Pre Event MIWF 2015: Diskusi Kepenulisan dan Aktivisme

Tanggal 3 Mei lalu saya menghadiri Pre Event MIWF bertajuk Writing and Activism. Ada 3 aktivis perbukuan yang hadir, yaitu: Anwar Jimpe Rahman (Jimpe, dari Kampung Buku), Zulkhaer Burhan (Bobby, dari Kedai Buku Jenny), dan M. Ilham (dari Rumah Baca Philosophia). Ketiga tempat baca yang digawangi ketiga orang ini aktif dalam “pergerakan aktivisme” di Makassar.

Abdi, sang moderator mengatakan, yang disebut aktivisme (activism) adalah gerakan mengajak orang-orang untuk mengubah perilaku terhadap sesuatu. Kalau demonstrasi di jalan merupakan suatu bentuk aktivisme yang bisa berakibat fatal maka kepenulisan adalah aktivisme damai. Dan, semua aktivisme adalah politik.

Setelah moderator membuka acara, ketiga nara sumber menceritakan kegiatan mereka.


Jimpe menceritakan proses yang dilakukan Ininnawa – Kampung Buku yang sudah berusia 11 tahun. Bukan hanya menyediakan perpustakaan, Ininnawa juga aktif mendampingi dan memfasilitasi masyarakat dalam gerakan-gerakan positif. Selain itu juga berkonsentrasi di penerbitan buku-buku yang membahas kebudayaan Sulawesi Selatan. Atas nama label Ininnawa, hingga saat ini sudah ada 30 – 40-an judul buku yang diterbitkan. Di luar label Ininnawa, sebenarnya sudah banyak yang difasilitasi pengurusan ISBN-nya.

Ada 3 judul buku yang laris manis, dari Ininnawa: Warisan Arung Palakka, Perkawinan Bugis, dan Assikalabineng. Judul terakhir itu, bahkan Gramedia pernah berani membeli 500 eksemplar secara kontan.

Ininnawa juga menjembatani teks-teks tentang Bugis/Makassar yang ditulis orang-orang asing. Selain itu, di-launching pula situs Makassar Nol Kilo Meter. Situs ini, disebut oleh Jimpe sebagai “mencoba bekerja secara anarkis”. Anarkis di sini maksudnya: semua sama-sama kedudukannya, sama-sama guru dan sama-sama murid (tapi saya suka menyebut Jimpe sebagai “pak guru” karena ia salah satu guru menulis saya, mungkin ia risih ya kalau saya sebut dengan sebutan “pak guru” J). Oya, di situs ini, tak ada yang bertindak sebagai pemodal, lho.

Ininnawa adalah sumber inspirasi berdirinya Rumah Baca Philosophia. Filosofi hadirnya, berangkat dari tataran religius, bahwa amalan orang yang meninggal terputus kecuali tiga hal, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Rumah Baca Philosophia sekarang punya 5.000 judul buku, didominasi oleh buku sastra dan buku anak. Rumah Baca Philosophia aktif menyelenggarakan diskusi, bedah buku, dan bedah film.

Bobby menceritakan terbentuknya Kedai Buku Jenny. Saat ia masih kuliah di Yogya, ia punya hobi mengunjungi pertunjukan musik. Di situlah ia bertemu grup band Jenny. Bobby sangat terkesan karena grup tersebut melakukan hal yang jauh lebih besar dari sekadar bermusik. Setiap habis tampil, mereka ke angkringan. Di sana mereka berdiskusi, di antaranya berbincang tentang kesetaraan. Ide nama “Kedai Buku Jenny” diperoleh dari grup band tersebut.

Misi terbesar Kedai Buku Jenny adalah mendekatkan musik dengan buku (karena selama ini komunitas yang dekat dengan buku terlalu segmented). Cafe Jenny pun dibuat karena di Makassar waktu itu ia tak bisa setiap minggunya mendatangi panggung-panggung musik (karena belum banyak panggung musik di kota ini). Di Cafe Jenny, tiap bulan dihelat panggung musik lalu setelah itu, para pengunjung bisa berdiskusi. Di sana juga orang bisa menggelar pameran kecil-kecilan.

Kedai Buku Jenny pernah menggelar kegiatan bertajuk “Mengaji Pram” di mana para peserta berdiskusi mengenai buku Pramoedya Ananta Toer. Mereka membincangkan kosa kata dalam buku, membincangkan konteks sejarah, dan konteks Hubungan Internasional pada saat itu (pada setting cerita itu dibuat). Selain itu ada pula perpustakaan Malala dan lini penerbitan (penerbitan indie).

Moderator memberi pertanyaan kepada ketiga nara sumber, mengapa mereka menulis. Ilham mengatakan bahwa menulis adalah bentuk perlawanan, menulis mempertemukan dirinya dengan istrinya, dan menurutnya aktivis yang juga inspirator lahir dari mereka yang menulis.

Bobby mendekati istrinya dengan menulis. Sekarang ia merasa perlu menulis tentang band-band lokal. Namun karena berbagai hal sering terkendala. Ia memicu dirinya dengan cara memberi utang pada dirinya.

Jimpe suka menulis karena pada awalnya ia tertarik pada jurnalistik. Ia bukan orang yang mudah dalam bertutur secara lisan pada awalnya tetapi sekarang ia merasakan, menulis telah membuatnya lebih mampu berbicara di depan banyak orang. Ketemu istrinya pun, di Kampung Buku. Salah satu cara yang dilatihnya adalah tidak mengulang kata-kata yang sama dalam satu paragraf.

Saya mendapat kesempatan untuk bertanya hal ini kepada ketiga nara sumber: apa tantangan dan juga ancaman aktivisme menulis di zaman ini?

Menurut Jimpe, cara offline/tatap muka tetaplah yang terbaik. Di zaman ini gangguan banyak sekali dari HP/media sosial.

Menurut Bobby: tantangannya adalah bagaimana kerja menulis disebarkan di banyak tempat dengan cara masing-masing. Bagusnya, sekarang sudah banyak komunitas jadi tidak begitu susah lagi. “Ruang menjadi penting,” tambahnya lagi.

Sedangkan Ilham berpendapat bahwa akses informasi di zaman ini baik benar maupun salah tersebar di mana-mana. Jadi, perlu ada filterisasi, harus membaca banyak sumber.

Acara yang dimulai terlambat dari waktu yang dijadwalkan itu harus segera diakhiri karena tak lama lagi akan masuk materi AKUAPONIK dari Fadly – vokalis grup band Padi.

Makassar, 12 Mei 2015




Share :

2 Komentar di "Pre Event MIWF 2015: Diskusi Kepenulisan dan Aktivisme"

  1. Aktivis kepenulisan tentunya diharapkan pada perubahan positif dan ke arah yang lebih baik. Mengajak orang lain melakukan sesuatu dimulai dari hal kecil dan sederhana, bahkan dimulai dari diri sendiri. Bukankah begitu, mbak Dwi?

    ReplyDelete
  2. sayang nya acara seperti ini hanya ada dikota besar. sedangkan dikota kecil pasti tertinggal

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^