Kegelisahan di Hari Kartini: Tentang Literasi Kita

Dua moment Hari Kartini berlalu tanpa saya mengirimkan tulisan ke media cetak. Bukan berarti saya berpikir tidak ada masalah dengan para perempuan kita. Justru karena banyaknya hal atau topik maka saya masih kesulitan menguraikannya menjadi tulisan. Kesibukan saya di dunia nyata juga membuat saya tak bisa berlama-lama di depan laptop untuk mengolah opini. Tak mudah bagi saya untuk membagi waktu antara tugas-tugas saya di dunia nyata, tugas-tugas menulis yang harus saya lakukan (termasuk pekerjaan freelance yang sedang saya jalani), dan mengolah opini yang bahan-bahannya masih mentah berserakan di benak saya.


Akhirnya saya hanya nge-share tulisan-tulisan dua dan tiga tahun lalu yang topiknya tentang sosok perempuan yang hingga kini harum namanya itu, seperti: Joost Cote Tentang Kartini: Penulis dan Nasionalis Kebudayaan, Mengurai Empat Hal Perjuangan Kartini, dan Sama Seperti Kartini, Kami pun Menulis.

Selain itu, saya tergerak ikut membuat status #HariKartini di Facebook yang menyuarakan kegelisahan saya. Pemicunya adalah ketika tiba-tiba si anak bujang diminta memakai baju batik ke sekolahnya. Kata dia, yang anak perempuan disuruh pakai kebaya. Di sekolah, mereka menyaksikan pertunjukan fashion show kebaya dan pembacaan puisi. Begini status saya:

Seru sih peringatan Hari Kartini semarak sekarang tapi sekaligus agak miris karena fokus sepertinya pada kebaya padahal apa yang membuat Kartini luar biasa adalah karena dia MENULIS. Jadi bertanya-tanya, anak-anak perempuan kita akan menjadi seperti Kartini yang cerdas berliterasi dalam menulis dan membaca kelak ataukah hanya dalam berkebaya? Bukan mengecilkan busana tradisional ya, bukaaan. Busana tradisional itu keren, saya bangga dan menghargai. Hanya saja rasanya gelisah, esensi perjuangan Kartini tereliminasi oleh penampilan.

You know, lah ya, di mana-mana bertebaran lomba berbusana tradisional/adat atau berkebaya. Namun, sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Kartini, tahukah kita semua? Sejatinya KARTINI itu menulis. Namanya harum hingga detik ini karena dia menulis, bukan karena kebayanya. Tulisannya pun bukan berupa tulisan anak ingusan tapi berwawasan kebangsaan! Dia menyurati sejumlah orang berpengaruh dalam pemerintah Hindia Belanda mengenai keadaan dan kemajuan bangsanya. Silakan baca tulisan saya yang berjudul Joost Cote Tentang Kartini: Penulis dan Nasionalis Kebudayaan kalau tak percaya.

Sekali lagi, melestarikan busana tradisional itu baik. Hanya saja sayang jika semangat Kartini tidak tersampaikan. Kemampuan literasi Kartini, pada zamannya sangat luar biasa. Dia sosok yang visioner dan pandai memilih diksi dalam berpendapat. Sementara yang menggelisahkan di jaman now:
  1. Kemampuan literasi banyak perempuan masih kurang. Dalam menanggapi status atau cuitan atau caption di media sosial saja masih banyak yang tidak nyambung.
  2. Berita hoax pun mudah sekali menyebar luas tanpa cek dan ricek.
  3. Banyak yang sedikit-sedikit nyinyir, sedikit-sedikit memaki. Seolah semua orang akan merasa lempeng-lempeng saja membacanya. Padahal aura negatif dari kata-kata di media sosial itu bisa memengaruhi, minimal membuat perasaan orang yang membacanya jadi tidak enak dan tidak respect kepada si pembuat kata-kata tersebut. Kalau muslimah yang baik, seharusnya paham, ajaran Islam bahwa memanggil dengan nama-nama yang tak baik itu dilarang.
Asal tahu saja, kemampuan literasi bukanlah sekadar baca-tulis. Bukan itu. Syarif Bandu, MS, Kepala Perpustakaan Nasional, dalam acara Sosialisasi Perpustakaan Bersama Sastrawan yang saya hadiri pada tanggal 30 Maret 2017 mengatakan, “Literasi adalah kemampuan menelusuri informasi-informasi yang relevan agar seseorang eksis dalam bidangnya.”


Coba cek Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalau tidak punya bentuk cetakannya, cek online di https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/literasi. Di situ dikatakan bahwa pengertian literasi, salah satunya adalah kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Bukan berarti saya suci karena menuliskan hal ini. Saya pun pernah khilaf namun saya berusaha memperbaiki diri. Bukan apa-apa. Anak-anak saya ketika membaca status atau caption dari saya yang nyinyir, memaki, ataupun keluhan suatu saat akan menjadi peniru. Begitu pun anak-anak muda yang menjadi teman/follower saya. Kalau mereka melakukannya karena terinspirasi dari saya, bisa-bisa dosa saya bertambah, kan? Jujur saja, saya tak ingin anak-anak saya jadi tukang nyinyir, tukang maki, dan tukang mengeluh, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

Seorang sahabat mengatakan, adalah tugas IIDN (kebetulan saya menjadi penjaga gawang IIDN (komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis) Makassar) untuk membuat event lomba menulis tingkat SD menjadi tradisi. Waduh, please jangan menambah beban saya. 🙈😂 Tugas IIDN hanyalah mewadahi ibu-ibu di dalam grup untuk menulis, bukannya menyelenggarakan event ke luar. Saya bisa membantu kalau ada yang mau menyelenggarakan kegiatan selama itu bisa disambi. Sebab, seperti yang saya bilang di awal, menghadapi dunia nyata saja saya rempong-nya setengah mati sampai-sampai saya sulit blog walking ke blog teman-teman blogger. Untuk sementara, saya melakukan hal yang bisa saya lakukan dalam kapasitas, kompetensi, dan keterbatasan saya. Kalau ada yang mau mengajak bekerja sama sesuai dengan kapasitas, kompetensi, dan keterbatasan saya, bolehlah kita ngobrol-ngobrol dulu, ya sebab mengubah mind set bukan usaha yang ringan.

Makassar, 22 April 2018



Share :

26 Komentar di "Kegelisahan di Hari Kartini: Tentang Literasi Kita"

  1. Kalau saya malah bertanya-tanya...apa jadinya sekolah2 jaman now seandainya gambar Ibu Kartini itu pakai bikini.

    Kadang kita terlalu menjaga tradisi tapi lupa memahami esensi kenapa tradisi itu ada. Wis pokoke lah bahasa Jermannya.

    Saya setuju dengan pandangan mbak soal pentingnya kemampuan berliterasi untuk Kartini2 saat ini. Bukan sekedar lenggak-lenggok di atas catwalk pakai baju adat. Tapi dalemannya nggak Kartini blas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Perlu banget karena Kartini Jaman Now senantiasa memegang gadget dan menulis status atau caption, serta membalas komentar, dan searching. Kadang2 kita cuma baca judul sudah merasa tahu isinya, tidak baca sampai habis lalu buru2 berkomentar. Atau membaca cuma sepenggal lalu berkomentar padahal intinya belum dipahami.

      Delete
  2. wah benar juga ya, mbak. sekarang di instansi juga kalau hari kartini fokusnya lebih ke lomba kebaya. jarang banget ada event yang lebih asyik kayak bikin surat atau yang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Jaraang sekali yang membuat kita mengenali siapa sebenarnya Kartini dan mengapa harum namanya hingga saat ini.

      Delete
  3. Semangat berjuang untuk literasi Mbak. :D Meskipun lagi sibuk-sibuknya masih sempat nge-blog ya Mbak. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, disempatkan, Mbak. Biar blognya bernapas terus dan saya pun lega hehe.

      Delete
  4. Saya setuju mbak, menurutku Kartini hebat, bukan karena kebayanya, tapi semangatnya untuk menulis. Rasanya ada "penghilangan makna" kalo merayakan semangat Kartini dengan sekedar pagelaran busana. Bukan berarti melarang kegiatan semacam itu sih, tapi gimana yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Mas. Tidak salah peragaan busana itu, hanya baiknya digali lagi sebenarnya apa yang dilakukan Kartini, bagaimana semangatnya. Bagaimana dia menjadi perempuan muda pembelajar yang telah membaca dan memahami banyak buku dan kehidupan, juga sudah membuat banyak tulisan. Bukan hanya tampil "seperti Kartini" saja di busana tapi tidak dalam bagaimana beliau belajar. Sungguh saya sangat kagum dengan sosoknya.

      Delete
  5. Aku juga sefikir gelisah, jalo dulu setiap perayaan hari kartini, banyak anak anak yang foto du studio kami dgn mengenakan pakaian 👗 adat, lucu lucu bgt. Seksranf tak ada satu orangpun yg foto. Ini kenapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, ini sih kegelisahannya beda. Sekarang kan HP pun canggih-canggih, Kang. Bisa foto yang ciamik pakai HP saja :D

      Delete
  6. Akupun kadang miris tiap kali hari kartini, semua instansi termasuk perusahaan tmpat aku kerja, lgs pada heboh ngadain lomba berpakaian kebaya lah, pakaian tradisional lah, disurih foto dulu sblm mulai kerja, upload, trus ntr dilombain. Duuuuh, dari tahun ke tahun slalu begitu. Menderita buatku yg memang ga suka foto hahahaha. Seandainya aja diadain lomba menulis di hari kartini, aku bakal jd staff pertama yg bakal ikutan dgn semangat sih :D. Pernah aku coba omongin dengan line manager ku, tapi menurut dia ribet ntr. Kantor cm mau ngadain lonba yg gampang ajalah penilaiannya.. Hufft... Mau bilang apa, kalo yg diatasnya aja berpendapat seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebayang, Mbak Fanny. Andai kita sekantor, saya berada sekubu denganmu :D Nanti kalo Mbak Fanny jadi managernya, bisalah ya bikin lomba-lomba yang ada unsur pelatihan literasinya.

      Delete
  7. Iya Mba benar sekali salah satu yang mencoreng dunia literasi juga karena banyaknya plagiat tulisan orang dimana-mana. Sedih T-T

    ReplyDelete
  8. barusan aja di tempatku ngadain acara kartini milenial fest alhamdulillah berjalan lancar ..bukan cuma sekedar bauat acara lomba-lomba doang di acara itu banyak sekali kartini kartini hebat yg memberikan ilmu ilmunya kepada kami dan di acara itu juga panitia berdonasi ke kartini-kartini yg membutuhkan bantuan.. keren deh pokonya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah keren, itu Mas. Bagus kalau ada sharing ilmu. Moga-moga saja banyak perempuan yang menyimak dan jadi pendengar yang baik, lalu menerapkannya.

      Delete
  9. Saya setuju sama Bunda Niar. Sekarang ini esensi Kartini lebih pada tampilan dan peringatannya, bukan pada gagasannya. Padahal, tanpa kebaya pun kita bisa merepresentasikan diri sebagai kartini 2018 asalkan memiliki konsep dan gagasan yang jelas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mbak Damar. Suka sama kalimat terakhirnya.

      Delete
  10. Tantangan hari ini yang paling berat, menyajikan bacaan yang berkualitas untuk anak-anak. Entah elekronik, media sosial atau media cetak.
    Berita yang hoax dan sejenisnya lebih merajai. Dan pada umumnya manusia lebih tertarik sama bacaan yang negatif dari pada bacaan yang positif. Lihat saja itu berita-berita viral, pada umumnya kan yang anu dan anu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tantangannya berat tapi bukan berarti bacaan anak berkualitas sedikit. Penulis anak banyak, Mas sekarang. Mereka berkomunitas. Bahkan beberapa teman saya penulis buku anak. Buku-buku mereka keren-keren.
      Iya, kemampuan literasinya lagi, ya harus dilatih, terutama dalam membaca dan memilah-milah mana yang hoax dan mana yang bukan.

      Delete
  11. Dukung Mak Niar untuk menyelenggarakan event menulis rutin bagi anak SD!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhu, saya kira Mak Diah ada di pihak saya -__-

      Delete
  12. Saya pun berpikiran yang sama, Mbak. Bukan tidak menghargai busana daerah, tapi pengennya juga ada yang lebih dari itu. Terutama dalam kegiatan literasi. Apalagi dalam program pendidikan pemerintah, kan, katanya literasi juga mau ditingkatkan. Harusnya hari Kartini juga bisa dijadikan satu momen untuk menggiatkan literasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Bagusnya kita memberi perhatian khusus pada kemampuan literasi anak. Nah, tulisan saya setelah ini salah satunya usaha pemerintah kita :)

      Delete
  13. Sya pun kdng jga miriss tiap kali hari kartini, semua skolahan termasuk sklahan sya, sllu ngadain lomba pakaian kebaya, pakaian tradisional jaman dulu, disuruh foto selpie trs upload, trus ntr dilombain. Trs untungnya kyk gt apa cobak , shrusnya sklhan jg hrs ngadain lomba nulis gt , biar berfikir kreatif jg , ga mlh di suruh foto selpi gitu huwaaaaa

    ReplyDelete
  14. Mak jleb banget ketika dengan adanya media sosial tapi malah literasi buat perempuan memang masih kurang ya

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^