Peran Orang Tua dan Pornografi dalam Gadget

Nyi Mas Diane W.S. (Mbak Di), psikolog yang juga menduduki posisi sebagai Ketua organisasi IPARENT (Ikatan Praktisi dan Ahli Parenting Indonesia) ini menjadi nara sumber kedua pada Talkshow Pendidikan Orang Tua Hebat – Mendorong Sekolah Ramah Anak, Solusi Cerdas Optimalkan Potensi Anak di Era Milenial. KerLip (Keluarga Peduli Pendidikan) berhasil mendatangkan perempuan berusia 42 tahun asal Jawa Barat yang sudah menjadi nara sumber pada lebih dari 200 perusahaan, 300 sekolah, dan lebih dari 6000 orang tua. Peran Orang Tua dan Pornografi dalam Gadget menjadi bahasan awal pada presentasinya kali ini.


Pembicara di segala macam seminar terkait parenting dan motivasi parenting di dalam dan luar negeri yang diselenggarakan oleh berbegai institusi dan instansi ini membawakan presentasi yang berjudul Mendidik Anak di Zaman Sekarang (Mengoptimalkan Potensi Anak di Era Digital) pada talkshow yang berlangsung 1 Juli lalu di aula Sekolah Islam Athirah, jalan Kajaolalido. Tulisan ini merupakan lanjutan dari 3 tulisan sebelumnya: Talkshow KerLip untuk Orang Tua Hebat di Jaman Now, Pantaskan Diri Menjadi Orang Tua dengan Mempelajari Perkembangan Jaman Now, dan Tips Agar Anak Aman Menggunakan Gadget.

Perempuan yang juga menjadi Koordinator khusus pengembangan Sumber Daya Manusia dari Yayasan Bhakti As-Diraa ini memulai pemaparannya dengan menjelaskan mengapa orang tua perlu belajar sungguh-sungguh menjalani perannya. “Ilmu kita untuk mengasuh anak, serba tanggung. Kita terlalu banyak menggunakan kata ‘jangan’ dan kata-kata negatif lainnya,” ucapnya.

Dalam sehari, seorang anak bisa saja menerima ratusan kata JANGAN dan negatif padahal seharusnya anak menerima kata-kata positif, mengingat manusia itu 80 persennya terdiri atas air. Sebagaimana air, manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya (penelitian Dr. Masaru Emoto). Kalau stimulasi yang diterimanya negatif maka negatiflah dia. Jika dia senantiasa menerima stimulasi positif maka positiflah dia.


“Ilmu yang setengah-setengah berujung pada false belief (keyakinan yang salah). Akibatnya, orang tua tidak memiliki kemampuan berpikir,” ucap psikolog yang juga menduduki posisi sebagai Ketua Umum Yayasan Alumni Lemhannas Provinsi Banten ini. Dengan alasan merasa tidak mampu, banyak orang tua menitipkan anaknya ke pihak lain. False belief akibat ilmu yang serba tanggung dapat menjadi pembenaran bersama atas keputusan orang tua yang keliru.

Sayang sekali sebenarnya karena orang tua merupakan terapis terbaik bagi anak dan benar-benar maksimal pada 5 tahun pertama kehidupan anak-anaknya. Waktu untuk meletakkan pondasi yang kuat adalah pada 5 tahun pertama usia anak. Bukannya setelah itu tak bisa namun effort-nya harus jauh lebih kuat. Anak membutuhkan 80% waktunya untuk pembentukan karakter di rumah dan 20% di lingkungan.

Orang tua jangan mudah merasa pintar sebab begitu merasa pintar maka tertutuplah pembelajaran baginya. Mbak Di mengatakan, ibarat gelas yang penuh, tidak bisa menampung air lagi.

Betapa kita disiapkan menjadi seorang AHLI namun tak disiapkan menjadi ORANG TUA sehingga dari kita banyak yang tak memiliki KESABARAN dan ENDURANCE untuk menjadi orang tua (Nyi Mas Diane W. S.)

Selanjutnya, Mbak Di mengajak hadirin merenungkan, apakah yang sebenarnya dibutuhkan anak?

Benarkah anak butuh gawai (gadget)?

Video lagu HANYA SATU yang dibawakan oleh Mocca diputarkan oleh Mbak Di, mengajak kita untuk merenungkan jawaban dari pertanyaan itu.

Mocca: Hanya Satu


Setelah mendengar lagu yang melelehkan air mata ini, setujukah kita apa yang sebenarnya anak butuhkan menurut lagu ini? PELUKAN! “Sudahkah memeluk anak, istri/suami kita hari ini?” tanya Mbak Di.

Yes, ibu adalah sekolah pertama. Tapi ingat, ayah adalah kepala sekolahnya. Peran ayah yang tak hadir dalam keluarga bisa menyebabkan penyimpangan seksual pada anak. Ayah yang tak segan memeluk anak lelaki dan perempuannya akan membantu si anak punya pandangan yang wajar tentang lelaki dan peran ayah. Pelukan akan meningkatkan hormon oksitosin.

Ada yang belum pernah dengar apa itu hormon oksitosin atau hormon CINTA? Apa itu hormon oksitosin? Dari website alodokter[1], saya share ke sini pengertiannya, ya:
Penelitian baru-baru ini mulai menyelidiki peran oksitosin dalam berbagai tingkah laku manusia, seperti orgasme, kedekatan sosial, dan sikap keibuan. Untuk alasan ini, hormon oksitosin terkadang dianggap sebagai hormon cinta. Dampak oksitosin pada tingkah laku dan respons emosi juga terlihat dalam membangun ketenangan, kepercayaan, dan stabilitas psikologi.

Perkembangan zaman sekarang membuat pemandangan masing-masing orang sibuk dengan gadget terlihat di mana-mana. Termasuk ketika seorang ibu berada dekat anaknya. Berdasarkan data APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia), ibu rumah tangga berkontribusi sebagai pengguna internet tertinggi keempat di Indonesia. Pemakaian benda ini berpotensi menjauhkan ibu dengan anaknya.

“Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu,” Mbak Di mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib. Yes, setuju, kan kalau zaman berubah. Zaman kita kecil dulu berbeda dengan zaman ketika orang tua kita kecil. Begitu pun zaman kita berbeda dengan zamannya anak-anak kita.

“Setiap perubahan meskipun perubahan yang lebih baik, pasti ada ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan itulah yang harus diadaptasi menjadi kenyamanan,” pungkas Mbak Di.

Contohnya apa? Kalau anak kita punya akun Instagram dan Facebook, follow-lah dan bertemanlah dengannya di dunia maya! Belajarlah seperti anak belajar. Anak main Counter Strike? Dampingi anak biar tahu molotov dan terorisme. Jangan biarkan main sendiri tanpa penjelasan. “Boleh kasih gawai tapi kasih imun,” tandas Mbak Nyi Mas Diane.


Bahasan pornografi di internet bisa diperoleh dengan harga murah. Kalau orang tua tak punya kedekatan emosional dengan anak, membiarkan anak mengerjakan PR membuka internet tanpa mengawasinya maka pornografi secara agresif merasuki anak. Mbak Di memberikan contoh, untuk kata JANGKRIK saja bisa keluar gambar seronok. Satu contoh lagi diperlihatkan Mbak Di, yaitu surat seorang anak sekolah dasar yang memesan game animasi GTA 5 seharga Rp. 800.000 padahal game itu penuh dengan adegan seksual dengan PSK.

Indonesia darurat pornografi! Setelah pornografi kemudian dilanjutkan dengan prostitusi, bonusnya HIV/Aids! Simak kelanjutan Peran Orang Tua dan Pornografi dalam Gadget di tulisan berikutnya.

Makassar, 10 Juli 2018

Bersambung

Baca juga tulisan-tulisan sebelumnya:
  1. Talkshow KerLip untuk Orang Tua Hebat di Jaman Now
  2. Pantaskan Diri Menjadi Orang Tua dengan Mempelajari Perkembangan Jaman Now
  3. Tips Agar Anak Aman Menggunakan Gadget


Juga tulisan-tulisan berikut ini:


Catatan kaki:


[1] Sumber: https://www.alodokter.com/hormon-oksitosin-hormon-cinta-di-dalam-kehidupan-manusia



Share :

13 Komentar di "Peran Orang Tua dan Pornografi dalam Gadget"

  1. GTA mah parah beud, bukan buat anak, malah buat dewasa juga gimana gtu ya, aku juga sekarang lg berusaha komunikasi sama anak dgn lebih baik lagi, salah satunya rajin meluk anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih, ya. Kalau orang dewasa yang main rasanya tetap saja salah, apalagi anak-anak.

      Betul, Mbak. Saya juga terus belajar. Sama yang anak cowok sulung yang SMA juga masih mencoba menyentuhnya secara fisik, paling kurang dielus-elus kepalanya, dia suka :)

      Delete
  2. YA Alloh terimakasih banyak artikelnya bermanfaat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir ya Mbak Nisa

      Delete
  3. Orang Tua memang berperan penting dalam mengawasi anak dari bahaya pornografi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, benar. Peran paling besar ada pada orang tua.

      Delete
  4. Banyak quotes yang ngena banget di hati dalam artikel ini

    ReplyDelete
  5. Bagus banget ada seminar parenting seperti ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Alhamdulillah berkesempatan hadir.

      Delete
  6. Setuju banget untuk mendidik anak sesuai zamannya

    ReplyDelete
  7. Ngeri banget ya zaman sekarang. Anak anak kasian. Anaknya dikasih gadget ubunya jg maen gadget. Pie toh yo. Udah gitu anak skrg malah lbh ngerti gadget drpd emaknya. Orgtua gmn mau ngawasin anaknya. Ckck masih kecil jgnlah kasih gadget.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^