Kehangatan dan Keseruan Pertemuan Kompasianer 2026

Kehangatan dan Keseruan Pertemuan Kompasianer 2026 – Sisi introvert saya kalah ketika pertemuan yang akan dihadiri akan dihadiri oleh orang-orang yang sama-sama suka menulis. Selalu menyenangkan rasanya ketika bertemu orang-orang yang punya minat yang sama. Seperti ketika Kak Alya, dari tim Kompasiana yang datang dari Jakarta menghubungi untuk jumpa-jumpa dengan sesama kompasianer yang ada di Makassar (kompasianer adalah sebutan untuk orang-orang yang punya akun di Kompasiana dan menulis di platform terebut).

Kehangatan Pertemuan Kompasianer 2026

Rencana Pertemuan: dari Tamalanrea, Pindah ke Pantai Losari

Awalnya pertemuan dadakan akan berlangsung di sebuah kafe yang letaknya belasan kilometer dari tempat tinggal saya. Saat tahu lokasinya, saya maju-mundur-cantik, ikut-tidak-ikut-tidak. Lalu saya timbang-timbang lagi … rasa-rasanya saya tak boleh menolak sebab jarang-jarang tim Kompasiana ke Makassar. Paling sering pun sekali atau dua kali setahun, itu pun terakhir kali 8 tahun lalu. Lagi pula saya sebenarnya selalu bersemangat jika bisa bertemu dengan mereka yang memiliki minat yang sama dengan saya.

Kali ini Kompasiana menggelar acara di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin di kampus Tamalanrea pada 17 September 2026. Saya memang sudah mendaftar untuk hadir di acara tersebut. Setelah masuk grup WhatsApp khusus, Kak Alya menghubungi untuk pertemuan pada sehari sebelumnya.

Saya mulai menyusun rencana, hendak naik bus Trans Sulsel. Saya mencari tahu halte bus terdekat dari kafe yang dimaksud Kak Alya. Ah, rupanya ada halte bus yang letaknya dekat sekali. Fix, saya naik bus saja dua kali. Dari halte Taman Pakui dulu ke halte A kampus Unhas Tamalanrea, lalu lanjut bus dari halte A yang tujuannya ke bandara Sultan Hasanuddin, turun di halte yang letaknya dekat dari kafe.

Rencana berubah. Lokasi pertemuan berpindah ke Pantai Losari. Nah, ini lebih dekat lagi dari rumah. Takdir saya memang harus hadir, nih. Pantai Losari dari gate terdekat dari rumah jaraknya tak sampai 2 km hehe.

Jadilah sore itu saya tiba  pada waktu yang ditentukan. Rupanya tim Kompasiana belum tiba, mereka terjebak macet dari arah jalan Perintis Kemerdekaan.

Gak menyangka Makassar macet seperti Jakarta, Mbak,” ujar Kak Alya melalui pesan WhatsApp.

“Makassar sekarang sudah kota metropolitan, Kak. Kalau Jakarta megapolitan. Makassar macet, hanya sedikit di bawah Jakarta,” sahut saya.

Begitulah Kota Makassar saat ini. Saya terkadang malas keluar rumah karena  kemacetan bisa terjadi kapan saja dan tidak ketahuan penyebabnya apa. Macet ya macet saja hehe.

Saya menunggu di dekat anjungan Bugis dan Makassar. Beruntung ada tempat duduk di sana. Ada panggung dengan dinding yang tinggi sehingga saya bisa berlindung dari cahaya matahari yang masih cukup garang di pukul 4 sore itu.

Menghindari Tawaran Foto dengan Iguana dan Ular

Saya duduk sendiri, sembari memperhatikan sekeliling. Saya menjaga jarak aman dengan orang yang membawa iguana dan ular. Saya tahu orang seperti itu kelihatan ramah tetapi maksudnya hendak membuat pengunjung berfoto dengan binatang bawaannya lalu nanti diminta bayar.

Pertama melihat mereka di Pantai Losari sekitar 10 tahun lalu, seorang lelaki yang membawa Binatang mengajak anak bungsuku untuk berfoto bersama hewannya. Saya pikir ajakannya sukarela. Eh, tahu-tahu dia minta uang 10 ribu rupiah padahal berfotonya pakai HP kami sendiri.

Sewaktu lagi duduk memperhatikan sekitar, saya perhatikan sosok lelaki yang membawa binatang itu mendekati sekelompok orang yang lagi duduk dan menawarkan foto bersama hewan bawaannya dengan bayaran 5000 rupiah. Asem, kenapa lebih murah penawarannya daripada 10 tahun lalu ya hahaha.

Pengunjung datang berkelompok ke Pantai Losari. Hanya saya dan ada seorang pemuda bermasker yang duduk tak jauh dari temaptku duduk yang duduk sendiri. Saya menyibukkan diri dengan tongkat selfie yang kubawa, sembari menghidari lelaki yang membawa hewan itu.

Kompasianer Makassar

Obrolan Sore di Pantai Losari

Akhirnya yang ditunggu tiba juga. Mas Uyuy (Nurulloh) dan Kak Alya keluar dari mobil Hiace berwarna abu-abu. Mas Uyuy masih terlihat sama saat saya melihatnya di acara Kompasiana 8 tahun lalu. Lelaki bermasker yang duduk sendiri juga mendekat … ooh rupanya dia juga kompasianer.

Begini ini kalau tak saling kenal. Kami ada di tempat yang sama sedari tadi tapi tak saling menyapa. Akhirnya kuketahui Namanya Ahmad Shadiq dan dia mendapatkan informasi tentang event Kompasiana dari informasi yang ku-share di grup WA kompasianer Makassar.

Tak lama kemudian, muncul seorang laki-laki dan seorang perempuan, keduanya kompasianer juga. Saya pun mengetahui nama dan profesinya: Pak Andi Samsu Rijal dan Ibu Sri Aminah ini dosen. Yang satunya dosen Sastra Inggris dan yang satunya dosen Pertanian. Wah, keren. Saya selalu kagum sama dosen yang suka menulis di luar bidangnya. Seorang lelaki mendekat, Namanya Pak Rabi tetapi dia hanya sebentar karena masih ada agenda lain.

Kami berenam berjalan kaki, menyusuri pantai, kearah utara sembari ngobrol. Kami menyeberang ke salah satu kedai pisang epe, di pertigaan jalan terdekat dari Masjid Anshar atau dikenal juga sebagai Masjid Kampung Maloku.

Masing-masing dari kami memesan pisang epe sepiring kecil beserta minuman, ditraktir oleh tim Kompasiana. Obrolan berlangsung hangat, mengalir, dan lancar padahal sebagian dari kami baru pertama kali bertemu dengan sesama kompasianer Makassar ini. Mungkin kami pernah menghadiri acara yang sama pada tahun 2018 atau pada tahun-tahun sebelumnya namun saat belum kenal satu sama  lain.

Monetisasi dengan Kompasiana, Tak Sekadar Menulis

Saya bergabung dengan Kompasiana sejak tahun 2011. Sejak saat itu, seingat saya setiap ada acara Kompasiana di Makassar, saya hadiri. Usai event, kami menulis dan tentunya ada insentifnya. Menyenangkannya, Kompasiana – bekerja sama dengan instansi atau brand – punya budget bagi kompasianer terpilih yang datang ke event Kompasiana.

Saya tak ingat lagi sudah berapa kali saya hadiri acara Kompasiana tetapi sejak wabah covid menghantam Indonesia, baru kali ini Kompasiana bikin acara lagi di Makassar. Jadi, saya punya banyak cerita juga yang bisa diobrolkan dengan tim Kompasiana sebab selalu saja terasa sensasi yang berbeda di Kompasiana.

Misalnya, saya bilang ke Mas Uyuy bahwa saya pernah dapat hadiah HP dari Kompasiana. “Hadiah lomba atau door prize?” tanya Mas Uyuy. “Seingat saya door prize,Mas Uyuy,” jawab saya.

Bahkan bukan hanya saat ada event saja saya dapat fee dari Kompasiana. Berkali-kali saya ikut campaign di media sosial. Tapi jangan  dikira mudah ya, begitu daftar langsung bisa monetisasi. Tetap kita harus cukup sering menulis di Kompasiana dan akun media sosial kita dianggap layak untuk menerima job dari Kompasiana baru bisa dapat job.

Saat sedang menunggu pesanan pisang epe datang, seorang kompasianer muncul. Beliau Acek Rudy. Acek Rudy (Om Rudy) rupanya tidak termasuk kompasianer yang registrasi event tanggal 17 itu tetapi dia berkenan datang dan ngobrol bersama kami. Acek Rudy sudah saling kenal dengan Ibu Sri dan Pak Andi Samsu karena  mereka penggemar fiksi. Dari Pantai Losari, usai magrib kami bergerak ke Restaurant & Seafood Saudara, ditraktir oleh Acek Rudy.


Kompasianer Makassar Kopdar

Obrolah hangat terus berlangsung di sela-sela kegiatan makan seafood, seolah semuanya sudah lama saling kenal. Begini nih  menyenangkannya bertemu sesama peminat aktivitas menulis karena biasanya kami sefrekuensi – saat ngobrol, bisa mengalir dengan lancar dan hangat.

Demikian cerita saya dengan  Kompasiana. Belasan tahun sudah berlalu sejak pertama kali saya bergabung dengan Kompasiana dan sekarang Kompasiana tetap bertahan, bahkan makin eksis. Tentunya kerja keras tim Kompasiana di balik layar sangat berpengaruh terhadap eksistensi ini. Salut dan bangga. Semoga Kompasiana terus bertahan dan memotivasi kami untuk tetap menulis. Terima kasih Mas Uyuy, Kak Alya, dan Acek Rudy.

Makassar, 23 September 2026

Oya, ini akun Kompasiana saya. Klik jika ingin membaca tulisan-tulisan yang ada di sana:

https://www.kompasiana.com/mugniar





Share :

0 Response to "Kehangatan dan Keseruan Pertemuan Kompasianer 2026"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^