Inspirasi Menabung dari yang Sepuh

Belum lama ini, beredar di time line saya cerita inspiratif dari mereka yang sudah sepuh dan berhasil menunaikan ibadah haji berkat menabung sekian lama. Ada kisah suami-istri penjual es tebu asal Jombang, Abdul Chamid (59) dan Muclisisah (51) yang berhasil menabung selama 14 tahun untuk beribadah haji.

Inspirasi menabung, sumber: fan page LPS

Inspirasi dari yang Sepuh


Warga Dusun Kembeng, Desa Kepuhkembeng, Jombang ini gigih menabung meski nilainya tak menentu dan tidak terlalu besar setiap harinya. Ada kalanya Rp. 500, Rp. 1.000, Rp. 5.000, Rp. 10 ribu, atau Rp. 20 ribu mereka sisihkan setiap harinya demi impian ke tanah suci. Penghasilan sebagai penjual es tebu tidak menentu namun rata-ratanya dalam sehari hanya mendapatkan penghasilan bersih sebesar Rp. 60 ribu. Sementara di hari libur, keuntungannya mencapai Rp 100-125 ribu.

Ada pula kisah Marsiyem – nenek penjual bunga yang mampu menabung dengan gigih tiap harinya hingga selama 20 tahun meski tidak besar, sekira Rp. 20 ribu. Hasil menabung Nenek Marsiyem yang berasal dari Blitar selama 20 tahun ini berhasil membawanya menunaikan ibadah haji pada usia 90 tahun.

Inspirasi dari Ibu Mertua


Sebenarnya mendapatkan inspirasi menabung, tak perlu jauh-jauh. Saya mendengar ibu mertua menceritakan bagaimana dirinya menabung ketika bapak mertua tak lagi bisa bekerja karena sakit. Beruntung ibu mertua saya pegawai negeri yang masih bisa menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit. Motivasinya adalah agar kelak tak dipandang remeh oleh keluarga suaminya mengingat masih ada 3 anak yang harus dibiayai kuliahnya.

Ibu mertua, 73 tahun

Uang disimpannya di bawah kasur sehingga tiba masa ajal menjemput bapak mertua, segala tuntutan adat kebiasaan keluarga pihak suaminya bisa dikerjakannya. Tahu, kan, tiap wilayah punya kebiasaan tersendiri dalam menjalankan ritual sebelum penguburan. Bukan ritual yang bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diikuti ibu mertua – untuk yang satu ini beliau paham sekali karena latar belakang Muhammadiyahnya kental. Hanya saja, agar bisa sama-sama enak dengan pihak keluarga besar, ada saja hal-hal yang harus dibeli sebelum dan sesudah penguburan bapak mertua. Alhamdulillah, semuanya terlewati dengan baik dan singkat cerita ketiga anak beliau berhasil meraih gelar sarjana.

Inspirasi dari Kedua Orang Tua


Lebih dekat lagi, inspirasi menabung itu ada padai kedua orang tua saya. Ayah dan ibu saya bukanlah orang berada. Mereka hanyalah pegawai kecil. Hanya  saja tekad keduanya untuk menyekolahkan saya dan kedua adik saya hingga ke jenjang sarjana sangatlah besar. Ibu saya pernah kuliah di Fakultas Teknik Unhas (Universitas Hasanuddin) namun tak selesai. Ayah saya pernah diterima di jurusan Farmasi Unhas tapi tak bisa melanjutkan kuliahnya namun beliau kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Veteran hingga meraih sarjana muda – sebuah gelar sebelum level S1 yang ada saat itu. Alasan utama keduanya tak sampai ke jenjang adalah karena ketiadaan biaya. Orang tua keduanya tak mampu meyanggupi karena Nenek dan Oma sudah single parent dan mereka berdua ibu rumahan saja. Makanya tekad keduanya untuk meyekolahkan kami hingga sarjana sedemikian besar.

Saya dan adik saya diterima di Fakultas Teknik Unhas dan bisa membayar uang SPP kami dari hasil mencairkan asuransi pendidikan yang ditabung orang tua kami. Ketika pencairan, sisa uangnya dimasukkan lagi ke bank, dipakai untuk biaya kuliah kami. Singkat cerita saya dan adik perempuan saya berhasil meraih gelar Sarjana Teknik. Begitu pun adik laki-laki saya berhasil menjadi sarjana Informatika di ITS.

Ayah  (78 tahun) dan Ibu (75 tahun) berfoto bersama sepupu saya

Inspirasi dari mereka semua seharusnya membuat kita – terutama saya malu hati kalau tak bisa melaksanakannya. Bukan hanya hikmah menabung sebenarnya yang bisa dipetik dari keberhasilan mereka menabung, melainkan juga sifat menahan diri untuk membeli hal-hal yang tidak perlu. Menabung dilakukan untuk membiayai kebutuhan besar yang mendasar, seperti untuk beribadah haji dan untuk biaya pendidikan. Pelajaran lain yang bisa dipetik adalah jika fokus maka tujuan yang diinginkan bisa terwujud.

Menabung Lebih Aman dengan Lembaga Penjamin Simpanan


Menabung di bank di zaman now pun jauh lebih aman dibanding dulu. Sekarang sudah ada LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) – lembaga pemerintah yang menjamin uang para nasabah perbankan Indonesia, baik itu bank konvensional maupun bank syariah. Pada tanggal 22 September 2004, Presiden Republik Indonesia mengesahkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. Berdasarkan Undang-Undang tersebut, LPS, suatu lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya, dibentuk. Undang-undang ini berlaku efektif sejak tanggal 22 September 2005, dan sejak tanggal tersebut LPS resmi beroperasi[1].

Kriteria simpanan layak bayar di bank syariah. Sumber: media sosial LPS

Untuk bank konvensional, jenis produk simpanan yang dijamin LPS adalah: giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. Sementara di bank syariah, simpanan yang dijamin adalah dalam bentuk giro wadiah dan giro mudharabah, tabungan wadiah dan tabungan mudharabah, deposito mudharabah, dan simpanan lain yang ditetapkan LPS.

Banyak pilihan untuk menabung di bank sekarang, yah. Tidak perlu khawatir juga apabila tidak dikehendaki bank tempat menabung kita tahu-tahu dilikuidasi (seperti yang terjadi pada BPR Iswara Artha, BPR Akarumi Jakarta, BPR Budisetia (BDL) Jakarta, dan BPR Sambas Arta Jakarta belum lama ini) selama memenuhi kriteria tertentu, kita masih bisa mendapatkan kembali uang kita hingga sebesar 2 miliar rupiah!

Kriteria untuk bank konvensional adalah 3T: tercatat dalam pembukuan bank, tingkat bunga tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS, dan tidak melakukan tindakan yang merugikan bank (kredit macet). Sementara untuk bank syariah, kriteria yang dimaksud adalah: 2T, yaitu tercatat dalam pembukuan bank dan tidak melakukan tindakan yang merugikan bank (kredit macet).

Fakta unik LPS. Sumber: media sosial LPS

Menyenangkannya, secara umum masyarakat Indonesia kini makin sadar betapa berisikonya menyimpan uang di rumah - bisa kecurian hingga kebakaran, selain itu uang yang disimpan di rumah akan "dimakan" inflasi secara perlahan-lahan sehingga kita bisa makin miskin dan daya beli menurun.

Dari fan page Facebook LPS saya baca informasi bahwa per April 2018, total simpanan masyarakat di perbankan alias dana pihak ketiga (tabungan, giro dan deposito) mencapai Rp. 5.404,98 triliun tersebar di 254.122.064 rekening. Kalau dibandingkan sejak 2014 nambahnya banyak sekali, yaitu dari 160.881.757 rekening dan total jumlahnya Rp 4.168,55 triliun. Nah, dana pihak ketiga inilah yang dijamin oleh LPS. Tambahan lagi, pertumbuhan total simpanan dan rekening per tahunnya (April ke April) tercatat paling tinggi terjadi di April 2018, yakni sebesar 22,84% (penambahan rekening) & April 2015 sebesar 14,82% (total nominalnya). Wow, masyarakat Indonesia makin cerdas, ya. Seharusnya makin banyak yang berhasil atau angka kemiskinan bisa ditekan terus sehingga jika tiba saatnya menuai bonus demografi, bangsa kita sudah siap. Semoga.

Makassar, 30 Juli 2018

Yuk berkenalan dengan Lembaga Penjamin Simpanan di:
http://lps.go.id
Fan page Facebook: @LPS Indonesia
Twitter/Instagram: @lps_idic
You Tube: LPSIDICOfficial
Alamat: Equity Tower Lt 20-21,
Sudirman Central Business District (SCBD) Lot 9
Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53,
Jakarta 12190 , Indonesia
Nomor telepon layanan informasi: 021-5151 000



[1] Sumber: http://lps.go.id/web/guest/sejarah



Share :

27 Komentar di "Inspirasi Menabung dari yang Sepuh"

  1. Malu aku sebenernya mba. Orang2 di atas mampu ngumpulin sekedarnya hanya utk biaya haji. Walo lamaaa, tp terbukti bisa. Aku malah sampe skr daftar haji aja belum. Nabung sih fokus banget, tp tujuannya traveling, bukan haji :( . Jd ngerasa ditampar bacanya.. Thn depan aku harus bener2 persiapin dana utk daftar haji. Walo perginya msh ga jelas kapan, yf ptg daftar dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya Mbak, kalau bisa daftar dulu, kenapa tidak. Kalau tiba masanya namanya masuk daftar kan berarti sudah saatnya, ya ... itulah "panggilan Allah".

      Delete
  2. Aku terharu baca perjuangan beliau semua yang sudah sepuh dalam menabung. Saya masih kendor semangat nabungnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Ipeh. Mengharukan ... dan ... jadimalu sendiri.

      Delete
  3. Inspiratif pokonya, menabung sedikit demi sedikit akhirnya bisa menggapai impian, sip pokonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar .... begitulah inspirasi dari mereka

      Delete
  4. mantab inspirasinya mbak, bs dijadikan pelajaran nih hehe

    ReplyDelete
  5. iya mbak , kalau menabung itu manfaatnay banyak, tp banyak org menysihkan uang dr sisa pdhl seharusnya ditarget menabung berapa . Sy menagjarkan anak2ku yg sdh bekerja, target dulu awal bulan gajian bt ditabung dan yg lain buat kebutuhan sehari2, bukan sisa gaji yg ditabung bisa2 gak ada sisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menabung seharusnya dikhususkan disihkan dulu ya Mbak, bukannya dari sisa. Sip. Saya juga sebenarnya harus berusaha keras untuk itu. Terima kasih sudah berkomentar, Mbak Tira.

      Delete
  6. "Bukan hanya hikmah menabung sebenarnya yang bisa dipetik dari keberhasilan mereka menabung, melainkan juga sifat menahan diri untuk membeli hal-hal yang tidak perlu"

    Betul kadang ada saja godaan kalau mau ki menabung. Jadi, kadang saya kalau mau beli sesuatu harus pikir dua kali. Penting nggak sih ini? Atau butuh banget nggak sih? Kalau ndg terlalu penting dan ndg butuh2 banget ndg bakal saya beli kakak. 😁😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, harus dipikir masak-masak kalau tidak, bisa terjebak gaya hidup konsumtif :)

      Delete
  7. orangtua jaman dulu hebat ya bisa konsisten menabung bertahuan2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya Mbak. Mereka lebih bisa menabung dibandingkan generasi kita dan generasi jaman now.

      Delete
  8. Terharuku bacai kak.
    Menabungki saja banyak godaan, apalagi tdak menabung deh boros minta ampunma kodong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ddeh, jauh lebih banyak lagi godaannya, dih? :D

      Delete
  9. Inspirasi memang bisa datang dari siapa saja, tapi yang paling dekat sih dari ortu sendiri ya kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya yaa .... *harusnya saya sadar*

      Delete
  10. Masih ingat dulu sering nabung di clengan tanah atau plasti dan dalam bambu hehee... skg tdk lagi dong. Uangnya sudahnaman di bank 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya dulu dalam celengan kaleng hehe. Tapi sejak SD sudah ada sosialisasi dari bank dan mengajak para siswa untuk menabung

      Delete
  11. Kalau melihat perjuangan sepuh-sepuh itu menabung, saya jadi berpikir, gairah menabung muncul dari kesungguhan niat sepertinya. Karena sebanyak apapun kelehlbihan uang yang kita miliki tetap akan susah tertabung kalo kidak disertai kesungguhan menabung, begitu pun sebaliknya. Btw , as usual kak, sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ya Uga. Gaya hidup juga bikin orang sulit menabung, sebesar apapun penghasilannya.

      Delete
  12. Semoga tulisannya bisa menginspirasi yang lain juga ya, Mbak. Aamiin.
    Mampir ke blog saya ya. :)

    ReplyDelete
  13. Yang sepuh selalu punya cara untuk membagikan cerita dan pengalamannya

    ReplyDelete
  14. Lembaga Penjamin Simpanan, dari namanya saja sudah memberikan jaminan keamanan. Jadi kita tidak khawatir lagi kalau-kalau Bank yang dijadikan rekanan dilikuidasi. Sip

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^