Ketika Maaf Harus Terucap, Maka Runtuhlah Dinding Superioritas Itu

Sumber gambar: towerofpower.com.au
Salah satu hal yang saya ketahui sewaktu masih kecil adalah bahwa sebagai anak, saya tidak boleh marah kepada orangtua. Berdosa. Seingat saya, itu tidak mengenakkan bagi saya. Di usia kanak-kanak, kemarahan itu harus saya telan dan berlaku seperti tidak ada apa-apa. Saya dipaksa untuk menyabarkan diri padahal itu sangat sulit karena kemarahan yang harus saya telan itu meracuni aliran darah dan pikiran saya, menyimpan energi baru yang sewaktu-waktu bisa saja meledak jika bertemu trigger (pemicu) yang serupa.

Mungkin masih termakan doktrin lama, saya pun tak suka jika anak-anak marah kepada saya. Namun saya menyadari sepenuhnya bahwa mereka perlu menunjukkan rasa marah mereka agar mereka bisa menyadari adanya rasa itu dan kemudian belajar mengelolanya sehingga bisa mengendalikan diri, menjadi manusia yang tidak mampu dikuasai oleh rasa marah.
Namun saya yang masih harus banyak belajar ini menyadari, hal ini masih laksana dua sisi mata uang bagi saya. Di satu sisi saya harus bertindak sebagai guru ‘kecerdasan emosional’ bagi mereka yang berarti saya pun harus cerdas secara emosional dalam arti mampu mengendalikan diri, tidak dikuasai oleh emosi dalam menghadapi anak-anak. Sementara di sisi lain ada sisa-sisa doktrin lama yang mewujud dalam superioritas sebagai orangtua sebagaimana yang didengungkan senior saat masa perpoloncoan saat mahasiswa baru dulu:
Pasal 1. Senior (orangtua) tidak pernah bersalah
Pasal 2. Jika senior (orangtua) bersalah, kembali ke pasal satu.
Suatu ketika si sulung Affiq saya larang main komputer karena malam sebelumnya ia tidur di atas pukul sepuluh malam. Maka ngambeklah ia sepagian. Sungguh tak enak melihat mulutnya mengerucut seperti itu, memancing reaksi kesal saya, “Oh begitu ya? Mau memperlihatkan marah sama Mama? Kan Affiq yang salah. Mama sudah bilang, kalau tidurnya di atas pukul sepuluh malam, jangan harap Kamu bisa  main komputer esok harinya!”
Ia masih merengut. Kali ini disertai gumaman tak jelas. Menyebalkan sekali, karena ia melakukannya di dekat saya. Mana boleh ia marah padahal ia yang salah? Saya sudah berkali-kali mengatakan kepadanya, kalau ia bersalah maka ia tak berhak marah. Tetapi ia masih merengut seraya bergumam. Saya istighfar dalam hati, “Astaghfirullah, ya Allah mungkin Saya membuat kesalahan?”
Saya pun mendesaknya mengulangi dengan lebih jelas gumamannya. Setelah beberapa kali desakan jelaslah bagi saya. Malam sebelumnya ia minta dimasakkan lauk kesukaannya oleh saya. Karena sedang flow menulis, saya menyuruhnya menunggu hingga saya selesai mengetikkan ide yang berseliweran di benak saya. Akhirnya ia baru makan malam menjelang pukul sepuluh malam. Astaghfirullah, what a mother am I? Ibu macam apa saya ini?
Menyadari hal ini saya pun memeluknya, saya dobrak dinding superior itu dengan mengakui kesalahan saya, “Oooh .. Mama yang salah ya Nak? Mama yang terlambat masak jadi Affiq terlambat makan kemudian jadi terlambat tidur juga?”
Ia mengangguk pelan.
Saya membelai-belai kepalanya, mengecup dahinya, dan mengucapkan, “Maafkan Mama ya Nak?”
Ia menjawabnya dengan anggukan.
Selanjutnya semburat dan celoteh ceria memancar dari wajah dan bibirnya. 
Alhamdulillah, hal ini tak akan menyusahkan saya kelak di akhirat karena ia sudah memaafkan saya di dunia fana ini. Mudah-mudahan besok-besok Allah masih berkehendak menyentil saya sehingga tidak tunduk oleh egoisme berdalih superioritas sebagai orangtua.
Pembaca yang budiman, menundukkan kemarahan, mengakui kesalahan, dan meminta maaf kepada anak adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Tetapi jika saya menginginkan anak-anak saya mampu melakukan hal-hal ini maka sayalah orang yang pertama kali harus mereka saksikan mampu melakukannya. Dan tahukah Anda, hal ini adalah momentum yang sangat berharga dalam pembentukan jalinan hati – ikatan batin antara saya dan Affiq. Momentum yang hanya datang pada saat itu saja, bukan pada saat-saat lain. Terimakasih Allah, saya ada di dekatnya saat momentum itu datang. Terimakasih, Engkau gerakkan hati saya untuk bersikap seperti ini saat ia butuh menyaksikan saya berbesar hati mengakui kesalahan dan meminta maaf padanya.
Makassar, 26 September 2011


Share :

5 Komentar di "Ketika Maaf Harus Terucap, Maka Runtuhlah Dinding Superioritas Itu"

  1. Tapi tetap saja pada kenyataan nya minta maaf itu susah... apalagi harus memaafkan... Hufh......

    ReplyDelete
  2. Betul sekali ^^
    Terimakasih sudah membaca tulisan saya :)

    ReplyDelete
  3. saya sih lebih mudah minta maaf sama ponakan, entah kalau sama anak nanti.
    sering juga sih marah2 gajebo karena suasana hati sama gajebonya, tapi ya itu tadi, ketika amarah sudah lewat, saya langsung peluk2 sambil minta maaf, jelasin kenapa tadi marah2.
    terkadang 'kan yang dimarahi juga bukan dia, tapi dia melihat saya lagi marah2 tidak jelas, tetap saja saya merasa perlu minta maaf, kasian soale melihat mimik bingungnya ngeliat tantenya misuh2 :D

    ReplyDelete
  4. Gajebo = ge jelas bo ya mbak?
    Waah itu sudah sama dengan latihan mbak Ni, kalo sama ponakan bisa, insya Allah sama anak juga bisa ^_^

    ReplyDelete
  5. senang membaca tulisan mbak mugniar,..klo orang jawa mbak ini bisa jd ibu tauladan atau teladhan

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^