Halu Halu Delusi

Halu Halu Delusi – “Anakku waktu SD-nya selalu ranking satu. Nilainya delapan. Tidak tahu kenapa ndak diterima di SMP negeri dekat rumah,” kata seorang ibu kepada saya. Mulut saya membentuk huruf O. Sembari mengangguk-angguk. Sedikit lucu sih, buat saya karena saya tak menanyakan atau memulai percakapan dengannya perihal ranking.

Mau ranking 25, 10, ataupun 1 sama saja bagi saya. Meskipun ada sedikit rasa penghargaan karena namanya prestasi kan, ya, namun saya bukan orang yang mengagung-agungkan pencapaian berupa ranking di sekolah. Saya menganggap setiap anak punya potensi untuk menjadi istimewa. Setiap anak punya kecerdasan uniknya masing-masing.


Percakapan itu terjadi ketika saya dan ibu itu – sebut saja Ibu A, ketika kami sama-sama mengikuti rapat pertama antara pihak sekolah dengan orang tua/wali murid siswa. Saat itu saya hanya menanyakan anaknya kelas VII apa.

Biasalah, pertanyaan basa-basi kepada orang baru. Kebetulan ibu itu sudah beberapa kali bertemu saat saya mengurus Athifah masuk SMP. Kami sudah saling bertukar tatap dan senyum. Jawaban pertanyaan saya saat rapat itu bersambut karena  rupanya anaknya sekelas dengan Athifah.

Sesampainya di rumah, saya menceritakan percakapan dengan ibu A, “Selalu ranking satu bedeng temanmu di SD-nya.”

Percakapan ini sudah terlupakan ketika sekian hari kemudian Athifah bercerita pengalamannya di sekolah. Putri yang tak mungil lagi ini memang senang menceritakan apa yang dia alami selama di sekolah setiap harinya.


“Ma, temanku bilang dia bukan yang ranking satu di sekolahnya. Mamanya suka bohong-bohong bedeng,” cerita ini membuat saya sedikit terhenyak. Wah, rupanya ada ibu yang halu, ya. Anaknya dibangga-banggakan padahal tak seperti pencapaiannya. Saya baru ketemu orang seperti ini.

Salah seorang kawan Athifah ada yang seperti itu. Mengaku-aku anak tentara atau jenderal, orang tuanya sering ke luar negeri saking sibuknya dan dia nanti akan menyusul ke luar negeri bersekolah di sana. Ketika ditanya apa pangkat ayahnya, dia menyebut “kolonel jenderal”.

Mana ada pangkat KOLONEL JENDERAL di Indonesia? Kalau di Korea Utara dan Rusia ada. Jelas dia orang Indonesia asli, bukan orang Korea ataupun Rusia, terlihat jelas dari fisiknya. Ketika diusut-usut, rupanya ayahnya seorang pengemudi ojek motor online.

Saya miris mendengar kisah tentang anak ini. Miris karena sebenarnya di dalam dunia nyata masih ada koq orang-orang yang mau berteman dengan tulus tanpa perlu meninggi-ninggikan diri atau membuat cerita khayalan serupa itu. Dia malah membatasi kawan-kawannya dengan mengarang cerita.


Tidak hanya itu, ada beberapa kejadian yang membuat kawan-kawannya terkejut. Saya tak sampai hati menuliskannya di sini karena akan menjadi hal yang negatif. Berdasarkan kejadian-kejadian itu, kawan-kawan sekelasnya mulai mengambil jarak dengannya.

Yang seperti ini, sekarang akrab kita dengar dengan istilah “HALU”. Yaitu ketika seseorang menceritakan khayalannya seolah-olah itu nyata dan tanpa rasa berdosa padahal dia sebenarnya tengah berbohong.

BERHALUSINASI. Ada yang mengatakan bahwa orang seperti itu disebut sedang berhalusinasi. Pada website hellosehat.com, pengertian halusinasi adalah gejala yang ditandai dengan adanya sensasi yang diproses oleh otak dan dapat mempengaruhi kinerja indera seseorang.  

Pada website alodokter.com disebutkan bahwa halusinasi adalah gangguan persepsi yang membuat seseorang mendengar, merasa, mencium aroma, dan melihat sesuatu yang kenyataannya tidak ada. Pada keadaan tertentu, halusinasi dapat mengakibatkan ancaman pada diri sendiri dan orang lain.


Tapi setelah membaca mengenai DELUSI, saya kira apa yang dialami kedua orang yang saya ceritakan di atas digolongkan ke dalam DELUSI.

Pengertian DELUSI, sebagaimana yang dibahas dalam alodokter.com adalah salah satu jenis gangguan mental serius yang dikenal dengan istilah psikosis.

Psikosis ditandai dengan ketidaksinambungan antara pemikiran, imajinasi, dan emosi, dengan realitas yang sebenarnya. Orang yang mengalami delusi sering kali memiliki pengalaman yang jauh dari kenyataan.

Penderita gangguan delusi meyakini hal-hal yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Walau sudah terbukti bahwa apa yang diyakini penderita berbeda dengan kenyataan, penderita tetap berpegang teguh pada pemikirannya.

Gangguan delusi ada beberapa jenis. Salah satunya adalah WAHAM KEBESARAN (grandiose). Pada delusi jenis ini, penderitanya memiliki rasa kekuasaan, kecerdasan, identitas yang membumbung tinggi, serta meyakini bahwa dirinya telah melakukan suatu penemuan penting atau memiliki talenta yang hebat.

Selain itu, penderitanya juga bisa meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan spesial atau memiliki relasi khusus dengan figur yang hebat, misalnya hubungan dengan presiden atau selebritas terkenal. Padahal kenyataannya tidak demikian.

dr. Yuliana Ratna Wati, Sp.KJ sebagaimana saya lansir dari health.detik.com mengatakan bahwa orang yang mengalami delusi pada umumya juga mengalami halusinasi. “Menurut terminologi psikiatri orang yang mengalami delusi dan halusinasi berarti dalam kondisi psikotik. yang bersangkutan tidak bisa lagi membedakan nyata dan tidak nyata, fantasi, atau realita," tukasnya.


Mengerikannya, faktor genetika adalah salah satu faktor risiko gangguan delusi. Sama halnya dengan skizofrenia, gangguan delusi lebih mungkin terjadi jika ada anggota keluarga yang mengalami hal yang sama. Hal ini sangat mungkin diturunkan dari orang tua ke anaknya.

Semoga kita terhindar dari hal-hal semacam itu. Lebih nyaman menjadi diri sendiri dan menjalin pertemanan secara tulus dan tanpa pamrih. Carilah teman-teman yang memang nyaman berinteraksi dengan mereka. Jika tidak, cukup menjadi kenalan saja, tak usah berteman terlalu dekat.

Sebenarnya kita bisa menimbang-nimbang teman yang mana yang bisa mengantarkan kita kepada kebaikan, bisa membuat kita menjadi manusia yang makin baik dan mana yang tidak. Kalau yang saya sampaikan kepada Athifah, ada 3 macam orang yang berinteraksi dengan kita: sahabat, kawan or teman biasa, dan kenalan.

Jika nyaman bersahabat dengannya maka bersahabatlah. Jika tidak, cukupkan dengan berteman biasa. Jika masih tak nyaman, turunkan level-nya sebagai kenalan biasa yang hanya bertegur sapa sekadarnya. Akan ada masanya kita menemukan sahabat sejati. Tak usah sedih jika belum menemukannya.

Makassar, 27 November 2019 


Keterangan: gambar-gambar dari Pixabay

Referensi pengertian tentang HALUSINASI dan DELUSI:
  • https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/delusi-dan-halusinasi-apa-bedanya/
  • https://www.alodokter.com/muncul-suara-dan-sosok-misterius-akibat-halusinasi
  • https://www.alodokter.com/penderita-gangguan-delusi-suka-meyakini-yang-aneh-aneh
  • https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4170762/apa-sih-bedanya-delusi-sama-halusinasi-ini-penjelasannya




Share :

19 Komentar di "Halu Halu Delusi"

  1. Terima kasih banyak sudah berbagi informasi yang sangat bermanfaat ini Mbak.

    ReplyDelete
  2. Wah, cerita yang sangat menarik Mbak, semoga tidak ada orang yang seperti itu lagi.

    ReplyDelete
  3. Ternyata banyak ya Mbak orang yang seperti itu, semoga bisa segera sadar.

    ReplyDelete
  4. Terimakasih untuk cerita dan ilmu yang sangat bermanfaat ini Mbak, semangat terus dalam berkarya.

    ReplyDelete
  5. Iya Mbak, semoga kita semua terhindar dari perbuatan seperti itu.

    ReplyDelete
  6. Iya...cari teman yang sepaham aja... kalau ga..ga usah terlalu dekat..seperlunya saja.

    ReplyDelete
  7. Benar banget sih. Teman bisa jadi andalan utk mengurangi halusinasi. Skrg bnyk kejadian halusinasi jd depresi yang ujungnya bunuh diri. Teman yg baik hrs bs jd tempat penenang ya

    ReplyDelete
  8. Kalau merujuk dari pengertiannya banyak orang skrg yg halu bonus delusi ya ka. Meninggikan dirinya setingginya

    ReplyDelete
  9. Gara2 banyak orang halu nih yang berprestasi beneran jadi diragukan. Kadang pengen share kisah sukses yg kita kenal, cuma nanti dibilang pamer capedeh

    ReplyDelete
  10. Mbak, aku punya temen sekolah yang halu dulu tuh. Katanya dia sakit keras. Cuci darah tiap minggu dll. Tapi kok ya ga ada tanda-tanda kalo dia sakit loh. Terus lama kelamaan terungkap deh, kalo si temen ini ternyata halu. Halu yang mengharapkan perhatian & simpati teman0teman yang lain. Sad! :((

    ReplyDelete
  11. Wah dulu ada muridku mengalami halu ini, dia kadang sedih dan marah tanpa sebab. kadang ngadu dengan guru, tapi ceritanya berubah-ubah hiks...baca ini jadi tahu deh lebih dalam mengenai penyebab orang halu.

    ReplyDelete
  12. Sekarang ini kian banyak bermunculan orang2 yang mengalami gangguan psikologi, pun demikian dengan terjangkitnya halu semakin banyak orang narsisme yang mengalami hal itu

    ReplyDelete
  13. Makasih mba', jadi nambah wawasan baru lagi nih tentang ilmu psikologi. Harus lebih peduli dengan lingkungan juga nih.

    ReplyDelete
  14. Maasyaa Allah.
    Banyak kejadian seperti ini, tapi masih sedikit yang tahu tentangnya.
    Kadang juga dijadikan bahan bully, hiks.

    Terima kasih sudah berbagi tulisan keren ini :)

    ReplyDelete
  15. Ma Syaa Allah TabarakAllah jadi bisa menambah wawasan baru lagi Terima kasih sharing infonya Mbak

    ReplyDelete
  16. Aku lebih baik berteman dengan orang yang biasa-biasa saja tanpa harus meninggi-ninggikan diri.

    ReplyDelete
  17. Lama nggak mampir ke sini, Athifah udah SMP ternyata..

    ReplyDelete
  18. Ngedapetin sahabat sejati emang nggak gampang ya bund
    pokoknya biasanya aku berniat temenan ya menjalin silaturahmi
    kalau bisa jadi saudara tambah bahagia lagi

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^