Ramadhan ala Affiq

            Masjid Bani H. Adam Taba’ yang letaknya hanya sekitar 5 m sebelah barat daya rumah kami sudah berusia 2 tahun kini. Sudah 2 kali pula Affiq, sulung saya (insya Allah 10 tahun pada bulan Juli ini) turut meramaikan Ramadhan di masjid ini. Tidak seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya kala masjid ini belum berdiri, Ramadhan 2 tahun belakangan mendatangkan banyak suka cita baginya.
        Seperti membiasakan anak shalat yang merupakan suatu ‘perjuangan’, membiasakan Affiq untuk berpuasa, juga merupakan perjuangan bagi saya. Perjuangan yang sangat seru.

            Saat sahur, ia susah sekali dibangunkan. Biasanya Affiq harus diseret atau dibopong oleh papanya ke kursi di depan TV, sementara matanya tetap tertutup. Dipanggil-panggil atau diguncang-guncang badannya berulang kali pun paling ia hanya membuka mata sedikit sambil menggumamkan, “Mmmm??” lalu matanya menutup kembali. Tetap dalam posisi duduk atau pelan-pelan rebah di kursi.
            Tidak ada cara lain. Saya harus menuntaskan sahur saya secepat mungkin lalu meladeninya, menyuapkan makanan ke mulutnya sendok demi sendok, sambil sesekali mengguncang-guncang badannya agar ia mau membuka mulutnya dengan suka rela, sampai makanannya habis atau sampai ia mengaku kenyang. Sementara matanya tetap tertutup. Setelah adzan subuh berkumandang barulah ia bisa membuka mata lebih lebar, shalat subuh, lalu tidur lagi. Begitulah Affiq, dari hari pertama Ramadhan hingga hari terakhir.
            Nah, yang sulit kalau kelasnya sedang giliran masuk pagi. Sebelum atau setelah shalat subuh, saya membereskan sisa-sisa sahur kemudian mencuci piring lalu tadarus. Biasanya tidur lagi. Waktu untuk tidur kembali ini harus sesingkat mungkin karena Affiq harus disiapkan ke sekolah. Karena seperti membangunkannya saat sahur, membangunkan ia untuk bersiap-siap ke sekolah sama sulitnya.
            Jika mengguncang-guncang, teriak-teriak, dan menarik-narik lengan Affiq tak  berhasil terpaksa ‘jurus pamungkas’ dikeluarkan: mengatup mulut rapat-rapat (jika tidak, saya pasti mengomel he he he), mengambil tisu basah, membuka pakaian Affiq, mengelap sekujur tubuhnya dengan tisu basah tersebut, dan memakaikan seragam sekolahnya lengkap hingga dasi dan kaus kaki. Jika masih susah dibangunkan, papanya membopongnya ke depan TV. Syukur-syukur jika ia terbangun begitu mendengar suara TV. Kalau tidak, alamat saya harus siap-siap ikut mengantarnya dengan membonceng motor suami saya dengan Affiq duduk di antara kami. Sebab jika tidak, ia bisa terjatuh dari sepeda motor dengan mata yang tertutup terus seperti itu!
            Kalau puasa-puasa Affiq sebelumnya masih setengah hari, puasanya 2 tahun terakhir ini alhamdulillah bisa penuh walau sering kali dilaluinya dengan susah payah. Saat berbuka puasa adalah saat yang dinanti-nanti oleh Affiq. Ia sangat bersemangat untuk berbuka di masjid. Aneka hidangan buka puasa dan para sebaya tetangga yang turut serta merupakan daya tarik besar baginya. Menjelang pukul 18 ia sudah rapi lalu pergi ke masjid, menunggu di teras masjid dengan teman-temannya sambil menyaksikan hidangan berbuka disiapkan.
            Ada satu hal yang sangat ia tidak sukai, yaitu jika ia harus duduk di tempat yang dikhususkan bagi anak-anak. Pernah saya tanya mengapa, ia menjawab, “Habis, kue yang dibagikan untuk anak-anak hanya satu.” Sementara di depan orang-orang dewasa disajikan beberapa piring besar berisi beraneka macam kue, dan tentu saja berapa jumlah kue yang sanggup mereka habiskan tak dibatasi. Itulah sebabnya ia sangat suka duduk di sebelah papa atau kakeknya. Jika ia duduk di sebelah salah satu dari orang-orang dewasa ini, tak ada orang dewasa lain yang berani menegurnya atau melarangnya menghabiskan seberapa banyak pun kue yang diinginkannya. Ia bisa menghabiskan 4 sampai 5 buah penganan dengan super cepat (waduh ... orang-orang bisa mencap anakku rakus L...). Satu hal lagi, yang membedakan sajian untuk anak-anak dengan orang dewasa adalah: selain teh panas, kepada orang dewasa disajikan air putih kemasan sedangkan anak-anak hanya boleh mengharap diberi karena walau teriak-teriak menghiba minta diberi air putih pun, mereka tidak dipedulikan. Alasannya simpel, stok air putih kemasan terbatas.
            Suatu kali ayah saya bercerita, Affiq dengan berani tanpa permisi melangkah di depan orang-orang tua (sebaya ayah saya) demi  mendapatkan segelas air putih kemasan hingga salah seorang bapak mendelik galak ke arahnya. Betapa malunya saya mendengar hal ini. Kepada Affiq saya beri nasihat supaya memperhatikan adab kesopanan bila berada di antara banyak orang. Begitu pun mengenai memakan kue, jangan hingga 5 buah. Nasihat pertama dipatuhinya, nasihat kedua: mana tahan dipatuhinya? 
            Di sekolah Affiq dibagikan buku ‘Amaliyah Ramadhan’. Buku ini merupakan buku catatan kegiatan siswa selama bulan Ramadhan. Seperti absensi shalat 5 waktu, absensi shalat tarawih, shalat Jum’at, tadarus, hafalan surah-surah, kegiatan shalat id, dan zakat fitrah yang harus ditandatangani oleh pengurus masjid dan orangtua siswa. Affiq menyenangi kegiatan ini. Baginya ini semacam kompetisi. Menarik baginya jika memperoleh isian penuh berupa tanda cek dan tanda tangan. Tentu saja saya harus ekstra memeriksa kebenaran isi buku itu, apa benar ia sudah shalat, apa benar ia sudah hafal, dan apa benar tadarusnya sudah seperti yang ia tulis. Beberapa kali saya mendapati ia menulis yang tidak ia lakukan. Jika itu yang terjadi, saya menolak bertanda tangan.
            Dalam radius 300 meter dari rumah kami, terdapat 4 masjid lain selain masji bani H. Adam Taba’ (banyak juga ... tapi mengingat daerah sekitar rumah kami merupakan pemukiman padat, hal ini wajar saja). Affiq bersemangat terkait dengan hal ini. Di buku Amaliyah Ramadhannya harus dituliskan nama masjid dan lokasinya. Sesuatu yang menyenangkan baginya jika di buku Amaliyah-nya tercantum berbagai nama masjid, bukan hanya masjid bani H. Adam Taba’. Maka jadilah ia mengembara dari satu masjid ke masjid lain, bahkan sering kali tanpa memberi tahu saya! Ya, dengan sekehendak hatinya ia pergi ke masjid yang ia inginkan, menelusuri gelapnya gang-gang di sekitar rumah kami, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Astaghfirullah nak ... hampir copot rasanya jantung mama saat tiba-tiba saja kamu memberitahu, “Mama, saya dari masjid B,” sepulang kamu dari tarawih pukul 10 malam! Bagaimana kalau tiba-tiba hujan deras sementara tidak ada yang tahu kamu ada di mana? Bagaimana jika ada anak-anak iseng yang menjahilimu?
            Pembaca sekalian, bagaimana saya tidak shock. Rumah kami terletak di dalam gang, di lokasi yang rawan dengan perkelahian anak-anak muda antar gang. Bukan hanya antara gang ujung sana dengan gang ujung sini, bukan. Bahkan antara gang yang bersebelahan, atau yang berpotongan. Malah mereka sering kali saling melemparkan busur-busur yang sudah diberi racun di ujungnya. Sementara anak-anak sebaya Affiq di sekitar rumah kami adalah ‘bocah-bocah petualang’ yang akrab dengan permainan luar rumah yang memerlukan fisik yang kuat dan canda-canda yang keras serta seloroh-seloroh kotor produk orang dewasa di sekitar mereka. Sementara Affiq adalah anak rumahan yang tidak terbiasa dengan hal-hal tersebut.
            Perlu beberapa kali memberi penjelasan kepada Affiq mengenai hal ini hingga ia tak melakukannya lagi. Sesekali suami saya mengantarnya ke masjid-masjid yang letaknya lebih jauh namun tak sampai berjarak 1 kilometer dari rumah demi memenuhi keinginannya menuliskan nama-nama masjid yang berbeda.
            Masih ada satu hal yang unik dan lucu dari sulung saya ini. Ia sangat tidak suka jika ditempatkan di ‘shaf khusus anak-anak’ di masjid. Ia tersinggung. Affiq punya alasan kuat mengapa ia tersinggung. Karena ia tak suka main-main saat shalat seperti umumnya anak-anak sebayanya di masjid, ia mengerjakan rukun-rukun shalat dengan tertib, seperti selayaknya. Sering kali ia pulang dari masjid dengan bersungut-sungut. “Saya disuruh pindah ke tempat anak-anak, padahal saya tidak ribut,” lapornya, meradang. Ia bahkan pernah pulang dengan terisak-isak saking tersinggungnya. Affiq suka berada di shaf orang dewasa. Bahkan ia senang mengambil tempat di shaf paling depan atau shaf kedua – di belakang imam, di posisi yang mengharuskan orang yang berada di situ menggantikan imam bila tiba-tiba berhalangan. Untuk hal ini saya pernah menasihatinya secara khusus, supaya ia tidak mengambil posisi itu. Namun apa jawabannya saudara-saudara? “Saya ‘kan sudah hafal bacaan shalat, Ma.” Yah, begitulah Affiq.
            Suatu hari ia pergi ke masjid Nurul Jannah yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah kami, tanpa minta izin terlebih dulu pada saya. Saat shalat isya akan dilaksanakan, ia digeser pindah ke shaf anak-anak oleh salah seorang dewasa di situ. Betapa geramnya ia. Usai shalat ia bertekad meninggalkan masjid itu, tak pernah kembali lagi. Ia kemudian berjalan kaki menyusuri gelapnya gang, melalui kuburan tua, pergi ke masjid bani H. Adam Taba untuk mengikuti shalat tarawih berjama’ah. Pulang ke rumah, dengan masih emosi, ia melapor kepada saya, “Ma, Saya tadi disuruh pindah ke bagian anak-anak padahal saya tidak ribut. Huh ... Saya tidak mau lagi shalat di masjid itu.” Saya membatin, “Syukurlah Nak, supaya jantung Mama tidak kebat-kebit ....”
            Begitulah Affiq. Mudah-mudahan hal ini semua membuahkan pembelajaran yang berharga baginya agar Ramadhan berikut bisa ia lalui dengan lebih baik lagi. Mudah-mudahan ia tidak membuat jantung saya kebat-kebit lagi ...
Makassar, 8 Juni 2011


Share :

0 Response to "Ramadhan ala Affiq"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^