Bukan Hendak Menyesali - Penyesalan tidak maksimal mendampingi ibunda sewaktu sakit hingga menemui ajal diceritakan oleh seorang ibu ketika kami pertama kali bertemu dalam suatu kesempatan. Saat itu, ada 4 orang berada dalam sebuah ruangan yang sama. Percakapan kami sudah sefrekuensi, khususnya membahas soal kesehatan. Angle yang kami berempat miliki dalam topik itu sudah bisa dibilang selaras.
Saya katakan dia tidak perlu merasa menyesal karena memang
sudah skenario Yang Maha Kuasa, terlebih ibunya tinggal di pulau lain. Kami juga punya
pengalaman yang unik terkait hal tersebut. Saya sendiri merasa kurang maksimal
mendampingi kedua orang tua, lalu ibu mertua sampai mereka berpulang.
Flash back ke masa sekitar 10 tahun yang lalu. Ibu mertua pernah
mengidap kanker paru sekaligus serangan jantung sehingga harus dirawat di ruang
ICU selama 30 hari, setelah sebelumnya dirawat di kamar inap di rumah sakit
berbeda selama 10 hari. Waktu itu suami menjaga ibundanya dan hanya pulang 2
kali, itu pun tidak menginap. Saya ikhlaskan karena memang bakti terbesar dia
pada ibundanya mutlak berupa kewajiban. Sebagai istri, saya harus mendukungnya.
Oya, jika ingin membaca kisah itu, saya mengabadikannya ke dalam tulisan-tulisan
ini:
- Testimoni BrainKing: Membaik Pasca Serangan Jantung Ketiga
- Testimoni BrainKing: Kesadaran dan Kemampuan Komunikasi yang Membaik Pasca Serangan Jantung Ketiga
- Merindu Sang Pembuat Telur Mata Sapi Gepeng
- Kisah Sakitnya Ibu Mertua di Bulan Ramadan
Singkat
cerita, masa-masa sulit ibu mertua terlewati dan beliau sehat walau tentunya
kondisi tubuhnya tidak benar-benar kembali seperti sebelum sakit. Setelah itu
beberapa kali beliau masuk rumah sakit ketika kondisi tubuhnya benar-benar drop
atau terlalu kelelahan.
Congestive heart failure – istilah
sakit jantung yang diderita ibunda ternyata tidak selalu dipantau saat beliau
masih tinggal di Kota Parepare. Beliau tidak pernah merasa menderita sakit
jantung dan pernah kena kanker paru-paru karena selama sakit yang 40 hari itu
beliau lebih banyak tidak sadarkan diri. Segala upaya penyembuhan dengan herbal
dan doa – melengkapi upaya medis ditelateni oleh suami saya. Saat tinggal
bersama kami dua tahun belakangan, sebelum beliau berpulang, suami senantiasa
membawa ibundanya untuk kontrol ke dokter ahli jantung.
Mungkin
ada yang tidak percaya kalau kami bilang ibu mertua terbebas dari kanker paru
tanpa kemoterapi tapi itulah kenyataannya. Saat di ICU, secara bergantian,
pasien-pasien di ruangannya meninggal dunia. Allah memberi keajaiban itu pada
ibu mertua sehingga bisa keluar rumah sakit dan terus membaik. Kisah sembuhnya
beliau sering saya bagikan sebagai motivasi buat teman-teman yang juga mendapatkan
ujian kanker.
Bulan
April lalu, qadarullah ibu mertua
masuk rumah sakit lagi setelah kondisi fisiknya drop. Waktu itu yang menjaga di rumah sakit adik
ipar sekeluarga yang sedang liburan di Makassar. Peristiwa drop-nya ibu
mertua terjadi setelah mereka membawa ibu mertua bepergian dari satu kota ke
kota lain.
Memasuki
bulan Juni, kesehatan ibu mertua secara perlahan menurun. Demensianya drastis. Waktu
itu yang terpikirkan oleh kami hanyalah membawanya ke ahli saraf karena
prihatin dengan ingatannya yang menurun drastis. Ibu mertua sempat hanya
mengenali satu anaknya, yaitu suami saya.
Beliau
juga tidak ingat tinggal di mana, selalu
ingin keluar rumah atau “pulang” padahal
tempat pulangnya saat itu adalah kami karena memang sudah 2 tahun bersama kami.
Beliau mengalami kesulitan menemukan hubungan antar-kamar di dalam rumah dan
pernah menuju arah berlawanan dari rumah seusai salat di masjid, beruntung ada
tetangga yang melihat dan menuntunnya pulang ke rumah. Kenyataan lainnya, kesehatannya
juga menurun. Makin lama makin lemah. Hingga akhirnya dibawa ke IGD rumah sakit
pada 19 Juli.
Dua
hari sebelum meninggal, dokter menunjukkan riwayat pemeriksaan darah di
laboratorium pada bulan April lalu yang menunjukkan ginjal ibunda sudah tidak
baik-baik saja. Angka kreatinin dan ureumnya sudah cukup tinggi. Suami yang
menghadapi dokter kaget. Saya sedang berada di rumah saat itu, sedang mengurus
segala sesuatu yang hendak dibawa ke rumah sakit. Dikabari oleh suami hal itu
saja, saya kaget dan merasa tolol.
Saya
saja merasa bagai disambar petir, apalagi suami. Dokter bilang fungsi ginjal
ibu mertua tinggal 4 PERSEN. Agka kreatinin dan ureumnya melonjak sangat drastis!
Ya Allah … rasanya sangat konyol, sangat goblok kami tidak mengetahui hal itu
tetapi itulah kenyataannya. TIDAK ADA YANG MENYAMPAIKAN KEPADA KAMI HASIL
PEMERIKSAAN DARAH YANG MENUNJUKKAN GINJAL IBUNDA BERMASALAH! Entah di mana
putusnya informasi itu.
Pihak
rumah sakit pasti sudah menyampaikan kepada pihak keluarga karena hasil pemeriksaan
darah di laboratorium itu genting dan harus diketahui keluarga tetapi tidak tahu
siapa yang mendapatkan informasi itu. Tak ada yang mengaku mendapatkan
informasi!
Kami
bisa apa? Rasanya menjadi orang tolol di hadapan dokter yang mengatakan bahwa
informasi ini ada sejak bulan April. Kami tidak tahu apa-apa. Inginnya
berandai-andai … andai tahu maka kami akan fokus ke pengobatan ginjal ibu
mertua juga tetapi kami kan benar-benar tidak tahu. Kami hanya fokus di
pemeriksaan jantung dan saraf.
Tapi
sudah seperti itu skenario Allah.
Skenario Allah-lah yang terbaik. Saya tak ingin menyesali walau aneka
rasa sempat berkecamuk yang membuat saya ingin teriak keras-keras. Tugas ibu
mertua di dunia sudah selesai. Allah menginginkannya kembali tanggal 22 Juli
lalu. Beliau tak merasakan sakit lagi.
Sejujurnya,
saya masih ingin beliau kembali bisa menjalani kehidupan seperti dulu karena
sudah pernah melewati keajaiban selamat dari kanker paru dan serangan jantung
berkali-kali. Beliau sudah melewatinya, saya berharap Allah masih kasih
keajaiban lagi namun rupanya keajaiban itu tak ada lagi buat kami.
Skenario
Allah-lah yang terbaik. Allah menetapkan kami baru tahu kondisi ibu mertua
gagal ginjal dua hari sebelum beliau berpulang. Allah tak mengingkan kami tahu
jauh-jauh hari sebelumnya. Sungguh Allah Yang Maha Tahu. Allahummaghfirlaha
warhamha wa’afiha wa’fu’anha.
Makassar, 4 September 2026
Share :


0 Response to "Bukan Hendak Menyesali"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^