Technology for Education, Education for Technology, Lalu Siapa atau Apa yang Lebih Cerdas?

Tak apalah, ya baru posting. Toh, materi yang saya tuliskan di sini masih up to date akhir-akhir ini. Kesibukan di dunia nyata membuat saya kesulitan untuk sering-sering menulis. Walau tak ada yang mewajibkan, rasanya masih ada ganjalan besar kalau belum saya tuntaskan. Hari ini, saya upayakan tulisan dari Seminar Pendidikan Nasional dan Talkshow bertajuk Technology for Education & Education for Technology: Literasi Penggunaan Medsos[1] untuk Indonesia Tanpa Hoax, Dirangkaikan dengan Launching Mobile Apps UNM yang saya hadiri pada tanggal 22 April lalu bisa saya selesaikan. Well, saya mulai saja, yah.


UNM yang Kekinian


Seminar itu diselenggarakan di Ruang Teater Menara Pinisi, Universitas Negeri Makassar (UNM). Selain topik materi yang memuat kata “anti hoax”, yang membuat saya penasaran adalah perkataan Ibu Dr. Chitra Rosalyn – dosen FIP UNM yang mengatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini murni dilakukan oleh mahasiswa. Dan seminar ini merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan Edu Fair Teknologi Pendidikan 2018. Wow. Saya suka mendatangi kegiatan seperti ini, supaya bisa ikut menyerap energi positif para muda yang kreatif!


Memulai acara, Dr. Abdullah Sinring, M.Pd – dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menyampaikan kesyukurannya, tentang 4 akreditasi A untuk Program Studi (Prodi) di FIP UNM. Dijelaskannya pula mengenai kegiatan Edu Fair ini sebagai bagian dari mata kuliah di Prodi Teknologi Pendidikan. “Kalau hanya kuliah dalam kelas, jenuh. Jadi mata kuliah ini dinamis dalam bentuk teori dan praktik. Mahasiswa juga praktik mengelola acara,” ungkapnya. Weh, andai yang kayak ini ada di zaman saya kuliah dulu, mungkin nilai saya tinggi. Waktu masih mahasiswi saya sempat berkelana jadi panitia dari satu seminar ke seminar lain.

Dr. H. Husain Syam, M.TP – rektor UNM mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, di zaman yang informasi benar pun membuat orang bertanya-tanya itu fitnah atau bukan, kegiatan ini perlu diselenggarakan. Disampaikannya pula mengenai UNM saat ini, yang dengan 31.092 mahasiswa, 98 program studi, 149 profesor (aktif sebanyak 82 orang), lebih dari 400 doktor, telah mencapai ranking 5 nasional dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Usai pembacaan do’a oleh Dr. H. Abdul Haling, M.Pd – Ketua Prodi Teknologi Pendidikan FIP UNM, Dr. Eng. Muhammad Agung – Direktur ICT UNM menyampaikan pendahuluan mengenai sesi berikutnya, yaitu peluncuran aplikasi mobile UNM, bekerja sama dengan Telkomsel yang dalam hal ini diwakili oleh Rudi Agung Setiawan – salah seorang general manager area Pamasuka (Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan).

Dr. Abdullah Sinring, M.Pd
Dr. H. Husain Syam, M.TP
Dr. H. Abdul Haling, M.Pd
Baru dua kampus di Indonesia tengah – timur yang menggunakan aplikasi mobile, yaitu Universitas Mulawarman dan UNM. Melalui aplikasi UNM ini, dosen, orang tua, dan mahasiswa bisa berinteraksi atau bertanya-jawab, bukan hanya satu arah. Ada media sosial juga di dalamnya sehingga bisa saling “berteman”. Melalui aplikasi ini pula direncanakan bisa upload disertasi ataupun hasil riset. Pengumuman tentang event yang akan berlangsung, nilai mahasiswa, dan informasi tentang organisasi juga bisa diperoleh dari aplikasi. Untuk menggunakannya, bisa diunduh dari Play Store (sementara masih hanya untuk Android). Walau hanya dari tempat duduk, saya senang menjadi salah satu orang yang menyaksikan uji-coba aplikasi ini.

Serah terima  aplikasi UNM secara simbolik dari Telkomsel kepada UNM

Are You Lost in The World?


Tak berlama-lama lagi usai peluncuran aplikasi UNM, pemateri pertama seminar nasional – Donny Budi Utomo – Tenaga Ahli Literasi Digital dan Tata Kelola Internet Kominfo RI dipersilakan oleh Dr. Chitra Rosalyn selaku moderator mempresentasikan materinya. Namanya sudah tak asing lagi bagi saya. Pegiat internet sehat yang merupakan pendiri ICT Watch ini juga seorang blogger di http://donnybu.com/ hanya saja sudah lama dirinya tak update blog.

Melalui presentasi berjudul Smarter than Smartphone, Donny menyampaikan beberapa hal mendasar yang terjadi di jaman now, di antaranya:

Menara Phinisi

Konvergensi teknologi.


Teknologi dirancang untuk melayani kebutuhan-kebutuhan yang terpisah-pisah tanpa ada gap. Teknologi membantu manusia? Iya!

Tidak terasa menghabiskan waktu.


Pemakaian internet sekarang “tidak terasa”, itu faktanya. Fakta lain menunjukkan, 143,26 juta pengguna internet di Indonesia menghabiskan 8 jam sehari untuk menggunakan media sosial.

Teknologi mengubah manusia.


Selain membantu manusia, teknologi mengubah manusia? Iya! Kita sering mendengar ungkapan bahwa gadget itu mendekatkan yang jauh tapi menjauhkan yang dekat. Perubahan terlihat juga dari dua perilaku: perilaku kolektif dan perilaku anonim.

Donny BU

Perilaku kolektif jaman now tidaklah harus berkumpul di dalam ruangan yang sama. Media sosial adalah media jitu untuk berkumpul. Bahkan proses tawuran pun bisa berlangsung di media sosial karena adanya hasrat manusia yang ingin selalu berkumpul mengikuti yang lain.

Ada lagi perilaku anonim. Orang yang menjalankannya beralasan “menghindari hambatan” atau “menghindari tanggung jawab”. Mengapa menghindari hambatan dengan anonim? Karena bagi sebagian orang, mereka lebih percaya diri berbuat baik jika orang lain tak mengenalinya. Lalu bagaimana dengan yang menghindari tanggung jawab? Ya iyalah, mereka yang nyalinya seuprit menutupi kejelekannya dengan akun anonim. Biar tidak mudah ditangkap, kan?

Masalah komunikasi?


“Komunikasi utuh itu terjadi dengan: bahasa tubuh (55%), intonasi suara (38%), dan kata-kata (7%), orang Komunikasi tahu ini,” ucap Donny. Intonasi dan bahasa tubuh membuat kita mampu membedakan makna sebuah pesan yang disampaikan orang lain. Satu kalimat bisa berbeda maknanya jika diucapkan dengan bahasa tubuh dan intonasi yang berbeda pula. Nah, bahasa tubuh dan intonasi ini tak ada di internet. Lalu bagaimana orang hanya memaknai kata-kata yang sebenarnya hanya menyumbang sebesar 7% dalam komunikasi? Kemungkinan benar-salahnya bagaimana, menurutmu?

Para panelis dengan Ibu Chitra sebagai moderator

Eco chamber


Media sosial mengembangkan algoritmanya sendiri, untuk kepentingan unik para user-nya. Kebiasaan kita dipelajarinya dalam menyimak, misalnya dalam mengeklik link berita atau iklan. Algoritma berlaku saat cari agama, nilai-nilai, atau kepercayaan. Kita cenderung akan memilih dan terus memilih apa yang sudah menjadi mind set kita. Jadinya kita memang lebih terbatas karena kita  membatasi diri secara sadar ataupun tidak. Kesempatan untuk lebih terbuka menjadi kecil. “Pokoknya A harga mati. Boro-boro dibandingkan dengan yang lain. Ujung-ujungnya radikalisme. A sudah pasti benar, yang lainnya pasti salah,” ujar Donny.

Gambaran mengenai dunia internet dan gadget bisa dilihat di video Are You Lost in The World Like Me? berikut ini:


Well, tulisan ini sudah terlalu panjang padahal masih banyak yang ingin saya ceritakan menyangkut seminar nasional ini. Masih ada sederet nara sumber keren lainnya yang harus didokumentasikan penyampaiannya. Semoga saya bisa segera menuliskan kelanjutannya, ya, Kawan.

Makassar, 7 Mei 2018

Bersambung ke tulisan berikutnya



[1] Dear panitia, judul asli seminarnya menggunakan kata “SOSMED”, saya ganti di tulisan ini, ya. Karena yang benar kalau dalam bahasa Indonesia itu MEDSOS = media sosial. Kalau dalam bahasa Inggris, nah SOCMED = social media yang cocok.



Share :

4 Komentar di "Technology for Education, Education for Technology, Lalu Siapa atau Apa yang Lebih Cerdas?"

  1. Kemajuan teknologi ada yang positif dan negatif, tergantung kita aja mah hehe, ngemeng2 keren seminar nya di UNM Makassar hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, bagusnya kita membiasakan diri mengingat bahwa teknologi informasi punya dua sisi yang berbeda, ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Yang merugikan salah satunya adalah hoax.

      Delete
  2. Pingin juga ikutan acara seminar seperti ini. ^^ Kapan ya bisa ikutan? Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar, Mbak. Satu saat, ketika anak-anak sudah pada jadi gadis, ibunya pasti bisa ikut seminar di sana-sini :))

      Delete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^