Refleksi Ngeblog 2017 dan Sebuah Ketakutan

Satu per satu tantangan menulis saya jajal, sejak aktif menulis di tahun 2011. Untuk yang tercetak di atas kertas, saya mencoba mulai dari buku antologi (kumpulan tulisan bersama penulis-penulis lain) hingga buku solo. Dari penerbit indie hingga penerbit mayor. Saya juga mencoba majalah. Hanya sempat dua kali dimuat – di majalah Potret (terbit di Aceh). Lima kali saya mengadu nasib, mengirimkan tulisan ke rubrik Gado-Gado di majalah Femina, tak satu pun terbit padahal penasaran sekali dengan media itu. Selain itu, saya juga menjajal koran. Alhamdulillah, pernah berjodoh dengan Koran Jakarta, Harian Fajar, dan Harian Amanah.


Namun dari semuanya, saya tetap kembali ke “selera asal’. Saya ternyata jauh lebih suka menulis di blog. Bagi saya, kertas bukanlah level tertinggi dari dunia menulis yang harus terus saya buru. Karena “napas menulis” saya pendek-pendek akibat situasi dan kondisi di kehidupan nyata yang lebih menyulitkan saya untuk menulis buku. Alasan lainnya adalah karena dengan menulis di blog, tulisan saya lebih mudah tersebar meluas dan bisa menembus zaman. Thank you, internet!

Hingga menjelang tahun 2018 ini, tulisan yang saya hasilkan sudah lebih dari 2000. Tersebar di 5 blog, beberapa website, satu buku duet, dan 19 buku antologi. Beberapa tulisan yang dimuat di koran dan majalah, juga yang ada di buku solo – semuanya ada di blog Mugniar’s Note ini. Saya yakin tidak semuanya bagus atau bahkan mungkin semuanya biasa-biasa saja, kembali kepada pembacanya dan sudut pandang dia.

Apakah saya bangga dengan banyaknya tulisan yang saya hasilkan? Well, saya tak ingin memiliki, apalagi memelihara rasa bangga karena saya tahu diri masih banyak kekurangan dan masih harus terus belajar. Setiap saat, saya melihat cara menulis yang jauh lebih bagus daripada cara menulis saya, juga blog yang jauh lebih bagus daripada blog saya. Sah-sah saja jika seseorang pernah mengatakan kalau tulisan saya tak berkonteks – padahal kan setiap orang menulis dengan konteks yang ada di pikirannya sendiri. No problem, persepsinya tentang konteks berbeda dengan saya dan itu bukti bahwa ada orang yang tak suka dengan tulisan saya. Tidak ada masalah, pasti ada sisi postiifnya buat saya.

Berdiri pada keyakinan dan pemahaman saya dalam menghasilkan tulisan, saya hanya merasa wajib bersyukur, bisa menulis dengan cukup luwes sekarang padahal saya bukanlah orang yang suka menulis sejak kanak-kanak. Saya baru benar-benar mengasah keterampilan menulis saat menginjak usia 37 tahun di tahun 2011. Tujuan saya menulis sekarang lebih kepada ingin berbagi kepada khalayak. Kepada banyak orang. Alhamdulillah adalah segelintir orang yang kabarnya mendapatkan sesuatu dari tulisan saya – minimal informasi baru.

Di balik kegiatan menyenangkan dengan benda ini, ada ketakutan.

Dan semakin saya merefleksikan kegiatan menulis, saya pikir, saya memang tidak berhak bangga karena semakin banyak menulis justru membuat ada ketakutan yang timbul. Ketakutan bahwa saya kelak akan mempertanggungjawabkan semua yang sudah saya lakukan – termasuk menulis di hadapan Sang Mahapencipta. Bagaimana kalau saya pernah salah menulis? Bagaimana kalau ada orang yang telah saya rugikan tetapi saya tidak tahu?

Pedang bermata dua! Di satu sisi, dari menulis memang banyak manfaat yang saya dapatkan. Saya pernah menuliskan ada 17 manfaat yang sudah saya terima – silakan baca di tulisan berjudul Tantangan Perempuan Menulis di Era Digital. Sementara itu, di sisi lain, sebagai seorang muslimah, saya kelak tentunya harus mempertanggungjawabkan semua yang sudah saya lakukan kepada Allah subhanahu wata’ala. Semoga saja, kelak di akhirat timbangan amal baik saya masih lebih berat daripada timbangan perbuatan buruk saya. Adakah yang sama dengan saya, terpikir akan hal itu?  


Makassar, 30 Desember 2017

Catatan: gambar-gambar berasal dari Pixabay.com

Baca juga:


Share :

22 Komentar di "Refleksi Ngeblog 2017 dan Sebuah Ketakutan"

  1. InsyaAllah jika memang niat menulis itu baik, maka Allah pun akan menilai baik ya mba Niar.... sukses terus buat mba Niar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga ya, Mbak Santi. Dan semoga saja tidak ada tersalah yang fatal yang Allah tidak suka, ya.

      Delete
  2. wah iya mbak, saya juga kadang berpikir bagaimana mempertanggung jawabkan tulisan saya di hadapanNya nanti
    tapi insha allah selama ada niat menulis yang baik dan bermanfaat, tulisan kita akan menjadi ladang amal kelak, amin

    ReplyDelete
  3. Wah, makasih mba, saya jd diingetin jg... Krn walau niat nulisnya baik tp kalau ada yg salah tangkap jd serem jg ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu juga, Mbak. Tapi kalau salah tangkap dan kita yang benar, mungkin masih mendingan ya ketimbang kitanya memang salah tetapi tidak merasa sementara orang mengira itu benar dan mengikutinya ..... haduh.

      Delete
  4. Selama kita yakin apa yang kita tulis itu baik dan bermanfaat, Insya Allah akan baik juga hasilnya ke pembaca 😊
    Keep blogging, Kak Niar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ya Ery.
      Masalahnya, keyakinan kita belum tentu selalu benar. Yah, semoga saja tidak ada yang buruk.

      Delete
  5. Sama, aku juga kadang mikir gitu. Apalagi dalam cerita fiksi. Meski tidak mendominasi, tapi pasti ada saja adegan yang kurang baik. Apa kalau sapai ada yang meniru, aku juga ikutan berdosa? :'D

    ReplyDelete
  6. Saya juga pernah berpikir ketakutan yang sama. Ternyata saya nggak sendirian
    Sampai sekarang saya masih menganggap kertas punya level yang tertinggi dalam cita2 saya. Mungkin karena saya belum menghasilkan buku (solo) jadi hal2 ini masih terbayang.
    Btw..pic nya serem lho :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ya ... setiap orang punya keinginan, harapan, dan obsesi.
      Saya pun dulu. Tapi setelah tercapai, baru ngeh kalau kertas itu sangat "berbatas"

      Delete
  7. wah kak Niar~
    harapan dan ketakutan yang sama ~
    InsyaAllah selalu menebar kebaikan lewat tulisan kak :)

    ReplyDelete
  8. Baca tulisan ini, jadi ngerasa bahwa ketakutan2 saya hanya sepele saja Kak. Bagaimana kalau tulisan saya dinilai jelek, nggak ada manfaatnya, dll.
    Jadi malu dengan Kak Niar.
    Kelak ketika dimintai pertanggungjawaban, semoga nilai kebaikan yang ada jauh lebih banyak ya Kak Niar^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dinilai jelek, mah .. cuek saja, Nyak. Kadang-kadang ada faktor "selera" hehehe. Kita percaya diri saja. Setidaknya pertambahan page views di dasbor menunjukkan, ada yang mampir di blog kita hehe. Aamiin semoga nilai kebaikan yang kita buat jauh lebih banyak yaa

      Delete
  9. Ketakutan saya adalah khawatir banyakan advertorial dibanding tulisan lainnya. Wkwkwkwkwk.. Nanti itu blog jadi macam etalase produk. Kan gak asyik :(

    Makanya sekarang mulai mengimbangi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Memang harus diimbangi. Diusahakan yang bukan advertorial lebih banyak. Moga2 kita bisa, yaa

      Delete
  10. Haha aku pun napas nulisnya pendek kak..tapi menulis di blog pun kadang harus panjang ye kan.. pokok e tetep semangat menulis yang positif dan bermanfaat yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss ya Mbak Dian. MEnulis yang bermanfaat :)

      Delete
  11. Tidak ada kata terlambat untuk mulai ngeblog dan belajar nulis ya, Kak. Pun saya masih lebih nyaman nulis di blog. Rasanya bahagia bisa jadi diri sendiri.

    Tapi, buat saya, kak Niar ini sangat produktif, loh. Bisa memiliki target nulis itu aja udah keren banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, nyaman dengan diri sendiri. Mau menulis saja tanpa iming-iming materi mah santai saja ya Ipeh.

      Delete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^