12 Tip Berkarya dalam Perbedaan di Komunitas

Selama menyeriusi ngeblog selama 5 tahun ini, saya melihat banyak sekali dinamika dalam berkomunitas. Ngeblog dan komunitas, kan mesti sejalan, Kawan. Jadi jangan bingung kalau belum apa-apa saya sudah menyebut ngeblog dan berkomunitas sekaligus, ya. Ngeblog itu makin asyik kalau kita bergabung dengan komunitas-komunitas blogger. Kalau Anda tak mau bergabung dengan satu pun tak menjadi masalah sebenarnya. Cuma ya itu, tidak akan ada dinamikanya sama sekali.

Tiap komunitas terntunya berbeda. Kalau memang mau bergabung, kita mesti memperhatikan baik-baik bagaimana wujud komunitas yang bisa kita lihat dan rasakan. Tentunya, tiap komunitas punya “warna”-nya masing-masing. Ada pula visi dan misi yang dibawa. Pastinya, kita bergabung kalau sejalan dengan visi dan misi pribadi kita, kan?

Gambar batunya berasal dari: www.joegerstandt.com
Kalau ada masalah, misalnya tak suka dengan lambang-lambang komunitas, tak eloklah protes sana-sini. Lambang, apalagi simbol komunitas tak asal dipasang. Ada filosofi di baliknya. Biasanya itu menjadi hak prerogatif founder. Kalau kasih saran, mungkin boleh-boleh saja, ya. Tapi tentunya harus dengan cara yang elok. Kalau founder tak terima, ya sudah. Terima saja, kita kan anggota. Kalau tak terima, jangan ribut. Mungkin Anda tak cocok di komunitas itu karena berbeda prinsip. Mungkin lebih baik keluar dari komunitas daripada membuat anggota yang lain, terutama founder-nya tak nyaman. Tak nyaman rasanya kalau ada anggota yang meributkan “rumah” kita. Kalau contoh di kehidupan nyata, tuh seperti kalau ada orang asing yang masuk ke rumah kita kemudian dia menyuruh kita mengganti hiasan dinding yang sangat kita sukai dengan yang lain karena menurutnya hiasan dinding kita tak pantas. Aish, tak elok nian.

Kalau sudah menerima semua lambang/simbol, berikut syarat dan ketentuan yang berlaku, setidaknya sudah ada wacana yang bisa dijadikan kesamaan. Komunitas butuh itu untuk menyatukan dan menenangkan anggotanya. Plus, untuk sedikit menowel anggota yang rewel. Yah, namanya juga banyak kepala. Bisa sampai ribuan atau belasan ribu. Sesekali ada masalah berupa keriuhan, drama, atau barangkali sampai gontok-gontokan bisa dikatakan wajar. Seperti juga dalam kehidupan bermasyarakat, kan, ya. Lha, dalam sebuah rumah tangga saja, antara suami dan istri bisa banyak terjadi perbedaan apalagi dalam sebuah komunitas.

Sesekali perlu berkumpul biar makin mesra
HUT KEB ke-4, 17 Januari 2016
Penyebab masalah bisa macam-macam. Bisa karena salah satu pihak ada yang tidak bisa menerima cara komunitas “membersamai” anggotanya, ada masalah antar-pribadi, ada adu domba, saling ketaksepahaman, salah mengerti karena beda perspektif, dan lain-lain. Efeknya bisa saja kemudian keluar di media sosial dalam bentuk yang kalau di media mainstream disebut dengan “nyanyian”. Kalau sudah begini, pasti tidak enak, deh.

Bagi saya, dengan berkomunitas saya bisa belajar meningkatkan kemampuan diri. Bukan hanya dari sisi teknis ngeblog, melainkan juga dari sisi lain seperti dalam memahami orang lain dan berkehidupan. Dan menurut saya, hubungan antara individu dan komunitas adalah simbiosis mutualisme (relasi yang saling menguntungkan). Komunitas bisa berkembang menjadi besar dalam jumlah dan manfaat karena peran semua anggotanya. Sebaliknya, anggota pun bisa berkembang menjadi lebih baik karena komunitas mendukungnya.



Kalau keadaan aman, damai, gemah ripah loh jinawi, tentunya anggota dan komunitas bisa sama-sama berkarya yang mendatangkan manfaat bagi masyarakat luas. Namun demikian, pergesekan-pergesekan karena perbedaan antar-anggota atau antara anggota dan pemegang kebijakan di komunitas adalah hal yang niscaya. Adalah hal yang indah kalau semuanya bisa menganggap hal itu sebagai seni. Seni yang bisa membuat semuanya kembali menjadi lebih baik. Soalnya konyol, kan kalau pergesekan justru membuat kreativitas menjadi mandeg atau lumpuh? Jadi, tidak ada pilihan selain berusaha mencari tip agar dapat senantiasa berkarya dalam perubahan.

Setelah mencari sana-sini, saya mencoba merangkum berbagai pendapat, termasuk dari pengalaman saya sendiri dan menulis 12 tip agar warga komunitas bisa tetap berkarya dalam perbedaan. Eh, ini bukan karena saya merasa sudah ahli, ya. Sebenarnya ini catatan buat saya juga supaya belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Well, apa saja ke-12 tip itu? Ini dia:
  1. Meninjau kembali niat/tujuan, visi, dan misi bergabung di komunitas. Baikkah tujuan, visi, dan misi kita? Sesuaikah dengan komunitas? Bisakah sejalan? Jika semua tanya itu berjawab “TIDAK”, mungkin lebih baik bagi Anda untuk berada di luar komunitas, bukan di dalamnya.
  2. Kalau jawaban dari semua tanya di atas adalah “YA” tetapi tetap merasa tak nyaman maka introspeksi dirilah. Bisa jadi sudut pandang kita yang terlalu sempit atau kita terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum mendapat gambaran lengkap dari sesuatu hal. Setelah introspeksi diri, sadari kekurangan, perbaiki.
    Sumber gambar: Iki Mazadi
  3. Bisa jadi dua pihak yang bertikai sebenarnya sama-sama salah sekaligus sama-sama benar. Atau sama sekali tidak ada yang salah. Lho, koq bisa? Ya, bisa saja. Sering kali kita seperti sedang membicarakan masalah yang sama dengan seseorang tapi ternyata kalau diusut, kita membicarakan dua hal yang berbeda. Perspektif yang kita pakai berbeda! Biasalah, perspektif manusia kan berbeda-beda meskipun membicarakan hal yang sama. Ingat cerita tentang sekelompok orang disabilitas netra yang meraba gajah pada bagian tubuh yang berbeda-beda sementara mereka belum pernah melihat gajah secara utuh sama sekali? Mereka lalu sama-sama sedang membicarakan gajah tetapi mereka meraba bagian yang berbeda.
  4. Jauhi perdebatan. Yang bikin perdebatan tidak ada habisnya adalah kalau dua pihak merasa sedang membicarakan hal yang persis sama. Bisa jadi ada kesamaan materi namun perspektif keduanya sama sekali berbeda. Kalau perdebatan dipertahankan, ibaratnya dua orang yang sama-sama berjalan dari satu titik namun kemudian mereka bergerak ke arah yang berbeda, ada yang ke utara dan ada yang ke barat misalnya. Mana bisa ketemu? Yang terjadi adalah keduanya menghabiskan energi. Sama-sama rugi.
  5. Kadang-kadang ada satu pihak yang ndablek. Masih saja ngotot meski yang satunya sudah mengibarkan bendera putih. Bukan karena menyerah, melainkan karena eneg dengan perdebatan itu. Yang satu sudah menyadari ada ketidaksamaan perspektif eh yang satunya masih saja mengajak bertarung. Kalau sudah begini, bagaimana? Tinggalkan lalu jaga jarak. Tetap berada dalam jarak aman yang kira-kira tidak bakal direpotkan oleh si ndablek. Jangan buru-buru unfriend dia dari pertemanan karena setiap orang kan bisa berubah menjadi lebih baik. Bisa saja ke depannya nanti kita akan mesra lagi dengannya dan dia memberi pertolongan kepada kita.

  6. Menerima dan menghormati perbedaan di antara sesama warga komunitas. Perbedaan pendidikan, latar belakang keluarga, agama, dan budaya, tentunya membuat masing-masing orang punya pemikiran berbeda, kan? Tak mungkin dibuat sama, kan? Nah, makanya di sini menerima dan menghormati adalah sebuah kemutlakan.
  7. Belajar memandang sesuatu dari segala sudut pandang, bukan hanya terpaku dengan sudut pandang sendiri. Dengan demikian kita bisa lebih memahami apa yang terjadi. Meski kita tak bisa sepenuhnya membenarkan pihak “seberang”, setidaknya kita bisa memahami mengapa kita berbeda pendapat.
  8. Waktu zaman SD kita diajarkan untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Begitu pun dalam pelajaran nasionalisme. Nah, ini pun perlu dipelajari sama-sama dan diadopsi, dalam suatu komunitas seperti apa bentuknya. Pinjam semboyan negara kita sebagai dasarnya: bhinneka tunggal ika ~ berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.
  9. Bersikap kooperatif dan menjadi “pendengar yang baik”. Kata orang-orang, mengapa kita punya satu mulut dan dua telinga adalah supaya kita mendengarkan lebih banyak ketimbang berbicara. Jangan jadi orang yang hanya mau didengarkan tetapi malas mendengarkan.
  10. Bila perlu, lakukan kompromi. Jangan terlalu saklek. Jika tidak bisa kompromi karena menyangkut hal yang sangat prinsipil, komunikasikan dengan baik.
  11. Semangat untuk beritikad baik tetap dijaga supaya semuanya bisa sama-sama baik. Misalnya, dengan cara bersikap baik dan sopan.
  12. Cari cara untuk bergembira bersama supaya makin mesra. Kalau pasangan suami-istri kan suka disuruh berbulan madu kedua oleh psikolog-psikolog, naah begitu pun dalam berkomunitas. Mungkin saja perlu diadakan acara bersama untuk saling merekatkan kembali hubungan satu sama lain.
Ke-12 tip di atas bukanlah lahir sebagai petuah saya yang sok suci, sok tua, atau sok bijak. Saya pun harus terus belajar berkomunitas dengan lebih baik lagi. Saya masih merasa banyak kekurangan. Sekaligus melalui tulisan ini, saya sampaikan permohonan maaf kepada teman-teman yang pernah merasa tidak sreg pada saya dalam interaksi yang terjadi. Saya yakin dengan berkomunitas, saya bisa terbantu untuk menjadi pribadi dan berkaya lebih baik lagi. Kita semua bisa berubah menjadi lebih baik dalam perbedaan di komunitas. Mari sama-sama belajar.

Makassar, 22 Januari 2016


Tulisan ini diikutkan lomba Lomba Blog #4TahunKEB




Share :

43 Komentar di "12 Tip Berkarya dalam Perbedaan di Komunitas"

  1. karena besarnya kita dari perbedaan yang ada..

    kalau sama, nggak ada tantangan untuk berusaha menjadi besar

    sukses maks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mak Noorma. Sukses ya buatmu. Sun sayang buat Noofa

      Hapus
  2. Hai Mak Niar..lama gak chat hihihi...bener banget yang ditulis di atas. Aku setuju, walau kadang sulit menahan diri untuk tidak emosi. Yang susah itu berdebat tanpa emosi. Butuh latihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak. Ternyata bukan hanya menulis yang butuh latihan, ya. Tak emosi saat berdebat pun. Kangen euy, nanti ngobrol lagi kta, yah.

      Hapus
  3. berkat komunitas, kita bertemu ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak Kania. Bertemu di sini, di sana, di situ .... sayangnya belum di dunia nyata. Kapan ke Makassar, Mak Kania? :)

      Hapus
  4. Indahnya jika kita bisa saling memahami ya, Mak. Tidak mengedepankan ego pribadi. Terima kasih ya, Mak, sharingnya. Terima kasih juga sudah menjadi teman yang baik di dunia maya *saya yg ngaku2 sbg teman :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak, senang berteman denganmu :*
      Saya juga ngaku2 *biar impas ya, hihi*

      Hapus
  5. sukses mak, karena perbedaan itulah jadi terus berwarna ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak .... kapan kita bisa ketemu, yah. Saya ke Aceh atau Mak Tia ke Makassar? :)

      Hapus
  6. itulah pentingnya belajar Adab, biar ketika bersosialasi dengan orang lain ataupun komunitas bisa saling menghargai.

    Apa kabar tante?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, adab dituangkan dalam peraturan komunitas, di antaranya di dalam "syarat dan ketentuan" kan, ya. Alhamdulillah baik, kk Topics. Salam buat si kecil :) *huhu sapaan tante membuatku berasa tua :)) *

      Hapus
    2. emang udah tuwa keiles... :)

      Hapus
    3. @Cilembu Thea: hahaha si Mamang, kalo komen pake kata "tuwa" cepat amat deh. Di blog sebelah saya lihat komennya juga begitu.

      Hapus
  7. Bagus banget tips nya Mak Niar.
    Perdebatan memang kerap mengundang permusuhan dan olok-olok.
    Sebisa mungkin ndak turut meskipun gatel pengin komentar.

    BalasHapus
  8. Terus terang saya belum ikut komunitas2 ngeblog. Soalnya gak tahu mesti ngapain dg ikut komunitas. Sya tinggal di kota kecil, jadi kalaupn ada kopdar apakah saya bs ikut. Dan lagi saya gak punya waktu banyak buat OL. lantaran untuk OL masih perlu ke warnet. Ada modem, tapi lemot sekali. Jdi, sejauh ini ngeblog masih sebagai hobby dan refreshing di kala senggang , mski hnya skadr blogwalking, mencari inspirasi dari tulisan blog orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik, Mbak Wen kalo bisa ikut kegiatan2 komunitas, baik offline maupun online tapi memang, sih kita harus menyediakan waktu khusus untuk membuka medsos dan amat menyebalkan kalau koneksi inet lelet.

      Hapus
  9. WAH DALEM BANGET BESUTAN TENTANG PERBEDAAN YANG KUDU DISIKAPI DALAM KETERGABUNGAN KITA DI KOMUNITAS TEH atuh ya...saya kok nggak pernah ngeh soal beginian ya...kenapa saya begitu, coba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti si Mamang orangnya asyik, happy-happy saja. Mudah2an yang lain juga happy-happy saja berinteraksi dengan Mang (eh koq jadi Mang ya?) Cilembu

      Hapus
  10. Ternya sudah lama juga mba jadi blogger sepertinya sudah merasakan pengalaman dalam membuat artikel karena terus terang saya suka tidak konsisten dalam menulis, mungkin akibat tidak pernah bersosialisasi dengan blogger lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu manfaatnya bergabung dengan komunitas, kita blog walkkingnya jadi lebih asyik dan bisa punya banyak ide baru dalam menulis, Mas. Sosialisasi walaupun di dunia maya dulu, perlu juga dalam ngeblog :)

      Hapus
  11. aku kenal mBak Niar dari KEB ini ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss Mbak Lidya. Rasanya kita sudah kenal lama sekali padahal ketemunya di blog walking atau di grup2 yang kita ikuti, ya Mbak.

      Hapus
  12. Ah Mak Mug kece ... Tipsnya keren. Semoga menang, ya? ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hak Mbak Nisa yang kece. Terima kasih ya. Aamiin. Mbak Nisa tidak ikutan lomba ini, ya?

      Hapus
  13. keren banget ini mba tips2nya...
    smoga kita smua bisa jd lbh baik lg ya :)

    BalasHapus
  14. tips nya..banyak juga..dan banyak pula benarnya..good lucks mak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good luck for you too, Mak Nova

      Hapus
  15. Kalau berhasil menerapkan tips-tips ini bakalan langgeng di komunitas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Tapi mungkin masih ada kurangnya, Mbak.

      Hapus
  16. Berkat komunitas, kita bisa belajar menjadi lebih baik lagi. Bener ga sih mbak. Btw, makasih udah ngigetin video saya yg di blog, udah ada suaranya. Insyaallah udah dibenerim, ada kesalahan teknis dlm upload videonya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yub benar, Mas Adi. Sip, sudah balik ke sana, mau nonton tp suaranya kalah keras dengan suara2 di sekitar sini. Soalnya saya tidak punya earphone - sudah rusak dimainkan anak2. Sukses yah lombanya :)

      Hapus
  17. whuaaa ada potokuku, asek2...
    numpang tenar eeaa..

    yup, karena KEB aku kenal mak Niar,

    BalasHapus
  18. setuju mbak, berkat komunitas bisa dpt byk ilmu baru ... sayangnya aku gak terlalu aktif di sosmed apalgi dateng kopdar .. hiks :(

    BalasHapus
  19. Tp kalo gak debat gak asik, Mak

    BalasHapus
  20. pro kontra itu selalu ada dalam hidup ya, mak..jadi nikmati aja..hehehe..

    BalasHapus
  21. tulisannya keren, semoga menjadi juara 1

    BalasHapus
  22. Ayo bergembira bersama komunitas, ambil baiknya dan do the best and wise

    BalasHapus
  23. Terima kasih sudah berpartisipasi ya, mak :)

    BalasHapus
  24. thanks tips nya mbak, kebetulan ada drama kmaren di komunitas :)) dari tadi bertanya2 apa kepanjangan KEB yg di foto, rupanya ada jawabannya dibawah :)

    BalasHapus

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^

Tulisan menarik lainnya: