Access Bars, Tools dari Access Consciousness untuk Menjadi Lebih Baik

Beberapa jam sepulang dari pelatihan Access Bars pada tanggal 27 April lalu di House of Beauty, saya "memeriksa"diri saya. Dalam hati saya bertanya, “Adakah efeknya?” Kata Dokter Dave (nama sapaan dari Dokter David Budi Wartono), mereka yang ikhlas ingin berubah dan memang mau membuang segala sampah dalam dirinya biasanya langsung merasakan perubahan usai di-bars.

Ada juga yang setelah kali kelima di-bars baru merasakan perubahan atau bahkan berkali-kali menjalaninya. Sembari terus menelisik ke dalam diri, saya mengingat-ingat perkataan Dokter Dave itu. Hm, saya merasakan belum bisa menemukan perubahannya. Adakah yang berubah dari/dalam diri saya?

Sumber foto: Dokter Dave

Kabar Baik Setelah Access Bars Class


No expectation, no judgement, menjalani prosesnya dengan ikhlas,” saya masih mengingat perkataan Dokter Dave yang lainnya. Saya memang tak hendak memasang ekspektasi. Saya mengontrol diri saya untuk itu sembari terus memeriksa ke dalam diri saya. Adakah perubahan yang saya rasakan?

Keesokan paginya, baru saya mendapatkan jawaban.  Jawabannya adalah "YA". Saya merasakan efeknya. Saya merasakan perubahan yang positif dalam diri saya! Ada bagian dalam diri saya yang saat berangkat ke pelatihan merasa "agak sempit" kini menjadi "lebih lapang/ringan". Rasanya ada "sampah” yang sudah terbuang dari dalam diri saya. Wow!

Saya tak tahu apa istilahnya, mungkin frekuensi? Yang jelas hati saya merasa lebih tenang. Biasanya setiap hari, selama puluhan tahun ini ada kondisi default semacam ketegangan yang mudah terpicu menjadi emosi negatif yang saya rasakan setiap harinya. Namun kali ini tidak saya merasakan lagi kondisi tersebut.

Lantai 2 House of Beauty, Jl. A. Djemma

Saya memang sudah sekira setahun lebih – mungkin dua tahun ini mencari cara terapi untuk membuang bagian dalam diri saya yang harus saya buang karena mengandung sampah. Saya menyadari potensi efek buruk yang bisa terjadi kalau saya terus menyimpannya.

Sebenarnya sudah beberapa kali saya kebablasan karenanya. Efek buruk itu bisa saja menguasai hidup dan hubungan baik saya dengan orang-orang terkasih pun dengan orang lain yang berinteraksi dengan saya seumur hidup. Sungguh, saya tak mau terbelenggu dengan potensi buruk itu seumur hidup.

Saya bahkan sudah pernah berkonsultasi dengan seorang coach kenamaan di kota ini yang juga kawan baik saya mengenai terapi apa yang tepat untuk saya terkait hal ini. Waktu itu sang coach juga membantu saya mencari tahu apa sebenarnya yang selayaknya saya lakukan. Sudah ada cara yang tercetus tetapi itu bukan cara ini dan saya masih ingin mencari tahu.

Menyimak pemaparan dr. Dave.

Nah, ketika masih mencari-cari tahu itulah tiba-tiba Kak Alaika Abdullah mention saya di Facebook. Kak Al – begitu saya biasa menyapa blogger asal Aceh yang kini tinggal di Bandung ini yang seorang bars practitioner menyampaikan mengenai Access Bars Class yang akan diselenggarakan di Makassar oleh dr. David Budi Wartono.

Apa Itu Access Bars?


Saya membaca flyer yang disertakan Kak Alaika. Di situ tertera tulisan: Access Consciousness, empowering people to know what they know. Pada flyer itu tertera sedikit penjelasan mengenai Access Bars:
Apa itu Access Bars? The Bars adalah therapy sentuhan pada titik kepala yang membantu meredakan pikiran yang meloncat-loncat, mengembalikan kita pada keseimbangan dan menciptakan kemudahan, kedamaian, dan rasa damai seperti halnya pada pijat, meditasi, bahkan lebih dari sekadar itu saja.

Hm, mungkin ini yang saya cari, batin saya mengatakan demikian. Segera saya japri Kak Al untuk mendapatkan penjelasan lebih detail. Oleh Kak Al saya diminta membaca tulisan di blognya yang berjudul Access Bars - the Tool from Access Consciousness karena sedang dalam perjalanan.

Hubungan Antara Access Bars dan Access Consciousness


Di blog Kak Al saya mendapatkan tambahan penjelasan mengenai apa itu ACCESS BARS.  Bahwa Access Bars adalah salah satu tools dari ACCESS CONSCIOUSNESS. Access Consciousness pertama kali diperkenalkan oleh Gary Douglas pada tahun 1995. Bersama dr. Dain Heer, Gary memperkenalkan ke seluruh dunia hingga kini telah dikenal di 175 negara.

Dain Heer (kiri) & Gary Douglas (kanan).
Sumber foto: accessconsciousness.com

Kak Alaika mengutip dari website Access Consciousness (http://accessconsciousness.com) pengertian Access Consciousness dan menerjemahkannya secara bebas:
Adalah sebuah sudut pandang yang berbeda terhadap kehidupan. Yang membuat kita mampu mengubah apapun yang kita anggap tak mungkin, dan menciptakan apa pun yang kita inginkan melalui cara yang berbeda dan jauh lebih mudah.

Cara untuk mengubah/menciptakan dengan cara berbeda itu adalah dengan menggunakan tools dari Access Consciousness. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan yang awas/sadar (consciousness) dan solid, di mana sesuatu itu ada dan tanpa ada yang menghakimi.

Access Consciousness adalah
rangkaian tools dan teknik yang dapat
dipergunakan oleh siapapun, apapun
agama, ras atau tingkat kehidupannya.
Siapapun yang ingin mengubah
hidupnya menjadi jauh lebih baik
dapat memilih untuk melakukannya
melalui salah satu atau lebih tools
dari Access Consciousness.

Waah, menarik sekali. Sampai di sini saya mulai yakin, sepertinya saya menemukan apa yang saya cari.

“Sudah baca, Kak. Menarik,” lapor saya kepada Kak Al.

“Nah, aku dan beberapa blogger Bandung dan Jakarta ikutan kelas ini dan bersertifikat international untuk jadi praktisinya. Kalo Niar berminat, bisa coba ngobrol langsung sama dr. Davidnya,” Kak Al memberi saran sekaligus memberikan saya nomor kontak Dokter Dave.


Langkah selanjutnya adalah membicarakannya dengan pak suami. Suami saya mendukung. Terlebih karena saya memang sudah pernah membicarakan mengenai potensi buruk yang ingin saya buang dalam diri saya. Beberapa kali saya katakan padanya bahwa saya butuh terapi suatu saat nanti.

Beberapa hari kemudian saya menghubungi Dokter Dave untuk membicarakan Kelas Access Bars yang akan dibawakannya. Singkat cerita pada tanggal 27 April saya dan Athifah menghadiri kelas Dokter Dave. Di sana kami berkenalan dengan orang-orang baru dan mendapatkan pengalaman baru.

Pulangnya, kami berdua mendapatkan sertifikat telah menyelesaikan "ACCESS Consciousness BARS Course". Kami kini boleh menyebut diri kami sebagai Bars Practitioners dan boleh nge-bars orang lain agar bisa membagi manfaat bars ini.

dr. David Budi Wartono (Dave)

Tujuan saya yang pada mulanya untuk membuang segala sampah pikiran dan memori yang tak ada gunanya saya simpan tapi masih sering mengganggu kini saya rasakan. Saat saya menuliskan ini, sudah 8 hari berlalu pelaksanaan kelas Access Bars dan efek positifnya masih saya rasakan.

Sehari usai bars, Athifah mengatakan, "Mama, saya merasa lebih enak habis di-bars."

Ah ya, saya belum cerita ya mengapa Athifah ikut kelas juga. Jadi, untuk kelas ini, anak peserta kelas yang berusia 15 tahun ke bawah boleh ikut gratis. Athifah dengan anak-anak lain menjalani sesi terpisah dari para orang tua. Dengan cepat mereka belajar dan bisa mempraktikannya.

Clearing session, sebelum belajar bars.

Hingga hari ini sudah beberapa kali saya dan Athifah swap – bergantian nge-bars dan di-bars. SEUMUR HIDUP kami bisa mempraktikkannya. Bagi saya, ini sebuah kegiatan menarik nan menyenangkan antara ibu dan putrinya yang bisa menguatkan bonding di antara kami. Keren, kan.

Makassar, 6 Mei 2019

Bersambung

(Ini baru tulisan pertama, masih ada hal-hal menarik yang ingin saya sampaikan di tulisan-tulisan berikutnya. Don’t miss it, ya).

Oya, apabila Anda berminat mengubah hidup menjadi lebih baik, lebih bahagia, dan lebih menghasilkan, silakan klik link “Info Group for Sulawesi” berikut ini untuk mendapatkan informasi mengenai jadwal terdekat: https://chat.whatsapp.com/Et4BdVRiGGPLYKeg6i38WY




Share :

26 Komentar di "Access Bars, Tools dari Access Consciousness untuk Menjadi Lebih Baik"

  1. Maak, Asiknyaa, seneng deh bacanya, yang kusuka dari Bars ini menggunkan tools Access dalam kehidupan sehari-hari, terutama No Judgement No Expetation beserta clearing2nyaa. Bener2 lebih mengenal siapa diri sendiri dan love my self.

    Moga kita bisa kontribusi bars terhadap sekitar ya Mak, ayoo kejar 25x bloggers di Makassar bars Maak ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah mantap Mak. :)
      Siiip. Terima kasih yaaa

      Delete
  2. Hoo,, jadi kayak semacam terapi gitu ya mbak, Memang sebetulnya asal dari penyakit-penyakit itu kebanyakan berasal dari "dalam".seperti kata teman saya, Ya contohnya, koq orang gila gak pernah sakit ya? padahal makan makanan basi, tidur di lantai, mandi gak pernah. (contoh). Pikiran sehat, hidup sehat, stay positif.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya kan kenapa bisa mereka tidak sakit padahal makan dan tidur sembarangan :)

      Delete
  3. aku kayaknya juga perlu deh ikutan yang ginian
    tapi ya itu, belum datang ke Bengkulu orangnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Noted, semoga segera ada di Bengkulu ya Mbak

      Delete
  4. Keren ya jadi semacam terapi juga ya akses bars ini dan bisa buat anak2 maupun orang dewasa.. Baru tau aku mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Mak, kan aman ya. Jadi kalo bayi bisa itu ibunya di-bars, bayinya telungkup sama ibunya

      Delete
  5. Oh jadi satu kali ikut udah bisa menjadi Bars practitioner? adakah batasan usia minimal anak? kalau balita apa bisa juga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bisa berkomunikasi dengan baik, anak di bawah 15 tahun boleh ikut gratis, Mbak. Tapi disarankan di atas 5 tahun kalo mau ikutan pelatihannya. Kalo sekadar menemani ibunya sih boleh, Mbak. Bahkan bayi pun bisa sembari ibunya di-bars, berbaring di atas dada ibunya.

      Delete
  6. Menarik sekali ya acaranya apalagi berguna untuk kehidupan nyata membuat kepribadian kita semakin baik dan membantu kita untuk berpikiran lebih positif

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, sedikit manaatnya itu. Saya melihat masih banyak manfaat lainnya.

      Delete
  7. Aku baru tahu tentang terapi access bars jadi ini semacam seperti Detox juga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semacam detox "sampah elektromagnetik" .

      Delete
  8. Waahh kiraun tdnya mbak Mugniar ke Bandung. Ternyata kelasnya di Makassar ya? Aku penasaran lho sama teknik ini. Walau sementara ini aku pengennya dibars, bukan ngebars hehe. Eh emang ngilangin rnergi negatif diri dgn ngebars diri sendiri bisa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih Mbak, Dokter Dave-nya yang ke Makassar jadi bisa ikutan di Makassar.

      Nge-bars diri sendiri bisa, Mbak.

      "Tapi akan jauh lebih cepat dengan menggunakan clearing dan di-bars orang lain," ini penjelasan Dokter Dave.

      Delete
  9. Access Bar bagus sekali nih kak supaya pikiran jadi tenang.. gak gampang stres.. jadi kondisi mental pun selalu seimbang..

    ReplyDelete
  10. Jadi terapi buat anak2 juga bisa yah bukan hanya orang dewasa saja

    ReplyDelete
  11. wah..baru tau ada terapi seperti ini..kalo ada waktu saya ingin mencoba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga segera diselenggarakan di Pekanbaru ya, Mut.

      Delete
  12. wahh kalao sama anak2 pengen banget nyobain bars.. waktu di bandung gak sempet cobain.. semoga tar di surabaya pas ada.. aku bisa ikutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, semoga bisa ikutan di Surabaya ya Mbak Dian

      Delete
  13. Aku dapet cerita dari mas imawan juga nih tentang terapi Bars jadi penasaran kpingin coba, bisa healing dgn Cara lain ini ya

    ReplyDelete
  14. wah aku baru tahu tentang terapi ini.. kalau ada di kotaku udah pasti aku mau cobain

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^