Cara Menjalani Peran Sebagai Orang Tua Jaman Now

“Indonesia tidak hanya darurat narkoba tapi sudah darurat pornografi karena belanjanya sudah lebih dari 50 triliun per tahun. Awalnya pornografi, kemudian dilanjutkan dengan prostitusi, bonusnya HIV/Aids dan itu berawal dari satu ujung telunjuk anak-anak Anda dan Anda nggak sadar itu. Begitu ada anak yang kecanduan dalam keluarga yang laku adalah kobokan dan kambing hitam. Suami-istri cuci tangan dan menunjuk kambing hitam,” Mbak Di menjelaskan lebih lanjut pemaparannya tentang peran orang tua di jaman now.

Pemaparan tersebut disampaikannya pada Talkshow Pendidikan Orang Tua Hebat – Mendorong Sekolah Ramah Anak, Solusi Cerdas Optimalkan Potensi Anak di Era Milenia. Penyelenggara talkshow ini adalah KeLip (Keluarga Peduli Pendidikan) – KerLip adalah sebuah gerakan yang melibatkan banyak pemerhati pendidikan di seluruh Indonesia. KerLip terbentuk tahun 1999 ini dan sejak tahun 2016 bermitra dengan Pembinaan Pendidikan Keluarga (Bindikkel) Direktorat Jendral PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan Nasional.


Apa dampaknya jika anak tak mendapatkan imun bagus dari orang tuanya dan memainkan gawai sebelum baligh? Anak bisa mengalami pubertas di usia yang sangat dini. Mimpi basah bukan lagi saat tidur malam di usia belasan, melainkan ketika melihat tayangan/gambar aurat perempuan.

Main dengan anak untuk mengasuh dan mengasihnya (asuh dan asih). Asih kepada anak menimbulkan rasa aman, nyaman, dan tenteram. Lima tahun pertama jauh lebih mudah melakukan character building, juga supaya anak tak kerdil (stunting), dan sinapsisnya tak rontok.

Pada setiap bagian otak, terdapat jutaan neuron yang saling terhubung lewat sinapsis. Anak-anak memiliki sekitar 1016 sinapsis (10 quadrillion). Jumlah ini berkurang seiring bertambahnya usia. Orang dewasa memiliki 1015 sampai 5 × 1015 (1-5 quadrillion) sinapsis[1].


Game kekerasan membuat tubuh tegang dan mengeluarkan hormon kortisol[2] dan adrenalin[3] yang bisa merontokkan sinapsis. Sekadar menggambarkan, jika sinapsis berkurang maka fungsi mental berkurang, seperti daya ingat kurang, kapasitas belajar kurang (Santoso dan Yanti, 2004)[4]. Di samping itu, kata-kata negatif dan omelan pun dapat merontokkan sinapsis. Sinapsis yang rontok tidak bisa diperbaiki karena terjadinya satu kali seumur hidup.


Mbak Di mengingatkan bahwa waktu tidak bisa berulang. Usia tidak ada yang tahu. Menyalahkan anak hanya berarti mengarahkan lebih banyak jari kepada diri sendiri. Siapa yang sebenarnya tak becus?

Anak lahir dalam keadaan fitrah. “Mengisi kejiwaan anak kita harus di-detox dengan nilai-nilai Pancasila. Ketuhanan, tanamkan konsep dasar ketuhanan kepada anak sejak kecil. Ajarkan anak menjaga pandangannya, menjaga otaknya. Begitu Anda tidak bisa ajarkan anak untuk jaga otaknya, anak Anda tidak akan bisa jaga kemaluannya. Jaga pandangan, jaga otaknya, jaga kemaluannya. Mengajarkan anaknya bukan sekadar bisa tapi menyukai apa yang kita bagikan kepada anak. Jangan kosong sekali saat masukin anak ke sekolah. Harus isi otak anak dengan hal-hal bermanfaat sesuai nilai-nilai Pancasila. Yang kedua – kemanusiaan, Anda adalah makhluk individu dan makhluk sosial, bukan makhluk media sosial. Menyongsong 2045, kita butuhkan itu. Bersatu walaupun kita beda-beda,” papar Mbak Di.


Mengenai sila kedua ini, lebih lanjut psikolog yang bernama lengkap Nyi Mas Diane Wulan Sari ini menjelaskan bahwa bangsa kita besar, memiliki tujuan rakyat makmur, sejahtera. Anak kita harus punya cara pandang, cara berpikir, dan cara berperilaku yang berbeda. Anak punya JATI DIRI, DI MANA INDONESIA. Banyak anak kita yang tak tahu dan tak punya jati diri di keluarga, bangsa, dan masyarakat. Ini namanya revolusi mental, perubahan itu dari diri sendiri dan dari keluarga. Tantangan yang terbesar adalah kekerasan, narkoba, pornografi, radikalisme/terorisme. Itu yang namanya proxy war, perangnya tersembunyi. Dampaknya lebih parah daripada perang militer. Untuk merusak suatu bangsa, tidak perlu meledakkannya. Cukup rusak otak, mental, dan jiwa anak-anaknya.


Ketahanan pribadi dan ketahanan keluarga menjadi tumpuan ketahanan nasional. Manusia adalah makhluk yang bisa beradaptasi dengan perubahan. Orang tualah kuncinya. Mbak Di membagi konsep untuk menjadi orang tua jaman now:
  1. Menanamkan konsep dasar Tuhan (sesuai keyakinan masing-masing). Pancasila mengajarkan nasionalisme, bukan liberalisme, juga bukan atheisme.
  2. Wajib belajar sejarah kebangsaan. Jangan sampai anak jaman now tidak tahu sejarah bangsanya.
  3. Menghadapai era digital, persiapkan anak menghadapi masa pubertasnya. Berikan pemahaman tentang “Kespro” (kesehatan reproduksi) – seks dan seksualitas. Ini tugas orang tua, bukan tugas guru.
  4. Persiapkan anak menghadapi Revolusi Industri jilid 4. Tak ada rahasia antara anak dan orang tua. Anak dan orang tua bebas saling buka handphone masing-masing (hayo, berani, ndak? 😆, saya, sih berani 😇). Pastikan tidak ada rahasia. Tidak ada pornografi di HP orang tua. “Jangan harap anak bebas masalah kalau orang tuanya bermasalah,” tandas Mbak Di. Perhatikan aplikasi bantuan seperti yang disampaikan oleh Pak Amal Hasan pada materi sebelumnya. Kalau belum proteksi anak tetapi sudah telanjur memberikan HP, diskusikan dengan anak dampak positif dan negatif gadget. Sampaikan pula kasus-kasus tekait gadget sebagai contoh dampak negatifnya.
  5. Sadar hukum. Sampaikan kepada anak mengenai UU Nomor 19 tahun 2016 sebagai perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 terkait apa saja yang boleh dan tidak boleh di-share di internet.
  6. Orang tua menjadi teladan buat anak. Percuma disekolahkan kalau role model-nya tidak baik.
  7. Otak dan badan cuma satu, rawatlah sebaik-baiknya.

Secara garis besar, peran orang tua kepada anak ada 3: ASUH, ASIH, dan ASAH. ASUH adalah memenuhi kebutuhan nutrisi, imunisasi, kebersihan diri dan lingkungan, pengobatan, dan bermain. ASIH adalah Menciptakan rasa aman, nyaman, mendapatkan perlindungan dari pengaruh yang kurang baik dan tindak kekerasan. Sedangkan ASAH adalah melakukan stimulasi (rangsangan dini) pada semua aspek perkembangan.


“Mulainya kapan? Sekarang? Mau commit, nggak?” tanya Mbak Di kepada hadirin di aula Sekolah Islam Athirah saat itu. Tidak ada jalan lain, memang harus berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Menjadi orang tua hebat di jaman now harus benar-benar action, bukan sekadar MAU di bibir saja dan keluar dari talkshow seperti sedia kala. Tantangan besar juga buat saya 😌.

Makassar, 11 Juli 2018

Bersambung

Baca juga tulisan-tulisan sebelumnya:
  1. Talkshow KerLip untuk Orang Tua Hebat di Jaman Now
  2. Pantaskan Diri Menjadi Orang Tua dengan Mempelajari Perkembangan Jaman Now
  3. Tips Agar Anak Aman Menggunakan Gadget
  4. Peran Orang Tua dan Pornografi dalam Gadget


Juga tulisan-tulisan berikut ini:





[1] Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Sinapsis

[2] Hormon kortisol atau juga dikenal secara luas sebagai hormon stres, karena hormon ini akan diproduksi lebih banyak saat tubuh mengalami stres, baik fisik maupun emosional. Dari: https://www.alodokter.com/5-fakta-hormon-kortisol-yang-wajib-dibaca.

[3] Hormon adrenalin merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan beberapa neuron pada sistem saraf pusat. Saat-saat krisis, marah, stres, tertekan, atau takut bisa memicu dilepaskannya hormon yang bernama lain epinefrin ini. Dari: https://www.alodokter.com/hormon-adrenalin-berbahaya-jika-berlebihan-atau-kekurangan

[4] Saya kutip dari halaman 115 buku Defisiensi Yodium, Zat Besi, dan Kecerdasan.



Share :

9 Komentar di "Cara Menjalani Peran Sebagai Orang Tua Jaman Now"

  1. Materinya sangat bagus dan sangat bermanfaat bagi para orang tua dalam memberikan pemahaman dengan cara yang benar, semoga dengan pembekalan yang cukup bagi para orang tua akan dapat menjadikan generasi muda Indonesia menjadi generasi emas

    ReplyDelete
  2. saya mi ini orangtua yang gak sabaran hiks...
    terimakasih tulisannya kak Niar
    bacaini saya jadi merasa gak ketinggalan eventnya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun merasa harus selalu belajar, Qiah. Orang tua tidak boleh berhenti belajar karena anak2 kita berkembang terus. Akan berbeda setiap harinya tantangan yang dihadapi.

      Delete
  3. Kalau sudah kejadian, orang lain cuma bisa nyinyirin belum tentu mau bantu cari solusi. Sebuah tantangan memang jadi orang tua zaman now, semoga kelak saya bisa jadi orang tua bijak.

    ReplyDelete
  4. Cocoklah itu kalau dikatakan bahwa Rumah tangga adalah sekolah kehidupan, karena di sanalah kita akan mendapatkan banyak sekali pelajaran. Tinggal kita saja apakah mampu memetik hikmahnya atau tidak?

    ReplyDelete
  5. Ini dia event yang sayang banget saya gak bisa hadir.
    Walopun di atas cukup memusingkan dengan istilah-istilah ilmiah, tapi intinya kita ortu harus mempersiapkan anak sejak masih kecil untuk menghadapi dunia yang luas ini. Saat mereka beranjak remaja pun harus tetap didampingi dalam segala aktifitasnya. Jangan sampai kita lengah dan anak masuk dalam pergaulan yang salah.

    ReplyDelete
  6. Makasih sharenya ya Niar. Ini sangat bermanfaat. Akan saya share juga ke teman2 sebab ini penting diketahui banyak orang. Menjadi orang tua jaman now itu berat ya tetapi harus bisa.

    ReplyDelete
  7. ngeri dan rawan jg yah perkembangan anak jaman now. semoga nnti saya bisa jadi org tua yg baik dan bisa melindungi anak-anak sy kelak.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^