Showing posts with label Perubahan Iklim. Show all posts
Showing posts with label Perubahan Iklim. Show all posts

5 Cara Mengatasi Dampak Perubahan Iklim dan Kerusakan Lingkungan

5 Cara Mengatasi Dampak Perubahan Iklim dan KerusakanLingkungan – Asyik sekali putra bungsu saya bermain di halaman rumah kami. Di antara pepohonan yang menumbuhkan bebungaan aneka warna. Sering kali kupu-kupu, rama-rama, dan lebah mengunjungi bebungaan di halaman rumah kami.

Cara mengatasi dampak perubahan iklim
Gambar dari Pixabay.
 

Ancaman Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim Terhadap Biodiversitas Hewan dan Tumbuhan 

Tahun 2017 saya pernah posting di Instagram mengenai kegelisahan saya ketika sekawanan lebah menyerbu jualan pedagang beras di pasar Pa’baeng-baeng dan beras dagangan warung tetangga selama kira-kira 2 bulan. Terbersit kekhawatiran, apakah lebah ini kekurangan makanan sehingga “terpaksa mengisap sari” karbohidrat dari beras?

Bersyukur rumah kami tak pernah sepi dari kunjungan lebah, kumbang, kupu-kupu, dan rama-rama. Bebungaan aneka warna yang tumbuh di pekarangan mengundang mereka. Sebuah hiburan tersendiri melihat mereka berkeliaran di taman mini di rumah kami.

Penelusuran saya di internet menguak fakta ini ...

Cara Mengatasi Perubahan Iklim
Anak-anak senang bermain di sela tetumbuhan
di pekarang rumah kami.

Tempo.co dan CNNIndonesia.com pernah melansir mengenai populasi lebah madu yang terus berkurang. Lebah madu banyak yang hilang dan mati dalam jumlah besar sejak 1990-an. Populasi lebah madu terus menurun dan itu berdampak pada jumlah produksi madu yang dikonsumsi manusia.

Selain itu keberadaan 2000-an spesies kupu-kupu di Indonesia menghadapai ancaman kepunahan. Mongabay.co.id menyebutkan bahwa ancaman itu disebabkan alih fungsi lahan, misalnya menjadi kawasan pertanian.

Imti Yazil Wafa – peneliti dan pengamat kupu-kupu dari Sahabat Alam Indonesia mengatakan ancaman lain terhadap kupu-kupu adalah perburuan, dan penggunaan pestisida yang berlebihan. Pendek kata, perubahan iklim dan tindakan-tindakan manusia di atas menyebabkan biodiversitas tumbuhan, kupu-kupu dan lebah mengalami penurunan.

Sebentar lagi akan menjadi bunga asoka
merah yang cantik.


Belumlah hilang hal ini dari ingatan saya ketika topik mengenai ancaman terhadap biodiversitas aneka tumbuhan dan satwa di Indonesia menjadi salah satu hal yang diperbincangkan pada hari Jumat 14 Agustus lalu. Tiga dari 5 orang nara sumber pada talkshow Suara Kita Tentang Perubahan Iklim menceritakan pengalaman mereka tentang biodiversitas di negara kita.

Davina Veronica – perempuan yang dulu dikenal sebagai model ini sekarang menjadi pegiat lingkungan dan perlindungan satwa. Davina menceritakan bagaimana orang utan di hutan-hutan Kalimantan terancam kehilangan habitat mereka karena secara perlahan areal hutan di sana berkurang luasannya.

Sebagai “penduduk asli hutan” sekarang hewan seperti orang utan jadi seperti pengungsi karena tempatnya diambil alih untuk kepentingan manusia. Padahal semua makhluk sejatinya menjalankan peran masing-masing. Hewan-hewan dan tetumbuhan pun punya peran dalam melestarikan menyeimbangkan, dan menjaga kesehatan alam.

“Kita manusia, bukanlah makhluk yang superior tetapi adalah fakta kalau manusia merasa superior dan menjadi akar dari semua permasalahan yang ada di muka bumi ini,” ujar Mbak Davina yang kemudian menyatakan bahwa semua makhluk memainkan perannya masing-masing, tidak ada yang mendominasi.

Suara Kita Tentang Perubahan Iklim


Melihat hutan yang terbakar, Mbak Davina mengaku sampai menangis. Padahal – tuturnya lagi, “Hutan yang sehat, hutan yang lestari, ujung penerima manfaatnya adalah manusia.”

“Kita merasa tidak bersentuhan langsung dengan alam, hutan, dan laut jadinya don’t have the feeling. Kita harus mencari informasi bagaimana bisa bertahan hidup di bumi karena alam. Semua di alam membuat kita bisa bertahan hidup karena hutan itu sumber udara bersih, sumber air bersih, sumber obat-obatan, sumber makanan. Jadi kita harus berpikir, jika terus-terusan dieksploitasi, bukankah kita akan hancur, ya ... itu yang ada dipikiran aku,” imbuhnya.

Pak Zul Karnedi – penyelamat penyu Alun Utara Bengkulu menceritakan bagaimana dalam kurun 1990 – 2000 dirinya menjadi pemburu penyu dan telurnya namun sejak 2015 dirinya sudah berbalik menjadi penyelamat penyu. Sekelompok orang di desanya yang dulunya pemburu penyu juga sudah bergabung dengannya.

Pak Mubariq Ahmad – Direktur Eksekutif Yayasan Strategi Konservasi Indonesia memaparkan bagaimana harimau dan orang utan membutuhkan wilayah luas untuk hidup. Bukan sekadar hidup, melainkan untuk mepertahankan keberlangsungan hidupnya.

 

Manusia, Penyumbang Sekaligus Korban dari Perubahan Iklim dan Kerusakan Lingkungan


Pak Mubariq banyak menceritakan tentang perubahan iklim, “Kita merasakan dampak perubahan iklim tetapi sekaligus menyumbang terjadinya perubahan iklim. Dampak yang terasa adalah musim yang makin tidak teratur dan ekstrem.”

Memang terasa ya sekarang ini musim hujan sangat pendek tetapi ketika puncaknya hujan terjadi sangat intens. Musim kemarau bisa makin pendek, bisa juga panjang. Tetapi ketika pendek sangat ekstrem pula terjadinya. Saya pernah menceritakan pengalaman merasakan suhu 38,2oC pada tulisan berjudul Bijak Pakai Energi untuk Adaptasi Perubahan Iklim.

Davina Veronica Bicara Kerusakan Hutan
Davina Veronica.

Perilaku secara langsung yang merusak lingkungan dan membuang sampah menjadi ancaman tersendiri. Di samping itu perilaku koruptif juga menjadi ancaman di sisi lain, yaitu perilaku koruptif para pengusaha dan pengambil kebijakan terhadap perizinan usaha. Perilaku koruptif dalam pemanfaatan lahan dan perilaku koruptif terkait energy production.

Secara khusus 3 masalah kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang dibicarakan dalam talkshow yang berlangsung selama sekira 1,5 jam ini saya rangkum sebagai berikut:

 

1. Masalah Kerusakan Hutan

 

Ketika berbicara tentang perubahan iklim, ada hal lain yang kita hadapi selain pergeseran musim yang tak bisa diramalkan. Yaitu bencana alam yang terpicu karena masalah iklim. Pada saat cuaca ekstrem berlangsung, banyak terjadi banjir dan tanah longsor. Penyebab lainnya adalah kerusakan hutan.

“Jadi di daerah aliran sungai yang hulunya rusak atau dirusak biasanya tahun depannya di hilirnya terjadi banjir. Dan bisa dipetakan dari Sabang sampai Merauke pola seperti itu banyak sekali,” ucapan pak Mubariq ini mengingatkan saya kepada sejumlah banjir besar yang terjadi di Sulawesi Selatan akhir-akhir ini.

 

Mubariq Ahmad bicara perubahan iklim
Pak Mubariq Ahmad.

2. Masalah Krisis Air

 

Masalah krisis air tidak dibahas secara mendalam oleh para nara sumber namun hal ini sudah sering kita temui dalam berbagai berita di negeri ini. Secara khusus, mengenai krisis air bisa dibaca dalam tulisan saya yang berjudul Ketika Air Menjadi Musuh, Saatnya Introspeksi Diri.

Di dalam tulisan itu, salah satu nara sumber – ahli Manajemen Sumber Daya Air - Andang Suryana Soma, S.Hut., MP., Ph.D – dosen Prodi Kehutanan dan Magister Pertanian Universitas Hasanuddin memaparkan mengenai penurunan kuantitas dan kualitas air tanah.

Pak Andang mengatakan bahwa kuantitas air kini sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat sementara kualitas air untuk keperluan domestik makin menurun. Pak Andang juga menyebutkan bahwa di kota Makassar siklus air bersih menurun setiap tahunnya pada saat kemarau sedangkan pada saat musim hujan malah berlebihan sehingga terjadi banjir.

Forum Air Dunia memperkirakan krisis air di Indonesia akan mulai terasa pada tahun 2025. Tanda-tanda menuju krisis terasa paling banyak di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, dan NTT. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan sekira 102 kabupaten dari 16 provinsi di Indonesia saat ini mengalami kekeringan.

Don Brady Perubahan Iklim
Don Brady dari studio Kantor Berita Radio.
 

3. Masalah Emisi Gas Rumah Kaca

 

Emisi gas rumah kaca (GRK) menjadi isu global karena mampu mempercepat perubahan iklim berikut global warming dan kenaikan permukaan air laut. Penyebabnya adalah kerusakan hutan akibat deforestasi dan konversi hutan dengan cara pembakaran hutan.

Terkait hal-hal dalam paragraf di atas, masalah yang timbul sudah kita rasakan sekarang dan kita rasakan pula dampaknya sekarang selama 30 tahun ini. Point lainnya adalah masalah dari bidang energi. “Dampaknya belum kita rasakan sekarang tapi persoalannya sedang kita buat sekarang untuk masa depan kita,” ucap Pak Mubariq.

Kebijakan kita saat ini tidak konsisten. Dari segi energi kita masih mengandalkan sumber energi dan masih membangun sumber-sumber energi yang berbasis fossil fuel yang menjadi penyebab emisi GRK.

Padahal di masa depan, jika energinya berbahan fosil maka karbon konten dalam nilai produk kita akan semakin tinggi. Sementara pada semua negara, karbon konten per mata uang per produksinya makin turun, eh di Indonesia malah makin naik.

Zul Karnedi - penyu Bengkulu mengatasi perubahan iklim
Pak Zul Karnedi - pelestari penyu, Bengkulu.


Pemerintah punya nationally determined commitment yang sudah di-register di UNFCCC untuk menurunkan emisi karbon 26% pada 2030 sampai 41% di 2040 kalau kita mendapat bantuan dari negara-negara sahabat tetapi kita belum benar-benar bertindak tegas terkait kebakaran hutan dan dan masih membangun sumber energi fosil.

Oya, penyebab GRK ini selain bahan bakar dari minyak bumi dan batu bara juga disebabkan oleh sampah yang makin menggunung, termasuk sampah plastik, serta penggunaan AC dan produk semprot.

 

5 Cara Mengatasi Dampak Perubahan Iklim dan Kerusakan Lingkungan

 

Mbak Davina mengatakan bahwa pengalihan fungsi lahan untuk tambang dan untuk kelapa sawit adalah untuk kepentingan manusia. Di awal pandemi covid-19, sepertinya alam beregenerasi karena aktivitas manusia berkurang. Kita telah mengeksploitasi alam dengan tingkatan yang luar biasa.

“Di sisi lain, kegiatan kita di rumah menimbulkan hal lain seperti sampah, banyak konsumsi barang-barang yang menggunakan plastik,” ujar perempuan yang aktif dalam NGO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Mbak Widyanti Yuliandari.

Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mbak Davina lagi:

Harus ada keterlibatan semua pihak, bukan hanya NGO/yayasan dalam melestarikan alam di Indonesia untuk konservasi. Semuanya itu harus ada keterlibatannya baik dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat karena semua di bumi ini saling terkoneksi. Apa yang kita konsumsi dan hasilkan semuanya punya dampak.

Dalam talkshow yang diselenggarakan oleh KBR (Kantor Berita Radio) dan dipandu oleh Don Brady ini, kita bisa mendapatkan inspirasi peran seperti apa yang bisa dijalankan oleh NGO dan individu melalui 5 cara mengatasi dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan berikut ini:

 

1. Peran NGO dan Komunitas dalam Pelestarian Hewan

 

Mbak Davina yang menjadi co-founder dan CEO Garda Satwa Indonesia menceritakan bagaimana lembaganya memelihara orang utan dari ancaman kepunahan. Masih saja terjadi alih fungsi hutan menjadi lahan untuk keperluan lain yang menyebabkan masih banyaknya orang utan pusat rehabilitasi orang utan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. 

Menurut Davina, belum ada hutan yang aman untuk lepas liarkan orang utan. Banyak faktor dari hutan yang dipikirkan untuk lepas liarkan orang utan agar mereka bisa hidup dengan baik. Seperti apakah hutannya aman atau tidak, apakah ada pakan orang utan atau tidak, dan predator apa saja yang ada di sana.

Dari Bengkulu, Pak Zul menceritakan mengenai bagaimana sampah bisa menyebabkan penyu mati. Pernah ditemukan ada penyu yang mati di pantai dan ketika dibedah ditemukan sampah kaleng di dalam tubuhnya.

Sampah plastik menjadi salah satu point perhatian juga. Pak Zul dengan komuntasnya di Bengkulu menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai bahaya sampah, terutama sampah plastik. Di kampung Pak Zul dulu sebagian besar lelakinya merupakan pemburu penyu. Kini 80% masyarakatnya sudah memiliki kesadaran untuk menyelamatkan penyu.

Cara Mengatasi Perubahan Iklim
Tayang live di channel YouTube KBR.

Butuh waktu untuk melakukannya. Pak Zul mengalami dikatai bodoh dan gila namun dirinya tetap melakukan sosialisasi bahwa penyu bisa menyelamatkan ekosistem laut, ikan, dan menambah penghasilan masyarakat nelayan di kampungnya. Jika penyu bisa dilestarikan maka laut bisa kembali seperti semula.

Sekarang banyak anggota masyarakat yang tertarik bergabung dalam usaha-usaha pelestarian penyu. Pak Zul menceritakan para mahasiswa dari berbagai jurusan di Universitas Bengkulu membantunya melakukan sosialisasi terkait pelestarian penyu.

 

2. Peran NGO dalam Mendorong Kebijakan yang Berpihak pada Pengembangan Sumber Energi Terbarukan

 

Harapan agar negara kita memproduksi sumber energi terbarukan yang lebih sehat untuk bumi dan lebih murah dalam jumlah besar di negara ini sebenarnya ada. Namun seperti dijelaskan di atas, ternyata praktiknya tak mudah.

Melalui chat room saat talkshow berlangsung, saya menanyakan peran lembaga yang bergerak dalam lingkungan hidup dalam mendorong kebijakan ini kepada Pak Mubariq. Oleh Pak Mubarik, pertanyaan saya dijawab di chat room sebagai berikut:

Ada beberapa model kegiatan yang dilakukan NGO, yaitu: (1) Riset dan advokasi kebijakan; (2) Membangunan kapasitas pembuat kebijakan dan perencana pembangunan; dan (3) Memfasilitasi dialog kebijakan antara lembaga-lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lembaga pendidikan.

Suara Kita Tentang Perubahan Iklim
Zoom CLoud Meeting Suara Kita Tentang 
Perubahan Iklim.

CSF Indonesia, di mana Pak Mubariq aktif berkegiatan berfokus pada nomor 1 dan 2, plus fasilitasi change process dalam kebijakan dan perencanaan.

Pertanyaan berikut saya lontarkan lagi dan dijawab dengan baik oleh Pak Mubariq melalui chat room, yaitu mengenai tantangan NGO dalam melakukan kegiatan riset dan advokasi kebijakan serta capacity building.

Pak Mubariq menjawab tantangannya adalah: (1) Membangun kerja sama dengan pemerintah dan akademi; (2) Menghadapi kepentingan bisnis yang cenderung berlawanan kepentingannya; dan (3) Untuk capacity building, NGO harus memiliki staf yang kredibel dalam bidang tersebut.

Cara NGO mengatasi perubahan iklim
Pak Mubariq menjawab pertanyaan saya
di chat room Cloud Zoom Meeting.


3. Peranan Bloger dalam Menyebarluaskan Pesan Kebaikan Melalui Tulisan

 

Mbak Widyanti Yuliandari Ketua Umum Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) mengatakan bahwa blogging itu intinya adalah untuk berbagi kebaikan termasuk dalam hal bagaimana menyuarakan ide pelestarian lingkungan.

“Semua sisi terancam dengan perubahan iklim. Mulai dari permasalahan sampah, air bersih, pembuangan limbah, kualitas air sungai, dan sebagainya. Semua komponen dari lingkungan menerima ancaman perubahan iklim,” ucap bloger yang memang sering menulis tema lingkungan sehubungan dengan bidang pekerjaannya dan gaya hidup sehat yang dijalaninya.

Bermula dari 10 tahun lalu, sehubungan dengan tugas di kantornya Mbak Wid memulai edukasi perubahan iklim. Waktu itu masih berat karena masyarakat belum melihat fakta. Berbeda dengan saat ini yang mana kondisinya sudah berbeda. Kita sudah melihat jelas dampak perubahan iklim dan kerusakan dan tahu bahwa ini “the real issue”, tidak main-main.

Suara Kita Tentang Perubahan Iklim


Saya setuju dengan apa yang dikatakan Mbak Wid mengenai para bloger perempuan yang sudah mulai banyak menyuarakan hal-hal sederhana yang mereka lakukan, contohnya membawa bekal, batasi konsumsi minuman kemasan, dan beralih membawa tumbler ketimbang membeli air minum kemasan. Hal-hal sederhana tersebut bisa ditiru oleh pembaca setia mereka.

Menurut Mbak Wid, tantangan blogger adalah harus jeli mengemas isu sehingga tidak seakan-akan dia menyuruh pembaca melakukan sesuatu tanpa menunjukkan manfaat nyatanya. “Makanya bloger harus rajin browsing dan mengikuti diskusi sehingga bisa mengemas isu lingkungan dengan menarik sehingga tidak garing,” ucap perempuan yang juga berstatus sebagai ASN ini.

Salah satu contoh bloger yang peduli pada isu sampah dan memutuskan untuk bertindak hadir sebagai nara sumber. Beliau adalah Mbak Siti Hairul Dayah yang biasa saya sapa Mak Irul. Mak Irul pernah menayangkan tulisan berjudul Pengalaman Pertama Menggunakan Menstrual Cup. Di dalam tulisan itu dirinya berbagi pengalaman menggunakan alat penampung haid.

Siti Hairul Dayah Menstrual cup

Mbak Siti Hairul Dayah.


Sebelumnya, Mak Irul memang sudah menggunakan pembalut kain karena bertekad untuk aktif mengurangi sampah bekas pembalut sekali pakai. Sebelumnya, para buah hatinya susah lebih dulu menggunakan popok kain, tidak lagi menggunakan popok sekali pakai.

Ibu dari 6 orang anak ini 4 tahun lalu pernah mewawancarai petugas sampah dan mendapatkan fakta bahwa sampah yang tidak bisa didaur ulang di TPA Piyungan (tempat pembuangan akhir) di dekat rumahnya adalah sampah pembalut. Sampah pembalut ini cukup meresahkan karena hanya menambah timbunan sampah.

 

4. Peran Keluarga dalam Pendidikan Lingkungan Hidup

 

Yang menarik dalam percakapan di chat room yang juga diucapkan oleh Pak Mubariq – sekurang-kurangnya sebanyak dua kali adalah mengenai pentingnya peran keluarga dalam memberi pendidikan lingkungan hidup.

Menjawab pertanyaan Mbak Lita – salah satu peserta talkshow via Zoom Cloud Meeting, Pak Mubariq mengatakan bahwa penting untuk memberikan konsep tarbiyah lingkungan. Hablumminallah dan hablumminannas penting tapi hablumminal ‘alam juga tak kalah pentingnya.

Cara Mengatasi Perubahan Iklim


Dalam hati saya membenarkan. Saya banyak melihat keluarga yang tampak luar terlihat alim tetapi dalam hal “pendidikan lingkungan” perhatiannya kurang. Hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya saja tidak diberlakukan.

Menurut Pak Mubariq, perlu mengusulkan dalam pengajian di tingkat RT atau majlis taklim setempat untuk membahas pentingnya pendidikan lingkungan hidup dari keluarga sendiri, membangun pengetahuan ibu rumah tangga untuk itu, dan melakukan kegiatan bersama di tingkat komunitas tetangga/RT.

 

5. Peran Individu dalam Menyampaikan Pesan Kebaikan

 

Mbak Widyanti menyampaikan pesan mengenai pentingnya setiap dari kita memberdayakan media sosial dalam menyampaikan pesan kebaikan terkait lingkungan. Tidak perlu membuat tulisan panjang. Cukup dengan mengabarkan apa yang kita alami dan lakukan. Jika banyak orang melakukannya maka akan banyak orang pula yang bisa dipengaruhi.

Sekarang ini mudah sekali menyiarkan pesan kebaikan melaui media sosial, yang penting ada akses internet. Gunakan foto supaya lebih menarik. Jika sudah konsisten membawa tumbler ke mana-mana, jepret dan ceritakan manfaatnya apa terhadap diri dan lingkungan.

💚💛💙

Cara Mengatasi Kerusakan Lingkungan
Aktivitas di chat room.

Ya, apapun itu yang berdampak besar memang perlu dilakukan oleh banyak orang, dimulai dari kesadaran sendiri, termasuk mencegah perilaku koruptif. Seperti yang dikatakan oleh Mbak Widyanti, “Kita memerlukan aksi yang tidak sempurna tapi dari banyak orang. Bukan aksi sempurna dari segelintir orang.”

Edukasi mengenai bagaimana mengatasi dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan memang sangat penting, sebagaimana juga yang dilakukan oleh Mbak Irul, Mbak Wid, Pak, Zul, Mbak Davina, dan Pak Mubariq dalam peran mereka masing-masing. Namun saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip diskusi dengan Pak Mubariq di chat room:

Menjaga lingkungan hidup adalah bagian dari tugas menjadi khalifah Allah di bumi.

 

Rekaman Suara Kita Tentang Perubahan Iklim
bisa disimak di kanal YouTube KBR.

Pada Hari Kemerdekaan ini, ucapan Pak Mubariq perlu direnungkan bahwa topik lingkungan dan perubahan iklim perlu menjadi bahan diskusi bagi ibu-ibu - dengan para ayah tentunya, ya. Yaitu bahwa:

Menjadi khalifah itu bukan cuma untuk menjalankan fungsi leadership, melainkan juga sebagai sustainer (penopang) atau steward of the earth resources and ecosystem (pengurus sumber daya alam dan ekosistem). 

Makassar, 17 Agustus 2020

 

Referensi Tambahan:

  • https://koran.tempo.co/read/ilmu-dan-teknologi/443069/populasi-lebah-madu-terus-berkurang, diakses pada 15 Agustus 17:22.
  • https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200210161642-199-473323/populasi-lebah-terancam-punah-akibat-kenaikan-suhu-ekstrem, diakses pada 15 Agustus 17:24.
  • https://www.mongabay.co.id/2020/06/06/eksotisnya-kupu-kupu-si-penjaga-keseimbangan-alam/, diakses pada 15 Agustus 17:26.
  • https://www.industry.co.id/read/66862/forum-air-dunia-memprediksi-krisis-air-di-indonesia-akan-mulai-terasa-pada-2025, diakses pada 17 Agustus 10:10.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini: https://bit.ly/LombaBlogPerubahanIklimKBRIxIIDN.



Baca selengkapnya

Bijak Pakai Energi untuk Adaptasi Perubahan Iklim

Bijak Pakai Energi untuk Adaptasi Perubahan IklimSuhu di Makassar memang panas. Saya pun terbiasa tanpa AC sehari-harinya, tubuh saya sudah terbiasa bersahabat dengan hawa panas. Namun mengapa kali itu saya merasakan panas yang luar biasa sampai-sampai berkali-kali keringat berjatuhan dan masuk ke mata. Membuat mata saya berkedip-kedip karena merasa perih.
Baca selengkapnya

Pentingnya Menulis Sesuai Kaidah

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tiga tulisan ini:

Pada tanggal 14 Maret lalu saya menghadiri  Orientation On Climate Change Adaptation for Journalist (Orientasi tentang Adaptasi Perubahan Iklim untuk Jurnalis) di Hotel M-Regency, sebagai undangan dari CARE International Indonesia yang disampaikan melalui pak Rahman Ramlan.


Materi terakhir berjudul Media dan Jurnalisme Warga  Pro Lingkungan dibawakan oleh pak Ismail Asnawi (seorang praktisi pertelevisian) dari PWI. Pak Ismail memaparkan mengenai perbedaan antara jurnalis profesional dan jurnalis warga.
Baca selengkapnya

Pentingnya Informasi Cuaca dan Iklim

 Tulisan ini merupakan lanjutan dari dua tulisan ini:

Pada tanggal 14 Maret lalu saya menghadiri  Orientation On Climate Change Adaptation for Journalist (Orientasi tentang Adaptasi Perubahan Iklim untuk Jurnalis) di Hotel M-Regency, sebagai undangan dari CARE International Indonesia.

Sebuah materi berjudul Informasi Cuaca, Iklim, Gempa Bumi dan Tsunami yang dibawakan oleh bu Sri dari Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar menyegarkan dan menambah pengetahuan saya. Pengetahuan mengenai cuaca dan iklim saya dapatkan melalui pelajaran IPS/Geografi di sekolah dulu.
Baca selengkapnya

Pentingnya Penyebaran Informasi Adaptasi Perubahan Iklim

Lanjutan dari tulisan berjudul

Orientation On Climate Change Adaptation for Journalist (Orientasi tentang Adaptasi Perubahan Iklim untuk Jurnalis) di Hotel M-Regency yang saya hadiri pada tanggal 14 Maret lalu dilaksanakan oleh CARE International Indonesia, didukung oleh The European Union.

Orientasi ini sepertinya merupakan sosialisasi kepada jurnalis dan blogger tentang proyek Building Coastal Resilience to reduce Climate Change Impact (BCRCC Impact) yang dilakukan oleh Care International.

Proyek yang dilaksanakan pada kurun waktu Februari 2011 – April  2014 di Indonesia (di 4 kabupaten sekitar Teluk Bone di Sulawesi Selatan, yaitu Bone, Wajo, Luwu dan Luwu Utara) dan Thailand (di wilayah Krabi, Trang, Chumpon, dan Nakhon Si Thammarat) ini bertujuan agar masyarakat pesisir di Thailand dan Indonesia  meningkat ketahanannya terhadap dampak negatif perubahan iklim.
Baca selengkapnya

Pentingnya Adaptasi Perubahan Iklim Wilayah Maritim

Saya menerima undangan dari pak Rahman Ramlan (dari Care International) untuk menghadiri Orientation On Climate Change Adaptation for Journalist (Orientasi tentang Adaptasi Perubahan Iklim untuk Jurnalis) di Hotel M-Regency pada tanggal 14 Mare lalu.  Orientasi ini dilaksanakan oleh CARE International Indonesia, didukung oleh The European Union.

Alhamdulillah, setelah menyelesaikan urusan rumah di pagi hari, saya pun menuju lokasi. Sayangnya saya datang terlambat namun panitia berbaik hati membagikan materi pak Jamaluddin kepada saya. Materi itulah yang saya kutip dalam tulisan ini.

Well, saya buka dengan penyegaran mengenai apa itu perubahan iklim dan adaptasi perubahan iklim ya …
Baca selengkapnya

#Melawan Asap, Gerakan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Riau adalah kenangan manis. Beberapa tulisan di akun Blogdetik ini saya buat untuk mengenangnya. Sebagai dokumentasi untuk anak-cucu saya, terutama Affiq, si sulung yang lahir di Rumbai, Pekanbaru pada tahun 2001 mengenai tanah kelahirannya. Namun bencana akhir-akhir ini yang kembali melanda Riau, membuat saya amat prihatin dan ikut gerakan #melawanasap melalui beberapa cara, salah satunya melalui tulisan ini ...


Suami saya mengalami kabut asap parah di Rumbai, Pekanbaru pada tahun 1997. Waktu itu kami belum menikah. Ia baru diterima bekerja di PT. Caltex, Pacific Indonesia, yang sekarang bernama PT. Chevron Indonesia. Parah sekali kabut asap ketika itu sampai-sampai banyak pegawai beserta keluarganya yang diungsikan ke luar Riau. Kata suami saya, kalau berpapasan dengan orang di jalan, ia tak bisa melihat wajah orang itu. Bukan kabut asap biasa. Kabut asap yang amat tebal.

Sebagai pegawai baru, ia ditugaskan “jaga gawang”. Sebagian pegawai beserta keluarganya sudah diungsikan karena udara sudah sangat tercemar. Hanya sebagian kecil pegawai yang masih tinggal.
Baca selengkapnya

INDONESIA MENANGIS

Indonesia menangis.

Di Indonesia, di mana-mana ada air. Di mata, di bumi.

Sekitar Sinabung menjerit. Manado basah, konon dari 11 kecamatan, 10 terendam banjir. Kudus terisolir. Subang bersimbah pula, Jakarta apalagi.

Makassar pun seolah tak mau ketinggalan. 2000 jiwa warga kecamatan Manggala harus mengungsi. Ratusan rumah terendam banjir parah di beberapa wilayah kota ini. Yang mengalami genangan banjir yang tidak parah, jauh lebih banyak.

Saya merasa kasih sayang Allah dalam musim hujan kali ini. Wilayah tempat tinggal saya sebenarnya bukan wilayah yang bebas banjir. Tapi dalam musim penghujan kali ini, Allah masih mengizinkan kami untuk beristirahat dari banjir.
Baca selengkapnya