Pertanyaan Tentang Sel Telur dan Indung Telur

Apa itu sel telur dan indung telur, Ma?” tanya Athifah yang sedang membaca-baca buku RPAL – RPUL Global-nya. RPAL itu Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap, sedangkan RPUL adalah Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap. Di zaman saya sekolah dasar dulu, buku seperti ini sudah ada dan kami harus menghafalnya di luar kepala. Sering kali soal-soal ulangan kami diambil dari buku yang waktu itu terdiri atas 2 buku, berjudul RPA dan RPU. Athifah tidak diwajibkan oleh gurunya memiliki buku RPAL - RUP Global ini tapi saya membelikannya karena banyak sekali pengetahuan di dalamnya.


Sepersekian detik saya memusatkan pikiran, menarik napas dan mencoba memberikan jawaban yang terbaik bagi Athifah. Usianya sudah 11 tahun. Sudah saatnya memasukkan pendidikan seks dalam menjawab pertanyaan seperti ini. Bersyukur sekali selalu ada di dekat Athifah dan bisa menjadi orang pertama yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ajaibnya.

“Di dalam badan perempuan ada organ reproduksi namanya rahim. Rahim itu tempatnya bayi. Kalau di perut perempuan ada bayi, dia berada di dalam rahim. Nah, sebelum ditempati sama bayi, di dalam rahim itu ada indung telur. Di dalam indung telur ada sel telur. Sel telur itu keciiiil sekali, tidak bisa dilihat dengan mata,” jawab saya.

“Kalau sperma?” tanyanya lagi.

“Sperma itu adanya di badan laki-laki. Nah kalau sperma dan sel telur bertemu, terjadi yang namanya pembuahan. Kalau terjadi pembuahan, nanti terbentuk gumpalan darah, gumpalan daging, jadi zigot, terus tumbuh jadi janin, terus jadi bayi,” saya menjelaskan sembari mengamati wajah nona mungil yang sesekali terlihat bergidik. Entah apa yang ada di pikirannya saat mendengarkan penjelasan saya.

Yang jelas, pertanyaan itu dilontarkannya setelah membaca bab mengenai perkembangbiakan makhluk hidup, khususnya manusia. Makanya harus dituntaskan, dipenuhi keingintahuannya. Lalu dia menunjuk gambar siklus pertumbuhan manusia di dalam rahim ibunya, “Ini ya, Ma, janin?”


“Nah, iya, seperti itu.”

“Kalau puber orang, suaranya melengking maksudnya apa?” maksud Athifah, di buku itu disebutkan salah satu ciri perempuan yang memasuki masa puber adalah suaranya melengking.

“Kayak Mama, toh. Mama kan ndak sejak kecil suaranya begini. Coba bayangkan kalau Mama anak-anak terus suaranya begini. Atau Oma, bayangkan Oma suaranya seperti anak kecil. Aneh, toh? Nah, orang itu kalau puber suaranya berubah, ndak kayak suara anak-anak mi suaranya. Kakak juga, waktu kecil ndak begitu suaranya. Laki-laki juga berubah suaranya. Terus Adik, kan ndak mungkin suaranya begitu terus sampai tua, toh?” saya mencoba menjelaskan sesederhana mungkin.

“Terus, Kakak sudah mimpi basah?”

“Sudah.”

“Kapan?”

“Waktu umurnya 15 tahun.”

“Kalau menstruasi itu, haid, ya, Ma?”

“Iya.”

Saya lalu menjelaskan padanya bahwa sel telur yang tidak dibuahi nanti akan keluar menjadi darah haid. Kalau sel telur itu dibuahi oleh sperma maka dia bisa menjadi bayi. Menstruasi itu normalnya terjadi tiap bulan namun bisa saja mundur sedikit. Athifah membaca bagian buku yang menerangkan tentang peluruhan lapisan dinding rahim. Saya mengiyakan – iya, ada peluruhan itu juga saat perempuan mengalami menstruasi.

Di waktu lain, pernah nona mungil ini pernah bertanya berapa hari lamanya perempuan haid. Ya, saya jawab saja dan menjelaskan normalnya itu seharusnya berapa hari.


Keesokan harinya, Athifah nonton reality show tentang anak gadis yang berbulan-bulan lari dari rumah dan ketika akhirnya dipertemukan dengan ibunya, si anak sudah berbadan dua. Sembari nonton saya sampaikan kepadanya kalau dalam Islam yang seperti itu tidak boleh terjadi. Yang “boleh” hamil itu hanya yang sudah menikah. Kalau tidak ada ikatan pernikahan namanya berzina. Sekalian saya jelaskan mengenai hukum Islam bagi mereka yang berzina, yaitu bahwa zina itu dosa besar, dan sebagainya.

Penjelasan seperti ini, berdasarkan tingkat pemahamannya sudah beberapa kali saya berikan kepada Athifah ketika dia bertanya, sejak dia masih balita. Berulang terus pertanyaannya, entah sudah berapa kali. Dia bertanya tentang pernikahan, tentang punya anak, dan lain sebagainya. Rasa ingin tahunya sering kali membuat saya mati kutu tapi saya tidak mau memberikan jawaban asal atau berbohong kepadanya. Saya jawab apa adanya, yang biasa dia pahami di usianya.

Satu harapan saya, selalu ada saat dia membutuhkan orang untuk menjawab segala tanyanya tentang kehidupan. Harapan saya yang lain, semoga Allah selalu membuka mata dan hati saya untuk terus belajar dan bisa mendampingi Athifah juga dua anak lelaki saya yang lainnya selama mereka membutuhkan saya. Saya sadar, ibu adalah tempat yang paling tepat bagi anak untuk bertanya sehingga dia tidak mencarinya di tempat yang salah. Semoga Allah meridhai.

Makassar, 14 Juli 2018



Share :

2 Komentar di "Pertanyaan Tentang Sel Telur dan Indung Telur"

  1. Bacanya sambil membayangkan besok anakku kalau sudah dapat pelajaran seperti ini pasti punya pertanyaan yang sama. harus tenang jawabnya nih kaya mba mugniar biar anak ga salah paham dan mengerti pendidikan sex yang benar

    ReplyDelete
  2. Lho, RPAL dan RPUL itu sekarang dijadikan satu? Jaman saya dulu, buku-buku itu terpisah. Penerbitnya PT Intan Pariwara.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^