimuat di koran nasional – Koran Jakarta. Beberapa kali di Harian Amanah. Tapi keduanya bukan di rubrik Opini. Untuk rubrik Opini, alhamdulillah – beruntung tulisan saya bisa beberapa kali dimuat di Harian Fajar sejak tahun 2013. Harian Fajar ini, untuk rubrik Opini, di mata saya masih menjadi koran lokal terbaik untuk beberapa hal. Di antaranya adalah terkait dengan jangkauan penyebarannya dan ehm ... ada honornya.

Pengalaman saya, syarat dan ketentuan agar tulisan bisa dimuat di rubrik Opini, sejak tahun 2013 tidaklah sama. Kalau dulu, tulisan saya bisa sampai 800-an kata dan dimuat seluruhnya tanpa ada pemenggalan dari editor, kini berbeda halnya. Saat ini syaratnya maksimal 700 kata saja.

Kalau dulu saya tak pernah mendapatkan pemberitahuan mengenai syarat dan ketentuan lengkap dari redaktur, baru-baru ini, saya mendapatkannya via email. Syarat dan ketentuan menulis opini di Harian Fajar yang dimaksud adalah sebagai berikut:
  1. Opini yang dikirim ke Harian FAJAR, "TIDAK BOLEH"  dikirim ke  media lain.
  2. Setiap opini yang dikirim ke Harian FAJAR, wajib menyertakan foto terbaru (tidak boleh hitam putih), nomor telepon yang bisa dihubungi, sekaligus nomor rekening penulis. Pengalaman saya, honor masuk ke rekening pada tanggal muda di bulan berikutnya.
  3. Panjang tulisan minimal 600 kata dan maksimal 700 kata (word).
  4. Jika dalam waktu satu minggu/pekan, artikel yang dikirim belum termuat, penulis berhak menarik kembali tulisannya.
Point nomor 1 itu, jangan sampai dilakukan, yah. Nama kita akan di-black list media yang bersangkutan jika melakukannya. Saya pernah melakukan tindakan konyol. Secara tidak sengaja email saya terkirim ke alamat email sebuah media nasional di saat yang bersamaan dengan terkirimnya tulisan saya ke alamat email Harian Fajar. Soalnya awalannya sama-sama “opini”. Waktu itu saya sering sekali bingung dengan alamat email Harian Fajar yang benar karena email saya sama sekali tidak pernah dibalas dari alamat email resminya jadi saya menyimpan dua alamat email dan selalu mengirimkan ke dua alamat email itu. Macam gambling, begitu.

Wuih, takutnya saya ketika sadar. Langsung saja saya kirim email ke media nasional tersebut dan mengatakan bahwa saya salah kirim tulisan dan langsung menghubungi redaktur Harian Fajar. Saya meminta maaf padanya dan mengatakan apa kesalahan saya. Saya mengatakan bahwa saya tidak sengaja. Sedihnya, saat itu permintaan maaf saya tidak ditanggapi. Ya sudah, yang penting sudah meminta maaf dan menjelaskan, kan ya? Untungnya juga jenis tulisan yang saya kirim waktu itu bukanlah jenis tulisan yang dimuat di media nasional tersebut. Jadi tidak ada hal yang serius di belakangnya. Tinggallah ketakutan saya, kalau-kalau Harian Fajar akan mem-black list saya. Di-black list adalah hal yang serius karena menyangkut integritas kita sebagai penulis. Syukurnya, saya tidak sampai di-black list.

Oya, selain keempat hal tersebut, saya bisa share hal-hal lain yang harus diperhatikan sebelum mengirim tulisan kita ke rubrik Opini Harian Fajar, yaitu:
  1. Kirimkan tulisan dalam bentuk file MS Word ke alamat email opiniharianfajar@gmail.com.
  2. Perhatikan karakter tulisan opini yang dimuat di Harian Fajar. Gaya bahasanya tentu saja berbeda dong dengan gaya bahasa blogger.
  3. Tulisan sebaiknya berisi dan dikirim menjelang moment yang pas. Misalnya nih, Hari Ibu, Hari Kartini, Hari Sumpah Pemuda (seperti pada tulisan-tulisan saya: Mengapa Kaum Ibu Harus Terus Belajar (Opini, Harian Fajar, Hari Ibu 2013),  Perempuan Pewarna Sejarah (Opini jelang Hari Kartini, 20 April 2015), dan Menghidupkan Kembali Semangat Sumpah Pemuda (Opini, Harian Fajar, 29 Oktober 2014). Atau berkaitan dengan topik yang sedang trend, misalnya pemilihan kepala daerah. Atau mengenai peringatan maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam – contohnya pada tulisan Mempertanyakan Empati pada Kondisi Kini (Opini, Harian Fajar, 10 Februari 2015). Contoh lainnya adalah saat maraknya kasus kekerasan pada anak – misalnya pada tulisan Pentingnya Penguatan Peran Orang-Orang Dewasa dalam Menanggulangi Tindak Kekerasan Anak (Opini, Harian Fajar, 14 Maret 2015).
  4. Tuliskan profil singkat penulis. Lengkap dengan profesi dan gelar, kalau perlu. Kalau sedang menjabat sebagai pengurus atau ketua di sebuah organisasi, tuliskan juga. Lebih bagus lagi kalau tulisan yang dikirim berhubungan dengan profil yang disertakan. Misalkan, nih menulis topik ketahanan pangan sementara penulis merupakan seorang dosen di bidang itu. Suatu kali saya pernah menulis Pemerataan Kapasitas Daya Terpasang di KTI menjelang sebuah semiloka ketenagalistrikan yang dilaksanakan dalam rangka dies natalis kampus (UNHAS). Saat itu di profilnya saya mencantumkan “alumnus Teknik Elektro UNHAS”.
  5. Siap-siap saja kalau-kalau tulisan kita kena sunat lagi oleh editor. Itu hal yang lumrah terjadi meskipun jumlah katanya sudah sangat sesuai dengan ketentuan. Well, seperti itulah yang saya alami saat tulisan opini saya berjudul  Tantangan Perempuan Menulis di Era Digital (rubrik Opini Harian Fajar, 22 Desember 2017) dimuat baru-baru ini.
  6. Siap-siap saja bila tulisan kita ditolak, yah. Sebagus bagaimana pun itu, redaktur punya penilaian tersendiri untuk meloloskannya atau tidak. 



Last but not least – tulisan yang dimuat di rubrik Opini jangan sampai menimbulkan kebanggaan. Kesukacitaan yang paling penting dari dimuatnya tulisan oleh media cetak adalah tersebar luasnya tulisan kepada khalayak. Dengan demikian, manfaatnya akan sangat besar baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Melalui blog pun sebenarnya bisa jauh lebih banyak yang terjangkau – bahkan bisa menembus zaman.

Sungguh bagus kalau mengusahakan tulisan bisa dimuat di media cetak namun jauh lebih bagus lagi kalau kita konsisten menulis dan melakukan dengan media apa saja. Di zaman now, internet sangat memudahkan segalanya. Mari menjadi manusia yang bermanfaat satu sama lain.


Makassar, 26 Desember 2017


Simak juga tulisan saya di website Anging Mammiri ini, yah:
Perempuan Menulis di Era Digital. Tulisan ini sebenarnya merupakan kelajutan dari tulisan berjudul Tantangan Perempuan Menulis di Era Digital (yang dimuat di rubrik Opini Harian Fajar pada tanggal 22 Desember kemarin).


Catatan:
Terima kasih banyak kepada Pak Galang Pratama untuk gambar yang paling atas.


Share :

5 Komentar di "Syarat dan Ketentuan Menulis di Rubrik Opini Harian Fajar"

  1. Baru mau tanya-tanya soal cara ngirim tulisan ke harian fajar, eh... Udah ada ulasannya.

    Terima kasih untu sharingnya, lain waktu pengen coba kirim tulisan juga. Siapa tahu beruntung juga.

    BalasHapus
  2. maasyaAllah selalu terinspirasi dari kekonsistenan mba mugniar dalam menulis

    BalasHapus
  3. Kerennya tawwa kak niar..tulisannya tembus Fajar. Semoga makin produktif ya kak..

    BalasHapus
  4. Wah subhanallah. Portofolio bunda sudah banyak ya. Semoga saya segera menyusul ya bun hihihi

    BalasHapus

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^