Senin Bersama Bapak

Tiba-tiba feeling blue. Entah sudah berapa puluh tahun yang lalu saya terakhir kali jalan berdua saja dengan bapak saya. Pada hari Senin kemarin, kami jalan berdua ke rumah sakit untuk menjenguk cucu keponakan Bapak yang dirawat dan dengan begitu saja, aneka kenangan dengannya mengemuka pada sepanjang perjalanan kami.

Situasi mendukung kenangan-kenangan itu muncul. Biasanya kami jalan bertiga. Ada Ibu, saya dan Bapak[1]. Kalau kami jalan bertiga, percakapan pasti dan tak terpungkiri, didominasi oleh Ibu yang sangat sangat talkative orangnya. Jadinya ya saya dan Bapak diam saja.


Nah, saat jalan bersama Bapak, kami sesekali ngobrol dengan driver Go-Car. Bisa Bapak yang aktif, lalu bergantian saya lagi yang aktif. Kami bercakap-cakap mengenai bagaimana perkembangan Go-Jek di Makassar. Saya juga menceritakan pengalaman saya sewaktu dibentak driver Go-Ride.

Percakapan tak selalu terjadi. Ada jeda-jeda yang membuat kami berdiam diri. Nah, saat berdiam diri itulah ingatan-ingatan tentang Bapak mengemuka.

Mulanya ketika kami berjalan kaki dari rumah ke toko kue di jalan besar sana. Dari rumah ke sana kira-kira jaraknya 350 meter. Kalau ada Ibu, tak akan pernah terjadi kami berjalan kaki seperti ini. Dengan Bapak, menjadi mungkin saja dan sepanjang jalan kami lebih banyak berdiam diri.

HP-nya dipakai mengaji. Ada SIM card-nya tapi kalau
ada yang telepon, HP-nya ndak diangkat hehe,

Mungkin kalian bingung ya. Maklum saja. Bapak orangnya sangat pendiam. Suaranya kecil, lebih kecil daripada suara saya malah. Kalau saya masih bisa berteriak, Bapak tidak berteriak. Bapak bukan tipikal orang yang suka memulai pembicaraan tapi bukan berarti beliau tak bisa.

Kalau dengan driver taksi online, beliau sering mendahului percakapan tapi biasanya sih tak lama berlangsungnya. Haha ini mirip saya yang sebenarnya ndak terlalu suka ngobrol banyak tapi bisa mendahului pembicaraan di kondisi tertentu. Makanya kami bisa “saling mengisi” percakapan dengan pak sopir.

Saat kehabisan bahan dan kami semua terdiam, memori-memori itu bermunculan lagi. Bagaikan film hitam-putih yang diputar dalam ingatan. 


Teringat ketika orang-orang mengatakan bahwa dalle' (rezeki) orang tua saya bagus karena wajah saya mirip Bapak. Katanya kalau anak perempuan mirip ayahnya itu bagus. Begitu pun sebaliknya, kalau anak lelaki mirip ibunya. Wallahu a'lam. Tapi mendengar ini saja, dulu sudah membuat saya senang.

Teringat kalau orang menyebut beliau "papanya Niar" – hanya saya, bukan adik-adik saya haha, kesenangan receh pun timbul di hati saya. Tahu kan kalau orang-orang suka menyebut nama anak pertama untuk menyebut orang tuanya sampai-sampai adik merasa cemburu. Teringat bagaimana kebisaan beliau memasak dan memperbaiki barang rusak.

Bapak bersama Alif dan Yudil, cucu-cucu keponakannya

Teringat juga ketika Bapak yang mengajariku mandi wajib saat haid pertama kali. Juga bagaimana beliau mengajarkan saya menyeterika rok biru saat menjadi siswi baru di SMPN 6. 

Lalu terlintas ingatan ketika saya menolak nama yang diusulkannya untuk sulung saya karena saya tidak sreg dengan nama itu dan karena saya berprinsip bahwa pemberian nama adalah otoritas saya dan suami karena kami yang akan mengarahkan anak-anak kami sesuai namanya nantinya.

Banyak moment bermunculan silih berganti hingga ketika mengetikkan ini pada perjalanan pulang. Film hitam putih itu terputar terus sampai-sampai pandanganku mengabur tersebab ada titik-titik air yang menghalangi. Tentang bagaimana senangnya beliau ketika melihat nilai rapor saya bagus. Juga ketika mengingat moment-moment lain ketika beliau kecewa karena saya tak memenuhi asanya.

Pak, maafkan saya kalau menyayangi kita’ dengan cara saya bukan dengan cara yang Bapak inginkan. Maafkan saya yang masih sering mengecewakan pada perbedaan pendapat di antara kita. Baarakallahu fiik, Pak. Sehat-sehat terus ki' nah, menuju usia kepala 8.

Makassar, 6 Februari 2019

Baca juga tulisan-tulisan lain tentang bapak saya:




[1] Saya tak konsisten dalam menyebut bapak saya dalam tulisan-tulisan yang ada di blog ini. Saya biasa menyebutnya AYAH, kali ini saya menyebutnya BAPAK padahal sehari-harinya saya menyebutnya PAPA. Penyebutan ini dimaksudkan untuk membedakannya dengan sapaan kepada suami saya. Pak suami saya panggil PAPA atau KAK soalnya. Oiya, biar kelihatannya mirip judul buku SABTU BERSAMA BAPAK 😀



Share :

11 Komentar di "Senin Bersama Bapak"

  1. Semoga panjang umur ya pak memasuki usia kepala 8.

    ReplyDelete
  2. Aku baru denger sekarang ini deh kalau anak perempuan yang wajahnya mirip sama ayahnya itu rezekinya bagus

    ReplyDelete
  3. Sehat selalu ya mbak bapaknya, semoga panjang umur

    ReplyDelete
  4. Haha iya juga sih mbak terkadang memang orang lain menyebut nama ayahnya dengan sebutan nama pertama anaknya :D

    ReplyDelete
  5. Semoga panjang umur ya pak. Semoga sehat selalu hehe

    ReplyDelete
  6. Sehat selalu buat bapaknya mba..dan diberkahi umurnya

    ReplyDelete
  7. Semoga sehat selalu bapaknya mbak.. Saya jadi ikut baper mbak..

    ReplyDelete
  8. Kl bc cerita ttg bpk sy slalu sedih.. Soalnya sdh lama tiada.. Bersyukur msh bs berkumpul mba 😥😥

    ReplyDelete
  9. Versi lain dari sabtu bersama bapak. Aku senin bersama siapa yah ?

    ReplyDelete
  10. Kebersamaan bersama ortu tidak akan terganti

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^