Tibalah hari terakhir anak-anak kelas 9 SMP Alam InsanKamil beraktivitas di sekolah. Hari Jumat tanggal 26 Juni kemarin merupakan akhirussanah. Istilah kata akhirussanah ini bermakna “acara perayaan akhir tahun ajaran bagi siswa atau santri yang telah menyelesaikan masa studinya”. Berkali-kali mata saya berkaca-kaca saat mengikuti rangkaian acara. Mengapa? Karena saya sudah jatuh cinta pada sekolah yang telah membersamai putra bungsu saya selama 3 tahun terakhir ini!
Hati yang Meleleh dan Sekolah yang Unik
Jika boleh mengakui, sudah sejak lebih setahun lalu mata saya berkaca-kaca saat ingat suatu saat nanti anak bungsu saya akan mengakhiri masa studinya di SMP Alam Insan Kamil (kadang-kadang saya memang “sevisioner” itu). Jika boleh mengakui pula, baru kali ini perasaan saya semelankolis itu terkait sekolah, mengingat kedua kakaknya juga melalui masa-masa bersekolah namun tak pernah saya sampai sebegini sensitifnya.
Sekolah ini unik. Sebagaimana yang disebutkan oleh Bunda Hijrah mewakili orang tua – saat memberikan sambutan, beliau berkata bahwa proses pembelajaran di sekolah ini “tidak populer” karena siswa tidak melulu belajar di dalam kelas.
Sekilas terlihat, sekolah yang didirikan oleh sahabat saya – Ayah Hartono dan istrinya (Bunda Aisyah) ini tak menawarkan kemewahan. Walau lingkungan sekolah luas dengan hamparan warna hijau alami, sekolah ini terlihat sederhana. Bagi saya, yang “mewah” adalah PROSES BELAJAR di sekolah ini - saya mengaminkan apa yang dikatakan Ayah Hartono pada sambutannya.
Definisi belajar di sekolah ini, kurang lebih sama dengan yang saya pahami. Yaitu bahwa belajar bisa di mana saja, dari siapa saja, dengan cara apa saja. Apapun bisa jadi “laboratorium” tempat menimba ilmu. Bukanlah hal mudah untuk memfasilitasi belajar dengan wacana ini karena tak semua guru MAMPU dan MAU melakukannya. Sementara sekolah ini menyediakannya! Bukankah ini suatu kemewahan?
Satu hal lagi yang mewah di sekolah ini, yaitu: KETULUSAN.
Ketulusan yang Terasa Kuat
Saya telah bertemu, melihat, dan mengamati banyak guru sepanjang hidup saya. Saya akui ada yang tulus namun ada juga yang sekadarnya saja. Ada yang menjalankan tugasnya atas dasar cinta kepada siswanya, ada yang menjalankan tugasnya atas dasar cari uang saja. Dalam satu gedung dengan nama gedung yang diawali dengan kata “sekolah”, saya bisa melihat sedikit guru yang benar-benar tulus di antara banyaknya tenaga pengajar yang mendukung sekolah itu.
Kelebihan dari SMP Alam Insan Kamil, sebagaimana yang saya lihat juga secara sekilas di SD Alam Insan Kamil adalah: KETULUSAN itu terasa kuat. Terpancar dari SEMUA TENDIK (tenaga kependidikan) yang saya lihat, bukan hanya beberapa, terutama dari tendik yang berinteraksi dengan saya. Ketulusan itu terasa menyatu dengan sistem pendidikan di Sekolah Alam Insan Kamil. Terpancar dari cara para tendik berinteraksi, dari cara menyambut, cara transfer pengetahuan, dan cara berkomunikasi dengan orang tua dan siswa.
Ketulusan datangnya dari hati. Apa yang terpancar dari hati, akan diterima oleh hati. Sederhananya: “hati saya merasakan ketulusan” yang dalam – yang indah – yang murni di sekolah ini. Ketulusan menyelimuti semangat untuk mengejawantahkan filosofi “sekolahnya orang bahagia” yang diusung oleh Sekolah Alam Insan Kamil.
Selama 20 tahun membersamai anak-anak saya bersekolah (sejak si sulung masuk sekolah dasar maksudnya) dan melihat serta menyelami berbagai karakter tendik, saya meyakini bahwa KETULUSAN adalah FONDASI yang paling signifikan yang harus dimiliki tendik agar bisa menjalankan perannya dengan baik. Peran yang saya maksud adalah peran dalam kegiatan belajar-mengajar yang berfokus/meletakkan prioritas pada siswa.
Sekeping Cinta yang Tertinggal
Saat tulisan ini saya selesaikan, baru 3 hari akhirussanah berlalu namun rasanya ada sekeping cinta yang tertinggal di sana. Sekeping cinta itu menyimpan banyak kenangan dan makna, juga rasa syukur. Sekeping cinta itu mengandung harapan, masih ingin berkontribusi di sekolah jika ada kesempatan. Makanya ketika Bunda Ani, sang kepala sekolah menanyakan apakah bisa jika suatu saat kelak saya diminta bantuan, saya jawab dengan mantap bahwa saya memang berencana mengatakan itu juga. Bahwa jika suatu saat diperlukan, jangan sungkan menghubungi saya.
Akhirul kalam, terima kasih atas semua jerih-payah pendampingan semua Bunda dan Ayah guru/fasilitator di SMP Alam Insan Kamil, terutama Bunda Lulu yang menjadi wali kelas selama 2 tahun terakhir.
Ketahuilah, semua yang Bunda dan Ayah guru/fasilitator
berikan selama 3 tahun ini kepada para siswa tidak berbilang banyaknya – tak
ada angka yang bisa mewakilinya. Ucapan terima kasih berkali-kali pun yang kami
(orang tua) dan anak sampaikan, tidak
pernah akan cukup untuk menyamai semua yang telah dilakukan. Hanya Allah saja
yang bisa membalasnya. Semoga Allah memberikan kesehatan, rezeki, dan berkah
yang berlimpah. Mohon maaf jika pernah tersalah kata dan sikap. Terima kasih
banyak. Jazaakumullahu khayran katsiraa, baarakallahu fiikum.
Makassar, 29 Juni
2026
Baca juga:
Melawan
Kecamuk Rasa: Wujudkan Lingkungan dan Budaya Aman, Nyaman, Menggembirakan
Share :



0 Response to "Sekeping Cinta Tertinggal di SMP Alam Insan Kamil"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^