Belajar Berlapang Hati untuk Kata MAAF

Bukankah lebih banyak kesalahan yang tak benar-benar SALAH dan kebenaran yang tak benar-benar BENAR karena hanya dipandang dari satu sisi saja?

Hati saya sempat kebat-kebit saat lewat di selasar pendek yang menghubungkan halaman depan dengan lapangan di dalam kompleks sekolah. Masa di tempat sempit itu saja ada dua anak lelaki bermain bola sepak. Sudah kebayang saja rasa sakitnya kalau terkena bola keras itu.


Lapangan sekolah-sekolah itu nyaris dipenuhi oleh kelompok-kelompok anak lelaki yang sedang bermain bola sepak. Beberapa dari kelompok itu bermain nyaris di pinggir lapangan. Bukan tempat bermain bola sebenarnya, karena berpotensi membahayakan anak-anak yang lewat di pinggir lapangan.

Ah, ya, mengapa saya mengatakan “lapangan sekolah-sekolah” bukannya “lapangan sekolah”? Karena lapangan itu dikelilingi oleh 4 sekolah dasar. Kalau zaman saya kecil dulu namanya sekolah kompleks, namanya kemudian dipecah-pecah, ada yang memakai pembeda angka 1, 2, 3, Inpres, dan lain-lain. Maklum, sekolah dasar negeri zaman Pak Soeharto dulu.

Perhatian saya beralih kepada seorang anak perempuan kelas 5 sekolah dasar yang tengah menutupi wajahnya. Bahunya bergerak-gerak. Sekelompok anak lelaki yang badannya lebih kecil sedang bermain nyaris di pinggir lapangan. Saya menebak, anak-anak lelaki itu baru kelas tiga jika menilik postur tubuh mereka.

Saya mendekati anak perempuan yang ternyata kawan sekelas putri saya. Anak perempuan itu menangis. Dari interogasi singkat, saya mendapat keterangan bahwa pipinya terkena bola sepak yang dimainkan anak-anak lelaki di dekatnya. Pasti sakit sekali rasanya, kena tendangan bola dari jarak dekat, telak pada pipi. Sekian menit dia menangis. Saya mendekatinya, mengamati pipinya tapi tak ada yang serius terlihat. "Sampai di rumah, taruh minyak tawon di pipimu, ya?" Gadis itu mengangguk.

Suami saya menegur anak-anak yang bermain. Dia mengatakan, bermain bola di tepi lapangan itu tidak pada tempatnya. Dia juga menanyakan siapa yang menendang bola lalu menasihati agar mereka lebih hati-hati lagi.

Saya meminta si anak laki untuk meminta maaf. Meski tak sengaja, apa yang dilakukannya itu menyakitkan. Anak lelaki itu minta maaf setelah sebelumnya terlihat sangat enggan - ini membuat saya merenung. Reaksi anak perempuan itu, juga membuat saya merenung: dia melengos. Membuang muka lalu melangkah pergi. Saya menariknya dan setengah memaksanya memberi maaf kepada anak lelaki yang tak sengaja itu. Untuk orang yang mau merendah, tak boleh membuat kita makin meninggi, jangan sampai menjadi orang yang sombong dalam hal ini.

Saya mengamati dua hal dari kejadian ini:
  1. Berat sekali bagi si anak lelaki untuk meminta maaf. Namun demikian kata maaf terluncur juga dari bibirnya.
  2. Berat sekali bagi si anak perempuan memberi maaf.

Mengapa demikian? Apakah karena tak terbiasa sehari-harinya/dari rumah? 

Hal ini membuat saya tertegun lalu introspeksi diri. Ternyata sepatah kata, hanya mudah diucapkan ketimbang diamalkan. Padahal yang namanya manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan dan dari interaksi yang membuatnya harus menerima permintaan maaf dari orang lain. Kalau untuk hal sekecil itu, di masa kecil saja mereka tidak terbiasa melakukan dan tak mau berbesar hati meminta maaf dan menerima permintaan maaf, apatah lagi untuk hal yang jauh lebih besar saat mereka dewasa? Rasa enggan meminta dan memberi maaf, di masa depan akan menjadi racun yang merusak!

Sadar umur semakin pendek, untuk mengingatkan diri saya sendiri dan anak-anak saya kelak, saya kutipkan di sini ayat suci dan hadits tentang MEMAAFKAN berikut:
  • “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”  - (QS. Al-Imran: 133-134).
  • “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” - (QS. Al-Baqarah : 263).
  • “Barangsiapa senang melihat bangunannya dimuliakan, derjatnya ditingkatkan, maka hendaklah dia mengampuni orang yang bersalah kepadanya, dan menyambung (menghubungi) orang yang pernah memutuskan hubungannya dengan dia.“ (HR: Al-Hakim).
  • “Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani)
Ya, Allah. bimbing saya untuk tak sulit dalam dua hal ini: meminta maaf dan memberi maaf. Supaya anak-anak bisa belajar juga dari saya dan menerapkannya. Bimbing anak-anak saya untuk tak enggan meminta dan menerima permintaan maaf. Bimbing kami supaya sama-sama belajar untuk menjadi orang-orang yang mampu berlapang dada.


Makassar, 7 Desember 2017


Share :

0 Response to "Belajar Berlapang Hati untuk Kata MAAF"

Posting Komentar

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^