Review Film Baby Udon: Kisah Cinta dan Ujian Pernikahan – Sesaat sebelum menonton film Baby Udon, otak saya selesai merangkai sebuah puzzle. Nama tokoh dalam film ini sebenarnya sudah beberapa kali melintas di timeline YouTube saya. Saya beberapa kali melihat YouTube Shorts yang memperlihatkan seorang “ibu susu” membagikan ASI perah (ASIP) secara cuma-cuma kepada ibu-ibu muda yang membutuhkan. Ibu susu itu adalah Fanny Kondoh.
Setahun sebelumnya, saya
juga pernah menyimak kisah Fanny dalam podcast Denny Sumargo (Densu).
Saat itu, Fanny bercerita tentang perjuangannya menjalani program bayi tabung
yang akhirnya berhasil. Namun, di tengah kebahagiaan tersebut, suaminya, Hajime
Kondoh, baru saja meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker. Fanny pun
menjalani sebagian besar masa kehamilannya tanpa didampingi suami.
Ingatan tentang kisah Fanny
itu terus berkelebat dan menjadi semacam jangkar yang semakin menguatkan
keinginan saya untuk menonton Baby Udon. Keinginan tersebut akhirnya
terlaksana pada 6 September lalu. Inilah catatan saya tentang film yang
diproduseri oleh Denny Sumargo, Olivia Sumargo, Andi Suryanto, dan Marcella
Daryanani.
Cinta Beda Usia dengan Kompas yang Sama
Aku
tunggu dari rindu yang tak tahu hendak ke mana … [Fanny Kondoh]
Film
dimulai dengan kisah Fanny, yang diperankan Caitlin Halderman, seorang kasir di
Marugame Udon Kota Semarang. Di sana ia bertemu Hajime Kondoh, diperankan oleh
Denny Sumargo, yang merupakan general manager yang membawahi
restoran-restoran Marugame Udon.
Alur
cerita pada bagian awal mengalir natural dengan selipan humor yang segar.
Perlahan, penonton diajak melihat bagaimana Fanny dan Hajime saling mengenal
hingga akhirnya menikah.
Awalnya
saya mengira kehidupan Fanny “enak”. Namun, sejak awal film saya justru
tersadar bahwa Fanny adalah seorang pejuang keluarga—atau dalam istilah yang
sekarang sering digunakan, bagian dari sandwich generation. Kesadaran
itu membuat saya semakin antusias mengikuti film ini sampai selesai.
Fanny
menikah pada usia 22 tahun, sementara Hajime telah berusia 47 tahun. Meski
masih sangat muda, Fanny digambarkan sebagai perempuan muda dengan karakter yang kuat.
Keduanya jatuh cinta dalam perbedaan agama. Hajime kemudian tertarik
mempelajari Islam setelah melihat bagaimana ajaran tersebut memengaruhi cara
berpikir Fanny.
“Hatiku
berisik dan low bat kalau nggak salat,” ujar Fanny ketika Hajime
bertanya mengapa ia ingin salat. “Oh, salat itu seperti kompas?” tanya Hajime.
Fanny mengiyakan.
Hajime
merasa tenang ketika melihat Fanny salat. Ia bahkan menuliskan makna salat
tersebut dalam catatannya sebagai “kompas”.
Tanpa
sepengetahuan Fanny, Hajime diam-diam mempelajari Islam. Hubungan mereka tentu
tidak berjalan mudah meskipun keduanya saling mencintai. Ibu Fanny tidak
merestui hubungan tersebut. Namun, takdir akhirnya membawa mereka ke pernikahan
dalam iman yang sama.
Orang-Orang Baik dengan Ujian yang Luar Biasa
Meskipun
Fanny pernah mengatakan bahwa ia bosan hidup miskin dan ingin menjadi orang
kaya, ia tidak berubah menjadi “nyonya besar” yang hidup seenaknya setelah
menikah dengan Hajime.
Ketika
mengetahui biaya program bayi tabung mencapai ratusan juta rupiah, Fanny justru
meminta Hajime pindah dari apartemen mereka ke rumah kontrakan yang lebih
murah. Ia tidak serta-merta meminta suaminya menanggung seluruh biaya. Fanny
ikut berusaha dengan berjualan secara online.
Begitu
pula dengan Hajime. Ketika keluarga Fanny meminta bantuan dalam jumlah yang
tidak sedikit, ia memberikan solusi dengan bijaksana. Fanny sendiri merasa
keberatan karena permintaan keluarganya sudah melewati batas. Dia juga merasa
tidak enak terus meminta kepada suaminya karena menyadari Hajime memiliki
tanggung jawab lain yang jauh lebih besar.
Namun,
Hajime melihat persoalan itu dari sudut pandang yang berbeda. “Uang bisa
dicari. Kamu tidak kasihan nenek anak kita tidak punya rumah?” katanya.
Saya
bisa memahami sikap Fanny terhadap keluarganya. Ia tidak ingin terus bergantung
kepada suami untuk memenuhi permintaan keluarganya. Di sisi lain, film ini
memperlihatkan bagaimana Fanny dan Hajime saling menguatkan ketika menghadapi
berbagai persoalan.
Itulah
sebabnya saya melihat Baby Udon sebagai film tentang orang-orang baik
yang mendapatkan ujian luar biasa. Pasangan ini menghadapi banyak hal
dengan saling mengerti, tidak egois, dan berusaha mementingkan orang lain tanpa
mengabaikan pasangannya.
Kalau
kata Densu, Hajime adalah sosok green flag. Menariknya, Densu sendiri
sempat merasa tidak sanggup memerankan Hajime karena menyadari dirinya memiliki
masa lalu yang dia anggap “red flag”. Mungkin karakter Hajime memang
terasa begitu agung baginya. Namun, Olivia istrinya dan sutradara Fajar Bustomi
meyakinkan Densu bahwa dirinya mampu memerankannya.
Ketika Ujian Datang Bertubi-tubi
Biarkan
aku yang menjaga harga dirimu [Fanny Kondoh]
Ujian
yang dihadapi Fanny dan Hajime bukan hanya persoalan keuangan. Mereka juga
menjadi “pejuang dua garis” dan harus menghadapi penyakit kanker yang diderita
Hajime.
Keteguhan
keduanya dalam memegang prinsip dan menjalankan nilai-nilai yang mereka yakini
menjadi kekuatan untuk terus melangkah, meskipun perjalanan mereka tidak mudah.
Peran
Fanny sebagai caregiver menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh
bagi saya. Saya merasa sangat relate karena belum lama ini juga pernah
menjadi caregiver ketika suami masuk rumah sakit dan menjalani pemulihan.
Setelah itu, saya dan suami bersama-sama menjadi caregiver untuk ibu mertua hingga beliau berpulang.
Karena
itu, perasaan Fanny dalam film ini seperti berpindah kepada saya. Air mata saya
mengalir berkali-kali sampai mata sembab.
Begitu
pula dengan perasaan Hajime yang merasa dirinya tidak berguna karena penyakit
yang dideritanya. Densu berhasil menyampaikan perasaan tersebut kepada saya
sebagai penonton. Hajime sedih melihat istrinya selalu berusaha terlihat
baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang memikul beban berat. Apalagi ketika
ibu Fanny tiba-tiba datang dan marah karena suatu persoalan.
Menurut
saya, film ini terasa istimewa karena dibuat dengan ketulusan. Setidaknya,
itulah yang saya tangkap dari sejumlah wawancara dan podcast yang saya
tonton di YouTube.
Fanny
Kondoh bahkan menolak tawaran PH besar dan memilih Densu serta istrinya untuk
memproduseri film yang diangkat dari kisah hidupnya. Pilihan itu diambil dengan
mengikuti kata hati, meskipun ia tahu bahwa film tersebut merupakan produksi
pertama Sumargo Films.
Densu sendiri pernah mengatakan bahwa ia membuat film ini dengan sikap nothing to lose. Bisa saja ini menjadi film pertama sekaligus terakhirnya. Bisa juga menjadi film pertama yang kemudian disusul film-film berikutnya. Ia tidak tahu. Yang ia tahu, ia ingin melakukan yang terbaik untuk film ini.
Dua Ganjalan Kecil
Di samping itu, saya
mencatat dua hal yang sedikit mengganjal. Bukan sesuatu yang membuat film ini
menjadi buruk, hanya terasa agak aneh bagi saya.
Pertama, Fanny disebut
bekerja sebagai kasir. Namun, sepanjang film, saya tidak pernah melihatnya
berada di balik meja kasir. Ia justru lebih sering terlihat seperti office
girl. Pada adegan lain, Fanny juga terlihat sebagai staf yang bekerja di
depan komputer dalam sebuah ruangan.
Kedua, adegan Fanny salat di
tepi pantai, tepat di ujung sebuah tanjung kecil. Bagi saya, adegan tersebut
agak absurd. Dengan angin yang bertiup kencang, rasanya sulit
membayangkan seseorang salat dengan tenang di tempat seperti itu. Namun,
mungkin memang sengaja dibuat demikian agar adegannya terlihat dramatis dan
Hajime mendapatkan gambaran yang berkesan tentang keteguhan Fanny dalam
menjalankan salat.
Dua ganjalan kecil itu sama
sekali tidak menghalangi saya menikmati Baby Udon. Film ini sarat hikmah
dan menurut saya layak ditonton oleh para pejuang dua garis, pasangan suami
istri yang sedang menghadapi masalah berat, orang tua yang memiliki anak
dewasa, maupun anak muda yang ingin mendapatkan perspektif tentang makna
pernikahan.
Bagi saya, sosok Fanny
memberikan gambaran tentang seorang istri yang mendukung suaminya tanpa
mementingkan diri sendiri. Ia bahkan berbesar hati ketika Hajime harus tetap
bertanggung jawab kepada anak-anak dan mantan istrinya di Jepang. Fanny
menerima kenyataan bahwa Sebagian besar nafkah Hajime harus diberikan kepada
mereka sesuai aturan yang berlaku di Jepang.
Hajime pun demikian.
Kesabarannya dan kesediaannya menjadi provider bagi kebutuhan sekaligus
kepentingan istrinya bukan hal kecil. Di tengah pernikahan mereka, dia tetap
menjalankan tanggung jawabnya kepada kedua anaknya di Jepang.
Dalam podcast di
kanal Densu, Olivia juga bercerita bahwa Hajime bertanggung jawab penuh kepada
kedua orang tuanya. Setelah Hajime meninggal, tanggung jawab tersebut
dilanjutkan oleh Fanny hingga kedua mertuanya berpulang.
Sungguh, pasangan yang
kisahnya diangkat dalam Baby Udon ini memberikan contoh tentang
bagaimana suami dan istri bisa saling menguatkan, saling memahami, dan tetap
menjalankan tanggung jawab masing-masing dalam keteguhan iman.
So, yuk
nonton Baby Udon. Film ini mulai diputar di bioskop pada 3 September
2026.
Makassar,
12 September 2026
Share :



0 Response to "Review Film Baby Udon: Kisah Cinta dan Ujian Pernikahan"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^