Lebaran Kali Ini ...

Mohon maaf lahir batin jika ada kata dan laku diri saya yang salah, ya Karib dan Kerabat. Sudah 6 Syawal ketika saya menuliskan ini. Baru kali ini saya bisa duduk tenang dan mulai mengetik. Hari-hari menjelang lebaran kemarin dan hari raya ini sungguh hari-hari yang teramat sangat hectic. Sehari sebelum hari raya, kami jadi berempat belas di dalam rumah. Dan seperti biasa, saya menjadi PJ (penanggung jawab) umum untuk keberlangsungan hidup seisi rumah mengingat kami tak mempekerjakan ART (asisten rumah tangga).



Ada sedikit sesal lagi melepas bulan Ramadhan kali ini, dikarenakan saya merasa belum maksimal memakani Ramadhan. Rutinitas di dalam rumah yang masih berkiblat pada ibu saya mengharuskan 70 – 80 persen hari-hari terakhir Ramadhan berfokus pada persiapan yang akan memuaskan panca indera ketimbang batin. Saya harus mengikuti, dalam rangka birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Namun bakti saya, masih saja terasa ada kekurangannya karena satu dan lain hal.

Di usia yang tak muda lagi, yang tengah bersiap menuju setengah abad … in syaa Allah 6 tahun lagi setengah abad, saya sebenarnya berharap porsi keseharian di akhir Ramadhan lebih banyak kepada pengayaan batin bukan sekadar pemuasan panca indera menghadapi lebaran. Namun, yah, sekali lagi tak bisa dihindari, memang harus dijalani. Jadi, mari bergembira menyambut Syawal dengan segala kemeriahannya, termasuk silaturahmi yang harus dilakoni besertanya.

Sehari sebelum lebaran, saya mengambil pesanan ketupat dan burasa’pada Daeng Banna (Ibu Nuraeni di Pasar Baru). Burasa’ adalah makanan khas Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang terdiri atas beras yang dimasak dengan santan lalu dibungkus daun, dengan cita rasa nan legit – saya bisa menyantapnya hanya dengan sambal. Sungguh nikmat, beberapa hari di awal bulan Syawal menyantap makanan ini.

Daeng Banna (Ibu Nuraeni), tiap lebaran menjual ketupat dan burasa'.
Lebaran hari pertama, kami bersilaturahmi ke rumah keluarga dekat. Pulang ke rumah, orang tua saya menerima tamu – rata-rata para ponakan keduanya beserta keluarga mereka. Di antara beragam kesibukan, saya masih sempat bereuni dengan teman SMA seangkatan (SMA Negeri 2 Makassar yang bersekolah tahun 1989 – 1992), dengan alumni kampus (Halal Bihalal Nasional ke-4 Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin), dan dengan sahabat-sahabat semasa SMP, sekelas di SMPN 6..

Pembicaraan yang lebih personal ada di reuni dengan sahabat-sahabat semasa SMP. Dulu kami membentuk geng (ehm, namanya 5 Dara 😝 jiaah). Setamat SMP kami masih sempat bertemu beberapa kali, sih. Yaitu ketika yang sudah tidak berdomisili di Makassar pulang ke Makassar. Namun semakin lama, semakin jarang kami bertemu karena kesibukan masing-masing tidak memungkinkannya. Tentunya sekarang ada begitu banyak kisah personal yang bisa kami bagi – kami saling berbagi tepatnya, saling menguatkan, dan juga mengingatkan. Ya tentang anak, tentang orang tua, dan tentang kehidupan kami masing-masing. Oya, tak ketinggalan tentunya perbincangan tentang masa-masa SMP. 😍

Sayangnya, yang bisa hadir hanya 4 orang di antara kami, saya, Ifayanti, Rini Indrayanti, dan Ira Miranti. Uli – Yulia Ekawati absen kali ini karena ada urusan keluarga di luar kota. Tak ada waktu yang bisa mempertemukan kami berlima karena Ira sudah harus balik ke Jakarta dan Rini masih ada agenda lain lagi di kota lain sementara Uli baru balik beberapa hari kemudian.

Lucunya, kami berempat sudah harus mengenakan kacamata yang ada ukuran plus-nya. Sama-sama tak mau lagi mengonsumsi minuman bersoda dan tak mau minum es. Hanya memilih meminum air putih biasa. Haha, sama-sama sudah berumur. Tapi pertemuan seperti ini selalu mengasyikkan karena makin lama, pembicaraan kami makin “berkualitas”, tidak lagi membicarakan hal-hal yang tak perlu. Senang sekali.

Well, seperti itulah lebaran saya kali ini. Selanjutnya, kehidupan akan berlangsung seperti semula, dengan tugas dan kewajiban seperti semula. Sekali lagi, mohon maaf lahir batin, ya. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Makassar, 20 Juni 2018



Share :

13 Komentar di "Lebaran Kali Ini ..."

  1. Minum air putih memang menyehatkan.
    Maaf lahir batin nggih.
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Pakdhe. Sekaligus memudahkan detoksifikasi, ya. Mohon maaf lahir batin, Pakdhe. Terima kasih sudah main ke blog saya.

      Delete
  2. Selamat hari raya idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.
    kalau lebaran versiku hanya di rumah ji, mau keluar tapi teman sudah pulang kampung duluan. Jadinya cuman nunggu chat dan telepon.

    ReplyDelete
  3. Taqabalallahu minna wa minkum, kak Niar 🙏

    Momen lebaran emang selalu skaligus jadi momen reunian juga ya. Ketemu teman-teman masa sekolah yang udah lama gak ketemu, cerita masa-masa di sekolah, pasti ngangenin sekali dan kadang emang hanya bisa terjadi setahun sekali, ya di momen lebaran itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Taqabbal yaa Karim. Mohon maaf lahir batin yaa.

      Iya, kangen juga sama teman dan sahabat. Reunian bisa jadi ajang ketemuan secara selama ini ndak bertemu.

      Delete
  4. Serunya persiapan lebaran sampai setelah lebaran hehehehhe..
    Reuninya seru kak , udah sama2 harus pakai kacamata tp masih tetap menyisihkan waktu untuk ketemuan di momen lebaran, salut hehehe!
    Mana fotonya kak? Kurang fotota berempat nih ehehehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah pada rabun dekat, Qiah ... mata tua hahaha.
      Eh ada gang foto kami berempat di atas. Digabung tuh hihi.

      Delete
  5. Taqabalallahu minna wa minkum, selamat lebaran, mohon maaf lahir batin.

    Banyak cerita mulai ramadhan hingga pasca lebaran ya... termasuk kerempongan dan tetek-bengeknya. Bahagia berkumpul bersama keluargan dan bla..bla.. bla...

    ReplyDelete
  6. Mohon maaf lahir dan batin kak.
    Seru yah kak ketemu sama sahabat2 dengan banyak kesamaan kak.
    Pembahasannya juga past udah berbeda dibanding jaman sklah dulu yah kak.
    Btw kakak salam kenal yah

    ReplyDelete
  7. Saya juga merasakan hal yang sama. Setiap Ramadan saya selalu merasa kurang dan kurang. Maunya tidak lagi memikirkan tetek bengeknya persiapan lebaran, yah masalah bajulah, kuelah, masakan di hari lebaran dsb. Tetapi tetap saja terjadi, terutama sejak si bungsu beranjak remaja, dia maunya dan senangnya kalau pakai baju seragam maka jadi deh saya menjahit baju di H-5 lebaran.

    Selamat lebaran dek, mohon maaf lahir batin.

    ReplyDelete
  8. Di umur segini aja aku juga mulai merhatiin makanan banget. Soda udh lama jd pantangan, ato yg manis2. Kecuali jus itupun ga pgn tambah gula. Biar manis alaminya aja :)

    Lebaran ini aku malah ga ada reuni ato ketemuan temen2 :p. Bener2 selama libur ama sodara dan keluarga. Abisnya temen2 sekolahpun pd murik semua. Ga ada yg di jakarta :D

    ReplyDelete
  9. Hehehe...tak terasa makin senior ya mak. Semoga dengan makin bertambahnya usia, kita makin dekat dan dicintai Alloh. Aaamiiin.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^